
Ringkasan
Kita adalah dendam yang seharusnya diselesaikan. Tapi takdir terlalu pandai dengan mengelabuhi kita lewat hal-hal mengesankan. Hingga pada waktunya fakta berkata, namun kita tidak bisa menerima realita.Aku, kamu, terjatuh ke dasar renjana yang tak seharusnya.
Misi
"Satu satu Bangsad masih jomblo. Dua dua Meyow juga jomblo. Tiga tiga Bakwan ikut jomblo. Satu dua tiga semua salah Enja."
Rajendra tertawa terbahak-bahak di akhir plesetan lagunya. Membuat seantero kantin kontan istigfar, tapi sudah biasa mendengar cowok yang akrab disapa Jeje itu memelesetkan berbagai macam lagu. Dari lagu anak-anak, pop, dangdut, sampai shalawat, Jeje hapal semua! Dan semuanya kerap diplesetkan seenak jidat oleh cowok yang siang ini sengaja mengikat dasinya di dahi---biar kayak Wiro Sableng.
"Oi, Mamen berpita biru. Galak judes cak ulet bulu. Dapet salam dari Ayah-Ibu. Tamat SMA jadi menantu."
Kembali dia berdendang, mengundang seluruh perhatian orang-orang di sekitar. Dilengkapi kekonyolan Senja dan Awan, yang dengan kompak melenggak-lenggokkan pinggul serta kedua tangan dan tak lupa memainkan mata genit. Sementara Romeo yang juga kadar kewarasannya agak berkurang, turut meramaikan suasana dengan menjadikan meja sebagai drum. Cuma Sadewa, satu-satunya personel The Monsters yang cueknya naudzubillah, yang lebih milih jadi penonton, tapi tetap jadi pusat perhatian cewek-cewek.
"Aduh, Mamen bibirnya merah. Demplon bohay juga semringah. Mau enggak Bangsad ajak nikah. Biar hidup tambah berkah..."
"Hokbaaa. Tarik, Je!"
"Bangsad janji bakal setia. Bimbing Mamen sampai ke surga. Dunia ini hanya sementara. Payu gancang kito ke KUA."
Tawa seantero kantin membahana. Kalau Rajendra sudah melibatkan Mamen alias Samantha ke plesetan lagunya, pastilah akan terjadi perang dunia ke sekian.
"WOI, JENONG!"
Nah, kan! Pucuk dicinta saudara kembarnya Bernard nongol dengan tampang judes bak ibu tiri di sinema pintu taubat. Cewek yang dijuluki sebagai murid killer itu menghampiri Rajendra, yang dengan manja memeluk Sadewa dari samping---meminta perlindungan si pentolan SMA Gita Bahari yang kadangkala dia anggap sebagai Ayahnya.
"Lo kalau nyanyi yang berfaedah dikit, dong!" omelnya, begitu sampai di sisi bangku Rajendra, lalu melayangkan toyoran untuk cowok itu.
"Papa Wawa, Jeje dimalahin Mama Lemon!" adunya pada Sadewa yang dibalas cowok itu dengan dengkusan geli.Sementara Samantha yang melihat kontan bergidik, antara ngeri sekaligus jijik. Rasa heran mendekap. Kok, makhluk seaneh dan se-absurd Rajendra justru dipilih sebagai ketua OSIS? Kecurigaan menguar. Apa jangan-jangan ni cowok pakai guna-guna?
Lagi, Samantha bergidik.
"Papa Wawa, Papa Wawa." Senja ikut menggila. "Mama Lemon sama Mama Mia cantikan siapa?"
Sadewa melirik Samantha yang balik memelototinya galak. Praktis cowok itu meringis. Kemudian menanggapi kegilaan sahabatnya. "Cantikan Meyow," jawabnya, yang langsung mendapat apresiasi berupa pelukan penuh rasa terima kasih dari Romeo.
"Ihh, thankyou, Say. Jadi gemes, deh, eyke. Uh," Romeo mengurai pelukan manjanya, lantas mencubit pipi Sadewa gemas. "Eh, Abi-Umi Mamen! Jangan cemburu, yes. Biar pun begindang, eyke tetep pilih-pilih laki, keleus."
Seisi kantin sontak tergelak, bahkan ada yang memegangi perut dan mengeluarkan air mata, saking gelinya melihat tingkah Romeo yang---yahh, seperti generation of Lucinta Luna.
Di tempatnya, Samantha mendengkus. Api kemarahan berkobar hebat di sepasang matanya. Poin kedua yang menjadi alasan, mengapa cewek jutek itu membenci geng The Monsters. Selain Rajendra yang hobi melibatkan namanya di tiap-tiap plesetan lagu unfaedah-nya, Romeo juga kerap membuatnya kesal dengan memarodikan namanya. Dari Abigail Samantha, diganti jadi Abi-Umi Mamen. Kan ngeselin!
Sementara nama Mamen sendiri, itu adalah panggilan sayang dari Rajendra, Senja, dan Awan. Bahkan ketiga cowok gebleg yang lebih pantes jadi pelawak ketimbang pelajar itu sampai rela madol dan ngadain rapat dadakan di kantin cuma buat ngebahas nama panggilan untuk Samantha. Kurang edan apa coba murid-murid kesayangan Bu Sur ini?
"Sumpah ya, ngomong sama kalian itu lebih berat dari beban hidup si penulis," geram Samantha, jengkel. Dia sebenarnya malas meladeni pasukan rusuh dari SMA Gita Bahari. Tapi kalau dibiarkan, mereka justru makin gencar menggodanya dan dia justru makin banyak haters-nya. Soalnya dari kelas sepuluh sampai sekarang duduk di bangku kelas dua belas, Rajendra beserta komplotannya tidak pernah bosan menjadikan Samantha sebagai objek lelucon.
Alih-alih tersinggung, Rajendra dan keempat temannya tertawa terbahak-bahak.
Selagi Awan menceletuk, "Wahai, Ibu Mamen yang kami cintai dan kami kasihi. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya berkomunikasi dengan kami tidak lah seberat itu. Hanya saja, selera humor Ibu lebih rendah dari tinggi badan si penulis. Ha ha ha."
Gelak-tawa seisi kantin bergaung riuh. Membuat Samantha yang dongkol memilih siuh.
"Tu orang kalau sensian gitu mirip cewek, ya?" gumam Sadewa, mengiringi punggung Samantha lewat pandangan.
Otomatis teman-temannya kembali tergelak.
"Heh, Bangsad!" Senja menoyor kepala Sadewa. "Tu orang emang cewek, kali. Cuma kelakuannya doang noh kayak laki. Aslinya mah ..." Cowok itu mendekat, berbisik pada Sadewa, tapi suaranya cukup keras. "... doi cewek tulen. Kalau nggak percaya, buka aja baju seragamnya."
Suasana kantin kian heboh.
"Aduuuhh, jadi ngebayangin yang iya-iya!" seru Rajendra, sambil menaik-turunkan sepasang alisnya dengan gerakkan sejenaka ekspresinya.
"Bangsad nggak mau lihat, tah?" tawar Romeo.
Perhatian Sadewa teralih ke arah Romeo. Sedetik, ditatapnya cowok yang selama tiga tahun ini menjadi kawannya, sebelum terbit seulas senyum di wajahnya. "Ntar gue cek, ada apaan di baju seragamnya," kata Sadewa, santai, tapi efeknya justru bikin cewek-cewek jadi gerah. "Gue samperin orangnya dulu, ya." Sadewa bangkit sambil menepuk-nepuk bahu Rajendra yang duduk di sebelahnya.
"Have a nice nganu, ya, Bro!"
Selepas kepergian Sadewa, Rajendra merasakan getar halus di saku celananya. Bergegas cowok itu merogohnya, lalu mengeluarkan benda pipih berteknologi canggih dari dalam sana. Penasaran, ditiliknya layar ponsel dan ternyata ada pesan yang baru saja masuk. Buru-buru dia membukanya, lantas dibacanya pesan tersebut.
From : Mas Fajar
To : Me
Messages :
Je, aku udah nyampe Jakarta. Sore nanti jemput aku di rumah Eyang. Terserah, mau ngobrol di mana.
Senyum lega tercetak. Ini adalah momen yang paling dia tunggu-tunggu. Bukan bertemu Fajar---kakak sepupunya, akan tetapi retrospeksi yang akan cowok itu bagikan. Sebuah rahasia yang mungkin memang sengaja ditutupi oleh keluarga besarnya, agar Rajendra tidak turut menanggung luka dan kesedihan mereka. Rahasia yang belum sepenuhnya terungkap, akan dia singkap satu-persatu. Biar pun sudah berlalu, yang terjadi di masa lampau tidak mudah diterima oleh hati serta akal. Karena hingga detik ini, salah satu di antara mereka masih berjibaku dengan rasa perih yang mendera. Yang mengundang figur lainnya untuk ikut merasakan sakitnya.
"Papa ... maafin Jeje. Jeje ngelakuin ini demi Mama."
***
"Qi, tugas Matematika lo udah?"
Pertanyaan Jazzi, tidak didengar oleh Qia. Sebab cewek yang kerap menyembunyikan netra beningnya di balik kacamata stylish andalannya itu sedang mendengarkan sebuah lagu dari Kahitna yang mengalun merdu melalui headset.
"Ni anak budek apa, ya?!" dengkus Samantha yang duduk di belakang Qia—tepatnya bersebelahan dengan Jazzi.
"Tau, tuh!" timpal Jazzi, ikut jengkel.
Hingga suara lembut Qia terdengar, barulah dua cewek yang duduk di belakangnya itu paham.
Biar aku yang pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan kenyataannya
Cinta tak harus slalu miliki
Jazzi bangkit dari kursinya, lalu mencondongkan badan ke depan dan dilihatnya sebuah headset tersumpal di kedua telinga Qia. Otomatis Jazzi mendengkus. Kemudian bersungut, "Pantesan nggak denger. Orang si Qia pake headset."
Sekarang giliran Samantha yang mendengkus. "Syaiton!" umpatnya, yang disambut Rajendra beserta dua kawan karibnya yang baru saja masuk dengan tawa riang.
"Yoi, Men! Gue tau, lo masih titisan syaiton," seloroh Rajendra, yang justru mendapat pelototan tajam dari Mama Lemon alias Mamen aliasnya lagi Samantha. Cepat-cepat cowok itu mengajak damai. Mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sambil nyengir kuda. "Monmaap, Men. Gue keceplosan. Padahal 'kan ini rahasia negara."
Tawa Romeo menyambut, sedang Sadewa memilih kembali ke bangkunya, lalu mengeluarkan toples kecil berisi ikan cupang dari dalam lacinya dan diletakkan di atas meja. Seisi kelas terperangah syok, kecuali Rajendra dan Romeo yang malah terpingkal-pingkal.
Terlebih ketika Sadewa memulai sesi curhatnya. "Cup, lo tau, nggak? Masa ya, di kelas gue tuh ada cewek judes yang hobinya marah-marah. Tiap dibecandain bukannya bales pake guyonan, tapi malah merong-merong nggak jelas. Aneh nggak, sih? Gue kadang bingung ama tu makhluk." Kepalanya menggeleng ditemani decakan tak habis pikir. "Ustad Awan ngasih saran ke gue, coba aja tuh dicupang mulutnya, siapa tau bisa jinak. Tapi gue ragu. Takut dia bales dendam, terus ngapa-ngapain gue. Ntar keperjakaan gue direnggut sama dia, lagi. Nggak jadi ting-ting kayak Japok, dong, gue. Menurut lo gimana, Cup?"
Hening.
Beberapa teman sekelasnya terkekeh, ada pula yang geleng-geleng kepala, kecuali Samantha yang justru bergidik dengan tampang ngeri.
"Ooh..." Sadewa kembali berkicau. "Oke, oke. Jadi gue cupang aja tu mulut? Baik lah, Abigail Encup." Cowok itu tersenyum lebar sembari mengusap-usap tutup toples. Dan omong-omong soal Abigail Encup, itu nama yang diberikan Rajendra, Senja, Awan, dan Romeo untuk ikan cupang peliharaan Sadewa. Biar si Bangsad alias Sadewa aliasnya lagi Papa Wawa, selalu teringat Mamen.
So sweet banget 'kan persahabatan mereka?
Beralih ke Mama Lemon atau lebih tepatnya Samantha, cewek itu menahan napasnya selama beberapa detik guna mengendalikan emosi agar tidak meluap. Bukan apa-apa. Berhadapan dengan komplotan The Monsters seakan melatihnya menjadi tokoh antagonis.
"Kuy, Sad, cupang!" seru Rajendra, memberi semangat. "Ntar gue iringin pake lagunya Westlife yang Buka Sitik Jos."
Seisi kelas tergelak.
"Anjir! Itu mah Caesar, woi!" Romeo tertawa terbahak-bahak, lantas memarodikan jogetan Caesar dengan dagu yang dilancip-lancipkan.
Rajendra turut tergelak. Tangannya menempeleng kepala sahabatnya, kemudian mengikuti gerakkan Romeo memarodikan jogetan Caesar dan didampingi lagu Buka Sitik Jos yang dinyanyikan oleh Sadewa.
Selagi Qia yang baru saja melepas headset dari kedua telinganya menoleh, lalu bertanya kepada Jazzi yang duduk di belakangnya. "Da paan sih, Jaz?"
"Kebakaran!" tandas Jazzi, seraya bangkit lantas berpindah tempat duduk di sebelah Dewi yang letaknya berada di ujung bagian belakang.
Qia mengernyit, saat berpaling menatap Samantha, cewek itu langsung menukas, "Nggak usah tanya apa pun ke gue. Gue lagi badmood." Dan tanpa dijelaskan secara rinci, apa penyebannya, Qia sudah paham. The Monsters.
Satu jawaban yang entah kenapa terdengar tidak masuk akal di telinga Qia. Samantha membenci komplotan The Monsters hanya karena dia kerap dijaili oleh mereka. Well, wajar bila dia merasa kesal atas ulah tengil Rajendra dan teman-temannya. Tapi jika sampai membenci, Qia pikir itu berlebihan. Karena yang Qia lihat, kumpulan pasukan rusuh dari SMA Gita Bahari tersebut cuma sekadar iseng dan nggak ada maksud lain. Tapi karena cewek lebih sering mengandalkan hati ketimbang logika, jadinya si Samantha baper sendiri.
"Qia-Qia-Qiaaaa..." Romeo beranjak duduk di samping Qia, sementara Rajendra kembali ke bangkunya. Cowok itu mulai sibuk menjaili Putri yang duduk di seberang bangkunya. "Pa kabar, Qi?"
"Paan, sih, Yow? Lo nanya gitu seakan-akan kita baru ketemu." Qia terkekeh. "Lo udah ngerjain tugas Matematika? Pinjemin, dong."
"Boro-boro, Qi," desau Romeo. "Timbang lihat angka aja gue bawaannya pengin gumoh."
Kekehan Qia berkembang menjadi tawa. Serentak dengan bunyi dsshhh yang berasal dari bangku Rajendra, disusul bau tak sedap. Otomatis semuanya menoleh. Dilihatnya Rajendra tampak nyengir kuda.
"Kelepasan. Hehehe..."
"Jeje jorok, ihh!" gerutu Jazzi. Lalu dilemparinya cowok itu menggunakan buku tugas milik Dewi. Bergegas Rajendra menangkapnya, kemudian menyalin tugas temannya tanpa izin.
"Rezeki anak sholeh, Put," kata Rajendra.
Putri memutar bola matanya kesal. "Bodo amat!"
Sementara Rajendra khusyuk menyalin tugas, Qia memalingkan matanya kembali ke arah Romeo yang kini asyik bermain HAGO di ponselnya. Cewek itu berbisik, "Pacarnya Jeje siapa, sih, Yow?"
Mendapat pertanyaan demikian, aktivitas Romeo terinterupsi. Menoleh, dibalasnya tatapan Qia dengan mata menyipit. "Lo... ada something ama Jenong?" selidiknya, "Kalau iya, untuk sekarang jangan. Bahaya. Soalnya si Diana alias Jendes atau lebih detailnya Janda jurusan IPS, lagi gencar ngedeketin doi."
"Lah, terus?"
Romeo melupakan game di ponselnya. Dia pusatkan fokusnya pada figur Qia. "Lo tau Diana, kan?" cewek di sebelahnya mengangguk. "Dia itu lebih kejam dari ibukota. Lo bakal kewalahan saingan ama dia."
"Nggak takut gue," sambar Qia. Well, biar pun dia murid pindahan, tapi dia cukup paham, gimana reputasi Diana di sekolah. Kata Shanum---sepupunya, Diana itu best pelakor yang sering jadi nominator di acara Orang Ketiga Awards, yang acaranya belum pernah diadakan.
"Apa pun, Qi. Jangan gegabah," Romeo mengingatkan. Dia terkenang bagaimana sosok Mentari---cewek yang ditaksir oleh Sadewa, yang akhirnya jadi bulan-bulanan Diana dan antek-anteknya.
"Gue nggak takut, Yow. Gue justru takut, kalau misi gue nggak terwujudkan."
"Misi?"
Qia mengangguk.
Belum sempat dia melontarkan tanya demi menuntaskan rasa penasarannya, bel masuk berbunyi dengan nyaring. Menyentak para murid dari aktivitas dan disambut oleh lenguhan panjang dari mereka. Sebelum kemudian kompak menghambur ke bangku masing-masing.
***
"Oh, Samantha...
Tatapanmu begitu tajam
Setajam ibu jari netijen."
Romeo tertawa terbahak-bahak, mendengar puisi alakadarnya dari Rajendra. Sementara Sadewa yang duduk di seberangnya mengiringi kelakuan tengil cowok itu dengan sebuah nada yang juga alakadarnya.
"Tratakdungtakcess."
"Samantha...
Senyummu begitu memikat
Membuat Bangsad jadi sekarat."
Lagi, Romeo tergelak. Dan Sadewa yang gendeng tetap mengiringi kekonyolan Rajendra dengan nada seadanya. Membuat seisi kelas XII-IA 1 mengelus dada sambil geleng-geleng kepala.
"Saman---"
"Je, gue santet lo, ya!" ancam Samantha, setengah berteriak. Cewek itu berkacak pinggang. Pandangannya lurus menatap Rajendra yang malah cengengesan. "Lagian, heran gue sama lo. Kenapa mesti bawa-bawa nama gue? Kan masih ada Qia, Jazzi, Dewi, Putri, sama yang lainnya. Kalau naksir tuh ngomong!"
"Wadaw!" Rajendra tergelak, "Sad, Ammar Zoni dituduh naksir Mak Lampir, masa?" adunya pada Sadewa yang kontan menyemburkan tawa gelinya. "Ini sungguh-sungguh ter-fit-nah. Tapi kaga ngapa-ngapa. Gue justru mau ngasih satu buah lagu buat Mamen tersayang."
Samantha mendelik. Tapi Rajendra nggak peduli. Tetap dia lantunkan plesetan lagu yang sudah dia persiapkan sejak lahir untuk ibu peri alias Mamen atau lebih jelasnya Samantha.
"Kau Mamenku yang demplon. Coba lihat Bangsad di sini. Di sini ada Bangsad yang cinta padamu."
"Yihaaa!" Romeo mulai heboh dengan goyang Keep Smile favoritnya. Sedang Sadewa yang lelah mengikuti kegilaan dua kawan karibnya, cuma geleng-geleng kepala sembari sesekali menoleh ke arah Samantha yang kian geram dibuat Rajendra.
"Kau Mamenku yang bohay. Coba lihat Bangsad di sini. Di sini ada Bangsad yang sayang padamu."
Tiba-tiba Qia mendekati Sadewa lalu beranjak duduk di sebelah cowok itu. Sadewa sempat terkejut, tapi di detik berikutnya dia terkekeh, saat tahu-tahu Qia memukul-mukul meja dan menganggap benda yang terbuat dari kayu tersebut seolah drum. Tanpa tahu, bahwa tindakan Qia itu menyakiti mata juga sedikit hati Samantha.
Entahlah. Rasanya dia muak melihat Qia berdekatan dengan Sadewa.
"NJENG LO, YA!" Samantha melempar sepatu kets miliknya ke arah Rajendra dan ditangkap oleh Romeo. Alih-alih balas melempar, Romeo justru memberikan sepatu itu kepada Sadewa yang dengan tampang cuek menerimanya.
"For you, Beb."
"Matur thankyou, ya."
Samantha melotot, ketika Sadewa menyimpan sepatunya di dalam laci. Menemani toples berisi ikan cupang kesayangannya. "Dewa sepatu gue!"
"Iya, gue juga sayang sama lo. Nggak usah kenceng-kenceng ah. Ntar pada denger," sahut Sadewa, nggak nyambung.
Samantha menggeram. "Lo---"
"Wa," Qia menyelak, mengurungkan niat Samantha yang hendak mendebat si pentolan. "Menurut lo... Jeje lebih cocok sama gue atau sama Jendes?"
"Diana maksud lo?"
Qia mengangguk.
Sadewa mengarahkan netra abu-abunya ke arah Rajendra yang tampak tercengang di tempatnya. Sedetik menyadari raut wajah cowok itu, Sadewa lantas tersenyum usil. "Lebih cocok sama lo lah, Qi."
"Nah!" sekarang giliran Qia yang melayangkan atensinya ke figur Rajendra. Cowok itu tertegun, kala netra cokelat terang milik Qia menyapa netra kelabunya. "Je, kita pacaran, ya!"
Dan yang barusan dilontarkan oleh Qia bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Siang itu, di jam pelajaran terakhir, di sisa-sisa energi yang dimiliki dua insan berseragam putih abu-abu, mereka telah mencapai langkah pertama pada misi masing-masing.
Kepada Sean Rajendra Kinarius, penantian panjang berbalut luka dan murka yang dinikmatinya nyaris belasan tahun, perlahan-lahan mulai menemukan titik temu. Begitupun Qianafeeza Dewi. Pada waktunya dia menemukan cara untuk melampiaskan seluruh rasa sakit dan kecewanya.
Mereka ... dua hati yang sama-sama rapuh, yang memanfaatkan situasi untuk mengembalikan kepingannya agar menjadi utuh.
