Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Menjenguk Sofia

*****

Theo bangkit berdiri, diikuti oleh Ayuna yang mengekori dari belakang. Mereka berjalan menaiki tangga. Ayuna tidak heran mengapa apartment milik Theo terlihat mewah. Lelaki itu bisa membeli apapun yang dia tunjuk.

Tiba di depan pintu kamar yang Ayuna tebak adalah kamar Theo, Thek membuka pintu dan mereka berdua masuk ke dalam.

Ayuna mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Ayuna sempat terkesiap karena seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat kamar sebagus ini. Apalagi ranjang di kamar Theo sangat besar, mungkin seukuran kolam renang.

Seolah Theo memang diciptakan untuk memiliki segalanya, kecuali Cinta.

" Apa kamu sudah siap, Ayuna?"

Ayuna terkejut saat Theo memeluknya dari belakang.

" Jujur, Aku sedikit kecewa karena kamu tidak menuruti permintaanku." Bisik Theo menentukan dagunya di pundak kiri Ayuna.

Tentu Ayuna ingat, Theo memintanya mengenakan gaun yang seksi. Namun Ayuna tak mungkin memakainya. Ibunya akan curiga. Terlebih dia tidak memilikinya.

" Aku tidak akan melakukan hal segila itu." Tegas Ayuna yang akhirnya bicara juga setelah diam sejak tadi.

Theo menyeringai.

" Hal yang gila? Lalu apa yang akan kita lakukan di dalam kamar ini? Apa menurutmu ini bukan kegilaan?"

Ayuna menahan nafas, sebisa mungkin dia tidak akan mengeluarkan suara yang akan membuat Theo senang.

" Sebelum melakukannya, aku ingin kamu mengatakan sesuatu. Katakan kalau tubuhmu adalah milikku." Theo memerintah.

Bibir Ayuna bergerak pelan.

" Tubuhku adalah milikmu." Dia menuruti setiap yang Theo suruh.

Karena Theo adalah orang yang akan menyelamatkan adiknya. Setidaknya begitu lah yang Ayuna pikir.

Senyum miring tercetak di wajah tampannya. Sebelum kemudian Theo menunduk dan memamgut bibir ranum Ayuna.

Ayuna pasrah. Malam ini tubuhnya benar - benar tidak berdaya. Dia membiarkan Theo menikmati bibirnya, menyentuh bagian tbuh yang disukai pria itu.

Malam ini, kamar apartment Theo menjadi saksi bisu dimana Ayuna melepaskan kehormatannya sebagai wanita.

Ayuna menangis, seketika teringat pada Dian yang pasti akan kecewa andai dia tahu semua ini.

" Maafkan aku, Bu."

*

*

*

" Terima kasih banyak, Pak. Saya benar - benar tidak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa. Sepertinya Tuhan mengirim Pak Theo untuk menjadi malaikat penolong bagi Sofia."

Hari ini, Dian menangis. Tidak henti - hentinya dia mengucapkan terima kasih pada Theo.

Ya, setelah Ayuna menyerahkan keperawanannya, Theo Tak membuang banyak waktu. Dia langsung memenuhi janjinya untuk membiayai pengobatan Sofia sesuai dengan apa telah dia katakan pada Ayuna.

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata sumsum tulang belakang Dian sangat cocok dengan Sofia. Berarti Dia lah yang akan jadi pendonor buat Sofia.

" Tidak perlu berterima kasih. Apa yang aku lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan ku terhadap adiknya Ayuna. Kinerja Ayuna sangat baik di perusahaanku. Ketikan aku mendengar adiknya sakit, pasti aku akan membantunya."

Dian tersenyum menatap pada Theo sambil mengusap pipinya yang basah.

" Ayuna beruntung sekali karena memiliki bos yang sangat baik seperti anda. Anda begitu bijaksana dan memiliki hati yang tulus." Dian memuji.

Theo tersenyum kecil mendengar itu, kemudian dia melirik ke arah Ayuna yang justru memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Diam - diam Ayuna tersenyum pahit.

" Mati - Matian ibu memuji Theo. Ibu tidak tahu jika sebenarnya sifat lelaki itu jauh dari bijaksana. Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan, Bu. Theo bukanlah malaikat penolong. Dia hanya lelaki yang memanfaatkan keadaan. Ibu akan kecewa jika tahu semuanya." Ayuna membatin.

" Sofia akan sembuh, Ayuna. Adikmu akan sembuh. Dokter sudah menentukan proses transplantasi nya akan dilakukan besok. Ibu sangat senang. Sampai - sampai ibu tidak bisa melukiskan betapa bahagianya perasaan ibu hari ini."

Dian menggenggam tangan Ayuna, meremasnya dengan menumpahkan kebahagiaan yang tak terbendung.

Ayuna tersenyum kecil. Tidak dipungkiri, dia juga senang mendengar adiknya akan segera melakukan transplantasi.

" Iya Bu, Sofia akan sembuh."

Melihat ke arah tangan Ayuna dan Dian yang menggenggam saling menguatkan, Theo menyunggingkan senyum kecut, kemudian mengusap wajahnya dengan sebelah tangan seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.

Ada sedikit rasa cemburu di hatinya. Mengingat ibu kandungnya tidak pernah mengganggam tangannya sehangat dan seerat itu.

" Pak Theo. Bagaimana cara saya membalas kebaikan anda? Saya tahu, orang sepenting anda pasti memiliki kesibukan yang luar biasa. Tapi anda masih mau menyempatkan waktu untuk datang ke rumah sakit bersama Ayuna."

Theo kembali menolehkan kepada pada Dian, lantas menggeleng pelan.

" Bukan masalah. Hari ini saya tidak terlalu di sibukkan dengan pekerjaan. Dan... Aku minta jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Panggil saja Theo." Katanya pada Dian.

" Tapi tuan, andakan bos nya Ayuna di kantor? Mana mungkin saya memanggil anda hanya dengan sebutan nama."

Dian menggeleng, enggan menuruti perintah Theo karena merasa tidak enak.

" Aku lebih suka di panggil Theo. Karena di luar kantor, aku bukan seorang bos. Bahkan aku pun meminta Ayuna berhenti memanggilku dengan sebutan pak kecuali kami sedang berada di perusahaan." Ucap Theo yang meski dengan suara lembut namun tetap terdengar tegas.

Akhirnya Dian pun mengangguk mengiyakan apa yang Theo inginkan.

" Baik, Nak Theo."

Ujung bibir Theo tertarik, membentuk sedikit senyum.

" Ku dengar dari Ayuna, kalian bertiga tinggal di sebuah kontrakan kecil?" Tanya Theo pada Dian. Ayuna spontan menoleh dan memicingkan mata.

" Kenapa Theo bilang begitu? Aku tidak pernah mengatakan apapun tentang kontrakanku padanya." Bathin Ayuna bingung.

Ayuna tidak tahu jika Theo menyuruh orang untuk menyelidiki tempat dimana wanita itu tinggal.

Dian mengangguk.

" Benar, nak Theo. Kami bertiga memang tinggal di kontrakan yang sangat sederhana. Meskipun mungkin bagi orang lain sudah tidak layak, tapi bagi kami asalkan kami memiliki tempat untuk berteduh. Apalagi biaya sewanya juga murah." Dengan sedikit menunduk malu, Dian bercerita.

Theo menghembuskan nafasnya pelan, di tatapnya Dian dengan raut iba. Mengingat foto kontrakan Ayuna yang di kirimkan oleh orang suruhannya melalui pesan, Theo jadi membayangkan bagaimana susahnya kehidupan Dian bersama keluarganya.

" Mulai besok, sebaiknya kalian tinggalkan saja kontrakan itu." Kata Theo yang kemudian membuat kening Ayuna dan Dian sama - sama berkerut bingung.

" Kenapa begitu?" Tanya Ayuna.

" Karena aku sudah menyuruh orang untuk memilihkan kontrakan yang lebih layak untuk ibu dan adikmu." Jawab Theo sambil menoleh pada Ayuna.

Ayuna dan Dian terkejut.

" Untuk memulihkan kondisinya, Sofia membutuhkan tempat yang lebih nyaman. Tentunya kontrakan yang sudah ku pilih itu sangat bagus dan akan nyaman untuk di tempati."

" Tapi, Nak Theo, kami tidak sanggup membayar uang kontrakan jika harga nya mahal." Wajah Dian terlihat keberatan.

Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Theo menggeleng pada Dian.

" Soal biaya sewa tidak perlu di pikirkan. Aku sudah membayar biaya sewa kontrakan itu, selama satu tahun. Kalian hanya cukup tinggal saja dengan nyaman disana." Tutur Theo.

Dian terperangan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Kebaikan Theo telah membuat hatinya tersentuh.

" Nak Theo. Kamu baik sekali. Terima kasih banyak."

Theo mengangguk.

" Sama-sama. Tapi untuk Ayuna, untuk 1 bulan ini aku ingin dia datang ke kantor lebih pagi. Untuk itu, aku meminta izin agar sebaiknya Ayuna tinggal di apartemenku saja yang dekat dengan kantor. Itupun jika anda tidak keberatan sebagai ibunya Ayuna." Ucap Theo berbohong. Padahal sebenarnya alasan berangkat ke kantor lebih pagi itu hanyalah akal-akalannya saja.

Tersenyum, Dian menganggukkan kepalanya.

" Tentu saja boleh. Mungkin dengan begitu, Ayuna bisa datang ke kantor lebih pagi." Dian mengatakan itu, karena dia tidak tahu kalau di apartemen itu, Ayuna akan tinggal dengan Theo.

Yang Dian pikir, putrinya hanya akan tinggal sendirian saja. Maka dari itu dia langsung menyetujui ucapan Theo.

*

*

*

Pulang dari rumah sakit, Theo dan Ayuna sama-sama masuk ke dalam mobil.

Setelah mengenakan seatbelt dengan rapi, Ayuna menoleh ke arah Theo yang mulai melajukan mobilnya. Matanya menatap wajah Theo dari samping.

Jujur saja, Ayuna merasa sedikit tersentuh dengan apa yang maha Theo lakukan hari ini. Ayuna tidak pernah melihat senyum bahagia di wajah ibunya seperti tadi.

" Kenapa kamu menatapku seperti itu?'

" Mengapa kamu melakukan semua itu?" Ayuna balas bertanya.

" Maksudmu melakukan apa?" Tanya Theo tidak mengerti.

" Kamu menyewakan kontrakan untuk tempat tinggal ibu dan adikku. Mengapa kamu melakukan semua itu? Dan... Mengapa kamu meminta izin Pada ibuku agar aku tinggal di apartemen milikmu?'

" Anggap saja itu sebagai salah satu bayaranku atas tubuhmu. Selama kamu menjadi teman tidurku, aku bisa memberikan kemewahan yang tidak terbatas untukmu dan keluargamu. Dan soal kamu yang tinggal di apartemen, tentu saja agar aku bisa memiliki waktu banyak untuk menikmati apa yang telah menjadi milikku selama satu bulan penuh."

Ayuna tergugu mendengar jawaban Theo.

***

Kalian udah bisa baca belum sama sikap nya pak Theo...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel