4.
Usai penghuni kos
berangkat untuk bekerja,
kegiatan sehari-hari Mba Rima
biasanya menyapu sekitar
rumah induk, serta sesekali ikut
menyapu bagian teras kamar
kos-annya.
Mba Rima sendiri
sebetulnya mempekerjakan
seorang pembantu, namun dia
sengaja menyapu sendiri.
Alasannya supaya t##buhnya
tetap bugar meski usianya sudah
kepala empat.
...
Hari itu, Mba Rima yang
sudah hampir seminggu tidak
menyapu teras kos.
memutuskan untuk
bersih-bersih disana.
Posisi bangunan kos-an Mba
Rima tepat di sebelah rumah
induk. Kos-an yang hanya ada
tiga kamar itu, tersusun berjajar.
Setiap kamar memiliki
jendela di samping pintu masuk,
yang bisa di buka bagian bawah,
dengan engsel di bagian atasnya.
Dua kamar berjajar di
depan, dan satu kamar sendiri
berada di bawah tangga menuju
lantai dua, yang dipakai buat
area jemuran. Dan kamar itu
yang ditempati Wahyu.
Sedangkan kamar mandi
sendiri, letaknya sebelum naik
ke atas tangga. Sehingga Wahyu
harus memutari tangga jika
hendak ke kamar mandi, atau
sebaliknya.
Selagi menyapu, Mba Rimna
bisa mendengar suara jebar
jebur dari dalam kamar mandi.
Dia hanya menduga kalau
Wahyu yang berada di dalam
sana.
Tanpa berfikir yang
aneh-aneh, Mba Rima pun terus
melanjutkan aktifitasnya.
Mba Rima menyapu dari
ujung teras, menuju ke arah
kamar mandi, yang posisinya
sedikit menjorok ke dalam.
Saat mendekat, dia
mendengar pintu kamar mandi
terbuka.
"Ehh, mba? Duh, maaf mba.
Ini baju saya tadi jatuh di kamar
mandi sampai basah semua."
Seru Wahyu yang kaget melihat
Mba Rima, yang hanya terpaut
sedikit jarak dari dirinya.
Wahyu juga menunjukkan
bajunya yang memang basah.
Mba Rima tidak menjawab
apapun. Dia hanya mematung
terpaku, dan berhenti menyapu.
Kedua netranya terbuka
lebar. Terpana dengan Wahyu
yang hanya memakai lilitan
handuk saja di pingg##angnya.
Rambutnya yang basah
dengan wajah segar, melengkapi
wajah tampan dengan hidung
mancung dan alisnya yang tegas.
Bahunya yang lebar,
d##danya yang bidang beserta
otot lengannya yang kencang,
membuat Mba Rima tanpa sadar
menelan lud##hnya.
Setelah kepergian suaminya
sepuluh tahun yang lalu, Mba
Rima memang tidak pernah
menikah lagi. Bahkan dia tidak
pun berhubungan dengan lelaki
manapun.
Melihat ketampanan dan
t##buh ideal Wahyu, ada
percikan aneh yang
menggetarkan hatinya.
Terlebih saat tanpa sengaja
lirik matanya menangkap
sesuatu yang membuat handuk
Wahyu agak menonjol.
...
"Ii..iya, Yu." Ucapnya
tergagap sembari memalingkan
wajah, saat tersadar dari
kekagumannya.
"Udah sana kamu pakai b##aju
dulu. Masuk angin lagi nanti."
Lanjut Mba Rima dengan d##da
berdebar, tanpa menatap ke
arah Wahyu.
"Iya mba. Aku masuk dulu.
Mari mba." Ujar Wahyu, yang
terlihat biasa saja.
Dulu waktu di kampung, dia
sudah terbiasa hanya memakai
celana pendek saat bekerja
sebagai lkuli ataupun buruh
harian.
Bagi Wahyu, kali itupun
hampir tidak ada bedanya.
Meski tidak sama halnya dengan
Mba Rima yang bertahun-tahun
tanpa lelaki di sekitarnya.
Wahyu pun berlalu
memutari tangga untuk kembali
ke kamar kos-nya.
Sebelum masuk kamar, dia
sempat menoleh sejenak.
Tersenyum pada Mba Rima
lewat celah di sisi tangga, dan
barulah Wahyu masuk dan
menutup pintu.
Mba Rima juga sempat
mengangguk dengan canggung,
sebelum dia buru-buru kembali
masuk ke rumah induk.
Menghentikan begitu saja
aktifitas menyapunya.
Jantungnya berdebar
kencang, dan merasa nafasnya
terasa agak memburu dan berat.
Masuk ke dalam kamar
tidurnya, Mba Rima pun
melepas cadarnya saat dia
akhirnya duduk di depan
cermin.
Menatap pada wajahnya di
dalam cermin, Mba Rima lalu
meletakkan kedua tangan pada
pipinya yang merona.
"Apaan itu barusan? Kenapa
aku jadi deg-degan gini ya?"
Gumamnya pelan.
"Bu, ini kangkungnya mau
dimasak apa?" Sahut suara
pembantu Mba Rima dari luar
kamar.
"Di handukin aja mbak!"
Seru Mba Rima asal dengan
suara lumayan kencang, karena
terkejut.
"Hah? Di apain, bu?" Ulang
pembantunya yang dibuat
bingung.
"Di tumis, mbak. Di tumis
aja kangkungnya." Seru Mba
Rima sekali lagi.
"Aduh Rima. Apa-apaan sih
kamu itu?" Gerutunya pelan
sembari menepuk b##birnya
sendiri.
****
Usai berpakaian dengan
rapi dan layak, dengan koleksi
pakaian seada-adanya, Wahyu
pun segera beranjak keluar dari
kamarnya.
"Bismillah. Semoga ada
kemudahan hari ini. "Batinnya
dengan mata terpejam setelah
dia mengunci pintu kamar.
Dengan rasa percaya diri,
Wahyu mulai melangkahkan
kakinya. Berharap diberikan
Kemuđahan untUk bisa
mendapatkan pekerjaan,
berbekal ijazah SMA yang dia
punya.
Mengingat keadaan yang
sedang dia alami, Wahyu tidak
mematok harus bekerja apa.
Apapun itu akan dia jalani,
selama halal.
...
"Mau berangkat, Yu?" Tegur
Mba Rima, yang baru keluar
dari rumah induk.
Wahyu menoleh, dan
menemukan wanita bercadar itu
sedang berdiri di gawang pintu.
"Iya, mba. Mau coba nyari
kerjaan dulu.
ada yang mau nerima." Jawab
Mudah-mudahan
Wahyu sesopan mungkin.
"Semoga ya. Aku doain
lancar." Sahut Mba Rima
dengan matanya agak menyipit.
Sepertinya dia sedang
tersenyum.
"Amin, mba. Makasih
doanya. Aku jalan dulu, mba."
Timpal Wahyu sembari
menunduk sedikit.
"Iya. Hati-hati di jalan."
Pesan Mba Rima sebelum
Wahyu berlalu dari pintu
gerbang.
Rumah tinggal sekaligus
kos-an Mba Rima, berada di
dalam lingkaran tembok yang
lumayan tinggi. Sehingga dia
tidak lagi bisa melihat Wahyu,
sesaat Wahyu keluar dan
kembali menutup gerbang.
..
"Semoga dia cepat dapat
kerjaan. Kasian sekali Wahyu.
Bisa-bisanya dia sampai tertipu
sahabatnya sendiri." Gumam
pelan Mba Rima, dengan sorot
mata merenung.
"Siapa yang kasihan, bu?"
Suara pembantu Mba Rima
yang terdengar mendadalk dari
belakang, membuat ibu kos itu
terlonjak kaget.
"Mba Tini! Ampun deh.
Kebiasaan kamu itu ya. Suka
banget ngagetin." Gerutu Mba
Rima sembari mengel##us
d##danya.
"Loh, bu. Saya kan cuma
nanya, bukan ngagetin. Kalau
ngagetin tuh gini bu. Baaa!"
Sahut Tini, sembari
mengangkat kedua tangan di sisi
kepala, dan membolakan mata,
dan membuka lebar mulutnya.
Memperagakan sedang
mengejutkan Mba Rima.
"Kamu itu. Ada aja
jawabannya!" Timpal Mba Rima
menggelengkan kepala.
"Eh, bu. Yang barusan itu,
cowok yang malam itu pingsan
bukan?" Tanya Tini penasaran.
Mba Rinma mengangguk,
iya. Kenapa memangnya?"
"Memangnya, dia nge kos
disini, bu? Bukannya ini khusus
untuk putri?"
"Tadinya sih ga boleh. Tapi
kasihan juga. Dia dari kampung,
diajak temennya kemari.
Sampai sini, temennya malah
hilang ga ada kabar. Jadi aku
kasih waktu dia sebulan buat
tinggal disini. Setelah itu, ya
terserah dia aja mau kemana."
Jelas Mba Rima pada Tini, yang
mengangguk.
"Aslinya cakep ya bu.
Padahal waktu itu kaya gembel."
Puji Tini sembari tersenyum
lebar.
"Hush! Sembarangan bilang
orang kaya gembel. Tapi emang
rada dekil sih waktu itu."
Timpal Mba Rima, disusul tawa
pelan keduanya.
"Namanya siapa, bu?"
"Wahyu."
Tini kembali mengangguk."
Kira-kira Mas Wahyu sudah
punya pacar belum ya bu? Kalau
belum, saya mau dong bu. Uhh,
kayanya hangat deh dip##lukin
sama Mas Wahyu." Ujar Tini
sembari melipat tangan,
mem##luk dirinya sendiri. Wajah
Tini juga terlihat riang saat dia
membayangkan sedang dip##luk
Wahyu.
...
"Eh, eh. Ini cewek kega##telan
banget deh. Udah sana! Kerja
lagi!" Titah Mba Rima sembari
mendorong Tini ke arah dapur.
"Oh Mas Wahyu-ku sayang.
A##hh, dek##plah diriku, mas.
Jangan engkau lepaskan
t##buhku ini." Celoteh Tini, yang
masih terus mem##luk dirinya
sendiri, saat kembali berjalan ke
arah belakang, sembari
berlenggak lenggok seperti
bebek kembali ke kandang.
..
"Dasar Tini!"Seru Mba
Rima dalam hatinya, yang tanpa
sadar juga ikut membayangkan
berada dalam dek##pan kokoh
lengan Wahyu.
"Astagfirullah! Mikir apaan
sih aku ini?!" Seru Mba Rima
pelan sembari menggeleng cepat
kepalanya.
Dia berjalan keluar, dan
melanjutkan pekerjaan
menyapu-nya yang sempat
tertunda. Sekaligus dia berusaha
untuk mengalihkan bayangan
Wahyu dari benaknya.
***
️️️️️️
