Qia
"Sye!" suara melengking milik gadis berambut hitam sepunggung itu menggaung ke tiap sudut ruangan. Shanum menoleh dengan wajah kesal. "SMS gue nggak dibales sama Jeje!" adunya, sambil memanyunkan bibir. "Durhaka banget 'kan dia? Gue telepon juga nggak diangkat. Ish, sebel."
Shanum mengusap-usap telinganya yang terasa panas. Bukan apa-apa. Sejak tadi siang sepupunya ini terus bercerita panjang-lebar soal Rajendra---si ketua OSIS yang tengilnya naudzubillah. Kendati demikian, dia tetap menanggapi. "Coba di WA," katanya, memberi solusi.
Seketika manik cokelat Qia berbinar cerah. Bergegas dia ambil ponselnya, lalu dia boombardir Rajendra di aplikasi WhatsApp.
Qia
p
p
p
Jeje
paan njir?
Qia
bls sms gue
petan!
Jeje
ga punya pulsa
Qia
bohong bgt
jalan kuy
Jeje
capek
Qia
maksud w, refreshing
Jeje
ga
Qia
w samperin ke rumah lo y
Jeje
emng tau?
Qia
kaga
Jeje
lawak ya lo!
Qia
ishh
buruan
samperin w
w bosen di rumah
"NJENG! BATU BANGET NI ANAK," umpat Qia.
Shanum yang mendengar kontan mengelus dada seraya geleng-geleng kepala. Dia amati gelagat sepupunya. Ada yang aneh. Qia bukan tipe cewek agresif juga posesif. Tapi tiba-tiba saja dia bertransformasi menjadi sosok demikian. Logikanya, tidak akan ada sebab bila tidak dilandasi akibat. Jadi, dalih apa yang membuat sepupunya ini berpindah-haluan dari tokoh cutegirl beralih ke psycho-girl?
"AWAS LO, NJENG!"
Beragam sumpah serapah, Qia lontarkan dengan penuh emosi. Entah. Menakhlukan sosok Rajendra ternyata lebih sulit dari memahami rumus Geometri yang diajarkan oleh Bu Sur---guru killer yang mengapu mata pelajaran Matematika---yang notabenenya sebagai musuh bebuyutan geng The Monsters.
"Ya udah, sih, Qi... Kalau Jeje nggak mau nggak usah dipaksa," ujar Shanum. Cewek yang akrab disapa Sye oleh teman-temannya itu kini tengah sibuk berdebat dengan Senja di roomchat Komisi (Komunitas Ilmu Sosial Idola). Berbanding terbalik dengan Qia yang mengejar-ngejar Rajendra demi membuat si primadona SEGIBA cemburu, Shanum justru dikejar-kejar oleh sahabat Rajendra. Tapi bukan karena rasa yang menjadi alasan, akan tetapi hanya keisengan semata. Well, bukankah tiap kisah selalu punya cara dan alibi masing-masing?
"Nggak bisa gitulah," dengkus Qia. "Jeje itu harus suka sama gue! Kalau perlu cinta sekalian! Biar si Jendes alias Diana-Diana itu jomblo seumur hidup! Enak aja! Gue nggak terima sama nyokapnya yang cabe! Yang---"
"Qi!" tangkis Shanum, bosan. Dia bukannya malas mendengar setiap keluhan sekaligus kekecewaan dari mulut Qia. Dia justru sakit, melihat sepupunya berapi-api. Dia turut merasakan perihnya.
Qia.
Dialah satu dari sekian juta anak yang mendambakan kehidupan. Kehidupan yang Qia maksud adalah kehidupan yang selazimnya. Di mana gadis remaja seusianya didampingi figur dua orang dewasa yang biasa disebut sebagai orangtua. Yang akan menyambutnya ketika pulang sekolah, mengingatkannya makan, belajar, salat, atau menegurnya ketika salah. Yang selalu menjadi alasannya pulang setelah seharian menimba ilmu di tempat yang dinamakan sekolah, berbaur dengan anak-anak sepantarannya, berbagi tentang banyak hal. Lantas saat pulang, dia akan menceritakan kembali aktivitasnya selama berada di luar rumah kepada sosok yang biasa dipanggil Mama.
Qia kehilangan.
Tidak ada cerita di hidupnya.
Dunianya sepi.
Mama sudah pergi.
Pun Daddy.
Bagai nada yang merindukan syair, hidupnya mengalir sesuai ketentuan takdir, namun hambar. Tidak ada canda maupun tawa. Tidak ada cerita apalagi cinta. Segalanya kelam. Gelap. Senyap.
Qia rindu.
Rindu seorang Ibu yang katanya cerewet, banyak aturan, tapi penuh perhatian.
Qia juga rindu.
Rindu seorang Ayah yang katanya galak, dingin, tapi menyimpan ribuan kasih di balik sikap cueknya.
