Lights
Setahun pun berlalu kembali, yang berarti Ravn telah menyimpan rahasianya selama dua tahun, sementara Seoho telah menyimpannya selama setahun. Jika ada yang bertanya dimana Seoho menyembunyikan pedang Athena pemberian ayahnya, dia akan menjawab tidak ada. Dia tidak menyembunyikannya, pedang itu yang bersembunyi dengan sendirinya.
Setelah keluar dari ruangan bawah tanah di ruang tahta satu tahun lalu, entah karena apa namun tiba-tiba saja pedang itu menghilang dari genggaman Seoho. Hal itu langsung membuat anak itu tersentak, namun sang ayah bersikap biasa saja seolah tahu akan semua itu. Dan saat Seoho bertanya kemana perginya pedang itu, ayahnya hanya menjawab seperti ini,
"Pedang itu selalu ada di dekatmu. Akan ada waktunya dia muncul jika kau menginginkannya."
Diluar nalar memang, tapi itulah kenyataannya.
Dan untuk ketiga kalinya, raja memanggil putranya yang lain untuk menghadap saat matahari terbenam nanti. Putra ketiganya, Leedo.
Anak itu tak tahu apa yang akan ayahnya bicarakan padanya, dan entah kenapa juga dia hari ini terbangun sangat pagi, terlalu pagi bahkan untuk berolahraga. Dia terbangun pukul empat pagi di hari ulang tahunnya ke lima belas hari ini. Bahkan matahari pun belum mau terbangun dan menggantikan bulan, namun dirinya telah terduduk diatas kasurnya sembari memandang langit yang masih cenderung gelap itu.
Tak pernah sekalipun ia terbangun paling pagi seperti ini, biasanya dia lah yang paling susah dibangunkan untuk sekolah. Leedo memutuskan untuk turun dari tempat tidut dan berjalan keluar kamarnya, disana dia sering bertemu banyak penjaga istana yang berdiri tegap. Dia hanya melewatinya. Leedo adalah anak yang cenderung pendiam, dia tak suka menyapa orang lain, sangat berbeda dengan Seoho yang ramah dan Keonhee yang cerewet.
Kakinya berjalan keluar menuju taman belakang istana. Disana terhampar rumput hijau yang luas serta pepohonan yang rindang dan bunga berwarna-warni yang selalu dirawat oleh kedua ibu mereka. Leedo hanya menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sekeliling taman sampai matahari terbit.
Cahaya kekuningan yang memancar dari ufuk timur tersebut, seakan berkata bahwa hari ini sudah dimulai. Embun-embun meleleh, hewan-hewan mulai terbangun dari tidurnya, kuncup bunga secara perlahan membuka. Sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan mata.
"Leedo?"
Sebuah suara mengintrupsi anak itu.
"Ibu?" Yang dia maksud adalah ibu kandungnya, sang ratu.
Ratu mendekati putra keduanya itu dan mengelus lembut rambut hitamnya, "selamat ulang tahun, nak." Setelahnya wanita itu mengecup pucuk kepala putranya.
"Terimakasih ibu."
Sang ratu hanya tersenyum dengan lembut.
"Kenapa kau sudah bangun? Apa kau tak bisa tidur?"
Leedo menggeleng, "tidak bu, tidurku nyenyak. Hanya saja... entah kenapa aku terbangun begitu saja bahkan saat matahari belum terbit."
"Itu tandanya kau telah tumbuh dewasa."
"Tapi aku masih lima belas tahun, kata bu guru seseorang akan dewasa saat dirinya telah berumur dua puluh tahun."
"Kau akan mengetahuinya nanti. Mau bantu ibu dan yang lainnya menyiapkan sarapan?"
Anak itu mengangguk.
Lalu kedua ibu dan anak itu berjalan beriringan masuk kembali ke dalam istana.
Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Matahari telah tergelincir ke ufuk barat bumi. Semua anggota kerajaan telah menyelesaikan makan malam mereka, dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Para pangeran ada yang bermain bersama, Keonhee dan Ravn, ada pula yang langsung masuk ke dalam kamarnya masing-masing, yaitu Hwanwoong dan Xion. Seoho, si anak yang paling rajin itu pun ada di dalam kamarnya, belajar dan sesekali diam-diam berlatih keras untuk memunculkan pedang Athena nya. Namun gagal.
