Pustaka
Bahasa Indonesia

Kisah Untuk Pak CEO

39.0K · Baru update
Matcha Boba
26
Bab
27
View
9.0
Rating

Ringkasan

Ayuna terpaksa meminjam uang ke perusahaan tempat dia bekerja untuk membayar biaya operasi adiknya, tapi bosnya malah memberikan penawaran pada Ayuna, untuk menjadi teman tidurnya selama satu bulan, tanpa harus mengembalikan uang yang dia pinjam.

RomansaOne-night StandCinta Pada Pandangan PertamaWanita CantikDrama

Memberikan Penawaran

*****

" Ayuna? Apa kamu masih perawan?" Tanya Theo. Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Ayuna tertegun di tempatnya.

" Memangnya kenapa anda bertanya seperti itu, Pak?"

" Aku pastikan adikmu akan mendapatkan perawatan sampai sembuh. Tapi kamu harus jadi teman tidurku selama satu bulan." Ucapnya, bola mata Ayuna membeliak seketika. Dia tidak menyangka Theo akan memberikan penawaran seperti itu.

Ayuna memang sangat tahu lelaki seperti apa Theo. Dia adalah perwujudan sempurna laki - laki dalam hal fisik. Wajahnya tampan dan tegas, mata abunya selalu bisa membius siapa saja. Kecuali Ayuna yang baru saja bekerja selama satu tahun di Anderson Company.

Setiap minggunya, Ayuna kerap melihat para model papan atas yang bergantian datang ke ruang kerja Theo. Tujuan mereka tentu saja untuk berkencan. Ayuna tidak merasa heran dengan hal itu.

Theo dengan paras tampan serta kekayaannya mampu menarik wanita kelas atas ke ranjangnya jika dia mau. Melihat wajah tampan nya saja, wanita itu akan langsung terpikat dalam sekejap mata.

Mungkin hanya Ayuna saja di kantor itu yang tidak tertarik pada Theo.

Hari ini Ayuna memberanikan diri datang ke ruang kerja Theo, menunduk di depannya untuk meminjam uang. Ayuna pun mengatakan jika uang itu akan di gunakan untuk biaya transplantasi adiknya yang menderita leukimia.

Tetapi jawaban lancang itu lah yang di berikan  Theo, membuat wajah Ayuna memerah dengan tangannya yang terkepal marah.

" Anda memang bos ku. Dan aku tahu dengan uangmu, bapak bisa menghabiskan waktu dengan wanita mana saja yang bapak inginkan. Tapi aku bukan mereka. Lancang sekali bapak bicara seperti itu padaku. Bapak pikir bisa dengan mudah menjerat miskin sepertiku ke atas ranjangmu? Itu tidak akan pernah terjadi, pak." Tegasnya menggerakkan gigi.

" Kenapa tidak? Kamu tahu? Sejak kecil, aku sudah terbiasa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku bukannya ingin menghinamu, tapi kamu datang tiba - tiba ke ruanganku, meminjam uang satu milyar padaku, padahal kamu belum genap satu tahun bekerja di perusahaan ini. Kamu pikir aku ini nenek moyangmu yang bisa kamu pinjami uang seenaknya?"

Ayuna membisu, tetapi nafasnya menderu, naik turun karena merasa sedih dihina oleh Theo. Ayuna bukanlah orang yang gemar meminjam uang. Andai adik nya tak sakit keras, mana mungkin dia senekat ini.

" Aku sedang memberikan penawaran yang terbaik. Kamu membutuhkan uangku, dan aku menginginkan keperawanan serta pelayanan mu selama satu bulan. Jika kamu setuju, aku akan memberikanmu imbalan satu milyar tanpa kamu perlu mengembalikannya. Bahkan aku akan membiayai pengobatan adikmu sampai sembuh. Coba pikirkan, Ayuna. Tawaranku sangat menarik, bukan?" Ujung bibir Theo tertarik, melemparkan senyuman penuh ejekan.

Ayuna menggeram, tangannya makin mengepal erat dikedua sisi tubuhnya.

" Anda sangat licik, Pak. Aku tidak pernah bertemu orang sebrengs*k bapak." Bisik Ayuna.

Theo mengangkat bahunya tak acuh.

" Itulah diriku, Ayuna." Bibirnya menyeringai tipis.

" Aku tahu bapak orang kaya. Tetapi tidak semua wanita bisa bapak rendahkan. Aku tidak Sudi memberikan kehormatanku kepada lelaki yang lancang seperti bapak." Bola mata bulat basah milik Ayuna menatap tajam pada bola mata Theo yang abu.

Hancur sudah harapan Ayuna. Dia pikir, Theo akan merasa iba dan berbaik hati meminjamkan uang kepadanya untuk pengobatan adiknya.

Tetapi kenyataannya Ayuna tidak sebaik yang dia pikirkan. Lelaki itu malah meminta hal yang paling Ayuna jaga selama hidupnya.

Bagaimana mungkin Ayuna akan memberikan kehormatannya pada Theo?

Theo tertawa, sedikit menggoyangkan kursi kerjanya.

" Kamu yakin tidak tertarik dengan tawaranku? Padahal di lain waktu, belum tentu aku akan memberikan penawaran yang sama padamu. Hari ini aku memang sedang berbaik hati." Tantang Theo.

" Sepertinya aku sudah salah meminjam uang kepada anda, Pak. Aku mengurungkan niatku. Permisi." Ayuna menahan marah, dia baru akan membalikkan badannya saat Theo lebih dulu bicara.

" Kalau begitu aku akan memecatmu hari ini juga."

Tubuh Ayuna membeku demi mendengar apa yang barusan Theo katakan.

Dipecat? Memangnya kesalahan apa yang Athalia lakukan sampai Theo memecatnya tiba-tiba?

Menatap Theo, Ayuna menyipitkan matanya.

" Apa alasan bapak memecat ku?" Tanyanya pelan.

" Kamu berani menolakku. Dan Aku adalah orang yang paling benci menerima penolakan." Tegasnya pada Ayuna.

" Bapak sangat tidak adil. Satu tahun aku bekerja di perusahaan ini, dan tidak pernah sekalipun Aku melakukan kesalahan. Dan sekarang bapak memecatku dengan alasan yang tidak masuk akal? Di mana hati nurani anda, Pak?"

Theo mengangkat dagu, wajahnya semakin menantang Ayuna.

" Aku memang tidak mempunyai hati. Percuma jika kamu mencari simpati dariku. Sudah kubilang tadi, bukan? Kalau aku terbiasa mendapat apa yang aku inginkan." Mendorong kursinya ke belakang, Theo bangkit berdiri.

Sepatu mahalnya mengetuk lantai, mengelilingi tubuh Ayuna yang menegang di tempatnya.

" Sebenarnya aku bisa mendapat 1000 wanita yang lebih cantik darimu. Kamu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka. Aku yakin kamu sering melihat para wanita yang datang ke ruang kerjaku setiap minggu. Tubuh mereka lebih bagus dari tubuhmu yang kurus. Hanya saja sepertinya akan sangat menarik jika aku mencoba hal yang baru. Entah bagaimana rasanya bercinta dengan wanita yang biasa biasa saja seperti kamu, Ayuna." Derap kaki Theo berhenti tepat di depan Ayuna.

Berdiri berhadapan dengan Theo, membuat Ayuna semakin merasa terintimidasi karena tubuh pria itu yang jangkung.

Theo mengangkat tangan, hendak mengelus pipi kiri Ayuna,  namun gagal saat Ayuna memalingkan wajahnya segera.

Melihat wajah Ayuna yang makin memerah menahan kesal, membuat bibir Theo justru semakin menyunggingkan senyum kemenangan.

Tangan lebarnya meraih cek, menuliskan nominal di sana, Lalu menandatanganinya.

" Ambil cek ini jika kamu setuju dengan penawaran yang kuberikan." Theo menyodorkan cek di tangannya pada Ayuna.

Ayuna mengedarkan pandangannya ke sana, angka 1 miliar terpampang jelas di cek itu.

" Jadilah teman tidurku selama 1 bulan, maka uang ini akan menjadi milikmu. Tapi jika kamu menolaknya, pergilah dari sini dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di perusahaan ku." Ucap Theo sambil menyeringai licik.

" Pilihannya Hanya dua, Ayuna. Terima tawaranku dan selamatkan adikmu, atau kamu kupecat dan adikmu tidak tertolong." Lanjut Theo membuat Ayuna menelan ludahnya susah payah.

Ayuna sangat membutuhkan uang itu untuk Sofia, adiknya yang sedang sakit. Tapi apa dia harus menyerahkan kehormatannya pada Theo? Tidak. Ayuna tidak akan melakukan itu.

Seperti nasehat Ibu. Kehormatan bagi wanita selayaknya sebuah mahkota. Ayuna harus menjaganya, lalu memberikannya pada suaminya kelak. Bukan pada lelaki di hadapannya yang saat ini sedang menatapnya dengan senyum penuh hinaan.

Ayuna balas menatap tajam, matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan.

Tangan rampingnya merebut cek dari tangan Theo, membuat Theo tersenyum puas karena berfikir Ayuna akan menerima tawarannya.

Namun selanjutnya Theo terkejut melihat apa yang Ayuna lakukan di depan matanya. Ayuna merobek cek itu, kemudian melemparkannya ke wajah Theo.

" Meski seribu kali bapak bertanya kepadaku, jawabanku akan tetap sama. Aku tidak sudi menyerahkan kehormatanku pada lelaki seperti bapak. Jika memang aku dipecat hari ini, maka aku akan pergi. Dan Aku bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di perusahaan ini." Tegas Ayuna dengan berani.

Nafasnya memburu penuh emosi.

***

Hahahaha... Pasti bingung kan kenapa alur cerita nya berbeda sama yang ada sekarang... Ahahaha... Maaf ya maaf... Jalan cerita kemaren sempat aku draf beberapa episode, tapi di tolak sama mas Fizzo... Jadi aku ganti sendiri ... Mumpung dapat ide dadakaj tadi pagi... Sekali lagi aku minta maaf ya...