
Ringkasan
Bagi sebagian orang yang percaya, ada beberapa dunia lain yang berjalan di sekeliling kita, ada pula hal tak masuk akal seperti halnya kehidupan masa lalu. Mungkin bagi sebagian orang yang tak percaya akan hal itu akan menganggap itu semua tak lebih dari sekadar mitos atau cerita fiksi karangan orang lain semata. Tapi percaya atau tidak, ada hal yang kita semua yakini dan percaya. Yaitu hukum karma, apa yang kita tabur akan menentukan apa yang kita tuai di kemudian hari. Bagi kalian yang percaya, tapi tetap menyangkal adanya kehidupan masa lalu, cobalah berpikir kembali. Apa yang telah kalian lakukan di masa lalu sehingga kehidupan masa kini kalian menjadi seperti ini? Semua yang terjadi, entah itu kebahagiaan, kesedihan, ataupun kemalangan, yakinlah bahwa itu semua memang ada hubungannya dengan apa yang terjadi di masa lalu.
Kingdom
Dunia yang kita tahu hanyalah satu, yaitu yang kita tempati saat ini. Tapi, tanpa kalian tahu, Tuhan, Dewa, ataupun sang penguasa langit, menyiapkan hal lainnya. Hal yang tidak diketahui oranglain, hal yang kita tak tahu, hanya orang-orang yang telibat di dalamnya saja yang tahu dan percaya.
Mustahil. Kata kita. Tidak mungkin.
Tapi.... siapa tahu?
Siapa tahu dibalik dunia yang kita tahu ini, dunia yang damai, adil, berlindung pada hukum dan berpegang aturan, terdapat dunia lain? Dunia yang kejam, rakus, tamak, tanpa aturan, tanpa adanya hukum, semua sisi kelam dunia ada disana. Dan kita hanya bercermin dari sini. Sama, tapi tetap saja berbeda. Entah mana yang asli, atau hanya hasil pantulan lensa.
Itu semua menurut sudut pandang, dimana dirimu berada.
Kita tak perlu menarik garis lurus yang sangat panjang untuk menemukannya.Kita hanya perlu membuka pintunya.
Ya, dunia lain itu, ada dalam diri kita. Hanya tentang frekuensi ruang dan waktu, kita dapat menemukan dunia lain tersebut.
Pernah mendengar kisah tentang ibu tiri? Banyak versi mengenai kisah itu, tapi versi yang paling disukai banyak orang tentunya adalah adanya konflik. Ibu tiri hanya mementingkan anaknya sendiri, tapi saat suaminya berada di rumah dia langsung menjadi seolah-olah seorang ibu yang baik hati dan tidak pilih kasih.
Juga pernahkah mendengar kisah seorang pria yang memiliki dua istri? Mungkin para istrinya saling bermusuhan dan begitu pun dengan anak mereka.
Tapi semua kisah itu tak berlaku disini.
Kerajaan Othrys.
Kerajaan paling makmur, sejahtera, megah dan mewah, serta rakyat yang bahagia. Semua itu tak ayal hasil dari pemimpinan sang raja yang telah turun temurun mewarisi garis keturunan bangsawan itu.
Seperti kisah diatas, namun kebalikannya. Negara ini di pimpin oleh seorang raja dan ratu yang mendampinginya, serta seorang selir raja. Sang ratu melahirkan tiga orang putra mahkota. Ya, semuanya laki-laki. Begitu pun dengan sang selir. Bisa jadi ini akan membawa berkah, karena sang raja tak perlu mengkhawatirkan tahta jika dirinya lengser nanti, tapi bisa juga membawa petaka.
Perebutan tahta.
Itu yang menjadi beban pikiran sang raja. Walaupun secara teknis, sangat jelas bahwa tahta akan diberikan kepada anak yang paling tua.
Tapi siapa tahu, ada satu lagi dari mereka yang menginginkannya, atau... mereka semua menginginkannya.
Tapi perlu diingat, bahwa bukan tanpa alasan, mengapa sang raja menikah dengan kedua perempuan itu.
Putra pertama jelas lahir dari dalam rahim sang ratu. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan bermata tajam selayaknya dipenuhi ambisi.
Putra kedua lahir dari rahim sang selir. Lahir setahun setelah putra pertama, kali ini bayi laki-laki yang bermata teduh, cenderung akan menjadi lebih pendiam daripada putra pertamanya.
Setahun berlalu, lahir lagi bayi mungil yang masih diliputi darah itu, bermata sipit dan memiliki struktur mulut yang lucu, cenderung lebih kecil dengan bibir imutnya.
Setahun kemudian, lahirlah lagi dua bayi laki-laki, satu darah daging sang ratu, satu lagi dari sang selir. Kali ini hanya berselang dua bulan jarak umur mereka.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang setiap setahun sekali pasti ada bayi yang lahir, kali ini berjarak dua tahun. Anak terakhir sang raja dari selirnya.
Tahun-tahun berlalu, ratu maupun selir raja tersebut saling menjaga anaknya satu sama lain, tanpa membeda-bedakannya. Disamping itu, hati seorang ibu pasti selalu luluh jika dihadapkan kepada seorang anak kecil, kan? Keenam putra mahkota tumbuh dengan baik dilingkungan kerajaan, apapun yang mereka mau, pasti akan selalu tersedia dengan segera. Mereka pun bermain bersama dengan suka cita, saling bercanda, bergurau, dan kadang saling mengejek juga.
Beranjak remaja, mereka berenam tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan dan mulai matang. Tak jarang sang raja dan kedua istrinya itu terharu dan berpikir, sejak kapan anak-anak menjadi sebesar ini?, mereka tak siap untuk melepaskan.
Melepaskan hal yang seharusnya mereka lepaskan.
Kebenaran, fakta, rahasia, dan pilihan.
Barulah saat anak-anak mereka berumur lima belas tahun, saat dirasa mereka telah berubah dari segi fisik maupun psikis, kebenaran itu terungkap.
Anak pertama yang dipanggil untuk menghadap ayahnya adalah yang paling tua, Ravn.
Anak berparas tampan dengan mata tajam yang cenderung mengintimidasi itu, kini melangkah melewati lorong istana dengan setelan hitamnya yang dipenuhi manik-manik berwarna merah.
Saat dirinya ada di depan pintu yang sangat tinggi itu, kedua penjaga segera membuka pintu tersebut.
Ravn remaja menatap ayahnya, bertanya-tanya ada hal penting apa sehingga dia dipanggil menghadapnya.
Padahal aku tidak nakal lagi.
"Ravn," Raja turun dari kursi tahtanya, menuruni anak tangga, melewati pilar-pilar istana, dan mendekati putra pertamanya yang masih mematung di tengah ruangan, lalu mengelus rambut kecoklatan putranya itu.
"Ayo ikut ayah." Raja menggenggam tangan putra sulungnya itu, dan membawanya ke suatu tempat. Mereka memasuki pintu, lalu menuruni tangga yang hanya disertai penerangan lampu kuning temaran di kanan dan kiri lorong bawah itu.
Langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah benda yang tertutup kain hitam. Ravn mendongak menatap ayahnya yang sedang memandang lurus ke arah benda hitam tersebut. Lalu tautan tangan ayah dan anak itu terlepas. Raja secara perlahan membuka kain hitam itu dan memperlihatkan sebuah cermin besar seukuran orang dewasa di hadapannya.
"Ravn," Raja sedikit menunduk untuk memutar badan putranya ke samping guna menatapnya. "Ayah ingin meminta tolong."
"Apa ayah?" Tanya Ravn.
"Tolong kamu tatap matamu di cermin itu selama sepuluh detik."
Ravn hanya mengangguk, permintaan yang sangat mudah kan? Lalu Ravn menghadap ke cermin itu dan mulai menjalankan perintah dari ayahnya.
Keheningan meliputi ruangan itu, sang raja memandang putranya dengan tatapan khawatir.
Pada detik ke sepuluh.....
"Akh!! Ayah!!!"
Ravn terjungkal ke belakang dan jatuh terduduk. Dengan sigap, raja langsung mendekap putranya itu.
"Apa yang kau lihat, nak?"
Ravn memandang ayahnya dengan raut wajah bingung, "aku... aku melihat... seorang perempuan, sangat cantik, dia... hanya memakai kain putih yang dililitkan ke tubuhnya, dan... mahkota."
Kedua mata sang raja membulat, "mahkota apa?"
"Daun... myrtle! Tapi berwarna emas... dan ada banyak mutiara yang bersinar di rambutnya."
Seulas senyum terpatri di wajah raja. "Sudah kuduga, sejak lahir kau memang sangat tampan, Ravn."
Anak itu hanya mengerutkan keningnya samar.
"Aphrodite. Kau diberkati oleh Aprodhite."
"Dewi? Yang biasanya kita semua pelajari dari ibu?"
"Iya. Tapi nak, kau harus berjanji pada ayah."
"Janji? Janji apa?"
"Kau... tidak boleh memberitahu adik-adikmu yang lain mengenai ini. Apa yang terjadi disini, apa yang kau lihat, dan apa yang ayah katakan padamu. Ini rahasia." Begitu ucap raja sembari mengatakan frasa terakhir dengan jari telunjuk yang ditempelkan ke mulutnya.
Ravn mengangguk mantap sambil tersenyum. "Tapi ini rahasia sampai kapan? Kata ibu, semua rahasia akan terungkap pada waktunya. Kapan waktunya?"
"Saat semua saudaramu memiliki rahasia yang sama." Jawab sang raja. "Dan... saat ayah pergi."
"Pergi? Ayah akan pergi kemana?"
"Jauh. Sangat jauh. Dan kau tidak boleh ikut, begitupula adik-adikmu. Kau harus menjaga mereka."
"....."
"Yasudah, ayo kita kembali. Setelah ini, kau harus lebih rajin belajar ya?" Ucap raja sembari mengelus surai putranya dan berjalan beriringan menaiki tangga yang tadi dilalui mereka.
-Lived
_=Aphrodite: dewi cinta, kecantikan, seksualitas, dan nafsu.=_
Daun myrtle erat kaitannya dengan Aphrodite yang melambangkan kecantikan.