Qia ingin menepis rasa rindu dengan sebuah temu. Tapi, apakah mampu? Sebab, salah satu figur yang dirindu telah tergolek kelu dalam dekapan buana.
"Lo nggak ngerti apa yang gue rasain!" suara Qia merendah. Bahkan bergetar. Kepalanya tertunduk. "Lo nggak tau gimana rasanya ditinggalin. Lo cuma tau gue sedih. Lo nggak paham, apa arti kesedihan bagi gue. Yang lo ngerti mungkin... sedih itu nggak enak. Tapi sebenernya lebih dari itu."
Shanum diam. Kegiatan adu-pesan pesan sengit terjeda.
"Gue iri sama yang lainnya," ungkap Qia, terang-terangan. "Berangkat sekolah dianterin bokap, pulang sekolah disambut sama nyokap. Gue? Belasan tahun hidup, nggak pernah sekali pun ngerasain itu." Beningan kristal yang berasal dari telaga matanya luruh satu persatu. "Awalnya B aja. Mungkin udah jadi nasib gue. Tapi lama-lama sakit, Sye."
Shanum peluk sepupunya itu, dia berikan pula usapan lembut di punggungnya sebagai bentuk kepedulian. "Iya, gue ngerti. Biar pun gue nggak ngerasain. Cuma... lo nggak boleh pesimis, Qi. Lo harus tetep jadi Qia yang kuat, yang pemberani, yang tahan banting, dan nggak harus buang-buang waktu buat ngejar-ngejar si Jeje."
Qia mengurai pelukan. Ditatapnya Shanum dengan sorot tajam. "Nggak. Ini pilihan, Sye. Gue---"
"This is not an option!" bantah Shanum.
"Cuma Jeje satu-satunya orang yang bisa bantuin gue ngerebut Daddy, Sye! Cuma Jeje!" tandas Qia. Nada bicaranya meninggi. Dia sudah tidak bisa menahan emosi. Surut sudah kekukuhan sabar yang selama ini dia bangun tinggi-tinggi.
Dan Shanum paham betul. Tapi melibatkan orang lain ke dalam hal pribadi juga bukan solusi. "Jeje nggak tau apa-apa, Qi," desis Shanum.
"Gue tau! Dan gue nggak peduli! Karena yang gue inginkan cuma satu; Daddy kembali!"
"Nggak gini caranya!"
"Terus?"
Shanum kehilangan kata-kata sekaligus habis kesabaran. Qia mungkin sekilas sosok yang menyenangkan dan nggak neko-neko. Tapi siapa sangka, bahwa sebenarnya dia adalah tipe orang yang keras kepala. Sepadan dengan Shanum. Bedanya, keras kepalanya Qia ini level akut!
"Serah lo, Qi! Gue capek," pungkasnya. Kadang mengabaikan Qia dan membiarkan cewek itu larut pada kemarahan adalah pilihan.
"Ya udah." Qia bangkit dengan mata yang berkaca-kaca. Dia ambil tas ranselnya yang tergeletak di sisi ranjang, lantas dia cangklong dan segera pergi. Tanpa pamit. Shanum mengiringinya lewat sorot bersalah.
Pada masanya yang selalu ada untuk kita, mendengar keluh-kesah kita, mencoba memahami kita, kelak akan menemui rasa bosan. Dan bila tiba waktu itu, kita harus siap ditinggalkan. Lalu diabaikan. Kemudian merasa sendirian. Kita kehilangan.
Sama seperti apa yang dirasakan Qia. Pulang dari rumah Shanum, dia kembali didera kesakitan. Rasa yang berusaha dia hilangkan. Dia lumpuhkan. Dia abaikan. Tapi selalu gagal. Balik datang. Menikam. Dia jatuh tanpa pegangan.
"Ma ... Qia pulang." Gadis itu berbisik, kala sepasang kakinya terayun memasuki bangunan megah milik kedua orangtuanya. Ringisan pedih terlihat. Wajahnya memucat. Hatinya kedinginan. Batinnya merindukan. Nama yang dia sebut tidak pernah menyambut. "Mama di mana? Qia pulang."
"Non," lirih suara itu menarik perhatian Qia. Dia menoleh dan mendapati Mbok War berdiri tidak jauh dari posisinya dengan raut sendu seperti biasa. "Non pulang?"
Qia melengos. Dilewatinya Mbok War untuk menuju ke kamarnya. Lalu dia hempaskan tubuh di atas ranjang dan ditatapnya langit-langit kamar dengan murung. Jika dia hidup untuk sendirian. Untuk diabaikan. Untuk mengarungi kesedihan. Bolehkah dia mengakhiri ketidakadilan ini dengan sebuah kematian?
Sejenak terdiam, merenung dengan hati tertikam. Hingga perlahan-lahan matanya terpejam. Dia terlelap. Melupakan harap. Di tengah lara dan senyap.
"Apa gue harus nyusul Mama?"
