Flowers
Entah kenapa, tapi setelah ulang tahun ke lima belas Xion kala itu, beberapa bulan kemudian kesehatan raja mulai menurun. Keadaan istana mulai panik, tapi yang mengherankan bahwa kedua istrinya hanya menghela nafas saja, tidak ada raut wajah khawatir disana. Seperti tahu semua ini akan terjadi. Dan yang paling menjengkelkan adalah raja mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkannya.
Mulai diluar nalar memang, karena setiap dokter yang datang mengecek keadaan raja, mereka bilang tak ada apapun, raja seratus persen sehat. Tapi sangat jelas terlukis diwajahnya jika sang pemimpin kerajaan itu kini berubah dengan wajah pucat, mata yang lumayan sayu, dan suaranya yang bergetar.
Sementara dari semua orang yang khawatir, ada satu orang yang berpikir keras. Xion.
Ayahnya bilang bahwa dia diberkati oleh Asklepios, sang dewa penyembuh, tapi apa yang harus dia lakukan untuk menyembuhkan ayahnya? Dia masih seorang anak berumur enam belas tahun, sementara kata ayahnya dia akan tahu alasan Asklepios memberkatinya saat dewasa nanti. Yang benar saja, empat tahun lagi?!! Keadaan ayahnya sudah sangat buruk saat ini. Tapi lagi-lagi saat Ravn menyarankan untuk memanggil dokter yang bahkan dari kerajaan lain, usul itu ditolak oleh ratu. Kedua ibu itu bilang akan merawat raja sendiri dibantu dengan para pelayan istana. Keenam anak itu tak bisa melakukan apapun lagi, mereka harus menuruti kata ibu mereka. Tapi sebenarnya bukan tanpa alasan sang ibu mengatakan hal tersebut, mereka sendiri pun sebenarnya khawatir dan bingung. Bukan seperti ini yang telah disebutkan dalam ramalan tersebut, waktunya salah. Xion masih lah seorang anak remaja yang belum menginjak waktunya untuk dewasa. Atau apakah ramalan itu akan dimulai saat ini? Atau ini hanyalah peringatan dari para dewa?
Hingga sampai empat tahun berlalu, keadaan raja mulai membaik setiap tahunnya. Semua anggota kerajaan turut senang akan hal itu. Dan ada seorang lainnya yang masih belum menemukan jawabannya, Xion. Lagi-lagi dia masih bertanya-tanya pada dirinya, bahwa dia sudah berumur dua puluh tahun, apa yang bisa dia bantu dengan berkat itu? Sebenarnya tidak juga, dia masih belum genap dua puluh tahun, masih kurang sebulan hingga waktunya tiba.
Dan sore itu semua pangeran diperintahkan berkumpul di taman belakang istana, sepertinya ada yang penting.
Benar saja, saat keenam saudara itu sampai disana, sudah ada dua orang asing disana. Tamu penting. Seorang pria tua, dan kelihatannya seorang lagi itu adalah putrinya.
"Kalian, sapalah mereka, ini Raja dari kerajaan Lexus, dan ini putrinya, Hera." Ucap raja kepada keenam putranya itu. Dan seketika mereka memberikan salam dengan menundukkan badannya secara bersamaan, barulah setelah itu mereka duduk di kursi yang telah disiapkan.
Beberapa pelayan istana masuk membawa berbagai makanan dan minuman untuk disajikan kepada mereka semua, ini seperti acara makan malam kedua kerajaan yang menjalin kerja sama.
Disela-sela acara makan tersebut, sang raja mengatakan hal yang mengejutkan sehingga membuat keenam anaknya hampir tersedak steak yang mereka makan itu,
"Jadi rencananya aku akan menikahkan Hera dengan Seoho."
Uhuuk!!!
Benar saja, Seoho lah yang tersedak paling keras diantara semuanya. Dengan sigap, ibunya langsung memberinya segelas air putih dan Ravn langsung menepuk-nepuk punggungnya. Tak ada yang mengira kalimat itu terlontar dari mulut ayahnya, karena dari yang semua kira jika ada rencana pernikahan, yang akan dinikahkan adalah Ravn terlebih dahulu mengingat dialah putra tertua disini.