Sementara Leedo telah dipanggil oleh ibunya ke dalam kamarnya. Telah disiapkannya pakaian baru berupa jubah hitam disertai hiasan payet dan manik berwarna merah dan oranye. Ibunya memerintahkannya untuk berganti pakaian di bilik ibunya.
Sang ratu menatap lurus sembari menghela nafas berat menatap putranya yang telah berganti pakaian itu. Ini adalah kali keduanya melakukan hal itu setelah Ravn dua tahun silam, dan itu rasanya lumayan berat. Itu berarti ia harus siap melepaskan anak-anak mereka sebentar lagi, hanya sisa tiga tahun lagi dan semuanya entah akan menjadi anugrah, atau... bencana.
Sang ibu mengajak anaknya untuk duduk di depan cermin, dan mulai mengatur rambut putranya.
"Ibu tidak siap untuk melepasmu." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut sang ratu. Tentu saja, mengingat Leedo adalah putranya yang sangat pendiam dan paling susah untuk bergaul, membuatnya sedih saat mengingat itu.
"Kenapa ibu harus melepasku? Aku tak akan pergi kemanapun, bu."
"Iya, sayang." Ucap ibunya dengan tersenyum. Tanpa anak itu tahu, memang bukan dirinya yang akan pergi, namun ibunya lah yang akan pergi.
Leedo berjalan melewati lorong menuju ruang tahta, dan memasukinya. Sang raja menghampiri putranya itu dan mengajaknya pergi ke ruangan yang sama.
Lagi, kalimat yang sama, dan semua hal yang sama, serta janji yang sama. Dan pertanyaan yang sama,
"Apa yang kau lihat?" Tanya sang raja.
"Lelaki. Dengan jubah berwarna ungu. Dia sangat tampan, tapi tidak terlalu jelas karena kepalanya bersinar."
"Siapa menurutmu itu?"
Kening Leedo sedikit berkerut, berpikir, sepertinya dia pernah tahu. Tapi itu dia, karena dia sering tertidur saat guru atau ibunya menjelaskan pelajaran untuk mereka. "Aku lupa ayah, tapi yang jelas dia sangat bersinar."
Ayahnya hanya tersenyum, "Helios?"
"Ah... iya! Itu dia! Tapi... kenapa aku melihat helios dalam cermin itu?"
"Kau diberkati olehnya, nak. Itu takdirmu."
"Tapi kenapa aku harus menjaga ini sebagai rahasia? Kak Seoho pun tak boleh tau?"
"Tidak. Tidak seorang pun kecuali dirimu dan ayah. Mengerti?"
Leedo mengangguk mantap.
"Ayo kita pergi. Ada hal lain yang harus ayah beritahukan padamu."
Lalu ayah dan anak itu keluar dari ruang bawah tanah tersebut, dan berjalan menuju ruangan lain di sebrangnya.
Ruangan itu sangat luas, dan satu sisinya hanya berupa kaca tebal yang menghadap ke arah luar istana dan menghadap ke arah timur. Di depan kaca tersebut, ada sebuah meja dan benda yang berbentuk tak asing baginya. Dia pernah menggambarnya saat kelas seni. Sebuah matahari.
"Ini ruanganmu."
"Hah??" Anak itu terkejut dan langsung mendongak menghadap ayahnya dengan tatapan seolah tak mengerti.
Raja melangkah ke arah meja ditengah ruangan itu dengan putranya yang mengekorinya.
"Benda ini, kau bisa menemukan apapun yang ingin kau ketahui dengan ini." Ucap raja sembari mengangkat benda berbentuk matahari yang terbuat dari emas tersebut, dan memberikannya ke putranya.
"Apa ini?"
"Jembatanmu dan Helios."
Lagi, anak itu tak mengerti.
"Kau akan mengerti nanti. Sekarang lebih giatlah dalam belajar hal itu ke ibumu."
Leedo mengangguk.
Lalu mereka meninggalkan ruangan itu bersama.
-LIVED
-=Helios: Dewa matahari bangsa Yunani, sang penjaga kutukan, dan penglihatan.=_
Helios digambarkan sebagai pemuda tampan tanpa janggut dengan mahkota cahaya matahari, dia akan berkelliling dari arah timur ke arah barat bumi untuk memberikan cahaya.
