Key
Seperti yang diceritakan sebelumnya, keenam pangeran itu harus menyimpan rahasia mereka masing-masing, dan hingga waktunya tiba mereka akan menemukan jawabannya sendiri. Waktunya adalah saat mereka dewasa. Lalu kini adalah waktunya, semua pangeran sudah beranjak dewasa sepenuhnya.
Tapi ada beberapa masalah disini. Sang putra pertama, Ravn, masih saja belum menemukan jawabannya, mengapa Aphrodite memberkati hidupnya? Tidak mungkin hanya memberikannya kecantikan layaknya Aphrodite kan? Pasti ada alasan lain, sang Dewi tidak mungkin melakukan hal yang konyol seperti itu, sebuah berkat dari seorang dewi tidak akan terasa seperti hanya sebuah mainan dan hanya sekedar terasa seperti hal tidak berguna seperti ini. Lalu Ravn memikirkan satu kemungkinan yang terlintas di otaknya saat ini, entah kenapa dia merasa sedikit jengkel ketika memikirkannya, yaitu alasan yang mungkin saja benar mengenai kenapa ayahnya menikahkan Seoho terlebih dahulu sebelum dia, sedangkan dia adalah putra tertua diantara lainnya. Yaitu karena Seoho telah menemukan jawabannya?
Tapi nyatanya tidak. Seoho pun begitu. Semuanya masih abu-abu, belum jelas mengapa Athena memberinya berkat itu. Tentu saja disamping kemampuan berperangnya, pasti ada alasan lain yang mendasarinya.
Semuanya hanya mengira-ngira seperti itu selama bertahun-tahun, tak pernah terbersit pikiran untuk ingin mengetahui siapa dewa atau dewi yang memberkati saudaranya masing-masing. Namanya juga rahasia. Disamping itu mereka juga saudara, tak mungkin untuk saling mencurigai seperti itu, mereka sudah seharusnya mempercayai satu sama lain dan tanpa rasa curiga sedikitpun. Tapi bagaimana bisa, tentu saja di waktu-waktu tertentu mereka juga sangat penasaran mengenai hal itu, mereka saling memikirkannya disaat sendiri, tapi saat mereka sedang bersama atau berkumpul, semuanya selayaknya tak mengetahui apapun mengenai hal tersebut dan berperilaku seperti biasa.
Lalu hari ini adalah hari ulang tahun ke dua puluh si bungsu, Xion. Akhirnya hari yang ditunggu semua orang datang, entah apa yang menanti mereka di depan, mereka harus siap apapun yang terjadi.
Pagi ini seperti biasa, Leedo terbangun sebelum matahari terbit, entah kenapa sudah beberapa waktu belakangan ini Leedo melakukan hal ini yang dia sendiri pun heran, semakin kemari dia akan terbangun lebih cepat setiap harinya, bahkan sekarang dia akan otomatis terbangun sebelum sang pemilik siang itu muncul, tapi anehnya dia tidak pernah merasa lelah ataupun mengantuk untuk bangun di awal hari dan meski malamnya dia hampir tersadar hingga melewati waktu tengah malam dan bahkan dia pernah mencoba untuk tidak tidur semalaman, namun hasilnya percuma, dia pada akhirnya tertidur tanpa sadar dan akan terbangun lagi sebelum matahari terbit. Sesaat setelah bangun, Leedo belakangan ini sudah tak lagi mengunjungi taman belakang istana, namun sebaliknya, dia menuju masuk ke dalam istana, tepatnya menuju ruang tahta, lalu berjalan ke arah ujung dan membuka pintu rahasia yang tertutup rak buku disana. Tanpa orang lain tahu, dia sudah sering berkunjung ke ruangan ini saat ada acara-acara khusus atau kejadian tak mengenakkan seperti peristiwa sakitnya raja bertahun silam, dan hal itu ia lakukan sejak beranjak dewasa, tiga tahun lalu. Dia ingin tahu jawaban apa yang ia dapatkan dengan benda emas berbentuk matahari itu.
Sinar kekuningan muncul dari ufuk timur, dengan perlahan Leedo mengangkat benda itu ke arah terbitnya matahari. Arah sinarannya begitu terang, entah kenapa memang hari ini juga terasa lebih terik dari biasanya, bahkan tadi juga matahari terbit lebih cepat dari jam yang biasanya terbit, seakan sang mentari pun tahu tentang siapa sebenarnya Leedo yang sesungguhnya, tentang dia adalah bukan anak biasa, bahwa dia telah terberkati oleh Sang Dewa Matahari.
Lalu tak lama setelahnya, secara ajaib dan mengherankan, saat matahari perlahan terbit semakin tinggi dan sinarnya masuk melewatinya, Leedo merasa kepalanya begitu berat dan anehnya sekelilingnya yang tidak ada siapapun disna selain dirinya, kini menjadi begitu berisik, seakan banyak sekali orang yang ingin berbisik padanya. Dengan cepat dia meletakkan benda itu dengan keras dan jatuh terduduk sembari menutup kedua telinga dan memejamkan matanya juga. Sebuah penglihatan mengerikan datang dengan cepat dalam beberapa detik, namun terlihat sangat jelas dan padat.
Kak Ravn....
Darah....
Hitam.
Apakah itu aku? Aku.... mati?
Sesaat setelah melihat warna hitam dan suara berisik itu lenyap, Leedo segera membuka matanya. Nafasnya memburu.
Apa itu?
Tak habis pertanyaan dan rasa penasaran Leedo, sayangnya saat dirinya mengulang kegiatan yang sama, tak ada yang terjadi lagi.
Dia masih tidak percaya atas apa yang dia lihat. Dia hanya melihat tiga panel kejadian. Ravn yang mengenakan mahkota raja, lalu darah berceceran di setiap sudut lantai istana, dan hitam.
Apa maksudnya?
Dia baru menyadarinya lagi. Hari ini ulang tahun ke dua puluh Xion. Sekarang semuanya sudah dewasa. Akankah yang lainnya juga menemukan jawabannya? Apakah saudaranya yang lain mengalami hal aneh sepertinya.
Jawabannya tidak.
Tidak semua.
Karena ada satu orang lain lagi yang mengalaminya.
Setelah acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Xion, kini semuanya tidak langsung kembali ke kegiatan masing-masing seperti biasa. Mereka semua masih duduk dikursinya, hanya piring-piring bekas makanan yang disingkirkan. Raja ingin membahas rencana pernikahan Seoho dan Hera yang telah sebulan lalu bertunangan.
Tapi secara mengejutkan Hwanwoong meminta izin untuk tidak ikut membahasnya, dia mengatakan akan menerima apapun hasil rapatnya nanti.
Raja hanya tersenyum dan meminta maaf ke Hera, "Hwanwoong memang anaknya lebih penyendiri, mohon maklumi saja."
Hera tersenyum dan mengangguk.
Sementara itu Hwanwoong berjalan secara tergesa menuju kamarnya, dan langsung menguncinya seperti biasa. Nafasnya memburu sembari tubuhnya merosot ke lantai. Dibukanya jubah kerajaan miliknya dan melemparnya ke sembarang arah, lalu dengan tergesa ia juga membuka satu per satu kancing kemejanya dan memperlihatkan permata merah di kalung yang ia pakai itu, bersinar. Hal itu membuat dadanya sesak sedari tadi.
Hwanwoong berjalan ke arah kasurnya sembari menendang sepatu yang ia pakai dan melepaskan kalung tersebut dari lehernya. Dia dudukkan dirinya di pinggir kasurnya dan menggenggam permata itu dengan kuat. Lalu seketika dia seperti mendapat penglihatan.
Ayah....
Ibu......
Kak seoho...
Kak Leedo...
Keonhee...
Xion....
Dan... aku?
Kedua mata Hwanwoong kembali terbuka. Nafasnya masih belum teratur. Apa maksudnya tadi? Kenapa hanya Ravn yang tak ada?
Ia menghela nafas lalu melempar kalung itu ke tangah kasurnya dan berjalan menuju lemari kayu besarnya. Diambilnya sebuah kaus pendek hitamnya dan ia pakai dengan cepat sembari berjalan kembali ke arah kasur. Dijatuhkannya dirinya disana dengan posisi tengkurap, dan mulai memejamkan matanya.
Kala terpejamnya kedua matanya, Hwanwoong bertanya-tanya dalam hati, apakah saudaranya yang lain mengalami hal semacam ini?
Sayangnya tidak.
Karena sang pemegang kunci hanya ada dua orang. Yaitu Leedo dan Hwanwoong.
-LIVED
