Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Same But Different

Sesuai yang diharapkan, para pangeran itu kini tumbuh dengan baik, si bungsu telah menginjak umur tiga belas tahun, sementara si sulung Ravn telah berubah menjadi remaja delapan belas tahun yang tampan. Seoho semakin cerdas dan memiliki tubuh yang bagus, Leedo menepati janjinya pada ayahnya untuk lebih rajin belajar dan sudah jarang tertidur saat pelajaran, dan kedua anak yang tahun ini menginjak umur lima belas tahun itu masih sama dengan sifatnya masing-masing. Keonhee yang selain berisik tapi sangat handal bela diri juga, serta Hwanwoong yang selalu suka menyendiri.

Seperti sekarang ini, saat semuanya sudah berkumpul untuk makan malam, Hwanwoong masih juga belum terlihat. Ini bukan kali pertamanya seperti saat ini, entah apa yang dia kerjakan dalam kamarnya, tapi dia selalu saja lupa waktu dan harus selalu Keonhee yang membawanya keluar dari guanya tersebut.

Sekarang ini Keonhee sedang berjalan menuju kamar Hwanwoong, atas perintah ibunya.

Tok! Tok! Tok!

Anak dengan postur tubuh tinggi itu mengetuk pintu kamar saudaranya, "Hwan!! Keluar!! Makan malam!!!!!"

Tapi tak ada jawaban.

"Hwanwoong!!!"

Akhirnya karna kesal, Keonhee berniat mendobrak pintu di hadapannya tersebut jika saja dikunci seperti biasa, tapi tidak. Dia sempat memutar kenop pintunya, dan tidak dikunci. Tumben.

Saat masuk ke dalam, dan jujur bahwa ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam kamar Hwanwoong. Dia sangat terkejut. Ternyata anak yang dia cari tengah ketiduran dikasur dengan posisi tengkurap dan kertas yang berserakan di sekelilingnya. Keonhee mendekati saudaranya, lalu menggoncangkan tubuh Hwanwoong.

"Hwan... bangun... aku sudah lapar... ayok..."

"Hmmmm....." Hwanwoong hanya mengeluarkan suara eluhan lirih, terdengar masih sangat mengantuk.

"Ayoookkk!!!" Keonhee menarik tangan Hwanwoong dan membuat anak itu terduduk di tengah tumpukan kertasnya.

"Kau pergilah dulu. Aku menyusul." Hwanwoong menjawab disertai mulutnya yang terbuka lebar mencari pasokan oksigen, menguap.

"Tidak! Nanti ibu memarahiku. Aku akan menunggumu disini. Cepat cuci muka dan ganti baju saja!"

Masih dengan nata sipitnya karena mengantuk, Hwanwoong mengangguk lemah dan berjalan gontai menuju kamar mandi di pojok kamarnya.

Keonhee duduk diatas kasur Hwanwoong dan melihat-lihat semua kertas tadi. Ternyata hanya kertas berwarna hitam?!! Tanpa ada tulisan apapun? Dia berusaha memutar dan membalikkan kertas tersebut, tapi sama. Hanya lembaran kertas berwarna hitam tak berarti_-

Tak lama, Hwanwoong keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda dan terlihat lebih segar. Tanpa menunggu lama, Keonhee langsung saja menariknya keluar dari kamarnya menuju meja makan.

Sehabis makan malam, Keonhee mendapatkan peristiwa yang sama seperti ketiga kakaknya yang dahulu. Dia dipanggil untuk masuk ke kamar ibunya, diberikan pakaian baru dan disuruh menghadap ayahnya.

"Wah, anakku yang satu ini sangat tinggi dan pemberani. Ayah jadi penasaran siapa yang memberimu semua ini." Ucap raja saat putranya tersebut sudah berada di tengah ruang tahta.

"Apa maksud ayah? Aku anak ayah, jelas saja ayah lah yang memberikan semua ini."

Raja terkekeh, lalu berjalan mendekati putranya tersebut.

"Kau akan tahu nanti. Ayo ikut ayah."

Mereka berjalan menuju ruang bawah tanah yang sama. Cermin yang sama. Semuanya sama. Tapi kali ini reaksi Keonhee lebih heboh dari ketiga saudaranya yang telah dahulu kesini. Dia berteriak lantang sambil jatuh terduduk saking terkejutnya.

"Siapa dia, nak? Apa yang dia pakai?" Tanya sang raja.

"Seorang pria, memakai jubah perang, membawa tombak yang dililit daun ek. Dan... mahkota berbentuk petir."

"Kau tahu dia?"

"Sepertinya ibu pernah memberitahu kami." Keonhee terlihat sedang berpikir, "Ze.... Zeus?"

"Ya. Sudah kuduga, kau diberkati oleh Zeus."

"Apa maksudnya, ayah?"

"Kau akan mengetahuinya seiring waktu kau tumbuh dewasa."

Keonhee mengangguk.

"Tapi karena kau diberkati Zeus, maukah kau membantu ayah menemukan jawaban?"

"Jawaban apa?"

Raja menarik putranya untuk berdiri karena sedari tadi masih dalam posisi tersungkur ke tanah.

"Menurutmu... apa yang lebih penting, antara menjadi juara satu atau menjadi orang yang bijak?"

"Tentu saja orang yang bijak. Karena orang bijak sudah pasti bisa juara satu, tapi sang juara satu belum tentu bijak. Bisa saja dia menjadi juara karena curang?"

Raja tersenyum. Memang benar anaknya ini diberkati oleh Zeus, dia sangat pandai berbicara dan setiap kata yang terlontar memang tanpa ragu dan mantap.

Dua bulan kembali terlewati. Kali ini giliran Hwanwoong, si penyendiri dan sedikit manja. Kali ini sekaligus kali terakhir sang ratu mengantarkan anaknya untuk menghadap ke raja. Waktu mereka sudah semakin dekat.

Saat Hwanwoong telah berada di tengah ruang tahta, dia tak berani menatap ayahnya. Memang karena alasan Hwanwoong yang lebih suka menyendiri dalam kamarnya, hal itu bahkan membuatnya sedikit merasa canggung disamping ayah kandungnya sendiri. Jika bisa jujur, sebenarnya Hwanwoong sangat gugup saat mengetahui bahwa ia dipanggil untuk mengahadap raja. Dan raja pun mengerti alasan dibalik semua itu. Jika tebakannya tak salah.

"Hwanwoong, bisa ikut ayah?"

Anak itu mengangguk tapi masih tanpa memandang ayahnya. Mereka berjalan beriringan masuk ke ruang bawah tanah diujung ruang tahta itu.

"Bisa tolong tatap ayah, nak?" Pinta sang raja dengan memegangi kedua pundak Hwanwoong.

Anak lelaki itu memutar tubuhnya perlahan ke samping dan mulai mendongak secara perlahan. Lalu ayahnya menjelaskan apa yang harus dia lakukan, dan apa yang harus dijanjikan setelah itu.

"Mengerti?" Tanya raja.

"Mengerti, ayah."

Sang raja tersenyum, sangat jarang dia mendengar kata ayah itu keluar dari mulut anaknya ini.

Sepuluh detik keheningan yang langsung digantikan oleh Hwanwoong yang terkejut sembari melangkah mundur dan menutup wajahnya.

"Siapa yang kau lihat?" Raja menghampiri Hwanwoong dan kembali memegangi pundaknya.

"Pria tua, pakaiannya hitam, mahkota daun cemara, dan membawa dwisula. Dia.... Hades!!"

"Tebakanku benar ternyata." Ucap sang raja. Lalu dia berjalan ke lemari tua disamping cermin itu, mengeluarkan sesuatu dari sana.

Sebuah kalung dengan batu permata merah.

Raja menyodorkan kalung itu pada Hwanwoong, "ini milikmu."

"Kenapa?" Tanya anak itu polos.

"Di dalam kalung ini, ada jiwa-jiwa terdahulu yang akan memberimu jawaban."

Hwanwoong mengerutkan keningnya.

"Kau akan mengerti saat tumbuh dewasa nanti. Dan jagalah kalung itu, jangan sampai ada di tangan orang lain."

"Apa ini juga termasuk rahasia?"

Raja mengangguk, "tentu saja."

Lalu dengan sigap, Hwanwoong memakai kalung tersebut di lehernya dan memasukkan ke dalam kerah bajunya.

Ayahnya tersenyum dan mengelus surai putranya itu, lalu mengajaknya keluar dari tempat tersebut.

-LIVED

*dwisula: tongkat dengan ujungnya yang membentuk huruf U atau dua mata pisau.

_=Zeus: Dewa petir, pemimpin, Tuhan dari semua Dewa.=_

Pohon Ek atau Oak mejadi perlambangan Dewa Zeus.

_=Hades: Dewa penguasa alam bawah atau neraka, penjaga jiwa-jiwa orang yang sudah mati.=_

Simbol bagi Hades adalah pohon cemara.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel