Polaritas
Kalau bukan karena terpaksa, Qia tidak akan serepot ini. Membawa bekal dari rumah untuk dimakan berdua dengan si pacar. Biar so sweet. Apalagi makannya di kantin. Disaksikan banyak pasang mata, terutama mata Diana alias Jendes. Ah, pasti bakal menggemparkan SMA Gita Bahari. Syukur-syukur bisa masuk lambe turah atau lambe nyinyir atau lambe-lambe yang terkenal itu.
"Perut gue nggak nerima asupan kayak gini," ujunya, melirik sekotak bekal berisi nasi goreng buatan Qia.
Alih-alih memaksa, Qia hanya mengedik lantas melahap nasi goreng buatannya seorang diri. Diabaikannya Rajendra yang terus mengamati tiap gerak-geriknya, karena bagi Qia, apa pun makanannya, siapa pun yang menemaninya makan, dia tetap merasa sendirian. Dia kesepian.
Qia butuh teman. Teman yang benar-benar teman. Yang bisa diajak bercanda, tertawa, menangis, berbagi. Bukan hanya teman yang datang saat membutuhkan, lalu hilang ketika dibutuhkan. Qia anti teman musiman!
Mengembuskan napas, Qia melempar fokusnya ke arah sang pacar. Cowok itu tampak sibuk dengan ponselnya. Sesekali menyunggingkan senyum dan otomatis tingkahnya itu mengundang kerutan di dahi Qia. Tapi cewek itu enggan ambil pusing. Dia justru meninggalkan Rajendra yang seketika berseru marah.
"WOYY NJENG! BILANG MAKASIH KEK!"
"Emang nggak tau etika tu anak," timpal seseorang, berhasil menyentak kesadaran Rajendra yang sontak menoleh dengan wajah kaget. Mata cowok itu terbelalak maksimal, kala didapatinya figur Diana sudah berdiri tepat di sisi kanannya. "Hai, Pak Ketos! Kuy rapat OSIS."
Rajendra tidak menggubris. Dia langsung bangkit dari kursinya dan melenggang menuju ruang OSIS. Di sana, dia kembali dikejutkan oleh sosok Qia. Cewek sinting itu melambaikan tangan seraya menyapa, "Met siang, Pak Ketos!"
Rajendra melengos. Sepasang kakinya terayun menuju singgasana, bertepatan dengan hadirnya wajah Diana. "Siang guys! So---" kalimat cewek itu terjeda oleh keterperangahannya. "Qia? Lo ngapain di sini?"
Qia acuh. Atensinya diedarkan ke sekeliling sebelum akhirnya dia buka jalannya konferensi. "Selamat siang, teman-teman. Terima kasih atas kesediaan kalian. Rapat kali ini, saya---selaku pacar Pak Ketos atau panggil saja Bu Ketos---akan membahas perihal acara Dies Natalies."
"Qia!" potong Rajendra.
Cewek itu menoleh dengan tatapan ada apa.
"Please, get out of here!"
"No!"
"Qia!" suara Pak Ketos meninggi. Sementara Bu Ketos malah cemberut. Tetap tidak mengindahkan. "Gue nggak bakal mau rapat kalau ni spesies masih ada di sini," tandas Rajendra, hilang sudah kesabarannya.
Bergegas Shanum membujuk sepupunya itu agar lekas enyah, tapi semakin diusir, Qia justru tambah rusuh. Dia putar lagu Bojo Galak dari playlist ponselnya, lantas dia ajak para anggota OSIS untuk berjoget. Jelas saja tidak ada yang mau. Tapi jangan panggil dia Little Queen kalau nggak bisa bikin orang-orang tertarik.
"Heh, pada mau lihat body seksi harga 80 jutaan, nggak?" tawar Qia, dengan nada sejail ekspresinya.
Beberapa anggota OSIS yang hobi nonton begituan langsung menatapnya penuh minat, terutama Rajendra. Tapi minatnya Rajendra bukan karena tertarik, melainkan ingin mencekik. Sumpah demi para alien yang ada di planet pluto, kalau saja memutilasi Qia sangat dihalalkan, mungkin sudah Rajendra lakukan sejak cewek sinting itu mengklaimnya sebagai pacar.
"Nih," Qia meletakkan selembar kertas di atas meja sambil bangkit dari kursinya. "Tinggal di balik aja. Dan sori, gue harus pergi. Nggak mau ganggu suami yang lagi meeting." Terbit cengiran lucu di bibir cewek itu. Hingga punggungnya lenyap dari balik pintu, dia lalu menghitung mundur.
Tiga...
Dua...
Sa...
"QIAAAAAAAAA!"
Cewek itu tertawa terbahak-bahak. Dia buka sedikit pintu ruangan, lantas kepalanya menyembul ke dalam. Dilihatnya wajah-wajah keki penuh kekesalan, dan dengan watadosnya dia menaikan sebelah alis.
"Da paan?"
Diana menunjukkan kertas pemberian Qia. Di sana tergambar seekor anjing sedang menggigit tulang. Otomatis Qia yang sadar akan kekonyolannya, kontan meledakkan tawa. Tiga detik, lalu cewek itu berbalik seraya mengacungkan jari tengahnya.
"Ketika anjing ngegambar saudaranya," gumam Rajendra yang disambut personel OSIS dengan gelakak-tawa.
Tanpa tahu, bahwa Qia masih berada di balik pintu. Cewek itu mengembuskan napas berat. Mencoba berpikir, harus dengan cara apalagi dia meluluhkan hati si umpan demi merealisasikan misi-misinya.
***
"Tinky Winky."
"Dipsy."
"Laa-laa."
"Po."
Kebiasaan teman-teman Sadewa ketika bertandang ke rumah cowok itu; menyebutkan nama personel Teletubies, terlebih ketika mendapati adik Sadewa yang manja tapi galak. Rajendra biasa memanggilnya, "Demplon!"
Lalu yang disapa demikian cemberut.
"Gue sunat lu, Je!" ancam Sadewa, setengah geli. Karena sahabatnya itu langsung menutup aset berharganya dengan tampang ngeri. "Eh, nikmatan mana, sih? Disunat lagi atau dicupang Qia?"
Kini giliran Rajendra yang cemberut. Lantas dia mengadu pada kawan karibnya Dipsy alias Lala. "Demplon, kemaren Baim Wong disosor ama Gigi! Dan lo sebagai calon masa depan—"
"La, ke kamar! Nggak usah dengerin monyet baca puisi,' titah Sadewa.
Adiknya langsung patuh. Dia putar kursi roda yang didudukinya itu dan bergegas Rajendra membantunya. Selagi Senja menceletuk, "Modusnya itu, loh!"
Di sebelahnya, Awan mengangguk membenarkan.
Serentak dengan kemunculan Mama Sadewa. Seperti biasa, perempuan yang masih tampak awet muda itu menyapa, "Eh, ada The Monsters! Lama nggak main ke sini. Tante pikir, kalian udah lupa."
Kekehan Romeo menyambut. "Enggak lah, Tante. Pokoknya rumah-rumah yang banyak makanannya tuh selalu kita inget-inget." Mata elangnya berkeliling mengamati keempat sahabatnya dan meminta persetujuan, "Ya, nggak, guys?"
Serempak mereka menjawab, "Kaga!"
Bebarengan dengan dengkusan yang lolos dari bibir Romeo, keempat sahabatnya tergelak. Sebelum Sindy—Mama Sadewa—mengajukan sebuah pertanyaan, "Omong-omong yang ke sini cuma kalian?"
Senja mengangguk, mewakili teman-teman seperjuangan sekaligus sepermesumannya.
Sindy mendesau kecewa. "Yaahh..., Tante kira kalian ngajak Sam—" kalimatnya terputus, berusaha mengingat nama seseorang.
Membuat Rajendra yang paham segera angkat bicara. "Samantha maksud, Tante?"
Sindy mengangguk dengan senyum yang dikulum.
"Ooh... Mamen alias Mama Lemon aliasnya lagi saudara kembarnya Bernard yang kebetulan didemenin anak Tante lagi nguras Pantai Anyer. Maklumlah, Tante... Dia mah orangnya pekerja keras," lanjut Rajendra yang direspons Sindy melalui tawa.
"Selain itu, ya, Tan," sambung Senja. "Dia juga penyayang sesama. Kemaren aja nih ada nyamuk mati langsung dia kubur terus didoain biar idup lagi."
"Eh, kok sesama?" gumam Awan, sembari menyenggol lengan Senja.
Cowok itu menoleh. "Lo nggak tau, ya, kalau aslinya tuh Mamen masih keturunan Nyamuk? Lo tanya aja sama Dewa, kalau Mamen sering muter-muter di pikirannya."
Romeo yang berdiri di sebelah Rajendra berbisik, "Emang Bangsad punya pikiran, ya?"
Tanpa sadar bahwa bisikkannya itu tertangkap oleh pendengeran Lala. "Gue denger, Bang!"
Sementara Romeo meringis, Rajendra yang kadangkala suka drama pun berkicau, "Mereka mah gitu, Mplon; sering mendzolimi Abang lo, kecuali gue. Malahan justru gue yang sering didzolimi sama Abang lo. Contohnya kemaren. Masa nih ya, gue disuruh ngerjain PR dia kalau gue masih pengin jadi adek iparnya." Kepalanya menggeleng ditemani decakkan tak habis pikir. "Berhubung gue sayang sama lo, ya udah... gue kasihin aja buku Abang lo ke Bu Sur. Gue minta tu guru buat ngerjain, ehh... malah gue yang diomelin. Emang geblek tu guru."
