Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mulai

Bel pulang berdering. Siswa-siswi SMA Gita Bahari serempak berhamburan keluar, saling berdesakkan. Seperti biasa, Rajendra dan Romeo yang paling rusuh di kelas XII IPA 1, mulai menyenggoli teman-teman di samping kanan-kirinya, hingga tubuh mereka terhuyung, bahkan sampai ada yang kepentok tepi pintu. Dan seperti biasa juga, Samantha yang paling sewot dengan tingkah-polah 2R (Rajendra-Romeo) langsung mengeluarkan mantra ajaibnya.

"WOI, JENONG! MEONG! LO BEDUA BISA SELOW, NGGAK?!"

Berhenti berulah, keduanya menoleh ke arah Samantha yang kadangkala mereka anggap sebagai ibu tiri. Sedetik, lantas si kembar beda rupa itu memanyunkan bibir dan mengadu pada Sadewa yang baru saja muncul dengan aura mistisnya.

"Papa Wawa, kita dimalahin Mama Lemon!"

Sadewa enggan menggubris. Cowok itu melengos melewati dua kawan karibnya yang seketika melongo heran. Tepat ketika Qia muncul dari kerumunan beberapa siswa-siswi yang tingginya melebihi cewek mungil tersebut, kemudian menyapa Rajendra yang sontak tersadar.

"Jeje!"

"Eh?"

"Pulang bareng!" Qia merangkul bahu Rajendra akrab. Mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap. "Lo sebagai pacar yang baik harus menjaga gue dari cowok-cowok ganjen. Oke?"

Rajendra masih terpegun, berusaha mencerna apa yang barusan didengarnya.

"Oh, iya, gue sampe lupa kalau ada Meyow," Qia memperlihatkan cengirannya. "Jeje mau pulang bareng gue, Yow. Lo nggak apa-apa 'kan ngejomblo di mobil mewah lo itu?"

Meski serupa dengan sahabatnya, Romeo masih bisa meng-handle keterkejutannya. Dia balas cengiran Qia dengan cengiran yang sama lucunya, sebelum akhirnya mengangguk sembari mengacungkan ibu jari. "No problem, Tuan Putri."

"Baguuuuusss!" Qia turut mengacungkan ibu jari dan menempelkan jempolnya ke jempol Romeo. Lalu cewek itu menggiring Rajendra menuju tempat parkir, namun langkah keduanya diinterupsi oleh seorang gadis berperawakan tinggi dengan penampilan super ketat bak tokoh antagonis dalam Film Remaja yang berperan sebagai penguasa sekolah.

Well, dia ... Diana Andaresta. Cewek paling populer di SEGIBA, yang berkali-kali patah hati, karena cowok yang disuka justru demen sama cewek lain. Tapi jangan panggil dia Incess Diana, kalau nggak bisa bikin cowok-cowok balik takhluk sama kecantikannya. Dia bully cewek-cewek yang disuka sama cowok-cowok incarannya, dan biasanya sebagai perlindungan, cowok-cowok itu lebih milih melepas cewek-cewek incaran mereka agar terbebas dari Diana, kecuali Sadewa.

Cowok yang kala itu didamba oleh seorang Diana, tapi malah mengabaikan perasaan cewek itu. Dia juga dengan terang-terangan menolak Diana dan lebih milih Mentari, cewek super-kaku dan irit bicara. Otomatis Diana yang nggak terima langsung melabrak Mentari. Pasca insiden tersebut, Mentari memutuskan untuk keluar dan sekarang bersekolah di SMA Tarcicius.

"Je, hari ini ada rapat OSIS."

"Bukannya besok?"

"Kalau besok--"

"Besok aja, udeh. Modus aja lo," serobot Qia, lantas menarik tangan Rajendra dan dibawanya cowok itu ke area parkir. "Gue nggak suka lihat lo deket-deket sama Diana."

"Dan gue nggak suka lihat lo bersikap kayak gini!" tandas Rajendra, menepis tangan Qia, lalu melenggang pergi begitu saja.

Qia menatap punggungnya sambil menaikan satu alis. Ternyata tidak mudah menakhlukan sosok Rajendra. Biar pun dia dikenal sebagai pribadi yang humoris, nyatanya kalau didekati lebih dalam dia tipe cowok yang sarkastis.

Tapi jangan panggil dia Little Queen kalau nggak bisa ngeluluhin Jenong yang faktanya beku. Cepat-cepat dia menyusul Rajendra yang hendak menumpangi motornya, kemudian cewek berperawakan mungil itu melompat naik dan duduk di belakang teman sekelasnya. Diikuti tepukan pelan di bahu cowok itu dan seruan cemprengnya. "Berangkaaatt!"

Rajendra mendengkus. Tanpa repot-repot menoleh, dia menitah cewek di belakangnya. "Turun, Qi!"

Alih-alih mengindahkan, Qia justru memeluk pinggangnya dan menopangkan dagu di bahunya. "Kuy lah anterin Little Queen pulang."

"Nggak. Gue ada urusan."

"Ya udah, ikut."

Rajendra hilang kesabaran. Tapi bermain tangan juga bukan pilihan. Cowok itu menahan napasnya selama beberapa detik, sebelum kemudian menoleh ke belakang. Qia praktis melepaskan pelukan. "Lo kesambet apaan, sih? Kenapa tiba-tiba mau jadi pacar gue?"

"Karena lo ganteng, populer, tajir. Bohong kalau gue nggak tertarik," ceplos Qia, jujur. Namun sebetulnya, dia tidak menaruh perasaan apa pun terhadap cowok itu. Dia hanya melihat poin plus yang ada pada diri Rajendra. "Gue boleh 'kan jadi pacar lo? Ini permintaan yang pantang untuk ditolak. Karmanya berat."

Rajendra mengernyit. Benar-benar tidak paham dengan tingkah Qia yang mendadak psikopat. "Kalau gue nolak lo, gimana?"

"Gue cekik lo sekarang sampai mampus!" Qia mencekam leher Rajendra cukup kuat. Otomatis cowok itu berontak. "Kapok atau--"

"Qi, gue nggak bisa napas!" katanya, tersengal-sengal.

Qia meloloskan cengkeramannya, lalu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rajendra ketika mengatur napasnya yang sempat terjeda. "Gemes," dia cubit kedua pipi Rajendra yang empuk. "Pacaran, ya, kita?"

Napas Rajendra kembali terhenti. Ditatapnya Qia dengan sorot tak mengerti, sampai satu tindakan nekat cewek itu membuatnya pusing setengah mati.

Cups.

Qia mencium bibir Rajendra dan disaksikan oleh mata Diana! Secara live! Tanpa sensor! Disusul pekikan kaget dari ketiga sahabat Rajendra yaitu Romeo, Awan, dan Senja, yang tahu-tahu muncul dan terpukau menyaksikan sahabat mereka disosor sama si Qia.

"Anjayy! Gue juga mau, Njirr." Romeo meraba-raba mulutnya yang masih ori dan segelan.

Di sebelahnya, Senja mengangguk dan menimpali, "Sama, Njirr. Gila tu si Jeje. Gendeng aja dapet cium dari cewek. Mana cantik, lagi. Gimana kalau doi waras? Dikasih anu sekalian kali, ya."

"Anu apaan, sih, Ndro? Nggak jelas, lu." Awan menggeleng tidak paham.

"Ssstt ... ini urusan setan. Yang ustad diem bae," tangkis Senja.

Awan cemberut.

"Ayo, pulang!" suara Qia terdengar lagi. Bibir cewek itu  mengerucut lucu, sementara tangannya memukul-mukul bahu cowok di depannya. "Tapi sebelum pulang, kita makan dulu, ya?"

Rajendra tidak menanggapi. Dia segera melajukan motornya meninggalkan area parkir. Hari ini, ada seseorang yang dengan lancang mengetuk pintu hatinya dan mengusik sebagian hatinya yang belum sembuh dari luka.

***

Rajendra mengantarkan Qia pulang. Tapi tidak ke rumah cewek itu, melainkan ke rumah Shanum--sepupu Qia yang juga bersekolah di SMA Gita Bahari. Dan begitu sampai, Qia langsung mengusir cowok yang terpaksa dia pacari. Tentu saja Rajendra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bergegas dia enyah dari hadapan Qia, meski sebelumnya dia sempat dibuat gemas akan tingkah Qia yang ternyata sangat-sangat menyebalkan.

Cewek itu memaksa Rajendra untuk mengucap salam sapa dan salam perpisahan tiap ketemu dan hendak berpisah. Setelah mengucapkan kode, Qia akan mencium punggung tangan Rajendra dan cowok itu harus balas mengusap puncak kepalanya.

Wajib!

Untuk salam sapa : hai, pacar! Jaga mata, jaga hati, jaga cinta kita sampai nanti.

Untuk salam perpisahan : bye, pacar! Ingat aku, ingat-ingat, jangan sampai lupa.

Ribet. Demikianlah reaksi Rajendra setelah melakukan ritual yang akan dilantaskan esok dan seterusnya. Padahal dia sudah menolak, tapi Qia seolah memiliki seribu satu cara untuk membuatnya takhluk dan tunduk.

"Emang stres tu anak!" dengkus Rajendra, yang kini mengayunkan langkah memasuki Kafetaria lalu berderap ke salah satu meja. Menghempaskan tubuh di sebelah Sadewa yang tampak khidmat menyesap lintingan tembakau, lantas mengembuskan asapnya ke udara.

"Asem banget muka lo," tegur Sadewa.

Rajendra berdecak. "Anjir si Qia. Udah maksa gue jadi pacarnya, masa, tiap ketemu sama mau pisah, kita harus ngucapin salam sayang?" cerocosnya, "Kan lebay."

Sadewa terkekeh. Dia sodorkan bungkus rokok yang masih menyisakan beberapa batang lintingan tembakau ke arah Rajendra, lalu dia tawarkan. "Ngepul dulu, Bos. Biar adem."

Rajendra menggeleng. "No, thanks."

"Tumben?"

"Lagi nggak mood isep begituan."

"Jadi?"

Mengerti arah pembicaraan Sadewa, Rajendra langsung menempeleng kepala cowok itu. "Piktor lo!"

Sadewa nyengir.

Rajendra mengalihkan fokus ke layar ponsel. Di sana, tertera sebuah pesan yang baru saja masuk. Dengan malas dia buka pesan tersebut, lantas dia baca.

From : Qia-mat

To : Me

Messages :

Gue mau bobo siang. Lo gak usah SMS atau nge-chat gue. Soalnya gue ngantuk banget. Tapi kalau ntar malem, gue ladenin deh.

Cowok itu mengernyit. Yang mau SMS atau nge-chat dia tuh siapa? Males banget, ishh.

"Tadi si Qia bikin pengumuman di grup, kalau dia udah jadian sama lo." Kalimat Sadewa menyentak Rajendra dari lamunan. "Dia juga posting status di Facebook, terus ngunggah foto lo di Instagram," lanjutnya, membuat Rajendra kontan terperangah. "Pokoknya aneh banget, deh, kelakuan si Qia."

"Lo tau alesannya, nggak?"

"Cinta."

"Halah, taik."

Sadewa tersenyum. "Nggak pernah jatuh cinta, sih... Nggak pernah ngerasain jadi buta karena cinta 'kan lo? Makanya, nikmatin aja bareng Qia."

Rajendra langsung bergidik. "Sumpah, gue jijik sama kelakuannya."

"Kadang cinta berawal dari jijik," tandas Sadewa, memancing dengkusan Rajendra. "Trust me, nggak akan ada asap kalau nggak ada yang ngerokok. Sama kayak ... Qia nggak mungkin sebego itu kalau nggak ada alasan kuat yang mendasari kekonyolannya. Gue emang nggak begitu tau soal dia. Tapi, lo harus tau ciri khas cewek. Selain egois, mereka juga paling gengsi. Nah, logikanya; logis nggak, tiba-tiba Qia minta lo jadi pacarnya dan—"

"Dia bilang gue ganteng, tajir, populer. Makanya dia tertarik," selak Rajendra, murung.

Sadewa mencebik. "Woi, sempaknya Lucinta Luna! Itu mah alibi dia doang. Dia cuma ngasih alesan yang bikin orang-orang berpikir; oh, iya. Jeje 'kan emang ganteng, tajir, populer. Tapi percaya sama guru ngajinya Aliando, kalau sebenernya ada sesuatu yang nggak lo tau, yang gue yakin adalah alasan utama Qia, kenapa tu cewek sampe rela bertindak bodoh kayak gini."

Rajendra diam, mencerna pendapat Sadewa.

"Tugas lo; lo ikuti cara mainnya, sampe lo bener-bener tau, apa alasan Qia yang sebenernya. Setelah itu, terserah lo mau gimana."

Kejenuhan mendekap. Hatinya tak antap. Belum sempat dia menyelesaikan perkara hidupnya, takdir malah menghadiahinya dengan kelakuan konyol Qia. Cewek yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang humbel dan supel, nyatanya justru bikin sebel.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel