Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tak Bisa

Untuk pertama kalinya—setelah tiga tahun berlalu—tangan besar itu kembali menggenggam tangan lain. Tangan yang pernah menamparnya, tapi tangan ini mampu meredam gemuruh amarah yang bergumul di balik dadanya. Meluruhkan segala emosi hanya dalam satu kali sentuhan. Dan... hatinya kontan menghangat. Mengembalikan segenap kepercayaan lantas menggantinya dengan ilusi.

Qia seolah replika dari sosok Quinsha.

Beku sikapmu buatku menggigil, terpaku pada harapan. Seharusnya lalu, bila temu hanyalah kata semu.

Di balik manisku, adalah palsu yang mendambamu karena sesuatu.

Jangan percaya pada senyum atau tatapku yang seakan menginginkanmu. Aku tak begitu.

Sebab kita adalah dua titik paradoks yang dipermainkan oleh semesta.

Satu jiwa terlihat menyuka, padahal cuma taktik menghapus luka dan melengahkan duka.

Kini, silahkan kau ternganga. Murka. Dan aku akan tertawa.

Sejatinya rasa adalah kosong yang dilebih-lebihkan oleh logika. Lalu sanubari terbawa, menenggelamkan benak pada asa, hingga bersambut lara.

Kita hilang jadi kenang.

Mata biji kopinya berpaling pada sesosok cewek berwajah mirip barbie yang duduk di hadapannya. Dia tatap manik cokelat terangnya itu, lantas dia telisik kedalaman bola matanya. Ada kesungguhan di sana. Intensitas yang terlukis lewat aksara, seakan berbicara melalui sorot teduhnya.

"What do you mean?" Rajendra menaikan satu alis, "Gue nggak punya banyak waktu buat basa-basi," tandasnya, dingin.

Qia mengulum senyum. Kepalanya mengangguk. "Lo... serius sama yang namanya Ratu-Ratu itu?"

Sekarang giliran Rajendra yang mengangguk, mengembangkan senyum di wajah Qia, dan cewek itu kembali buka suara. "Gue bakal bantuin lo buat ngedapetin dia, asal lo mau bantuin gue buat ngerebut seseorang yang sangat berarti di hidup gue."

Cowok itu tercengang.

"Gue nggak seserius itu pengin jadi pacar lo. Karena... Satu, komplotan The Monsters bukan tipe cowok idaman gue. Dua, gue masih punya pacar. Tiga, pacar gue lebih ganteng dan dewasa dari lo. Empat—"

"Jadi maksud lo apa?"

Qia menghela napas sejenak. Dia tatap netra hitam yang selalu memancarkan kilat sinis yang sarat akan luka dan kesakitan di baliknya. "Pura-pura jadi pacar gue."

Seketika tawa sumbangnya meledak.

Qia mengernyit. Lalu mencibir, "Nggak ada yang lucu, Njeng!"

Perlahan-lahan tawa Rajendra sirna. Atensinya dikembalikan pada sosok Qia. "Gue udah terbiasa dengan kepura-puraan. Dan gue bosen hidup dalam kepalsuan," tekannya, getir.

Kalimat yang dilontarkan dengan nada dingin itu mampu membuatnya kontan tercenung. Sesaat terenyak, Qia lantas menampilkan senyum kecut. "Dunia ini emang nggak adil! Kadang apa yang lo inginkan, belum tentu sejalan sama kenyataan. Dan gue pun merasakan. Satu yang mungkin lo lupa, lo nggak hidup sendiri. Ada banyak orang di sekitar lo, yang hidupnya nggak sebahagia kayak yang lo lihat. Lo pernah denger quotes; don't judge a book by cover?"

Anggukkan Rajendra, mengubah senyum kecut Qia menjadi senyum hangat.

"Nah, ntu tau! Kok, masih pura-pura goblok?"

Kali ini Rajendra melotot.

"So, gimana? Mau 'kan jadi pacar gadungan gue?"

Tidak ada jawaban.

Well, mendapatkan hati Ratu bukan soal gampang atau sukar. Gadis itu hanya butuh waktu untuk meyakinkan hatinya sendiri. Dan menerima tawaran dari Qia bukan sesuatu yang salah, namun juga bukan pilihan yang benar.

Ini masalah hati.

Ya, hati.

Sesuatu yang tak kasat mata, namun sangat sensitif dan mudah memancing air mata. Karena itu, Rajendra memilih untuk...

"Gue nggak bisa, Qi," pungkasnya, lalu bangkit dan berlalu.

Qia termangu. Manik cokelatnya menatap punggung yang menjauh itu dengan sorot letih. Segala cara telah dia kerahkan untuk menyentuh kebekuan hati Rajendra. Tapi, lagi, lagi, dan lagi, kesia-siaan menjawab perjuangannya. Menampar keras-keras kepercayaan dirinya. Namun tidak menyurutkan semangatnya.

"Tunggu besok, Je."

***

Jika mati adalah hal yang pasti, ingin rasanya dia menyudahi kekejaman hidup dengan sebuah kematian.

Dia lelah, sangat lelah.

Tapi semesta tidak pernah paham akan kepenatannya. Dia terus berkonspirasi melahirkan luka demi luka dan menjadikannya hancur bahkan terpuruk sendirian.

Pahit, dia telan seorang diri.

Sakit, dia nikmati sebatang kara.

Kurang kah segala kesabarannya?

Lantas, harus dengan topeng yang seperti apa dia menyamarkan rasa perihnya?

Karena di balik senyumnya, ada sakit yang disembunyikan. Di balik tawanya, ada luka yang disamarkan. Dan di balik tingkah lucunya, ada tangis yang diredam kuat-kuat. Sebab berpura-pura adalah hobinya.

Di bawah kolong langit, kutatap gelap dan kutelaah. Kosong. Hampa. Demikianlah aku tanpa keluarga.

Kata mereka, keluarga tempat kita pulang. Tapi rumahku hilang.

Kata mereka, keluarga adalah nirwana. Tapi surgaku entah ke mana.

Kini kutanyakan keadilan-Mu.

Sunyi.

Aku ingin mati.

Adalah rutinitasnya tiap malam; melukis rasa lewat aksara, agar berkurang sedikit penat yang melanda hati dan pikiran. Karena, tidak ada insan yang bisa diajaknya bicara, mengerti setiap rasa, dan memahami keinginannya. Mayoritas hanya mendengar lalu ceritanya terlupakan.

Qia butuh teman.

Butuh pendengar.

Butuh seseorang.

Tapi, tak ada.

"Lo masih punya gue, Njir! Jangan jadi pecundang biar dikasihani orang!" cetus Samantha yang tiba-tiba muncul dan beranjak duduk di sebelahnya. Well, begitu Rajendra pergi, Qia sengaja menghubungi Samantha dan meminta cewek itu untuk menyusulnya di tempat biasa.

"Njeng, lo! Dateng-dateng nge-bully gue!" umpat Qia.

Samantha tertawa. "Gimana rencana lo? Gagal, kan?"

Sambil mendengkus, kepalanya mengangguk. Otomatis reaksinya mengembangkan tawa seorang Abigail Samantha. "Sudah kuduga, Bosku!"

Qia makin keki.

"Lagian, gue 'kan udah bilang sama lo, ada banyak cara buat ngehancurin si Jendes, tapi nggak harus ngelibatin si Kampret. Karena... Biar pun tu monyet kadang-kadang agak kurang waras, tapi cukup sensitif kalau urusan hati."

Ucapan Samantha dibalasnya dengan picingan curiga. "Kok, lo paham?"

"Eh, Njirr! Lo harus tau—" Samantha memusatkan perhatiannya pada figur Qia. Dia tatap sosok itu lekat-lekat selagi bibirnya melanjutkan, "Justru orang yang sering ketawa itu adalah dia yang hatinya mudah terluka. Karena tawa nggak selalu bisa diartikan bahagia."

Qia bungkam, larut dalam ketertegunan.

Samantha menghela napas. Lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku celana jeansnya dan menyodorkannya ke arah Qia. "Puisi patah hati lo masih gue simpen."

Tangan Qia terulur menerimanya. Kemudian dia buka dan dibacanya lagi coretan tinta yang menggambarkan suasana hatinya kala itu.

Hati itu patah, kepingannya berserak.

Ingin kupungut, tapi untuk apa?

Menyentuh buatku kian rapuh, meninggalkan namun enggan.

"Harus bagaimana?" kutanya.

Dia; sesuatu yang tak terlihat, tapi rasanya cukup menjerat.

Sukanya menghadirkan tawa, lukanya menyebabkan diri jadi merana.

Kekehan ringannya lolos.

Samantha menatapnya serius. "Surat dari Noah dah lo baca?"

Anggukan Qia merespons.

"Nape mantan lu?"

Wajah Qia berubah sendu. "Dia mau pindah ke luar negeri."

"Bagus, deh. Biar lo bisa cepet move on," tandas Samantha.

Qia mendesau. "Soal move on, gue udah move on sejak dia nyakitin gue."

"Terus, kenapa lo sedih gini?"

Sejenak menghela napas, lalu tatapan Qia dilekatkan pada manik mata di depannya. Dengan segenap keberanian dan juga ketegaran, dia berkata dengan suara pelan. "Dia sakit leukimia."

"What?!"

"Dan cewek yang waktu itu nemenin dia... tunangannya."

"Lo serius?"

Hanya anggukan yang bisa dia berikan. Sebab lidahnya kembali kelu, bertepatan dengan rasa ngilu yang menyebar ke ruang sanubarinya.

"Qi..."

Yang disebut namanya merunduk. "Gue bego banget, ya, Sam? Ngarepin orang yang jelas-jelas udah punya masa depan."

"Nggak, Qi," Samantha menggeleng. "Perasaan lo nggak salah, tapi cewek yang sama Noah saat ini juga nggak salah. Ini udah jadi rencana Tuhan. Lo nggak bisa ngelak," lanjutnya.

"Tiga tahun gue bareng-bareng sama dia, Sam," desis Qia.

"Lamanya hubungan nggak menjamin kalian bakal berjodoh. Lo tau, Tuhan selalu mengirimkan orang yang salah sebelum takdir-Nya mendatangkan sosok yang tepat untuk dijadikan partner hidup. Lo ngerti 'kan maksud gue?"

Qia mengangkat wajah, dibalasnya tatapan figur di sebelahnya dengan sorot sengit. "Ini terlalu jahat, Sam!"

"Nggak ada takdir jahat, Qi. Lo cuma belum bisa terima apa yang udah ditentuin Tuhan," sanggah Samantha.

Tidak ada tanggapan.

Qia membuang pandangan.

"Qi..." Samantha menyentuh bahu kawannya, "Ada yang lebih krusial dari menahan orang yang nggak pasti untuk kita, yaitu membuka hati untuk yang lain."

"Maksud lo?"

Samantha mengulum senyum. "Cepat atau lambat bakal datang seseorang yang bisa bikin lo nyaman lagi."

Qia dan Samantha, sepasang gadis remaja yang dipertemukan oleh waktu. Yang lantas sepakat untuk bersahabat. Bukan karena mereka dekat, akan tetapi kenyamanan dan kecocokan. Biar pun persahabatan mereka kerap diwarnai pertikaian kecil atau kesalahpahaman, mereka selalu punya cara untuk mengembalikan keadaan.

Qia, si cerewet dengan kelabilannya, versus Samatha yang jutek dengan ketegasannya.

Dua garis bersinggungan yang berusaha saling memahami, sehingga mampu melawan ketidakpadanan tersebut.

"Semoga."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel