Rajendra
Sesuai janjinya, tepat pukul lima sore, setelah puas menghabiskan waktu bersama Sadewa di Kafetaria, Rajendra bergegas menuju ke kediaman Neneknya. Dia lajukan motor besarnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia salip para pengendara yang geladirnya mirip kura-kura; lambat, dan beberapa gedung pencakar langit serta pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan, seolah sedang mengejarnya. Hari ini adalah hari yang paling dia tunggu-tunggu. Hari yang dia nantikan belasan tahun, yang akhirnya menemukan jawab, meski masih samar.
Rajendra.
Sekilas nama yang berarti Raja yang kuat. Selaras dengan figurnya. Tidak hanya tampan dan menyenangkan, Rajendra juga memiliki jiwa kepemimpinan. Mungkin, orang akan memandangnya sebelah mata bila melihat bagaimana tengilnya dia ketika berada di lingkungan sekolah. Apalagi kalau dia sudah menjaili teman sekelasnya yang bernama Samantha atau yang lebih sering dia sapa Mamen. Siapa pun akan merasa kesal dan ingin menampolnya sampai mampus! Tapi semua akan berubah, saat kita sudah menemui Rajendra sebagai ketua OSIS. Segala kekonyolan yang kerap dia tunjukkan bakal hilang bagai segumpal uap. Tidak ada Rajendra tengil dan usil. Yang ada justru Bapak Rajendra yang galak dan dingin!
Entahlah.
Terlepas dari karakternya yang sukar ditebak, Rajendra adalah luka yang belum menemukan obatnya. Dia tertawa, semata-mata untuk menutupi rasa sakit dan kecewa. Bukan soal keluarganya yang tidak utuh, karena berlalunya Papa bukan karena beliau terpikat dengan wanita lain, lantas meninggalkan Mama. Bukan. Perpecahan ini digariskan oleh takdir. Sesuatu yang kadang tidak bisa diterima oleh hati maupun nalar. Yang hadirnya secara tiba-tiba dan harus diterima dengan lapang dada. Sebab menghindar pun percuma.
Tahu-tahu, dia sudah berada di teras depan rumah Neneknya. Lalu dia ketuk pintunya, tiga kali, terdengar derit dan pintu terdorong dari dalam. Hingga benar-benar terbuka, menampilkan sesosok wanita senja yang sebagian rambutnya sudah memutih.
"Raja?" sambutnya, diikuti senyum serta binar mata bahagia.
Rajendra menanggapinya dengan senyum. Tipis sekali. Sudah lama dia melupakan sanak-saudaranya lantaran murka mengetahui satu fakta, bahwa Ayahnya pergi bukan untuk mengais rezeki, melainkan menghadap sang khalik. Realita yang seakan membungkamnya pada asa. Di mana keinginan untuk bisa memeluk Ayahnya, mengajaknya berbagi tentang suka dan duka, juga memuliakan beliau, harus terkikis oleh fakta yang mustahil untuk dia tampik.
"Raja, apa kabar?" tanya Eyang. Dia ulas senyum sehangat baskara, selagi tangannya terulur---mengusap bahu sang cucu. "Udah lama nggak ke sini. Eyang kangen," katanya.
Rajendra melepas tangan Eyang yang menyentuh pundaknya, lantas dia ganti dengan pelukan sayangnya. "Sama, Eyang. Raja juga. Maafin Raja, ya? Soalnya sekarang Raja jadi ketua OSIS. Dan waktu Raja lebih banyak di sekolah."
Meski tak terlihat, senyum di wajah Eyang mengembang. Disusul sekilas anggukan. "Iya, nggak apa-apa." Wanita itu mengurai pelukannya. "Yang penting Raja nggak lupa sama Eyang."
"Nggak mungkin, Eyang." Rajendra turut mengembangkan senyum. "Raja 'kan sayang sama Eyang ketimbang sama mantan."
Tawa Eyang berderai pelan. Lalu diurainya pelukan, Eyang tatap cucu yang amat sangat beliau rindukan itu dalam-dalam. "Raja udah makan?"
"Udah, Eyang. Tadi makan bareng pacar," jawabya, jujur tapi setengah jengkel.
Mendengar kata pacar, Eyang langsung mengerling jail. "Ooh, cucu Eyang udah punya pacar?"
"Ck, iyalah, Eyang. Masa, cowok seganteng Raja masih jomblo? Malu-maluin SMA Gita Bahari aja," cengir Rajendra. Lalu atensinya dilempar sosok Fajar yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Nenek. "Wedehh ... pucuk dicinta, Abang Grab pun nyampe Jakarta."
Fajar terkekeh.
Rajendra mendekat. "Pa kabar, Mas?" keduanya tos ala anak laki-laki. "Cewek yang lo ceritain, gimana? Udah lo pelet?" godanya, "Eh, namanya siapa, sih? Munaroh? Marsonah? Jubaedah?"
"Lintang," pungkas Fajar, sambil memaksakan senyum.
Sambil menganggut-anggut, Rajendra merangkul bahu sepupunya, kemudian berbisik tepat di telinganya. "Kita ngobrol di Kafetaria deket sekolahan gue aja. Sekalian gue ceritain soal gebetan gue."
Tidak ada tanggapan. Fajar segera pamit, begitu pun Rajendra. Setelah Eyang mempersilakan kedua cucunya untuk menghabiskan waktu di luar dan berpesan agar tidak pulang larut malam, bergegeas mereka beranjak dari rumah megah milik Nenek yang sarat akan luka dan kesedihan.
Sekarang Rajendra paham, di balik mewahnya istana ini, tersimpan ribuan memori yang bila diputar hanya akan melukai hati. Ada tangis yang selalu disamarkan dengan tawa. Ada luka yang sering diredam melalui canda. Dan ada figur hebat yang menjadi dalil terbangunnya konstruksi akbar bak istana kerajaan tersebut. Figur yang kini telah terbujur kaku dalam rengkuhan bumi. Yang hanya bisa ditemui lewat mimpi dan imajinasi.
Menyadari itu, Rajendra meringis sejadi-jadinya. Hirap sudah keinginannya untuk melihat, mendengar, menyentuh, dan mengajak almarhum menggapai apa yang dia impikan. Semuanya luruh hanya dalam satu kali kecapan.
Takdir jahat!
"Jadi gimana, Mas?" tanya Rajendra, begitu keduanya duduk di salah satu meja dengan posisi saling berhadapan.
"Je," Fajar melipat sepasang tangannya di atas meja, lalu mencondongkan badan ke depan. Diamatinya remaja laki-laki di depannya itu lekat-lekat, sebelum dia loloskan napas berat. "Nggak salah kalau kamu marah. Sakit hati. Nggak terima. Apa pun itu. Tapi, bukan berarti harus membuka apa yang udah Eyang tutup rapat-rapat."
Decakan Rajendra merespons. "Eyang emang udah nutup rapat-rapat, Mas. Tapi Mama ...."
"Tante Wulan cuma butuh dukungan, Je," sanggah Fajar. Dia kuatkan adik sepupunya itu lewat senyum. "Tugas kamu sebagai anaknya adalah membantu Tante Wulan mengembalikan satu-persatu kepingan memorinya. Bukan mengilasbalik rasa sakit di masa lalunya."
"Mas, gue kayak gini karena gue penasaran sama dia!"
"Alibimu ini nggak masuk akal, Je. Makanya aku nggak percaya."
"Mas--"
"Je, kadang kita nggak perlu tau masalah orang tua, bukan karena kita masih kecil atau nggak pantes untuk tau. Tapi, kadang orang tua sengaja nutupin masalahnya dari si anak supaya mereka nggak ikut ngerasain perihnya." Senyum di wajah Fajar merekah apik. "Logisnya, ada nggak orang tua yang pengin anaknya menderita?"
Kebisuan Rajendra, Fajar anggap sebagai pemahaman.
"Kamu ketua OSIS, kan? Yang dituntut untuk jadi pemimpin dan panutan yang baik untuk yang lainnya." Jeda, Fajar menarik napas lalu diembuskannya perlahan. "Seharusnya dari kognisi demikian bisa kamu terapkan ke kehidupan nyata."
"Mas, gue cuma pengin tau, apa alasan dia ngilangin nyawa bokap gue? Dan seandainya posisinya di balik, gue yang ngilangin nyawa bokap dia, apa dia pasrah?"
Kembali Fajar menarik napas dan dibuangnya perlahan. Dia tatap adik sepupunya dengan senyum sehangat sorot matanya. "Kalau pun bisa posisinya dibalik, apa kamu langsung bulatin tekad? Apa kamu nggak mikirin efeknya? Gimana perasaan Mamamu saat tau tingkah laku anaknya? Gimana reaksi keluarga saat denger berita kurang mengenakan? Dan pastinya kamu bakal dapet hukum duniawi, yaitu dipenjara sesuai UU yang berlaku. Belum lagi di akhirat nanti, Je. Jangan meminta keadilan demi mencapai kepuasan. Tapi renungkan juga dampaknya."
Rajendra bungkam. Sepupunya benar. Yang dia pikirkan cuma satu; keadilan bagi Ayahnya. Nyawa dibayar nyawa. Tapi dia lupa, bahwa dendam bukan penyelesaian yang tepat di tiap-tiap permasalahan.
"Tujuh belas tahun lho, Je," lanjut Fajar. "Tujuh belas tahun Tante Wulan kehilangan motivasi dan kepercayaan. Sekarang, ayo bantu beliau menemukan jati dirinya. Jangan biarkan beliau semakin larut ke kesedihannya. Kamu pasti pengin 'kan, lulus SMA nanti, Tante Wulan bisa lihat prestasi-prestasi kamu selama di sekolah?"
Kehidupan Rajendra memang menyenangkan. Dikelilingi anggota keluarga yang super perhatian dan dilimpahi kemewahan yang mungkin tidak akan pernah habis tujuh turunan delapan tanjakan bahkan sembilan belokan. Tapi siapa sangka, bahwa semua itu tidak berarti apa-apa, bila nyatanya sosok Rajendra adalah anak yang kesepian. Yang rindu akan peran seorang Ibu, karena figur Ayah telah gugur--jauh sebelum dia mengerti tentang kekejaman takdir yang menyayat batin.
"Je, Allah nggak tidur. Rencana-Nya terus berjalan. Dan kita cuma perlu percaya."
"Gue ngerti, Mas. Tap--"
"Aku nggak bisa bantu banyak, Je. Aku cuma mau bilang, kalau Keano ada di Jakarta buat nungguin adeknya lulus SMA."
Senyum remeh terpasung. "Mau cari mangsa baru?"
Fajar membalasnya dengan senyum miris. Ternyata ketidak-relaan sepupunya berujung menyakitkan seperti ini. Oleh sebab itu, dari luka yang masih bersemayam di balik dada Rajendra, Fajar belajar tentang arti kerelaan. Karena hakikatnya, tidak ada manusia yang benar-benar ikhlas dan mudah menerima sebuah kepahitan.
"Pulang, yuk. Nanti Eyang nyariin."
Sebelum mengiakan, Rajendra tersenyum samar.
Kei, gue bisa bales lewat adek lo.