"Tapi kenapa aku ayah? Kak Ravn lah yang harusnya pertama menikah." Pertanyaan sekaligus pernyataan itu terlontar dari Seoho.
"Karena kau yang paling bijak dan cerdas diantara yang lain. Ravn masih harus belajar lebih banyak lagi, nak."
Seoho memandang ke arah kakaknya itu, merasa tidak enak memang, tapi tak ada penolakan dalam hal ini. Ini sudah diputuskan oleh ayahnya.
"Jadi mulai saat ini, Hera adalah tunanganmu, dan dia akan tinggal disini bersama kita. Dia sudah menjadi anggota keluarga kita." Jelas raja.
Sementara Seoho yang hanya bisa menghelas nafas, dihadapannya kini ada seorang gadis asing yang akan menjadi istrinya, dia sedang tersenyum lebar sembari berbicara dengan kedua ibunya, dan sesekali mencuri pandang ke arahnya dengan tersipu.
Dan atas dasar perintah ayahnya, selesai makan malam, Seoho diminta untuk mengajak Hera berjalan-jalan berdua keliling istana sementara yang lainnya berkumpul di ruang aula kerajaan.
Pertemuan pertama memang selalu canggung, Seoho pun tak mengerti tentang perempuan karena sejak lahir dia hanya bergaul dengan kelima saudara laki-lakinya. Dia tak tahu apa yang para wanita sukai, dan apa yang mereka benci. Tapi satu yang dia tahu pasti, semua perempuan menyukai bunga, sama seperti ibunya. Oleh karena itu dia mengajak Hera ke arah rumah kaca istana. Jalur kesana memang menanjak dan sedikit licin, jadi Seoho melangkah terlebih dahulu, lalu membalikkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya sebagai pegangan Hera untuk menaiki tangga licin tersebut.
"Waaaahh...." Hera terperangah sembari melihat sekeliling, ribuan bunga terhampar luas disini, sangat menyenangkan untuk dilihat.
"Bagaimana? Kau suka tempat ini?" Tanya Seoho.
Hera mengangguk antusias sembari berlari kecil menuju segerombolan bunga mawar. "Kerajaan Lexus tidak memiliki rumah kaca atau ladang bunga seperti ini."
Seoho turut tersenyum melihat putri Hera, tunangannya itu, tersenyum lebar sembari menyentuh kelopak-kelopak berwarna merah dihadapannya.
"Akh!" Hera berdiri sembari memegangi jari telunjuknya yang tertusuk duri sehingga mengeluarkan tetesan darah dari sana. Dengan segera, Seoho berlari menghampirinya dan langsung saja mengecup jari telunjuk Hera tanpa permisi.
Lenggang sejenak. Dan mata keduanya saling bertemu. Lalu secara perlahan, Seoho melepaskan kecupannya pada telunjuk Hera, namun masih memgangi tangan mungil Hera. Seoho merogoh saku jubahnya, dan mengeluarkan sapu tangan putih dari sana, lalu ia gunakan untuk membalut luka tadi.
"Terimakasih." Ucap Hera dengan tersipu dan terlihat canggung.
Seoho hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, "bukan apa-apa. Lain kali hati-hati, disini juga banyak alat-alat perkebunan yang tajam."
Hera mengangguk tanda mengerti.
"Ka... kalau begitu... ayo kita kembali ke dalam. Sudah semakin larut."
"Em."
Seoho memimpin langkah mereka lagi, dan dia pun sering kali menengok ke arah belakang, menanyakan apakah Hera butuh bantuan untuk turun atau tidak.
Sepanjang jalan Seoho bertanya dalam hatinya sendiri, jika Hera akan menjadi pendamping hidupnya, bisakah dia menceritakan rahasianya? Karena hingga saat ini pedang Athena itu tak pernah muncul lagi, sudah sembilan tahun ia menyimpan rahasia itu sendiri dan itu rasanya sungguh sesak, serta ia telah berlatih untuk memunculkan pedang tersebut, tapi masih saja gagal. Siapa tahu Hera bisa memberikan saran untuk membantunya, itu yang dia harapkan.
Akankah Seoho akhirnya melanggar janjinya untuk menyimpan rahasia itu?
-LIVED
