Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Plak ....

"Itu untuk wanita doyan selingkuh seperti kamu," kata Azam lalu menyulut rokoknya. Ia tak menghiraukan dua bayi yang sedang aktif merangkak di sampingnya terpengaruh dengan asap rokok.

"Tega kamu menuduhku, Mas! Harusnya kamu bisa bicarakan baik-baik," ucap Aina sambil mengusap pipinya yang terasa perih dan memanas.

Tidak mudah membuat Azam percaya lagi padanya karena Azam lebih percaya pada ibunya. Azam tak tahu jika dalam satu hubungan pernikahan harus ada rasa saling mengerti satu sama lain bukan pula satu kebodohan harus percaya sepenuhnya.

"Benar kata ibu," ungkap Azam lalu menginjak rokok yang baru saja ia sulut.

Azam menarik tangan Aina dengan cepat lalu menyeretnya masuk kedalam kamar dan membiarkan Saka dan Suga bermain di lantai begitu saja.

"Ada apa, Mas? Aku ingin menyusui si kembar." Azam menarik paksa pakaian Aina hingga baju Aina terlepas dan kancingnya terjatuh di lantai.

"Mana bekas kamu bercinta dengan laki-laki itu? Aku ingin melihatnya," tuduh Azam membuat Aina geram pada tingkah suaminya itu.

"Kenapa? Kamu cemburu, Mas? Bukankah selama ini kamu jijik sama aku, Mas? Sabun saja kamu tidak ingin berbagi denganku," tandas Aina membuat Azam terdiam dan menghentikan memeriksa tubuh Aina.

"Apa maumu sekarang?" tanya Azam dengan suara meninggi.

"Aku ingin kita cerai," lirih Aina dengan air mata mengembun dan sudah menganak sungai seketika.

"Benar. Aku juga menginginkan kita bercerai tapi aku merasa rugi dengan mahar yang telah aku berikan, aku ga akan membiarkan kamu menikah dengan selingkuhan kamu itu," kekeh Azam.

Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Azam benar-benar kecewa dengan Aina.

"Cukup, Mas! Dia hanya teman masa kecilku dulu. Aku sebelum menikah denganmu juga punya kekasih dia adalah Er ...." Hampir saja Aina keceplosan menyebutkan nama Erlan di depan Azam.

"Er ... siapa Er itu? Apa Erlan?"

"Gila kamu, Mas!" Aina berlalu meninggalkan Azam yang terdiam, ia sedang berpikir jika benar Erlan adalah kekasih Aina maka Azam tak akan tinggal diam karena beberapa kali Erlan pernah berdua dengan Aina.

.

"Cup ... cup ... cup, anak Mama. Mik cucu setelahnya kita bobo cantik, nanti kita main lagi." Aina menghampiri dua bocah yang amat sangat ia sayangi.

Walaupun Azam membencinya tapi Aina tak pernah membenci benih Azam yang telah ia lahirkan.

"Mas. Andai kamu tau, aku ingin hidup tenang, aku ingin memiki suami yang menyayangiku sepenuhnya dan memperdulikan anaknya seperti suami di luar sana," batin Aina lalu menyeka sudut matanya.

Dua bayi kembar yang ia susui kini sudah terlelap, bocah menggemaskan itu begitu kumal padalah baru satu jam bersama ayahnya.

"Tenanglah, semua akan berubah saat aku sudah memiliki uang hasil kerja kerasku sendiri," lirih Aina lalu meraih gawai yang baru saja dibelinya tadi.

Membuat akun google lalu membuat aplikasi biru yang sering digunakan kebanyakan orang untuk berselancar di media sosial, Aina juga membuat akun YouTube dan berencana membuat vlog untuk kedua bayi kembarnya. Jika untuk vlog Aina tak berharap lebih karena Aina hanya ingin mengabadikan momen bahagianya bersama dua putra kembarnya.

Walaupun lelah mengurus dua bocah Aina tak patah semangat, ia membuka beberapa aplikasi yang banyak penjualan online.

"Ini cukup. Jangan sampai mas Azam mengetahui kalau aku memiliki hape, bisa gawat," lirih Aina setelah membuat beberapa akun media sosial yang sekiranya penting.

Aina menyembunyikan gawainya di bawah kasur bayi, berharap Azam tak menemukannya karena memang Azam jarang menyentuh anaknya begitu juga dengan ibunya yang acuh tak acuh pada Saka dan Suga.

.

Aina tak memasak apa pun karena di dalam kulkas tak tersedia bahan makanan apa pun, mungkin Intan sengaja sebelum pergi kerumah anaknya mengosongkan kulkas terlebih dahulu, beruntung bayi kembar Aina masih tersisa bubur tadi pagi yang ia buat sendiri.

Brak ....

Azam menggebrak meja makan saat melihat tak ada makanan di atas meja yang tersaji padahal ia cukup lapar sore ini karena baru pulang dari kolam pemancingan.

"Kenapa tidak ada apa pun untuk dimakan?" tanya Azam pada Aina yang datang tergopoh-gopoh dari arah kamarnya.

Wanita yang kesehariannya lelah mengurus dua bayi kembar itu ketiduran karena terlalu lelah.

"Tanya pada ibumu, Mas. Dia yang mengosongkan kulkas," ucap Aina. Ia sudah cukup mengalah pada Azam selama ini.

"Apa kamu bodoh? Kan bisa kamu beli." Azam kini terlihat seperti orang yang benar-benar tak punya hati nurani.

Ia tak sadar jika selama ini uang diberikan pada ibunya untuk belanja kebutuhan bulanan.

"Mas. Apa kamu pikun? Selama ini yang mengelola uang bulanan bukan aku tapi ibumu!"

Sungguh Aina merasa geram pada Azam saat ini, andai ia bisa memakan suaminya itu mungkin sudah ia lakukan.

"Kan kamu sudah aku kasih jatah dua ratus ribu. Bisa toh sesekali kamu gunakan untuk belanja," papar Azam dengan menatap sinis ke arah istrinya itu.

"Kamu kira cukup yang dua ratus untuk kebutuhan si kembar dalam satu bulan, Mas? Enggak, Mas! Saka dan Suga semakin besar, kebutuhan mereka semakin bertambah," jelas Aina.

Aina berpikir Azam akan mengingat apa yang ia ucapkan namun justru sebaliknya. Azam bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Aina.

"Makanya kerja!" tunjuk Azam di kepala Aina.

Paham. Seolah dengan pemberian uang bulanan yang tak seberapa Azam berharap Aina dapat merubah pola pikirnya dan segera mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Azam sedikit terlambat dalam berpikir, Aina sudah melakukannya jauh hari namun intan melarang karena malu jika menantunya menjadi kuli cuci.

Dengan perkataan itu Aina jauh lebih paham, jika ada uang Aina juga ingin membuat toko kue, namun apa daya modal tak mencukupi karena apa-apa sekarang butuh uang.

"Kalau sudah selesai mikir cepat buatkan kopi untukku dan mulai besok aku ga makan di rumah. Lagian ibu ga ada, jadi kamu ga perlu repot-repot masak," terang Azam.

"Tapi, Mas. Si kembar bagaimana? Mereka ga mungkin jika harus kelaparan," lirih Aina sambil mendekat ke arah rak yang tersimpan berbagai jenis bumbu dapur termasuk kopi tersimpan di sana.

"Seperti biasa. Aku akan menjatah dua ratus ribu dan akan aku tambah setatus ribu untuk keperluan makan Saka dan Suga dalam waktu sebulan," terang Azam membuat Aina terperangah.

Seratus ribu untuk makan bayi kembar dalam satu bulan, yang benar saja. Azam benar-benar sudah tak waras lagi. Ia sudah abai pada Aina seharusnya Azam tidak mengabaikan benihnya.

"Toh lagian beras masih ada, kamu bisa makan pake ikan asin yang di kirim sama temanku dari Aceh," pungkas Azam lalu meraih kopi yang dibawakan oleh Aina kemudi membawanya ke teras.

Aina menggelengkan kepalanya pelan, sekilas ia melihat Azam memanggil tukang somay lewat di depan rumahnya namun Aina tak ingin berharap banyak karena Aina tak akan pernah dibelikan.

Iri. Aina sangan iri pada sahabatnya yang sempat ia lihat beberapa waktu lalu saat merengek pada suaminya meminta di belikan gamis harga jutaan namun dirinya tak punya nyali sama sekali, jangankan merengek untuk meminta gamis minta dibelikan somay saja Aina takut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel