Menemui Theo
*****
" Kamu sudah menyepakati kesepakatan kita untuk mendapatkan uang itu, bukan? Kamu ingin aku membiayai seluruh pengobatan adikmu sampai dia benar - benar sembuh? Kamu ingin uang itu secepatnya?" Lanjut Theo bertanya pada Ayuna.
Ayuna sedikit bergidik ketika telapak tangan Theo yang lebar menelisik ke dalam rambutnya, mengelusnya dengan gerakan halus, sebelum akhirnya menyelipkannya ke belakang telinga.
Tetapi kepala Ayuna tak kunjung mengangguk sebagai jawaban.
" Adikku harus segera melakukan transplantasi. Dia tidak punya banyak waktu." Suara Ayuna agak serak mengatakan itu.
Pundaknya berjengit menghindari sentuhan tangan Theo yang coba mengelus leher jenjangnya. Terasa geli dan aneh bagi Ayuna yang tidak pernah merasakan sentuhan dari laki-laki dewasa.
Theo tersenyum menang.
" Baiklah. Tampaknya kamu sudah tidak sabar ingin segera mendesah di atas ranjangku." Ejeknya membuat Ayuna mendengus dan mengalihkan pandangan kesamping.
Menyeringai tipis, Theo memindai wajah Ayuna yang begitu polos. Wajah yang meski jarang terpoles oleh make up tebal, tetapi masih menampilkan kesan cantik dan unik.
Tangannya mengambil sebuah kartu di dompet, lalu memberikannya pada Ayuna.
" Itu kartu namaku. Di sana ada alamat apartment ku. Kalau kamu ingin semua dilakukan secepatnya, maka datanglah malam ini. Mulai nanti malam kamu sudah bisa bekerja sebagai teman tidurku." Ucap Theo.
Ayuna menerima kartu nama itu dengan tangan yang agak bergetar. Meski hati kecilnya sangat menentang apa yang dia putuskan saat ini. Tetapi Ayuna harus tetap melakukannya demi Sofia.
Mata bulatnya melekat pada kartu nama yang tadi disodorkan oleh Theo. Tiba-tiba Ayuna menelan ludahnya berat, benaknya membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti malam?
" Kenapa kamu terlihat gugup? Kamu tahu kan, sekali kamu sudah memutuskannya maka kamu tidak akan bisa membatalkannya." Matanya mengamati keresahan yang tergambar jelas di wajah Ayuna.
" Selama 1 bulan penuh tubuhmu adalah milikku." Bisik Theo, mengelus leher jenjang dengan gerakan seringan bulu. Membuat Ayuna sejenak memejamkan mata.
Ingin rasanya Dia menghindar, tapi sialnya Ayuna tidak bisa melakukan itu.
Hembusan nafas lelaki itu di kulit pipinya membuat Ayuna bergidik.
" Lalu... Bagaimana dengan pekerjaanku? Apa aku tetap di pecat?"
Theo tertawa pelan.
" Jika aku memecat mu, lalu siapa yang akan melayani hasratku saat aku di kantor? Aku membayar mu bukan hanya untuk dipajang di apartemenku. Tapi untuk melayani selagi aku menginginkanmu di manapun dan kapanpun."
Ayuna sedikit terhenyak.
Di manapun dan kapanpun katanya? Bagaimana jika Theo menginginkannya di tempat dan waktu yang tidak terduga?
" Apa kata-kataku cukup jelas untuk kamu pahami, Ayuna? Kamu mengerti dengan yang aku maksud?"
Ayuna mengangguk pelan. Itu artinya dia tidak jadi dipecat. Tapi kabar buruknya, bukan tidak mungkin Theo akan memanggilnya sewaktu - waktu ke ruang kerja lelaki itu, hanya untuk menuntaskan hasratnya yang seperti kuda liar.
" Aku mengerti."
" Bagus. Sekarang keluarlah dan lakukan tugasmu seperti biasa." Sebelah tangan Theo mengibas di depan Ayuna.
Ayuna baru akan berbalik ketika Theo mendudukkan dirinya kembali di kursi kerjanya. Namun saat tangan Ayuna hendak mengayunkan daun pintu, suara bariton itu terdengar memanggilnya.
" Ayuna."
Ayuna menoleh, menatap dengan raut penuh tanya.
" Iya, Pak."
Theo tidak langsung menjawab, dia tampak mendehem sejenak, sebelum kemudian berbicara.
" Saat datang ke apartemenku nanti malam, pakailah gaun yang seksi."
Seketika bola mata Ayuna membelalak lebar.
*
*
*
" Ayuna. Kamu mau pergi ke mana? Tidak biasanya kamu dandan malam-malam begini."
Spontan Ayuna menghentikan tangannya yang sedang mengoles lipstik di depan cermin, ketika tiba-tiba Dian datang dan memergokinya di dalam kamar.
" Ibu, aku pikir ibu sudah tidur di kamar dengan Sofia."
Dian mengangguk, mengelap keningnya yang sedikit berkeringat sambil menghampiri Ayuna yang sibuk dengan peralatan make up murah seadanya yang dia miliki.
" Sofia memang sudah tidur. Tapi ibu belum. Tidak tahu kenapa, rasanya malam ini ibu susah sekali untuk tidur. Padahal hanya tinggal memejamkan mata. Rasanya resah sekali. Perasaan ibu tidak enak. Ibu juga bingung, mengapa ibu merasakan perasaan aneh seperti ini."
Mendengar itu, Ayuna tergugu di tempatnya berdiri. Matanya menatap nyalang pada cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.
" Ibu tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang ibu rasakan adalah sebuah firasat buruk. Malam ini aku akan menyerahkan kehormatanku dan menjadi wanita bayaran bosku sendiri. Maafkan aku, Bu." Ayuna membatin.
Dengan alasan akan menginap di rumah teman, akhirnya Dian mengizinkan Ayuna ke luar rumah malam ini.
Padahal Dian tidak tahu jika sebenarnya Ayuna akan pergi ke apartemen Theo.
*
*
*
Menggunakan ojek online, Ayuna pun sampai di depan pintu apartemen bosnya. Tangannya ragu-ragu mau mencet bel, sampai akhirnya daun pintu berayun terbuka dan sosok Theo yang masih berbalut lengkap dengan kemeja kerjanya, kini berdiri menjulang di depannya.
" Aku pikir kamu tidak akan datang." Katanya pada Ayuna, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
" Masuklah. Selamat datang di tempat kerjamu yang baru." Ledek Theo sambil membuka daun pintu lebih lebar.
Ayuna membuang nafasnya pelan, merasa kesal. Tetapi kakinya tetap melangkah masuk. Dan mata Theo memindai tubuh bagian belakang Ayuna yang tampak ramping.
" Apa kamu ingin minum?" Theo sudah kembali duduk di sofanya, tangannya mengangkat gelas berisi minuman memabukkan pada Ayuna.
Ayuna yang masih berdiri di tempatnya hanya menggeleng.
" Tidak, terima kasih." Jawabnya sambil mengalihkan pandangan dan mengusap tangannya sendiri.
Theo meneguk minumannya sendiri sementara matanya masih lekat menatap ke arah Ayuna.
" Duduklah, Ayuna. Jika kamu berdiri terus, nanti darahmu turun." Theo menggidikkan dagu ke arah sofa yang ada di depannya.
Ayuna menurut, dia menghempaskan punggungnya di sana. Namun seketika itu juga Ayuna menjadi gelisah.
Menyadari bahwa mereka hanya berdua saja di apartemen, ini membuat Ayuna menelan salivanya berat.
" Theo terus saja menatapku dengan tajam. Aku tahu jika malam ini aku sudah tidak bisa melepaskan diri darinya. Karena aku sudah menjatuhkan pilihan dengan menjadi teman tidurnya. Hanya satu bulan Ayuna, semua ini hanya satu bulan saja. Setelah itu aku bisa terbebas dari lelaki ini."
Ayuna berusaha menyemangati dirinya sendiri. Meskipun dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan luar biasa yang dirasakannya.
" Mengapa kamu terlihat gugup? Apa Karena ini yang pertama kalinya bagimu? Hhmmm?"
" Tenang saja, Ayuna. Aku bukan seorang laki-laki yang menyentuh sambil menyakiti. Aku tidak akan menyakitimu saat melakukannya. Bahkan mungkin... Kamulah yang akan candu denganku." Tersenyum, Theo kembali meneguk minumannya dengan sekali tenggak.
Ayuna memainkan jarinya gelisah di atas paha, perutnya terasa bergejolak.
Theo menaruh gelas kosong di atas meja, matanya terangkat menatap pada Ayuna yang sudah berkeringat dingin.
" Kenapa kamu diam saja? Mana Ayuna pemberani yang selalu menyela ucapanku?" Theo mengangkat sebelah alisnya. Sejak tadi dia hanya melihat Ayuna terdiam dan membisu.
Padahal saat di kantor kemarin, wanita itu tampak berani berdebat dengannya.
Ayuna tak menanggapi ucapan Theo. Dia tetap diam. Dia takut jika dia bicara, malah membuat Thek marah dan membatalkan janjinya untuk membayar seluruh pengobatan untuk Sofia.
" Baiklah. Sepertinya kamu sudah merasa tidak nyaman duduk di sini. Kamu ingin segera merebahkan diri di atas ranjangku? Tentu saja. Mari ikut aku." Ajak Theo tersenyum kecil pada Ayuna.
***
Tuhkan... Dian aja punya firasat sama Ayuna... Komentar yang rame aja deh buat part ini... Hahahaha...
