Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sword

Seperti biasa, hari-hari para pangeran itu disibukkan dengan belajar. Entah itu belajar bela diri, ilmu pengetahuan, matematika, dan sastra. Tapi ada satu mata pelajaran spesial yang tidak diajarkan oleh sekolah manapun, hanya mereka berenam lah yang menerima materi tersebut. Pelajaran mengenai Dewa dan Dewi Yunani kuno, dan guru yang mengajar mereka tidak lain lagi adalah ibu mereka. Ya, kedua ibu itu membagi waktu mereka untuk mengajari anak-anaknya agar mengerti mengenai leluhur mereka.

Iya, leluhur.

Bukan tanpa alasan raja menikahi dua perempuan sekaligus, bukan tanpa alasan kerajaan mereka sangat makmur dibandingkan kerajaan tetangga lain, dan bukan tanpa alasan tempat ini dinamakan kerajaan Othrys. Selain karena bertempat di gunung Othrys, ini adalah bekas tempat tinggal para dewa dewi Titan kala itu. 

Begitu pula... bukan tanpa alasan raja melakukan semua itu. Dia hanya mematuhi ramalan.

Kembali lagi ke para putra mahkota. Enam anak yang dibesarkan dengan cara yang sama, namun mereka memiliki sifat dan perilaku yang berbeda. Seperti sekarang, dalam hal pelajaran hanya satu anak yang sangat bersemangat dan antusias akan itu.

Putra kedua sang raja sekaligus putra pertama dari selirnya. Seoho. Anak yang hanya kurang seminggu lagi akan berusia lima belas tahun itu, kini tengah serius menyimak pelajaran matematika yang dijelaskan oleh guru mereka yang khusus mengajar di istana untuk keenam anak tersebut. Sementara para pangeran lainnya sudah tampak lesu dan tak bertenaga, enggan untuk menyelesaikan segala perhitungan itu lagi. Adapun karena sang bungsu yang berjarak umur paling jauh itu menerima soal dan materi yang berbeda, yang tenut saja akan lebih mudah bagi kakak-kakaknya yang lain, jadi sang kakak tertua malah memilih menjawab soal milik adik terkecilnya itu, Xion.

Satu yang lainnya ada yang tertidur di mejanya, Leedo, si pangeran ketiga. Dan ada dua anak yang sudah bagaikan sebuah magnet yang saling bersebrangan, sisi Selatan dan Utara. Kedua anak itu seumuran, namun hanya selisih dua bulan saja, Keonhee dan Hwanwoong. Mereka seperti kutub utara dan selatan bagi magnet, Keonhee cenderung lebih aktif dan enerjik serta sangat bisa berbicara layaknya pembawa acara, tak pernah kehabisan kata-kata, sementara Hwanwoong lebih suka menyendiri dan tak terlalu suka diganggu apalagi oleh ocehan Keonhee yang menurutnya semua itu tidak berguna dan hanya buang-buang waktunya saja. Hwanwoong lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan tidur ketimbang harus mendengarkan omongan tak masuk akal yang berasal dari mulut lebar Keonhee, begitulah Hwanwoong mengatakannya.

"Hey!! Bangun!!!" Seoho menggoyang-goyangkan pundak Leedo perlahan, lalu tak lama sang pemilik nama itu membuka mata sipitnya. 

"Apa?" Tanya Leedo dengan suara malasnya.

"Pelajaran sudah selesai."

"Hah??" Leedo melihat sekeliling. Benar saja. Ruangan ini sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua disana. Dia harus banyak berterimakasih dengan Seoho karena sudah membangunkannya, jika tidak dia akan tidur sampai malam karena keempat saudaranya yang lain memang tak bisa dipercaya semua.

Lalu mereka berdua berjalan beriringan ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Berganti pelajaran, dan ini yang paling mereka suka, belajar bela diri, senapan, pedang, tombak, dan senjata lainnya. Terdapat tiga orang pria untuk mengajar mereka, satu untuk mengajari Ravn, Seoho, dan Leedo. Satu lagi untuk mengajari Keonhee dan Hwanwoong, serta satu sisanya untuk si bungsu. Perbedaan umur mereka mengharuskan untuk memiliki kelas yang berbeda.

