Bad Couple
Tiap kehidupan tidak pernah lepas dari tangis dan tawa. Karena keduanya bagai elemen yang saling melengkapi. Tidak semua tangis berarti sedih. Pun dengan tawa. Tidak semua tawa berarti bahagia. Sebab, tiap insan yang berpijak di bumi yang sama ini selalu memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan rasa. Oleh karena itu, jangan melihat seseorang dari satu sudut. Kadang mereka yang tampak baik, belum tentu sedang baik-baik saja. Kadang berpura-pura baik adalah pilihan agar kita tidak tenggelam pada kesedihan. Karena hakikatnya, mereka yang selalu mengerti dan berusaha memahami kita, tidak akan pernah bisa merasakan apa yang kita rasakan. Sedihnya kita. Bahagianya kita. Hanya kita sendiri yang tahu. Orang lain sebatas melihat.
Seperti Rajendra yang selalu tampil ceria dan menyenangkan. Yang dimata orang lain hidupnya tanpa beban. Tanpa masalah. Apalagi kesedihan. Tapi sebenarnya kontradiktif dengan persepsi orang-orang. Dia justru memikul beban yang begitu berat. Bahkan masalah yang mewarnai harinya lebih pekat. Dan kesedihan seakan sudah menjadi teman dekat.
Namun, dia tetap bisa meng-handle itu semua. Dia lupakan meski tidak sepenuhnya. Lantas dia alihkan dengan canda sekaligus tawa. Karena baginya, sedih tidak harus ditunjukkan. Terlebih sampai dijadikan alasan untuk menarik perhatian. Tidak. Rajendra bukan tipe orang yang senang memanfaatkan duka demi mendapatkan suka dan belas kasih. Biar pun dia kerap bertingkah konyol dan menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, dia tetap tahu batasan-batasan etika supaya tidak terlihat seolah mencari sensasi.
Mending cari jodoh.
Ya 'kan, Mblo?
"Abigail Encup!" sapa Rajendra, ketika melewati bangku Sadewa dan melihat cowok itu sedang mengamati ikan peliharaannya. "Gue punya lagu buat si Encup nih, Sad. Mau denger, nggak?"
"Gue lagi males dengerin lo nyanyi nih, Je. Bisa diem, nggak?" balas Sadewa, yang memang sedang tidak mood untuk diganggu. Lalu cowok itu menyimpan toples kecil bawaannya di dalam laci, kemudian melempar fokus ke arah Samantha yang tiba-tiba muncul bersama Qia dan Jazzi. Sudut bibir cowok itu perlahan tertarik, membentuk senyum samar. Sementara manik abunya tertuju pada satu sosok. Membuat Rajendra yang sadar kontan menceletuk dan disambut oleh tawa mengejek dari Romeo.
"Cinta bertepuk sebelah tangan."
Qia yang mendengar segera menanggapi, "Enggak, anjir! Cinta lo udah gue bales. Jadi—"
"Apa sih lu? Gue nggak ngomong sama lo, Goblok!" ketus Rajendra. Otomatis seisi kelas ternganga. Pasca insiden Qia meminta Rajendra untuk jadi pacarnya, sikap cowok itu memang langsung berubah. Bukan tanpa alasan. Dia hanya risi melihat Qia yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh cutegirl tahu-tahu berpindah-haluan jadi cewek paling menjijikan dimatanya.
Mendapat respons demikian, Qia praktis cemberut. Lalu mengadu pada Samantha. "Mamen, gue dikatain goblok."
"Kan lu emang goblok," tandas Samantha, cuek. Mengundang gelak-tawa teman-temannya, terutama Rajendra. Sontak saja Qia yang jengkel berderap menghampiri pacar dadakannya lalu melayangkan satu tamparan keras di pipi cowok itu.
Plak!
Bebarengan dengan pekikan kaget seantero kelas, Rajendra mengumpat. "NJENG LO YA!" serunya, sambil mengusap-usap bekas tamparan Qia. Cewek sinting yang dia duga mengidap penyakit kelainan jiwa itu melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyunggingkan seringaian piciknya.
"Njeng teriak njeng. Waras?"
Rajendra enggan menggubris. Dia abaikan Qia yang masih berdiri di sebelahnya, lalu dia pusatkan fokus ke layar ponsel. Sebuah pesan dari seseorang yang ditunggunya tertera, menerbitkan senyum sehangat baskara.
From : Ratu
Pulang sekolah ya. Ketemu di tempat biasa. Gak usah nyamperin gue.
Kekesalannya pada Qia kontan hirap. Seluruh perhatian cowok itu telah tersedot pada si pengirim pesan. Namanya Ratu. Lengkapnya Ratu Amanda. Orangnya jutek, irit omong, tapi sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Dia siswi dari SMA Terang Bangsa alias musuh bebuyutan SMA Gita Bahari. Tapi dekatnya Rajendra dengan Ratu bukan karena ada udang di balik batu, akan tetapi ketidaksengajaan.
Berawal dari Rajendra yang kala itu menjadi pengguna baru di Instagram. Dia mem-follow keempat sahabatnya sekaligus emak tirinya di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Mamen. Nah, waktu asyik menjelajahi Timeline, melihat-lihat postingan following yang muncul, sesekali menekan tombol love, tidak jarang meninggalkan komentar dengan celotehan absurd khas seorang Rajendra, netra hitam pekatnya menangkap sebuah akun di daftar orang yang mungkin anda kenal. Di situ dia tidak sengaja meng-klik tombol follow pada salah satu akun. Saat hendak meng-unfollow, niatnya berontak, kala didapatinya beberapa postingan yang menampakkan wajah sang pemilik dan caption yang tertulis di tiap-tiap postingan. Karena dalil tersebut, dia urungkan niat untuk meng-unfollow, hingga suatu ketika dia menemukan momen yang pas untuk mengajaknya berkenalan melalui DM Instagram.
Tak dinyana cewek itu merespons. Lalu dekatlah keduanya dan sekarang Rajendra menginginkan Ratu lebih dari teman. Berharap cewek yang didambakan selama nyaris setahun itu membalas perasaannya, agar dia punya alasan untuk selalu tersenyum dan bertahan. Juga... semoga dengan adanya Ratu di sisinya, cewek gila bernama Qia itu lekas enyah dari hidupnya dan berhenti mengusiknya. Dia muak, jujur saja.
Too : Ratu
Oke, Ayang Atu :))
Pesan telah terkirim. Rajendra yang tidak lagi mendengar suara berisik Qia, menoleh. Dilihatnya si kampret tengah mengobrol dengan si kunyuk alias Bangsad yang duduk di seberang bangkunya. Bagus, deh. Cowok itu membatin seraya tersenyum. Lalu sambil mengedikkan bahu tak peduli, dia bangkit dari kursinya. Berniat pergi, tapi sesuatu menahan kakinya dan mengakibatkan dia terhuyung lantas tersungkur.
"SETAN!" umpatnya, sejurus dengan gelak-tawa seantero kelas, terutama Qia.
Cewek itu mengejeknya lewat senyum dan tatapan. "Ayang Jeje jatoh, ya?" godanya. Kemudian memalingkan mata ke arah Sadewa dan berkata, "Sad, lihat noh temen lo. Udah dikasih bangku malah lesehan di lantai. Goblok banget nggak, sih?"
Sadewa tertawa terbahak-bahak, ditemani Romeo yang dengan cuek mengeluarkan gas bau tak sedap. Dshhh! Sontak seisi kelas tutup usia-eh, ralat-tutup hidung. Disusul gerutuan kesal dari beberapa siswi.
"WOYY GARONG! LU KALAU MAU BUANG GAS, SONO DI LUAR! JADI KETUA KELAS KOK NGGAK ADA WIBAWA-WIBAWANYA!" omel emak tirinya Jenong. Menurut akta kelahirannya, sih, Samantha. Tapi kata Sadewa, nama asli Samantha itu Rangers Pink. Cuma dia lagi nyamar.
Mata Romeo disulihkan ke figur Samantha, lalu diikuti cengiran tanpa dosanya. "Maafkan Meow lah, Akak. Meow tak ade maksud buat Akak ni geram," melasnya, menirukan gaya bicara Upin dan Ipin alias saudara kembarnya Awan dan Senja.
Samantha melengos. Percuma juga dia menanggapi Romeo. Karena nggak akan ada habisnya.
Kembali ke Rajendra, cowok itu tampak gusar melepas tali sepatunya yang dililitkan ke kaki meja. "Siapa, sih, yang ngisengin gue?" rungutnya, "Pasti lo, kan?" setelah ikatannya lepas, dia dongakkan kepala menatap Qia yang balik menatapnya. "Kuker."
"Ya karena gue kuker, makanya gue berinisiatif cari kerjaan dengan ngejailin lo," timpal Qia, mengurai senyum lebar. "Jenius banget nggak, sih, gue? Dan harusnya tuh ya yang jadi ketua OSIS gue. Wakilnya Bangsad. Lo cukup jadi Ayah dari anak-anak gue kelak."
Celotehan Qia berhasil menimbulkan kegaduhan kelas.
"Wagelasehh! Kodenya kenceng banget," seru Romeo.
Sadewa mengangguk setuju. Kemudian menyahut, "Yang kenceng lebih cihuy!" Manik abunya berpindah pada Qia dan sebelah matanya mengedip, meminta persetujuan. "Ya nggak, Njir?"
"Yoi, Njir!"
Melihat teman-temannya yang lebih pro dengan Qia, Rajendra bangun dari posisinya terjatuh lantas melenggang ke luar. Tapi sebelum benar-benar menghilang, dia beri pacar dadakannya itu sebuah pilihan. "Berhenti ngusik gue atau hidup lo bakal serasa di neraka?"
"TANPA LO BIKIN JUGA HIDUP GUE UDAH KAYAK DI NERAKA, DON! GILE LU, NDRO!" jawab Qia, setengah berteriak. Karena cowok yang dia jadikan umpan telah menjauh. Sementara Sadewa dan Romeo kembali menyemburkan tawa gelinya. Benar-benar nggak habis pikir sama pasangan aneh satu ini.
Bad couple.
