Bab 5
Setelah beberapa hari berlalu kini Erlan dan Erisa berpamitan pulang, Erisa memberikan satu baju bekas import untuk Aina, tak ingin menolak pemberian seseorang, Aina menerima dengan senang hati walaupun tak ingin mengenakannya sama sekali.
Bukan merasa jijik tapi ia merasa direndahkan karena Erisa mengatakan bahwa Aina tak akan sanggup membeli barang branded seperti dirinya maka Erisa terpaksa memberikan satu pakaian yang ia punya untuk membuat kakak iparnya itu merasakan memiliki pakaian bagus seperti dirinya.
Beruntung hari ini Intan ikut menginap di rumah Erisa beberapa hari jadi Aina dapat bernapas lega dalam beberapa hari ini.
Aina akan ke luar rumah untuk membeli gawai bekas pakai dengan uang tabungannya yang sudah ia simpan bertahun-tahun lamanya karena Aina hanya menyimpan dua puluh ribu setiap Azam memberi uang bulanan dua ratus ribu.
"Kita jalan-jalan keliling ya, Sayang," lirih Aina sambil menatap kedua putranya dalam gendongannya.
Saka dan Suga tak pernah keluar dari dalam rumah jadi Aina merasa sedikit takut dan khawatir membawa ke dua anaknya itu ke luar rumah karena kemungkinan besar mereka akan rewel.
Baru beberapa langkah Aina berjalan Azam sudah memanggilnya.
"Jangan bawa anak-anak kalau mau jalan sama pacar kamu, aku ga mau anakku menjadi jalang sepertimu," ucap Azam yang masih berdiri di ambang pintu tengah.
Apa lagi kalau bukan fitnah. Intan selalu mengatakan jika Aina ke luar dari rumah untuk bertemu dengan seseorang yang selalu memakai masker di ujung jalan dan terkadang di pasar.
"Astagfirullah, Mas. Aku ini istrimu kenapa kamu tega mengatakan hal yang tak pernah aku lakukan?" Mata Aina berkaca-kaca. Ia merasa dirinya seperti tak ada artinya lagi di mata Azam.
"Halah. Ga usah menyangkal!" Azam meludah di lantai tanda meremehkan istrinya yang masih mematung menatapnya.
"Mas!" Suara Aina meninggi. Ia benar-benar kesal dituduh seperti itu padahal Aina selalu menjaga Marwah sebagai seorang istri.
"Apa? Ibu selalu bilang padaku kalau kamu keluar hanya untuk bertemu dengan laki-laki di luar sana. Alasan aja kamu belanja padahal untuk selingkuh," papar Azam kemudian mengambil Saka dan Suga dari gendongan Aina.
Jadi kini Aina paham kenapa Azam memberikan kepercayaan penuh pada ibunya untuk berbelanja kebutuhan bulanan mereka.
"Ouh karena itu kamu berubah, Mas?" tanya Aina dengan bulir bening di matanya yang terus saja bercucuran.
"Bukan hanya itu. Aku menyesal tidak mendengar perkataan ibu dulu, aku juga menyesal memberikan mahar seratus juta namun nyatanya tak dapat aku pinjam lagi darimu, Aina!" sentak Azam.
Aina hanya mampu mengelus dadanya pelan. Ia tak menyangka bahwa Azam sampai tega mengungkit-ungkit apa yang telah ia berikan pada Aina selama ini.
Sekarang Aina tahu seberapa kejam perlakuan Azam, tidak hanya kekerasan pada fisiknya namun juga pada batinnya. Aina mendengus kesal lalu meninggalkan Azam dan kedua putranya walaupun ada rasa tak tega meninggalkan kedua bocah kecil itu bersama ayahnya.
"Kamu akan menerima atas perlakuan burukmu ini semua, Mas," batin Aina lalu meninggalkan rumah.
Langit mulai menampakkan awan redup dan tak lama hujan mulai turun membasahi bumi namun Aina tak peduli sama sekali. Wanita yang masih terlihat cantik itu terus melangkah dalam lebatnya hujan.
Tak peduli pada petir yang sesekali menyambar, setidaknya hujan ini dapat menyamarkan tangisnya. Semua ini tak sebanding dengan luka hatinya karena tuduhan Azam.
.
Di tempat lain Intan sedang bergosip ria dengan anaknya yang selalu ia puja. Sesekali intan terbahak saat menyebut kebodohan Aina.
"Apa dia ga menyesal, Bu?" tanya Erisa sambil memperhatikan gelang yang dipakai oleh ibunya itu.
"Entah, tapi ibu yakin dia kena mental kalau lebih lama bersama Azam. Tinggal tunggu aja dia pergi dari kehidupan Abang-mu itu setelahnya kita bebas minta apa pun," ucap intan setelahnya tersenyum puas.
"Gelang ibu cantik banget sih. Mas Azam yang beli?"
"Bukan. Ini jaminan dari tetangganya Aina yang minjam seratus juta karena kebutuhan mendadak," jelas Intan. Terlihat sedikit bangga karena dapat memberikan pinjaman pada tetangganya karena ia yakin Aina tak mampu melakukan itu.
"Banyak banget." Erisa mengernyitkan dahinya. Heran pada ibunya yang mudah percaya pada orang yang baru saja ia kenal karena memang Intan belum begitu lama tinggal di rumah Azam.
"Ya lah. Emang Kaka iparmu itu? Buat beli skincare aja susah." Intan terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya saat melihat Erlan memperhatikan dirinya.
Padahal Erlan sengaja duduk dan berpura memainkan gawainya hanya untuk mendengarkan pembicaraan ibu dan anak yang ada di hadapannya.
"Erisa punya saran deh, Bu." Anak perempuan intan itu sedikit mendekat lalu berbisik di telinga ibunya.
"Jangan bisik-bisik. Nanti saya tersinggung," celetuk Erlan membuat Erisa dan Intan menatapnya bersamaan.
"Ga kok, Mas. Kami ...."
"Gini loh. Erisa hanya memberikan saran sama ibu untuk menjual rumah ibu dan menetap di rumah Azam," terang Intan. Intan juga sedikit takut jika Erlan marah karena ia tahu betul sifat anaknya yang temperamental dan suka berselingkuh.
"Setelah drama yang kalian buat berakhir aku akan menjadikan Aina sebagai istriku, dia akan menjadi ratu," batin Erlan. Kata-kata itu hanya mampu ia utarakan dalam hatinya karena jika saat ini ia utarakan maka akan menjadi bencana besar dan bisa-bisa Aina meregang nyawa di tangan Azam.
"Setuju ga, Nak?" tanya Intan lagi saat melihat Erlan termenung dan tak menjawab apa pun.
"Semua terserah sama ibu. Asalkan ibu betah tinggal sama mas Azam," ucap Erlan tanpa mengalihkan pandangannya dari gawainya.
.
Di tempa yang sudah begitu jauh dari rumah Azam, Aina tersenyum sambil memperhatikan gawai di tangannya. Pakaian yang ia kenakan sudah megering di badan.
"Ini akan aku gunakan untuk berjualan online dan membuat konten di media sosial, semoga aku beruntung," batin Aina setelah membayar uang tunai pada pemilik gawai yang ia pegang.
Niat hati Aina tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini karena ia ingin segera pulang, hatinya terlalu khawatir pada putra kembarnya yang begitu lincah dan aktif.
Aina menuju pangkalan ojek terdekat, lalu naik secepatnya tanpa menanyakan berapa ongkos menuju kediamannya.
"Ingin keliling sebentar?" tanya laki-laki berkulit putih yang sedang mengendarai motor ojek yang ia tumpangi.
Suara begitu terdengar tak asing di telinga Aina membuat Aina sedikit mengernyitkan dahinya dan tak menjawab pertanyaan tukang ojek itu.
"Ayolah Aina. Aku rindu saat kau memanggilku buntal," kekeh laki-laki itu lalu berhenti mendadak membuat Aina mencubit pinggang laki-laki yang begitu ia kenal itu.
"Reza!"
"Bukan. Ikan buntal yang selalu bikin kamu kesal," ucap Reza lalu tersenyum begitu manis.
"Kamu sekarang tampan dan sispack. Oke, cukup menawan. Terimakasih atas tawarannya tapi aku tidak bisa menerima ajakanmu, ada dua bayi yang membutuhkan aku," papar Aina.
"Kamu sudah menikah?"
Aina mengangguk menanggapi pertanyaan Reza. Ikan buntal yang mencintai Aina itu terlihat begitu kecewa.
"Oke. Aku harus tau alamat kamu, berikan nomor poselmu."
"Aku ga punya ponsel," jawab Aina sambil menyembunyikan gawainya di bagian karet celana yang ia kenaka.
"Ayolah. Aku baru melihatnya tadi, kamu membelinya."
Skak. Mau tak mau Aina memberikan nomor kontak pada ikan buntal yang selalu membuatnya kesal.
Tak lama kini mereka tiba di depan rumah. Reza mengusap rambut Aina seperti yang sering ia lakukan semasa SMP dulu, Azam yang meliha dari dalam berdecak kesal dengan wajah merah padam padahal Aina tadi menghindari usapan lembut dari Reza.
