Pustaka
Bahasa Indonesia

Kusia-siakan Istriku Gara-gara Maharnya Banyak

42.0K · Tamat
Benang Biru
36
Bab
2.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Azam menikahi Aina beberapa tahun lalu dengan mahar seratus juta uang tunai dan sepetak perkebunan sawit beserta isinya yang sudah berganti nama atas nama Aina pada hari akad itu juga namun Aina sama sekali tak terlihat bahagia. Azam juga bukan laki-laki tua seperti pada umumnya harta mampu mengalahkan cinta. Bukan ketersengajaan pula pernikahan ini terjadi karena hal yang begitu sulit untuk Aina hindari. Pernikahan ini membuat ibu kandung Azam murka namun ia tetap dengan sikap santai hingga saat-saat yang dinantikan pun tiba. Putra kembar lahir dari rahim Aina dan ibu Azam pun mengajak Aina dan Azam tinggal bersamanya dengan sejuta alasan. Berlahan cinta yang ada di hati Azam pada Aina berubah jadi benci karena hasutan yang terus di bubuhkan oleh sang ibu. Mampukah Aina bertahan dengan hinaan dan perlakuan buruk dari sang suami, mertua dan iparnya?

PerceraianPengkhianatanMenantuRomansaPernikahanAnak KecilIstriCLBKDewasaPerselingkuhan

Bab 1

"Dek!" teriak Azam saat melihat dua anak kembarnya sedang merangkak keluar dari dalam rumah menuju teras.

Azam sedang memberi makan burung kesayangannya yang baru saja ia beli satu Minggu yang lalu.

"Ada apa, Mas?" tanya Aina yang berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur yang berdekatan dengan kamar mandi.

"Anaknya bawa masuk. Nanti Saka dan Suga makan pasir atau taik ayam bisa sakit. Aku ga mau keluarin uang tuk mengantarkan mereka berobat," terang Azam sambil menimang-nimang burung kesayangannya di dalam kandang sesekali Azam memercikkan air ke arah burung kesayangannya itu.

"Kan ada kamu di sini, Mas," ucap Aina sambil mencoba meraih dua putra kembarnya itu.

Tak lama ibu mertua Aina pulang dari pasar sambil membawa kantung plastik penuh dengan belanjaan.

"Ada apa? Siang-siang berisik banget. Bayar noh ongkos taksi. Uang ibu udah habis buat belanja kebutuhan kita," cetus Intan sambil menjatuhkan bokongnya di sofa depan teras.

Azam yang melihat Aina hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun segera berdiri dan menunjukkan supir taksi yang berdiri dengan dagunya agar Aina segera bergegas mengambil uang di dalam dan membayar ongkos taksi.

"Buruan!" seru Intan sambil menatap tak suka ke arah menantunya itu.

"Mas, aku ...."

"Udah. Pake uang yang aku kasih kemarin ke kamu dulu," perintah Azam cepat.

Uang yang Azam kasih sebesar dua ratus ribu pada Aina terpaksa ia pakai lagi hari ini.

"Tapi uang itu untuk beli pempers Saka dan Suga, Mas," jelas Aina mengiba.

"Besok mas ganti. Buruan, kasian tuh supir taksi dah nunggu lama." Azam berdiri lalu meraih dua putra kembarnya.

Selalu seperti ini, saat uang yang sudah ada di tangan Aina sedikit Azam akan memintanya lagi dengan alasan akan menggantikan uang itu tapi entah kapan.

Aina keluar dari dalam kamarnya sambil memegang pecahan uang seratus ribu di tangannya lalu menyodorkan pada supir taksi yang sudah lama nunggu.

"Ini, Mas."

"Maaf, Mbak. Kurang lima ribu," tutur supir taksi itu sambil melirik Intan yang duduk memainkan gawainya.

"Cuma ini, Mas yang saya punya," ucap Aina sambil menahan bulir bening yang akan luruh.

"Ya sudah ga apa-apa, Mbak. Yang sabar ya, Mbak. Doakan saya mudah rezekinya," jelas supir taksi itu kemudian meninggalkan pekarangan rumah Intan yang cukup luas.

"Heh ... sini kamu!" teriak Intan sambil membolakan matanya ke arah Aina yang menunduk saat bola mata Intan begitu menakutkan.

Dengan langkah berat Aina mendekat ke arah Intan yang sedang bangkit dari duduknya, Aina masih menundukkan kepalanya namun Intan segera menarik telinga Aina dan menyeret Aina kedalam rumah.

"Bu ... aduh sakit," ucap Aina sesaat setelah telinganya di lepaskan oleh Intan.

"Kamu ga usah mengiba. Gara-gara kamu anak saya nyaris ...." Ucapan Intan terjeda saat melihat seseorang di ambang pintu.

Bukan Azam tapi tetangga barunya yang tinggal tepat di depan rumahnya. Wanita cantik yang terlihat modis itu memakai banyak perhiasan dan memakai sepatu hak tinggi, ia menatap Aina dengan tatapan tak suka.

"Eh ... ada tamu. Sini duduk!" pinta Intan dengan suara begitu manis.

"Pulang belanja ya, Jeng?" tanya wanita berambut pirang yang tak lagi muda itu.

"Kok tau, Jeng?" Intan balik bertanya karena tadi saat ia turun dari taksi memang tak melihat Bu Endang di depan kontrakannya.

"Itu belanjanya belum dibawa masuk," tutur Bu Endang sambil mengulas senyum.

"Ambil belanjaan di depan, Nak," pinta Intan pada menantunya yang masih berdiri di samping sofa.

Aina tak ubahnya seperti pembantu tapi jika di depan orang lain maka Intan bersikap seolah begitu mencintai dan menyayangi Aina dan kedua anaknya.

Bergegas Aina keluar untuk mengambil belanjaan yang masih teronggok di teras rumah namun Azam menyodorkan kedua putranya pada Aina namun Aina menolak.

"Aku bawa masuk belanjaan dulu, Mas. Tolong jaga Azam sebenatar boleh tidak? Aku mau mandi," pinta Aina sambil mengangkat beberapa belanjaan di tangannya.

"Mandi sekalian sama mereka kan bisa. Biasanya juga kalau aku kerja kamu bisa mandi," cetus Azam sambil merebut belanjaan di tangan Aina.

Azam masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur untuk meletakkan belanjaan di atas meja, tak ada niatnya sama sekali melihat apa isi belanjaan yang baru saja dibeli oleh ibunya itu.

Sekilas Bu Endang melihat Azam membawa masuk belanjaan dan memujinya. "Anaknya penyayang banget sepertinya ya, Jeng," ucap Bu Endang setelahnya mengulas senyum ke arah Aina yang masuk belakangan.

"Iya. Wajar aja di sayang. Kalau ga sayang kenapa Azam rela berkorban mengeluarkan banyak mahar untuk mendapatkan menantu saya ini," jelas Intan sambil menatap Aina naik turun.

"Oh gitu, saya baru di sini, Jeng. Ya wajar aja kalau ga tau. Maaf ya, Jeng." Bu Endang seperti salah tingkah karena merasa seolah tak wajar masuk terlalu jauh dalam urusan rumah tangga orang lain.

"Santai aja."

Intan mulai salah tingkah, ia malu jika Endang tahu kalau dirinya tak sebaik yang tetangganya pikirkan. Hampir saja tadi endang memergoki dirinya menjewer telinga menantunya padahal hal itu sama sekali tak pantas ia lakukan pada menantunya.

"Jadi ada apa berita apa Jeng sampai datang ke sini?" tanya Intan.

"Anu, Jeng. Duh saya sebenernya ...."

Bu Endang memerhatikan sekeliling untuk memastikan tak ada Aina atau pun Azam yang mendengarkan pembicaraan mereka.

"Bilang aja, Jeng. Saya jaga kok rahasianya," tutur Intan sambil bergeser sedikit agar posisinya lebih dekat dengan Bu Endang.

"Saja cuma mau pinjam uang sebesar sepuluh juta, Jeng. Anak saya sedang memerlukan uang cash jadi saya ga bisa jual perhiasan untuk mendapatkan sepuluh juta dalam waktu sehari," terang Bu Endang serius.

"Banyak banget, Jeng."

Sejenak Intan berpikir, jika sampai Azam tahu maka ia akan di omeli oleh anaknya itu. Memang uang yang di pinjam oleh Bu Endang tak seberapa dibandingkan degan mahar yang di berikan untuk Aina.

"Ah ... jika Azam marah maka aku lebih marah karena telah memberikan mahar yang begitu banyak untuk perempuan murahan itu," batin Intan sambil membalikkan gawainya.

"Bagaimana, Jeng? Bisa tidak?" Suara bu Endang membuat intan terperanjat.

"Eh ... bisa kok, Jeng. Tunggu sebentar." Intan beranjak dari duduknya lalu menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang tamu.

Endang tersenyum penuh kemenangan, 'yes' batin Bu Endang. Tak perlu repot-repot untuk bekerja, cukup memakai perhiasan mewah dan besar maka orang-orang akan percaya sepenuhnya bahwa ia akan mempu melunasi uang yang ia pinjam.

Tak lama Intan keluar dari dalam kamarnya sambil membawa cek senilai sepuluh juta yang sudah di bubuhi tanda tangannya.

Sepasang telinga mendengarkan samar dari kejauhan sambil berpura-pura mengelap meja yang tak kotor. Aina tak menyangka ini mertuanya itu begitu loyal pada orang yang baru saja ia kenal sedangkan pada cucu-cucunya begitu pelit.

Aina tak mempermasalahkan jika mertuanya itu pelit pada dirinya tapi Aina kecewa saat Saka dan Saga tak di perbolehkan makan ikan. Kedua anaknya yang baru pandai merangkak itu hanya disuruh makan sayur karena masih dalam masa pertumbuhan. Intan juga membandingkan dirinya dulu yang hidup sederhana dan Azam juga makan sayur setiap harinya membuat anaknya itu pintar.