Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Beda

"Qianafeeza Dewi?"

Qia mengangguk, begitu Abang Grab menyebutkan namanya. "Eh, keknya gue pernah lihat muka lo, deh," gumamnya.

Cowok yang sepantaran dengannya itu tertawa. "Ya-iyalah, Nyet! Gue Dude Herlino. Temen SMP lo dulu. Inget, nggak? Kalau nggak, gue balik SMP lagi, nih!"

Sekarang giliran Qia yang tertawa. "Njeng! Altaf, ya?"

Alih-alih mengiakan, cowok itu justru berdecak. "Udah dibilang gue Dude Herlino, Njeng!"

Tangan Qia terulur menoyor kepala kawan lamanya. "Tapi, kok, tadi namanya Angga?"

"Ho'oh, itu akun temen gue. Sengaja gue pinjem. Soalnya nge-grab cuma buat selingan doang."

Qia menganggut-anggut. "Lo masih sekolah, kan?"

"Masih, dong. Masih ganteng juga." Sepasang alisnya dinaik-turunkan. "Kuy naik!"

Qia beranjak naik dan duduk di belakang cowok. "Kalau naik grab gini tuh gue jadi keinget penulis Wattpad yang naksir tetangganya, tapi sampe sekarang masih saling gengsi."

Sambil melajukan motornya, cowok yang diketahui bernama Altaf itu menyahut, "Gengsi kenapa? Gegara profesi si cowok?"

Meski tak dilihat oleh kawan lamanya, Qia menggeleng. "Bukan. Justru Kakak Penulis tuh mau nerima dia apa adanya, sayangnya sikap si cowok kayak ambigu gitu. Antara iya sama enggak. Emang cowok tuh hobi ngasih kode, tapi takut ngasih kepastian!"

"Karena cowok lebih mengandalkan logika. Kadang yang udah pasti belum tentu pilihan hati."

Kalimat bijak penuh ketegasan yang terlontar dari bibir Altaf, mendapat apresiasi berupa pukulan pelan di punggungnya. "Njeng! Lo makin ke sini makin kelihatan waras, ya? Takjub gue," decak Qia, seraya menggeleng kagum.

Altaf tertawa.

"Eh, gimana, sih, rasanya jadi driver ojol?" tanya Qia, mengoper topik yang lebih serius.

Tawa cowok di depannya sudah lenyap diganti gumaman. "Ya gitu... rasa-rasa," jawab Altaf. "Karena setiap harinya gue ketemu banyak penumpang dan tentunya dengan karakter yang berbeda-beda. Nah, dari sini gue harus bisa belajar memposisikan diri. Sederhananya, gue kayak dilatih jadi tokoh protagonis yang dituntut untuk selalu sabar dan tegar."

Anggukan Qia menandakan bahwa cewek itu paham akan penjelasan kawan lamanya.

"Nggak cuma itu, sebagai driver ojol, gue juga harus waspada. Karena zaman semakin maju, banyak orang-orang licik dan munafik. Yang kalau dilihat dari sikap emang kelihatan tulus, tapi sebenernya cuma modus."

Qia sependapat.

Sebelum Altaf melanjutkan, "Kayak berita yang lagi heboh; pelaku pembunuhan driver grabcar yang baru aja keluar dari penjara."

"Hah?!"

"Nggak pernah nonton TV, nih!"

Qia mencebik. "TV gue rusak, Njeng!'

"Halah, alesan! Emang kids jaman now tuh lebih suka nonton drama timbang berita. Makanya mereka lebih paham mana yang ganteng timbang negara mana yang udah berkembang?"

Qia tertohok oleh sindiran Altaf. Dengan nada yang tersengal-sengal, dia paksakan diri untuk bersuara demi menuntaskan rasa penasarannya. "By the way, sekarang pelakunya ada di mana? Jakarta juga?"

Anggukan Altaf membuatnya kontan tercengang.

"Tapi kita nggak boleh berprasangka buruk dulu. Siapa tau selama di penjara, dia udah ngerasa jera. Kan penyesalan itu selalu datang di akhir."

Qia setuju, namun dia memiliki persepsi lain. "Ada yang bilang kalau watak itu susah dihilangin."

"Menurut gue, cuma orang berpikiran sempit yang mikir kayak gitu!" tandas Altaf, sengit. "Kita mungkin beda keyakinan, Qi. Tapi gue yakin, ilmu yang kita dapat sama. Materi-materi yang diajarkan pun serupa. Bedanya cuma di tempat ibadah dan cara kita berdoa."

Qia tertegun.

Altaf terus melancarkan aksi ceramahnya. "Tiap manusia yang berpijak di bumi pasti memiliki dua sisi; baik dan buruk. Mereka bisa merubah kebaikan jadi kejahatan dan kejahatan jadi kebaikan dalam sekali waktu. Tergantung bagaimana cara semesta memancing mereka."

Lagi, Qia dibuat tertegun oleh kearifan kawan lamanya.

Tepat ketika motor yang ditumpanginya berhenti di depan rumah megah bak istana, disusul suara heboh sang driver. "Sampaiiiii!"

Sembari turun, Qia meledakkan tawa gelinya. "Lo tuh dari zaman Kapten Tsubasa sampe Captain America nggak berubah-berubah, ya?" tangan cewek itu melepas helm yang bertuliskan nama salah satu perusahaan ojek online ternama, lalu menyerahkannya ke sang driver.

Altaf menerimanya. "Karena gue bukan power rangers, makanya nggak bisa berubah." Terbit cengiran lucu di sudut bibirnya, sebelum dilanjut dengan tanya, "Eh, rumah siapa, nih? Gede amat kek harapan si penulis ke doinya."

Kekehan ringan lolos dari bibir Qia. "Rumah pacar."

"Ada yang mau sama lo?"

"Setan, lo!"

Altaf tergelak.

"Sana lo, minggat!" usir Qia.

Alih-alih mengindahkan, Altaf justru menggoda cewek itu. "Eh, dapet salam dari Oscar. Doi masih jones, loh."

Perut Qia langsung bergejolak. "Bodo amat, Njeng! Minggat sono! Ntar kalau pacar gue nongol, digibeng wafat di tempat lo!"

Altaf praktis bergidik. "Mantan rivalnya Haris mah kejam!"

"Peduli setan, Njeng!" kekeh Qia. Benaknya mulai mengenang figur Haris—rivalnya sewaktu SMP. "Eh, berapa?"

Altaf mengkibaskan satu tangannya. "Udeh, nggak usah. Kek sama siapa aja lu."

Qia terkesiap. "Dih, jangan gitu lah, Al. Lo kan kerja." Lalu dia rogoh tas ranselnya, mengambil selembar uang kertas bernominal seratus ribu, dan disodorkannya ke arah Altaf. "Ambil, gih."

"Nggak usah, Qi. Lo simpen aja buat beli Al-Quran. Biar setan-setan di tubuh lo pada minggat." Serentak dengan derai tawa cowok itu, Qia mendelik. Hendak mendebat, tapi Altaf keburu kabur.

"Bangsat tu anak!"

Sesaat setelah kepergian Altaf, Qia berbalik. Tatapan seseorang menyambut. Disusul suara beratnya. "Siapa, Qi?"

"Bukan urusan Daddy!" ketus Qia sambil lalu.

Gadis itu memasuki bangunan megah yang biasa disebut rumah. Ada rasa sedih bercampur marah. Yang ingin dia utarakan. Yang ingin disampaikan. Namun tak mampu. Lidahnya kelu. Pada akhirnya menangis adalah cara. Saat bibir tak sanggup bersuara, tangis adalah tameng untuk berbicara.

"Mama... Qia kangen Mama," lirihnya.

***

Sean Rajendra Kinarius

Ayang Atuuuu (:

Cuek banget siiii

Ammar Zoni tuh gabisa diginiin :(

Ratu Amanda

Sori, Je.

Bbrp hari ini gue sibuk sama kegiatan OSIS

Jadi gak sempet megang hape

Senyum lega tercetak. Awalnya dia menduga demikian, tapi karena cemas yang melingkupi hatinya terlalu berlebihan, jadinya dia tidak bisa berpikir jernih.

Sean Rajendra Kinarius

It's okay beibehhh

Besok ke gereja bareng, mau?

Ratu Amanda

Ketemu di tempat biasa aja

Ntar kalau ketauan Mama, Ayah, sama Haris bisa berabe

Sean Rajendra Kinarius

Ok, cantik (:

Begitu pesan terkirim, Rajendra berganti membuka pesan lain.

Qianafeeza Dewi

Njeng besok ada acara?

Sean Rajendra Kinarius

Hm

Qianafeeza Dewi

Kebaktian, kan? Pulang jamber?

Lgsg samperin gue ke rumahnya Shanum ya

Anterin gue beli Al-Quran

Kata mantan gebetan gue, biar setan2 di tubuh gue pada minggat

Sekalian gue mau ngmg sesuatu soal gacoan lo

Sean Rajendra Kinarius

Ok

Tidak ada waktu untuk memikirkan ajakan Qia, akhirnya Rajendra beranjak pergi meninggalkan rumah Neneknya dan melesat menuju pub. Seperti malam minggu sebelum-sebelumnya, di sana dia disambut oleh ketiga sahabatnya—minus Awan Biru Cakrawala atau yang namanya sering disingkat jadi Abi. Soalnya tu anak kalau malam minggu ada jadwal ngaji bareng Upin-Ipin.

"Wedehh... Dedengkotnya setan nongol juga nehh!"

Rajendra beranjak duduk di sebelah Romeo sembari menempeleng kepala cowok itu. "Bacot lu!" umpatnya, lalu mata biji kopinya tertuju pada figur Sadewa yang tampak murung. "Kakak Ipar gua kenape?"

"Abis ditampol ama Mamen," bisik Romeo.

Sontak Rajendra tergelak. "Kok, bisa?"

"Tadi pas di jalan kita ketemu doi," sahut Senja, menjelaskan. "Terus Bangsad sok-sokan ngajakin doi nge-date. Ehh..., bukannya di-iya-in malah ditampolin." Tawa Senja turut berderai. "Ya lagian, macan diajak nge-date. Goblok banget emang temen lo ini."

Sadewa mendengkus. Dia lampiaskan kekesalannya lewat lintingan tembakau.

"Gebleg jangan dipelihara, Sad! Udah bagus lo pelihara cupang!" Rajendra menepuk-nepuk bahu Sadewa. "Eh, gimana saran dari Ustad Awan? Udah lo coba?"

"Saran apaan?" selak Romeo, penasaran. Cowok yang diam-diam mengidolakan Caesar Aditya saudara kembarnya Caesar Hito itu terlihat asyik memakan snack yang dipanggang tidak digoreng—apalagi direbus.

"Ntuh yang soal cupang-mencupang," jelas Rajendra dan dibalas sahabatnya melalui anggukkan.

"Nggak, ah. Anak perawan nggak boleh agresif," seloroh Sadewa, memancing gelak-tawa ketiga sohibnya.

Jarum jam terus berputar. Suasana pub makin gempar. Alunan musik rock yang dibawakan oleh salah satu grup band lokal menjadikan malam kian ingar-bingar. Well, beginilah kebiasaan Rajendra dan teman-temannya bila suntuk menerpa.

"Eh, gue cabut dulu ya!" seru Rajendra, setelah puas menghabiskan waktu malam minggunya bersama teman-teman.

Di sebelahnya, Sadewa mencibir, "Kek anak perawan lo! Baru juga jam sebelas."

"Mama sendirian," lirih Rajendra.

Kalimat itu sontak membuatnya terbungkam. Lantas dia persilahkan sahabatnya lewat anggukkan. Karena jika sudah menyangkut Mama Rajendra, siapa pun tidak berhak menahan. "Ti-ati. Kalau jatoh bangun sendiri."

Rajendra mendengkus geli. "Jangankan gue, ada cicak jatoh aja gue obatin. Gue mah orangnya nggak tegaan."

"Anjeng!"

Detik berikutnya, sang ketos bergegas pulang. Dia lajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah ruas jalanan Ibukota yang minim penerangan, menyalip deretan gedung pencakar langit, dan dalam perjalanan menuju ke rumah, dia bertanya pada hati; untuk apa dia pulang? Meski jelasnya untuk Mama, tapi, apa gunanya? Bila sosok yang dijadikan alasan tidak pernah mengingatnya—apalagi menyambutnya. Memori perempuan itu terhenti di masa lampau. Di mana Rajendra masih lugu akan sandiwara hidup. Juga di mana tawa dan bahagia belum redup.

Segalanya berbalik arah hanya dalam satu kali tindakan.

Lagi, dendamnya menguar.

Mengembuskan napas, Rajendra membelokkan motornya melintasi kawasan komplek. Lengang. Dia pelankan laju motornya. Menikmati hawa malam, dia kembali larut bersama lamunan. Tentang dirinya yang kesepian. Tentang hidupnya yang berantakan. Juga—

"Bangsat! Beraninya sama cewek! Masih SMA, pula! Goblok! Goblok! Pensiun aja, deh, kalian jadi preman!"

Rajendra mengerem motornya secara mendadak. Mata biji kopinya menyipit, kala ditangkapnya figur Qia tengah dikerubungi empat orang pria berbadan besar dengan tatapan lapar. Cewek itu sama sekali tidak gentar. Dia omeli para preman di sekelilingnya dengan berbagi ocehan absurd.

"Eh, asal kalian tau aja, ya, gue ini aslinya cowok! Gue pindah gender," lalu Qia berakting bak wanita jadi-jadian. "Lo tau Lucinta Luna? Dese operasinya bareng eyke. Kalau nggak percaya, nih... biar eyke—"

"Eh, anak manis!" penggal salah satu preman, "Kita ini preman kelas kakap!"

"Ya elah, baru juga kelas kakap. Temen gue noh kelas cupang. Namanya Bangsad. Tapi kaga bangsat kek lu-lu pada!"

"Wah, minta dienakin nih, Bos!" pria bertato di hadapannya mengedikkan dagu pada pria berkepala plontos yang berdiri di sebelahnya.

"Ajak main kuda-kudaan seru kali, ya?" preman lain menimbrung. Mata elangnya terarah pada bagian dada Qia dengan sorot penuh gairah. Sementara tangannya bergerak—bermaksud menyentuh bagian tersebut, bergegas tangan seseorang menyambar tangannya lalu memelintirnya ke belakang dan satu tendangan telak pada bagian berharganya diterima.

"Bangsat!"

"Eh, kau siapa?"

Rajendra menghentikan aksi bengisnya. Dia tatap pria berkepala plontos itu selagi bibirnya menjawab, "Gue suami dia!"

"Kalian masih kecil, heh!"

"Zaman sekarang banyak pengantin cilik, Goblok! Lo aja yang ketuaan!"

Tawa Qia menyembur.

"Woi, gebleg! Sini, lo!" panggil Rajendra, meminta cewek yang dengan terpaksa dia akui sebagai istri untuk mendekat. Qia menurut. Begitu langkahnya terhenti tepat di samping kanannya, dia toyor kepala cewek itu. "Goblok boleh, berlebihan jangan."

Qia cemberut.

"Lo lihat pakaian lo!"

Mata Qia beralih mengamati penampilannya sendiri. Baju ketat dipadu celana pendek. Ditambah body bagus dengan kulit super mulus. Tentu mengundang kaum adam untuk menjadi modus.

"Coba dilepas sekalian!"

Qia merunduk.

"Cowok emang suka cewek bening, tapi cewek harus bisa jaga harga diri! Jangan karena pengin dilirik, lo jadi kayak cewek murahan gini! Lo punya otak, kan? Dan lo tau gunanya otak, kan? Mikir!"

Sarkasme cowok itu, membuat mata Qia kontan berkaca-kaca. Seumur hidupnya, Rajendra lah satu-satunya orang yang pernah membentaknya. Bahkan menamparnya dengan beragam kalimat pedas, hingga air matanya menetes. Hatinya tersinggung.

"Ayo, pulang!" pungkas Rajendra, menarik tangan Qia dan membawa istri gadungannya itu pergi. Dia bahkan tidak pernah sepeduli ini pada lawan jenis. Dia masih trauma akan masa lalunya yang tragis. Yang awalnya tampak manis, tapi malah berakhir miris dan menjadikannya sosok dramatis.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel