Terpaksa Menerima Tawaran
*****
Keberaniannya membuat Theo terkesiap. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya dia dibentak oleh seorang wanita miskin seperti Ayuna.
Kini Ayuna membalikkan badan, bergegas keluar dari ruang kerja Theo. Bola mata abu milik Theo terus memindai punggung wanita itu sampai benar - benar menghilang dari pandangannya.
" Menarik sekali. Ini pertama kalinya aku melihat wanita yang menolak uang dengan jumlah sebesar itu." Theo tersenyum tipis.
Jujur, ada sedikit kekaguman dalam hatinya terhadap sikap Ayuna yang tetap bersikeras ingin mempertahankan kehormatannya dan menolak tawaran menggiurkan yang diberikan oleh Theo.
Mengingat, para artis serta model papan atas justru saling berebut mendekatinya. Tentu saja mereka sangat terpikat pada paras Ayuna yang tampan dan berkarisma. Lebih lagi pada kekayaannya yang tak terhitung banyaknya.
Tetapi manusia tidak pernah ada yang benar-benar sempurna. Pasti ada celah yang tersembunyi dalam kehidupan pribadi mereka.
Maka Theo pun memiliki sisi kekurangannya sendiri. Dan kekurangan itu adalah akibat dari kelamnya masa lalu yang sangat tidak ingin Theo ingat.
Masa lalu itu pulah yang akhirnya yang membentuk Thek menjadi seorang laki-laki yang tidak percaya dengan adanya cinta.
" Tapi bukankah semua wanita itu sama saja? Aku yakin, dalam satu atau dua hari, Ayuna pasti akan kembali untuk menghadapku untuk menyetujui apa yang aku tawarkan." Gumamnya tersenyum kecut.
*
*
*
Pasrah, Ayuna memilih menyerahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin esok hari dia akan mendapatkan pinjaman dari orang lain.
Namun, begitu pulang ke rumah, Ayuna justru mendengar kabar buruk. Adiknya dilarikan ke rumah sakit.
" Sebelum semuanya makin parah, sebaiknya proses transplantasinya segera dilakukan. Mungkin kami tidak bisa menjamin kesembuhannya. Tetapi dari sebagian besar kasus leukemia jenis ini, memiliki kemungkinan sembuh yang lebih besar setelah melakukan cangkok sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakangnya Sofia yang telah rusak harus diganti dengan sumsum tulang belakang yang sehat yang cocok dengannya." Dokter Andri memaparkan hal yang sebenarnya sudah Ayuna ketahui sejak beberapa hari ke belakang.
Ini kedua kalinya dokter Andri mengatakannya pada Ayuna.
Ayuna mengetahui tentang kondisi Sofia yang harus melakukan transplantasi. Tetapi dia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.
Sebenarnya untuk pendonornya sendiri, dokter Andri mengatakan kemungkinan besar yang paling cocok adalah ibunya. Meskipun nantinya tetap harus dilakukan tes kecocokan terlebih dahulu.
" Aku tahu ini tidak mudah, Ayuna. Biayanya memang sangat besar. Aku mengerti keadaan ekonomi keluargamu. Sebagai Dokter, aku harus mengatakan apa jalan yang terbaik untuk kesembuhan Sofia."
Ayuna mengangguk, tersenyum pahit. Keadaan Sofia semakin serius. Apa yang bisa dia lakukan untuk adiknya itu?
" Aku pengangguran. Uang di dompetku sudah habis semua hari ini. Sedangkan Sofia sangat membutuhkannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Ayuna.
Kini dia melangkah keluar dari ruangan dokter Andri. Dia berdiri menyandarkan punggungnya di tembok.
Matanya menatap sayup ke depan, sedangkan benaknya berkecamuk memikirkan banyak hal.
Sampai tiba-tiba ucapan Theo kembali terngiang di telinganya.
" Pilihannya Hanya dua Ayuna. Terima tawaranku dan selamatkan adikmu, atau kamu ku pecat dan adikmu tidak tertolong."
" Adikku tidak akan tertolong..." Ayuna mengulang kalimat Thek sambil memejamkan mata, membuat setetes Air jatuh melewati pelipisnya.
Ada rasa sesal di hatinya, mengapa dia harus berada di situasi yang sangat berat seperti ini? Jika dia menerima tawaran Theo, kemungkinan Sofia untuk sembuh sangat besar. Tetapi dia harus melakukan sebuah pengorbanan yang besar pula. Ayuna harus merelakan keperawanannya untuk Theo, serta menjadi teman tidur lelaki itu selama satu bulan penuh.
" Tapi jika Aku menolaknya, di mana aku harus mencari uang untuk biaya transplantasinya Sofia?" Desahnya pelan.
Sebutkan nafas pelan lolos dari bibir mungilnya. Ayuna sudah berkata pada Theo bahwa dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di perusahaan milik lelaki itu.
Kemudian benaknya membayangkan kondisi Sofia yang kemungkinan akan semakin parah lagi seandainya tidak segera mendapatkan tindakan.
Tidak. Ayuna tidak bisa kehilangan Sofia.
*
*
*
Pagi ini Theo sedang sibuk berjibaku dengan pekerjaannya.
Lelaki berwajah tampan itu kemudian mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dia tanda tangani saat mendengar suara pintu yang di ketuk, lalu pintu pun terbuka begitu dia mempersilahkan masuk.
" Ayuna?" Mata Theo menyipit melihat Ayuna yang masuk dengan wajah yang tertunduk.
Gurat pasrah di wajah wanita itu membuat sebelah ujung bibir Theo tertarik.
Ayuna datang? Bukankah dia sudah di pecat? Theo tersenyum miring dalam hati. Dia sudah bisa menebak apa niat Ayuna datang ke ruangannya.
" Kemarin kamu bilang tidak akan sudi lagi menginjakkan kaki di perusahaan ku. Tapi sekarang kamu datang. Luu sekali, Ayuna. Ternyata wanita pemberani sepertimu pandai menarik ucapannya sendiri." Theo meletakkan bolpoin yang tadi di pegangnya ke atas meja.
Menatap Ayuna, dia menautkan kedua tangannya dibawah dagu, sementara siku tangannya bertumpu di tepi meja. Kedua bola mata abunya sempurna melekat pada wajah Ayuna yang tampak memerah.
Ayuna pun menaikkan pandangan nya, membuat hazel berwarna coklat muda milik nya, dapat melihat wajah Theo yang menampilkan raut jumawa. Ayuna sadar, Theo pasti telah menebak niat kedatangannya.
" Kamu akan bicara atau hanya akan diam saja? Katakan, Ayuna. Aku tidak punya banyak waktu menunggumu membuka mulut." Theo mendesak.
Cepat Ayuna menarik nafas nya dalam, membuangnya kasar sebelum kemudian dia meremas tangan, memejamkan mata dan berkata.
" Aku mau menerima tawaran anda yang kemarin, Pak."
Meski sudah menebaknya, Thek tetap saja merasa terkejut. Netranya semakin lamat memperhatikan gerak bibir bawah Ayuna yang bergetar pelan. Lalu pandangannya turun pada kedua tangan Ayuna yang mengepal erat.
" Tawaranku yang mana? Aku tidak ingat."
Dengan sengaja Theo mempermainkan Ayuna, membuat Ayuna sempurna membuka matanya, menatap Theo tidak percaya.
" Jawab, Ayuna. Memangnya aku pernah memberikan tawaran apa padamu?"
Ayuna menelan ludahnya berat. Dia sadar, Theo hanya ingin membuatnya semakin merasa malu dan terhina.
" Tawaran bapak yang mengatakan akan membiayai seluruh biaya pengobatan adikku sampai sembuh, dan aku harus membayarnya dengan menjadi teman tidurmu selama satu bulan."
Kini senyum miring tercetak jelas di bibir Theo. Ayuna menahan sesak yang berkumpul di dadanya.
" Sudah ku bilang, bukan? Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku inginkan kan, Ayuna." Theo bangkit berdiri.
Tubuh Ayuna terasa mengkerut setiap kali langkah kaki panjang Theo semakin mendekat padanya.
Theo menduduki tepi meja tepat di depan. Ayuna, melipat kedua tangannya di dad*, seraya matanya memindai tubuh wanita itu dari atas ke bawah. Hal itu membuat Ayuna menahan nafasnya sekuat tenaga. Tatapan Theo begitu merendahkan.
" Aku sudah setuju dengan penawaran anda, Pak. Dan aku tidak ingin berdebat lagi. Terserah dengan apa tanggapan Anda tentang diriku. Aku hanya ingin meminta uang 1 miliar itu. Adikku sangat membutuhkannya sekarang."
" Hei, apa aku tidak salah dengar, Ayuna? Kamu ingin meminta bayaranmu sementara kamu belum melakukan apa yang seharusnya aku dapatkan."
Theo mengangkat alis, membuyarkan tangannya yang terlipat di dad*.
Ketukan sepatu mahal itu terdengar kembali, mengusik jantung Ayuna yang semakin berdetak resah.
Satu tangan Theo menjepit dagu Ayuna dan menariknya hingga mata mereka kembali bersinggungan.
Ayuna menelan ludah. Dada mereka yang nyaris tidak berjarak membuat Ayuna harus sedikit menahan nafasnya.
" Aku tidak akan memberikan uang itu sebelum kamu melakukan tugasmu." Bisik Theo mengingatkan. Terpaan nafasnya terasa hangat di permukaan wajah Ayuna.
***
Ih...dasar ya... Si bos mah... Bikin kesel iya, bikin gerem iya,,, yang mau ngejambak sini maju bereng akuh hahahah....
