5.
Melangkah keluar dari
dalam mesjid usai dia
menunaikan shalat Dhuhur,
Wahyu pun terduduk di anak
tangga. Panasnya siang itu
membuat matanya sampai
menyipit.
Sudah cukup jauh dia
melangkah, namun belum juga
ada satupun tempat yang mau
menerimanya bekerja.
Satu-satunya yang
berkenan menerima Wahyu,
hanyalah sebuah warung makan
kecil, yang hanya sanggup
membayar tujuh ratus ribu
sebulan, namun tidak
menyediakan tempat tinggal.
Jika Wahyu menerimanya,
setelah dipotong enam ratus
untuk sewa kamar kosnya,
bagaimana Wahyu bisa hidup
dengan seratus ribu untuk
sebulan.
...
Menyeka kening dengan sisi
tangannya, Wahyu merasa jika
ibukota jauh sekali dari apa yang
pernah Hari cerutakan waktu
pulang ke kampung.
Rasanya tempat itu terlalu
keras untuk ditinggali oleh
orang yang tidakpunya
pengalaman merantau sama
sekali. Itulah yang Wahyu
rasakan saat itu.
Melirik sedikit ke arah
langit, dan merasakan sorotan
terik mentari terasa cukup
menyilaukan dan terasa
membakar, Wahyu beranjak
sejenak menuju tempat wudhu.
Menyalalkan keran air, dia
menampung dengan ceruk
telapak tangannya, sebelum dia
meminum dari telapak
tangannya itu. Terasa
menyegarkan dahaga
tenggorokannya, yang sampai
jam segitu belum makan
sedikitpun.
Mba Rima sempat
mengajaknya untuk sarapan
tadi pagi. Namun Wahyu
merasa sudah terlalu banyak
merepotkan, sehingga Wahyu
terpaksa menolaknya dengan
halus.
Demi mengurai rasa
hausnya, serta mengganjal
perutnya yang terasa
keroncongan, Wahyu pun
memperbanyak meminumn air
dari keran untuk wudhu masjid.
Setelah merasa cukup,
Wahyu pun mematikan kembali
keran air.
Dengan perasaan lebih lega,
karena rasa hausnya sudah
menghilang, Wahyu pun
berniat untuk melanjutkan
kembali rencananya untuk
kembali mencari pekerjaan.
...
Sesampainya dia di teras
masjid, dan baru saja akan
menuruni tangga, Wahyu
merasakan ada sesuatu yang
aneh.
Dia coba mencari,
dimanakah terakhir meletakkan
sepatunya, yang sebetulnya
tidak mahal-mabhal amat itu,
dan memang sudah terhitung
lecet akibat dipakainya berjalan
jauh, waktu pertama datang ke
ibu kota.
Diputar pandangannya,
namun tidak juga dia melihat
sepatu satu-satunya yang dia
miliki itu. Seketika saja Wahyu
merasa sepenuhnya yakin, jika
sepatu itu telah digondol kucing
kampung korengan.
...
"Ya Allah, cobaan apalagi
ini? Kenapa berat sekali rasanya
hidup di ibukota. Ternyata film
yang aku tonton di layar tancap
itu bohong, ya Allah. Ibukota
sepertinya lebih kejam daripada
ibu tiri." Keluh Wahyu yang
akhirnyaakhirnya terduduk dengan lesu.
Ingin sekali rasanya dia
menangis. Tapi kok rasanya
malu dengan t##buhnya yang
tegap.
Apa daya, Wahyu hanya
bisa merengut dengan mata
berkaca-kaca. Karena mau
marah dan memaki pun rasanya
percuma. Sepatunya tak
mungkin tiba-tiba jalan sendiri
kembali padanya.
Setelah menarik nafas
berkali-kali, Wahyu pun
menguatkan dirinya.
Hari itu dia tidak punya
pilihan lain, selain pulang lebih
dulu ke tempat kos-nya Mba
Rima. Sambil dia memikirkan,
langkah apa yang harus dia
lakukan selanjutnya.
Bangun dari duduknya,
Wahyu mulai melangkah. Meski
terasa perih, karena rasa panas
pada jalan yang dia tapaki,
tetaplah Wahyu harus berjalan
untuk kembali.
Sepanjang jalan pulang,
matanya melirik kanan kiri.
Berharap melihat penjual sepatu
dengan harga murah. Tapi dia
tidak menemukan satupun.
Hanya ada toko-toko
dengan etalase kaca yang
terlihat mewah bagi Wahyu.
Dan dia yakin, harga sepatu di
dalamnya tidaklah terjangkau
dengan kantongnya yang kering.
..
Memasuki jalan yang
mengecil, Wahyu pun berbelok
memasuki gang untuk bisa
sampai ke tempat Mba Rima.
"Kamu itu bukannya
saudara Bu Rima, ya?" Tegur
seorang bapak dengan peci
hitam di kepalanya.
"Iya, pak. Bapak itu Pak RT
kan ya?" Balas Wahyu
menjawab dengan ramah.
"Benul, benul. Saya itu pak
re te disini. Tapi
ngemeng-ngemeng, kok kamu
ga pakai alas kaki?" Tanya Pak
RT sembari melirik bingung
pada kaki Wahyu.
"Sepertinya ada yang lebih
membutuhkan sepatu saya, pak
." Jawab Wahyu sembari
berusaha tersenyum.
"Maksudnya? Kamu
sumbangin?" Tanya Pak RT
dengan dahi mengkerut.
"Ya terpaksa saya
sumbangin, pak. Tadi pas saya
selesai shalat di masjid,
sepatunya sudah tidak ada."
Jelas Wahyu sembari nyengir
getir.
"Di colong?" Tanya Pak RT
lagi menegaskan.
"Kalau saya mikirnya di
colong, jadinya bakal terusan
sakit hati karena ga rela, pak.
Jadinya ya udah, saya niatin di
sedekahkan saja. Biar rela walau
tak ikhlas.
"Oh begitu. Bener juga
kamu. Ya sudah kalau begitu.
Sekarang mendingan kamu
pulang dulu. Daripada nanti
kakinya masuk angin."
"Loh? Memangnya kaki bisa
masuk angin juga ya pak?"
"Yahh, daripada kemasukan
paku atau beling, kan atitt."
Cuap Pak RT sembari tertawa,
dan langsung berlalu.
"Lah? Pak RT-nya ternyata
kocak juga." Gumam Wahyu
pelan, sembari melirik pada Pak
RT yang menjauh. Barulah
setelah itu dia melanjutkan
perjalanannya untuk kembali ke
rumah kos Mba Rima.
"Assalamualaikum." Sapa
Wahyu sekedar memberi salam,
saat dia memasuki gerbang.
Menduga tidak ada
siapapun yang mendengar,
Wahyu pun lanjut berjalan ke
kamar mandi lebih dulu. Dia
berniat mencuci kakinya,
sekaligus mendinginkan setelah
berjalan panas-panasan tanpa
alas kaki.
"Waalaikumsalam." Sahut
Mba Rima dari arah dalam
rumah. Mendekat ke arah pintu.
Sahutan Mba Rima pun
menghentikan langkah Wahyu
begitu saja.
"Udah pulang, Yu? Kok
cepet? Udah dapat kerja?"
Tanya Mba Rima bertubi-tubi.
Wahyu hanya tersenyum
sembari menggelengkan
kepalanya. "Belum dapat, mba.
Besok dicoba lagi." Jawab
Wahyu dengan nada agak lemas.
"Kok kamu ga pakai sepatu?
Bukannya tadi waktu pergi
pakai sepatu, ya?"
"Iya, mba. Sepatunya hilang
di masjid, waktu tadi aku shalat
Dhuhur." Jawab Wahyu
menjelaskan.
"Innalillahi. Kok masih ada
aja ya, yang tega ngambil sepatu
orang yang lagi shalat?" Keluh
Mba Rimna usai menghela nafas.
"Tapi kamu masih punya
sepatu lain kan? Buat ngelamar
kerjaan?" Tanya Mba Rima lagi
dengan sorot mata khawatir.
Wahyu pun menggeleng.
"Paling besok aku cari
sepatu-sepatu murah dulu, mba.
Kira-kira, Mba Rima tahu ga ya,
dimana yang jual sepatu
murah-murah?" Tanya Wahyu
penuh harap.
"Tahu sih. Mudah-mudahan
masih pada jualan. Tapi kalau
buat kerja sih, setahuku paling
murah juga tujuh puluh lima
ribuan, Yu. Gimana?"
Mendengar angka yang
disebut Mba Rima, nafas Wahyu
seakan tercekat. Rasanya seperti
berat sekali untuk
mengeluarkan jumlah sebanyak
itu, untuk kondisinya saat itu.
"Ga ada yang lebih murah,
mba?" Tanya Wahyu dengan
rasa sungkan. Merasa malu
karena menganggap dirinya
tidak mampu.
"Besok kita lihat aja dulu.
Mudah-mudahan ada yang lebih
murah." Jawab Mba Rima.
Wahyu mengangguk,
sebelum dia berhenti, lalu
membola sedikit menatap ke
arah Mba Rima.
"Kita, mba? Maksudnya?"
Tanya Wahyu dengan nada
bingung.
"Ya kita. Aku sama kamu.
Besok biar aku anterin kamu
kesana. Takutnya kalau kamu
pergi sendiri, nanti malah
nyasar." Ujar Mba Rima
menjelaskan.
"Duh, mba. Makin ngga
enak aku sama mba. Rasanya
terus-terusan ngerepotin deh."
Pungkas Wahyu dengan
perasaan semakin sungkan pada
Mba Rima.
"Ngerepotin apaan? Kan
memang kamu juga butuh
sepatu, Yu. Udah, ga usah ga
enakan. Besok aku anterin kamu
buat cari sepatu." Tegas Mba
Rima.
"Iya, mba. Makasih ya mba
sudah banyak banget bantuin
aku." Ucap Wahyu dengan
penuh kesungguhan. Dia juga
menundukkan sedikit
kepalanya, sebagai bentuk
hormat.
"Sama-sama. Sekarang
mendingan kamu mandi, biar
segar. Mumpung belum ada
yang pada pulang." Saran Mba
Rima pada Wahyu.
"Iya, mba. Aku pamit dulu
mau ke kamar." Ijin Wahyu,
yang kembali menuju kamar
mandi, setelah Mba Rima
mengiyakan dengan anggukan.
...
Sepanjang menapak ke arah
kamar mandi, Wahyu
menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
"Apa besok itu cuma pergi
berduaan aja? Apa tidak
apa-apa? Takutnya Mba Rima
malah jadi bahan cibiran kaau
cuma jalan berdua sama aku."
Ucap Wahyu dalam hatinya,
sebelumn dia akhirnya masuk ke
dalam kamar mandi.
***
️️️️️
