Tentang Rasa
Sejak kecil, Eyang selalu menerapkan hidup di dalam Tuhan. Maksudnya, sesusah apa pun keadaan kita, sepahit apa pun cobaan yang menerpa hidup kita, dan sesedih apa pun perasaan kita, tetap ingat Tuhan. Tetap muliakan Tuhan. Karena kasih Tuhan adalah kekuatan yang sesungguhnya. Yang menjadikan kita manusia-manusia tangguh dan tegar. Sebab kasih-Nya selalu memberikan kita kedamaian sekaligus kehangatan dikala badai menghantam dan mengaburkan segala asa juga khayal.
Maka, di sinilah dia sekarang; di tempat terbaik selain imajinasi.
Gereja.
Di mana ratusan umat Nasrani berkumpul, menyairkan kasih setia-Nya lewat kidung pujian.
Tak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Tak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap hatiku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap jiwa ragaku
Tak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Tak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap hatiku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap jiwa ragakuTak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Tak terukur kasih-Mu Yesus
Kau tlah mati gantikan diriku
Kau curahkan darahmu
Tuk tebus dosaku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap hatiku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap jiwa ragaku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap hatiku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap jiwa ragakuTak terukur kasih-Mu Yesus
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap hatiku
Layak lah kau Tuhan
Dipuji dan disembah
Dengan segenap jiwa ragakuTak terukur kasih-Mu Yesus
Dengan segenap jiwa ragakuTak terukur kasih-Mu Yesus
Rajendra merunduk, bibirnya turut berlagu. Ada kedamaian tersendiri, yang perlahan-lahan memeluk, membangunkan semangat yang sempat terlelap karena tersurut emosi.
"Sekarang lo percaya, kan?" suara dari samping membuatnya kontan menoleh. Tersadar lalu senyumnya menguar. "Tuhan selalu sama kita. Apa pun keadaan kita dan gimana pun sikap kita ke Tuhan."
Rajendra mengangguk pelan.
"Lo nggak sendiri, kalau pun nggak ada gue, bukan berarti nggak ada yang peduli. Karena masih ada Tuhan, keluarga, sahabat-sahabat lo, dan lo cuma perlu mengingat mereka, bukan kesedihan yang lo rasain," lanjut Ratu. "Kadang ya, kita ini sering merasa tersakiti, menganggap hidup kita paling menderita, tapi kalau kita tau kehidupan orang-orang di luar sana, ada banyak orang yang lebih, lebih, dan lebih menderita dari kita. Tapi mereka masih bisa bersyukur. Biar pun makan cuma sehari sekali. Biar pun tempat tinggal yang mereka huni nggak layak pakai. Biar pun kehidupan mereka serba paspasan." Jeda, cewek yang masih duduk di bangku kelas sepuluh itu mengurai senyum. "Lo punya segalanya, Je. Tapi lo nggak tau gimana caranya bersyukur."
"Karena kehilangan bikin gue buta akan nikmat yang udah Tuhan kasih ke gue, Rat," lirih Rajendra, sendu.
"Berhenti sakit hati untuk asumsi yang lo buat sendiri." Ratu menyentuh bahu Rajendra. "Gue nggak bisa jadi apa yang lo mau. Gue cuma bisa jadi temen yang akan ngingetin lo ketika lupa, negur lo ketika salah, dan—"
"Lo nolak gue?"
Keterdiaman Ratu, Rajendra anggap sebagai jawaban.
Iya.
Lagi, takdir menyuguhkan kata kehilangan.
Rajendra kehilangan harapan untuk meraih asa yang diyakini mampu memberinya tawa dan bahagia di kemudian hari.
"Gue paham, kok," desahnya, seraya bangkit lalu melenggang pergi meninggalkan gereja. Cowok itu menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana, namun ditahan oleh panggilan seseorang.
"Raja!"
Panggilan itu... Rajendra praktis menoleh, terperangah, ternyata yang memanggilnya demikian adalah Ratu. "Rat?"
Kaki jenjang gadis itu terayun, mendekati Rajendra, lantas tangannya terulur menyentuh bahu Rajendra—begitu sampai tepat di hadapannya. Dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya, Ratu bertanya serius, "Ada banyak cewek yang ngejar-ngejar lo, yang tentunya lebih cantik dan menarik dari sosok yang saat ini lo tunggu. Tapi—" kalimat Ratu diputus oleh pelukan Rajendra.
"Tapi hati gue milih lo."
"Raja..."
"Ratu..."
Rajendra dan Ratu adalah sepasang muda-mudi yang dikontrasikan oleh semesta. Lewat rencana-rencana-Nya. Dari perkenalan lewat dunia maya, lalu waktu memberi kesempatan mereka untuk bertemu di dunia nyata. Mengenal satu sama lain, keduanya lantas saling memahami.
Detik demi detik yang bergulir, menghantarkan salah satunya pada sebuah rasa. Sedang yang lainnya sibuk menyelami ambisi.
"Please, jadi alasan gue tersenyum dan tertawa, ya?" permintaan itu diajukannya dengan sungguh-sungguh.
Ratu meringis.
Tepat ketika Rajendra membisikkan sebuah lagu. "Bila musim berganti, sampai waktu terhenti. Walau dunia membenci, ku kan tetap di sini."
Kali ini Ratu tertegun. Beberapa saat, sebelum dia turut mendendangkan lagu yang sempat hits pada masanya itu. "Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijar pada dunia, telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu. Dan tlah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia. Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu."
Tanpa keduanya sadari, senyum mereka sama-sama mengakhiri.
"Rat," Rajendra mengurai pelukannya. Dia tatap manik hazel di depannya lekat-lekat. "Mau, kan?"
"Gue nggak mau jadi bayangan Kak Quin," desis Ratu. Wajahnya tertunduk lesu.
Rajendra menggeleng. "Enggak, Rat. Lo tetep Ratu," dia yakinkan cewek itu, berharap yang diyakini percaya. "Quin udah pergi. Udah nggak ada lagi di sini. Juga—" tangan besarnya meraih salah satu tangan Ratu dan ditempelkannya tangan cewek itu di dadanya. "—udah nggak ada di hati. Karena yang sekarang menghuni cuma Ratu."
Lalu anggukkan Ratu mengubah segalanya.
Mengubah kegelisahan Rajendra menjadi sebentuk kepercayaan. Kepercayaan yang sempat hilang kini kembali dan terbentuk menjadi bagian yang utuh.
"Jadi?"
"Tetep jadiin gue Ratu."
"Pasti."
Pagi itu, di bawah naungan langit biru, sepasang remaja yang pernah patah hati, kembali memperbaiki hati. Menyatukan kepingan-kepingan yang berserak dan menyusunnya menjadi bagian yang utuh, meski bentuknya tidak lagi sempurna. Membuat seseorang yang diam-diam mengamati gerak-gerik mereka, kontan merasakan kehancuran.
"Nggak bisa."
Benar bahwa semua akan berubah pada masanya. Seperti rencana Qia dengan kenyataan yang dia terima. Rajendra yang awalnya dia jadikan tameng untuk menghancurkan Diana, justru lamat-lamat mematahkan hati. Padahal bukan planing Qia membawa serta perasannya, tapi kenyataan berkata sebaliknya.
Gadis itu berlari menjauh.
Hatinya didekap rapuh.
Untuk sebuah kisah yang dia pikir akan indah, ternyata membuatnya lebih patah.