Lala tidak kuasa menyemburkan tawanya.
"Sad, lo difitnah noh!" Senja menepuk bahu Sadewa seraya mengedikkan dagu.
Yang ditepuk mengurai senyum. "Biarin aja. Karma masih berlaku dan azab lagi ngetrend. Tinggal nunggu jam tayangnya doang."
Senja, Awan, dan Romeo tertawa terbahak-bahak.
"Kan, Mplon... Abang didzolimi mulu," bisik Rajendra. "Emang orang ganteng tuh selalu disakiti."
Lala geleng-geleng kepala.
"Ah, kalian ini..." Sindy terkekeh, "Sana, ngobrol di ruang tengah! Biar Lala sama Tante." Bergegas dia gantikan posisi Rajendra, lalu figurnya lenyap ditelan pintu dapur.
"Nyokap lo cantik mulu, ya, Sad?" puji Awan, "Boleh nggak, sih, gue halalin? Gue nggak apa-apa, kok, punya anak sebrengsek elu. Gue mah orangnya ikhlas banget."
"Setan!" umpat Sadewa, yang disambut keempat sahabatnya dengan gelakak-tawa.
"By the way, gue kebelet pup, nih, Sad!" ujar Rajendra.
Sadewa mendengkus. "Ya pup, sana! Ngapa ngomong ke gua, goblok!"
"Ya siapa tau aja lo tertarik buat cebokin gue, gitu."
"Anjirrr!"
Selepas kepergian Rajendra, keempat temannya larut dalam obrolan.
"Eh, kemaren gue lihat Ratu boncengan ama Haris," kata Romeo, membuat ketiga temannya kontan terperangah lantaran syok. "Keknya sih mereka ada something."
"Jangan ngomong apa pun ke Jeje," pesan Sadewa.
Senja menanggapinya lewat decakkan. "Lo ngatain Jeje goblok, nyatanya lo sendiri lebih goblok!" Manik abu Sadewa menyorotnya tajam. "Eh, Ultramen! Harusnya lo bisa ngejadiin ini sebagai alasan untuk lo bales dendam!"
"Sori, gue bukan tipe orang pendendam!" tegas Sadewa, mantap.
Sekarang gantian Romeo yang berdecak. "Munaroh, lo!"
Awan tertawa.
"Terus, hubungan Jeje ama Ratu, gimane?" tanya Romeo.
"Udah tiga hari ini Ratu ngilang. Dia nggak pernah bales SMS atau pun angkat telepon dari Jeje," papar Sadewa, selaras dengan cerita yang Rajendra bagikan semalam.
Senja meringis iba. "Kasihan juga tu monyet!"
"Apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?" suara lain menginterupsi.
Awan yang hampir ketahuan langsung mendendangkan sebuah lagu dari Kang Charly Van Houten. "Jangan-jangan kau menolak cintaku, jangan-jangan kau ragukan hatiku. Ku kan slalu setia menunggu, untuk jadi pacarmu. Houoo..."
Tawa personel The Monsters kembali membahana.
Sejurus dengan kemunculan Mama Sadewa, berikut dengan baki berisi cemilan dan minuman. "Silakan dicicip-cicip. Seadanya ya, ganteng-gantengnya Tante."
"Oke, Tante Cantik!" sahut Awan dan Senja, kompak.
Sindy terkekeh, lantas mohon undur diri.
"Eh, kalian masih inget Sachi, nggak?" Rajendra memecah kesunyian.
Anggukan Romeo merespons.
"Nape lu nanya-nanya Sachi? Naksir?" cecar Awan.
Rajendra menggeleng. "Kaga lah, Wan. Gue mah orangnya setia. Kalau udah ama satu cewek, ya udah... yang lainnya buat besok."
"Anjeng!"
"Bangsat!"
"Setan!"
Rajendra terpingkal-pingkal, mendengar umpatan keki dari ketiga sahabatnya. Well, begitulah cara mereka berkomunikasi. Selain diselingi canda dan cerita, mereka juga kerap melontarkan umpatan kasar.
"Eh, serius, sih. Lo... ada something ama yang namanya Sachi-Sachi itu?" tanya Sadewa.
Tawa Rajendra sudah mereda. Kepalanya menggeleng. "Kaga, Njeng! Gue mau ketemuan ama dia karena gue pengin tanya-tanya soal Ratu. Soalnya dari informasi yang gue dapet, katanya si Sachi ini udah dari SMP temenan ama Ratu dan mereka deket banget."
Tidak ada respons. Semuanya merenung. Sepertinya, Rajendra tidak main-main dengan pilihannya. Maka yang bisa teman-temannya lakukan adalah mendoakan yang terbaik untuk cowok itu. Mengingat bagaimana kelamnya masa lalu cowok itu. Kini, sudah sepantasnya lara diluruhkan oleh asa. Berharap masih ada tawa yang tersisa.