Entah kenapa, dalam hal ini pun Seoho sangat mudah memahami dan bahkan memiliki kemampuan paling bagus dibanding lainnya. Posisi kedua ada pada Keonhee. Ya, anak paling berisik itu sering disandingkan duel dengan kakaknya itu. Tentu saja untuk latihan dan menggunakan senjata palsu, tapi tentu saja mau tidak mau suatu saat pasti mereka akan menggunakan pedang atau senjata lainnya yang asli. Meskipun sang ayah berharap untuk hal tersebut tidak akan terjadi, tapi kemungkinannya sangat kecil jika dilihat dari apa yang beliau yakini selama ini, apa lagi jika bukan mengenai ramalan yang sudah terasa seperti bayang-bayang yang selalu menghantui sang raja selama ini. Ditambah sepertinya waktu berjalan sedikit lebih cepat selagi dia semakin memikirkannya.

Tepat minggu depan saat ulang tahun ke lima belas Seoho, satu per satu para pangeran itu mulai tumbuh dengan cepat. Lalu kebetulan pada hari itu pula diadakan ujian untuk bidang bela diri pedang. Dan raja mengatakan akan memberikan hadiah kepada Seoho jika dia lolos dengan nilai yang bagus, hal itu pun menjadi motivasi anak itu untuk terus berlatih.

Seminggu berlalu, akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Kali ini Seoho disandingkan duel dengan Ravn oleh perintah raja. Walaupun pelatih mereka mengatakan itu tak adil mengingat Ravn berada pada posisi kelima dalam hal menguasai materi bela diri, namun raja bersikeras memaksa dan meyakinkan ketiga pelatih itu. Entah perasaan apa yang raja dapatkan, tapi menurutnya itu hal yang tepat.

Benar saja, entah mendapat kekuatan darimana, Ravn sempat unggul dari Seoho, bahkan keempat adik-adik mereka sampai terkejut dan membulatkan mulut mereka. Tapi pertarungan itu berakhir seri. Mereka berdua lolos.

Selepas itu, raja membawa Seoho ke ruangan tahta.

"Ayah telah menjajikan hadiah untukmu kan?" Tanya raja sembari mengelus surai hitam Seoho. Anak itu hanya mengangguk antusias.

Lalu raja membawa putra keduanya itu ke ruang bawah tanah yang sama dengan setahun lalu saat Ravn dibawa kesana.

Kalimat yang sama, permintaan yang sama, hal yang sama, dan janji yang sama pula, terlantur dari mulut raja. Tapi jawabannya berbeda.

"Apa yang kau lihat?" Tanya raja.

"Seorang wanita, dia memakai khiton dan... ada ular yang melilit pinggangnya." Jawab Seoho dengan kening berkerut. "Sepertinya aku tahu, ayah!"

Wajah raja lebih antusias dari putranya kini, "siapa? Mahkota apa yang dia pakai?"

"Dia memakai topi perang dengan lilitan zaitun. Daun zaitun. Athena."

Mata sang raja membulat, memang benar dugaannya, bahwa Seoho diberkati oleh Athena.

Lalu raja berdiri dan melangkah ke arah lemari tua di samping cermin itu, membuka pintunya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

"Ini." Raja memberikan barang itu kepada putra keduanya, sebuah pedang.

"Untuk apa ayah?" Tanya anak itu polos sembari menerima benda itu.

"Ini pedang Athena. Sekarang menjadi milikmu. Simpan itu sampai waktunya tiba."

"Maksud ayah sampai kita berenam memiliki rahasia yang sama?"

Raja mengangguk dan tersenyum.

Lalu mereka berdua meninggalkan ruang bawah tanah itu setelah kembali menutup cermin tersebut dengan kain hitam yang sama.

-LIVED

*khiton: pakaian orang yunani kuno.

_=Athena: Dewi kebijaksanaan, strategi, dan perang.=_

Meski seorang Dewi, tapi Athena terkenal cerdas dan kuat. Pohon zaitun kerap menjadi interpretasi seorang Athena.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel