Bab 7
Hari ini Aina mengemasi pakaiannya setelah beberapa hari makan dengan ikan asin dan bawang goreng, ia berencana menginap beberapa waktu di rumah adik sepupunya hanya sekedar untuk bertukar cerita karena menurut cerita sekilas adik sepupunya Aina sedang menggeluti bisnis makeup untuk mbuat wajah glow dan ia sudah sukses tanpa bantuan dari ke dua orang tuanya.
"Mau kemana?" tanya Azam pada Aina yang kini sedang mengantikan pakaian dua putra kembar mereka.
"Mau cari kerjaan, Mas." Aina tak menoleh sama sekali, ia fokus menggantikan pakaian Saka dan Suga yang begitu aktif.
"Halah. Paling mau jual diri!" Dengan entengnya Azam mengatakan hal itu pada Aina.
"Mas! Kemarin kamu nyuruh aku nyari kerjaan dan sekarang kamu ngatain aku," hardik Aina, dadanya terasa sesak dan napasnya kian memburu.
Banyak perkataan Azam tapi perkataan ini yang teramat sangat menyakitkan bagi Aina. Rasanya wanita cantik itu tak mampu lagi untuk menahannya.
"Ya ga harus ke luar. Kamu bisa cari kerjaan kaya si Susan, dia jualan online aja udah banyak duit dan bisa beli mobil," ucap Azam sambil memiringkan bibirnya.
Setiap orang dalam usaha memiliki proses dan cara berdagang masing-masing. Ada cara instan dan ada cara sabar, mungkin Susan yang Azam maksud mendapat uang dari cara instan.
"Jangan bandingkan aku dengan janda itu atau jangan-jangan kamu menyukainya," simpul Aina lalu mengalihkan pandangannya ke arah Azam.
Perkataan Aina membuat Azam salah tingkah, ia beralih menatap dua bayi kembar mereka.
"Jangan nakal. Jangan ikuti jejak ibumu ya, Nak." Azam mencoba menyembunyikan rasa gugupnya, namun perkataan itu lagi-lagi membuat hati Aina hancur.
Apa begitu buruk dirinya hingga Azam mengatakan 'jangan mengikuti jejaknya.'
"Satu pintaku, Mas. Jika sudah tak ada lagi sisa cintamu untukku, aku mohon lepaskan aku," liirh Aina lalu menggendong dua putranya. Kata-kata pertama yang ia keluarkan setelah sekian lama menahan rasa yang kian membakar dadanya.
"Ga akan. Aku ga mau rugi. Jika kamu kembalikan mahar yang aku berikan maka aku akan menceraikan kamu seketika," ucap Azam angkuh.
"Doakan aku bisa mengembalikan apa yang kamu minta, tapi ada syaratnya, Mas ...." Aina menggantungkan ucapannya.
Wanita yang sama sekali tak dianggap itu menarik napas panjang lalu mengembuskan pelan.
"Apa?"
"Jangan anggap lagi Saka dan Suga sebagai putramu karena orang tua yang bijak tak akan meminta apa yang telah ia berikan terlebih itu mahar," ucap Aina lalu melangkah kakinya.
Jika semakin lama Aina berada di kamar ini maka semakin sakit telinga Aina mendengar tiap kalimat umpatan untuknya.
"Kamu egois, Aina!" bentak Azam namun aina tersenyum kecil.
"Kamu yang mengajarkan aku egois seperti ini, Mas. Jangan cari lagi kami, tanpa kamu kami bisa bahagia," ungkap Aina, ia terus melangkah hingga menuju teras.
Tak lama tukang ojek yang ia pesan telah tiba di depan rumah. Wanita yang Aina panggil sebagai ibu mertua juga baru saja pulang dari rumah anak kesayangannya, ia baru turun dari taksi online.
Sejenak mereka beradu pandang namun Aina tak peduli, tak meminta izin juga oada Intan untuk pergi dalam waktu beberapa hari.
"Kamu kenapa? Gelut sama Azam? Bok Yo udah tua masih kayak bocah," papar wanita yang rambutnya hampir memutih itu.
"Jalan, Pak!" perintah Aina pada tukang ojek.
Intan yang mendengar perkataan Aina merasa tidak terima karena telah diabaikan.
"Anak ga ada sopan santun sama orang tua. Gini ... ni kalau ga didik dengan benar," omel intan sambil membawa belanjaan kedalam rumah.
Biasanya Intan akan berteriak meminta bantuan Aina untuk dibawakan belanjaannya ke dalam rumah namun hari ini ia malah menggerutu kesal dan membawanya sendiri.
"Ih ... Azam mana sih! Istrinya pergi dibiarkan, ga ada yang bantu kan jadinya. Pasti pergi ke rumah orang tuanya di kampung, jangan-jangan Azam ngasih uang lagi untuk anak kampungan itu," oceh Intan.
Kesalnya kini berlipat ganda. Kesal karena kepergian Aina dan juga kesal pada Azam yang ia pikir Azam telah memberikan uang pada Aina.
Tak lama Intan kini sudah tiba di ruang tamu, melihat putranya sedang tersenyum menatap gawainya membuat Intan bingung.
"Istrimu pergi kok malah senyum-senyum sendiri?" tanya Intan membuat Azam semakin melebarkan senyumnya, sementara Intan menjatuhkan bokongnya di samping Azam.
"Harus dong, Bu. Lihat ini!" tunjuk Azam pada gawainya.
Terpampang jelas foto seorang wanita berdandan menor di gawai Azam dengan pakaian memperlihatkan buah dada yang begitu besar, wanita di foto itu sungguh lebih mempesona di mata Azam daripada tubuh Aina.
Sejenak Intan terdiam, mengalihkan pandangan menatap putranya yang masih tersenyum bahagia.
"Kamu suka sama janda itu, Azam?" tanya Intan pelan lalu menjatuhkan sedikit posisinya dari Azam.
"Iya, Bu. Dia cantik, baik, pintar memasak dan pintar dalam urusan ranjang," kekeh Azam.
Lagi-lagi Intan hanya terdiam. Ia memikirkan mahar diberikan oleh Azam untuk Aina.
"Lalu Aina?"
"Biarkan aja dia, Bu. Udah jelek dan ga terawat kan? Mending Azam nikah sama dia aja, pintar rawat diri," imbuh Azam lagi.
"Bukan itu maksud ibu, tapi mahar yang telah kamu berikan sama Aina, apa bisa kita ambil lagi? Apa ga rugi kalau kamu lepaskan dia begitu saja, lumayan kan ada babu gratisan?" tanya Intan.
Sebarnya Intan ingin membuat menantunya itu lebih menderita karena Intan tak pernah ikhlas Azam menikahi Aina.
"Aina sedang berjuang cari duit untuk mengembalikan mahar yang telah aku berikan dulu tapi dengan satu syarat." Azam menatap lekat manik mata ibunya itu yang terlihat kebingungan.
Embusan napas panjang terdengar dari bibir Azam, ia menyulut rokoknya lalu menyesapnya. Rasa tak ikhlas melepaskan dua bayi kembar yang begitu menggemaskan yang membuatnya jegkel.
"Apa?" Lama intan menunggu Azam melanjutkan perkataannya namun Azam lebih memilih menghisap beda bernikotin itu.
"Azam harus kehilangan anak-anak," tutur Azam lalu bangkit dari duduknya.
"Kasih aja sih. Palingan kalau udah besar mereka juga akan tau ayahnya dan akan mencari keberadaan ayahnya dan akan bantu rawat kamu. Ibu banyak kok dengar cerita gitu," ucap Intan berapi-api.
Cukup bagus pemikiran Intan, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa anaknya akan bercerai secepatnya.
Mungkin jika bercerai uang mahar yang Azam berikan akan Aina kebalikan, jika pun tidak maka Intan akan berusaha memaksa anaknya untuk mengembalikan mahar yang telah ia berikan.
Terkadang banyak manusia yang tak paham dengan hal yang tela ia berikan namun keihklasan tidak ada dalam hatinya. Bukankah dalam menerima cobaan saja manusia harus ikhlas menerimanya.
Iyu yang sedang Aina lakukan, mencoba ikhlas sementara menerima cobaan yang di berikan oleh Tuhannya. menjalani dengan semestinya dan menerima apa adanya, namun hati kecilnya ia juga berharap Azam akan mencintainya lagi jika tidak ia akan pergi pada pada waktu yang tepat.
