6. Tubuh Mas Wahyu
Usai mandi, rasanya t##buh
Wahyu menjadi lebih segar.
Udara panas ibukota
memanglah tidak kaleng-kaleng.
Rasanya luar biasa sekali. Selain
membakar kulit, namun juga
membuat t##buh berkeringat
dan terasa lengket.
Kepalanya sedikit terasa
berat hari itu. Terus berusaha
sabar di tengah dera dan cobaan
yang menghampiri, membuat
Wahyu mengeluarkan
sebungkus r##kok dari dalam
tas-nya.
Sudah hampir seminggu ini
dia sengaja tidak mer##kok,
meski sangat menginginkannya.
Sebab dia harus bisa menghemat
sebisa mnungkin.
Diambilnya sebatang, lalu
dia nyalakan. Satu tarikan
dalam dan panjang, sebelum
asap mengepul di dalam
kamarnya. Wahyu sebelumnya
telah lebih dulu membuka
jenddela kamar, agar udara
tidak terlalu sumpek.
Bersandar pada tembok
kamar, Wahyu yang belum
berganti pakaian, dan hanya
memakai lilitan handuk di
ping##gangnya, melayangkan
pikirannya dalam lamunan.
"Apa aku akan berakhir di
kota ini ya? Kalau seperti ini
terus, gimana aku bakal
bertahan hidup?"Keluh Wahyu
dalam benaknya.
Pikirannya seolah buntu,
dan seketika saja dia
merindukan kampung
halamannya.
Mungkin disana dia merasa
hidup miskin dan kekurangan.
Namun sebenarnya dia tidak
pernah kekurangan satu apapun
disana.
Di kampung dia masih bisa
makan, meski hanya dua kali
sehari. Dia masih bisa membeli
sebungkus r##kok, dan juga
masih sanggup membayar kopi
dan beberapa gorengan saat
duduk di warung. Hampir setiap
harinya.
Sedangkan di ibukota,
beberapa hari ini dia beruntung
bisa makan, hanya bersandar
pada hasil dari belas kasihan
Mba Rima pada dirinya.
Kalau saja dia tidak
dipertemukan dengan orang
baik sperti Mba Rima, mungkin
dia sudah mengais tong sampah
demi sedikit pengganjal
perutnya.
...
"Jangan patah semangat,
Wahyu. Kamu pasti bisa bangkit
dan berjuang. Setidaknya cukup
kumpulkan uang untuk
membayar Mba Rima, dan juga
ongkos untuk pulang. Sebaiknya
memang aku pulang saja ke
kampung. Daripada disini cuma
menyiksa diri." Batin Wahyu
lagi, sembari menghisap
r##koknya sekali lagi, sebelum
dia mematikan bara yang sudah
membakar r##koknya setengah.
Rasa lelah di pikiran. Pegal
di kaki, serta agak nyeri di
telapak kaki, membuat Wahyu
sedikit enggan berdiri untuk
memakai bajunya.
Jadilah dia memiringkan
t##buh, hingga reb##han di atas
kasurnya dengan hanya
memakai handuk yang terlilit
saja. Kedua kakinya merapat,
sembari menjepit handuk di
antara kedua p##hanya.
Lamat-lamat kedua kelopak
matanya terasa berat, dan
Wahyu pun terjatuh dalam
lelapnya.
Selang beberapa lama, Mba
Rima datang menghampiri
kamar Wahyu, dengan niatan
hendak memberikan sepiring
pisang goreng yang dia minta
agar Tini buatkan.
...
"Yu, Wahyu?" Panggilnya
sembari mengetok sekali pintu
kamar Wahyu. Itujuga agak
pelan.
Menunggu sebentar, namun
tidak ada jawaban sama sekali
dari dalam kamar. Wahyu yang
sangat kelelahan, sepertinya
memang tidak mendengar sama
sekali. Dia terlalunyenyak
dengan tidurnya.
"Wahyu? Kamu di dalam ga?
Ini aku punya pisang goreng
buat kamu." Ujar Mba Rima,
sembari mengetuk sekali lagi.
Meskipun begitu, tidak juga
terdengar sahutan dari dalam
kamar Wahyu. Hanya
keheningan, serta sedikit suara
riuh dari sekitar luar tembok
rumah Mba Rima.
"Orangnya kemana ini?
Perasaan tadi ngga ngelihat dia
pergi lagi deh. Barusan pintu
kamar mandi juga terbuka
kayanya." Gumam Mba Rima,
sembari dia memutar ke arah
kamar mandi, untuk
memastikan jika memang
pintunya terbuka.
Menuju kamar mandi yang
memang agak terbuka, Mba
Rima menddorong sedikit untuk
melongok ke dalam.
Memastikan jika Wahyu
memang tidak ada disana.
"Apa dia ngejemur pakaian?"
Gumam Mba Rima lagi, setelah
memastika Wahyu tidak di
kamar mandi.
"Huft. Ya udahlah. Coba aku
cek aja ke atas." Ujarnya pelan
sembari melangkah naik
menapaki anak tangga.
Mba Rima pun sampai di
atas, namun tidak melihat
penampakan wujud Wahyu
sama sekali. Hanya ada jemuran
yang melambai tertiup angin
saja di dek lantai atas itu.
"Ga ada juga. Apa
jangan-jangan dia tidur?" Tebak
Mba Rima, yang kembali turun
ke bawah.
"Kalau aku kasihkan nanti,
keburu dingin ini pisang."
Timbang Mba Rima, yang
kembali berjalan ke arah kamar
Wahyu, dengan hati setengah
ragu.
"Wahyu? Kamu di dalam?"
Tanya Mba Rima sekali lagi, usai
dia mengetuk pintu kamar.
Sebab tidak ada jawaban
sama sekali, Mba Rima pun coba
menjulurkan tangan agar bisa
menggeser sedikit tirai jendela
kamar Wahyu.
"Kenapa aku berasa jadi
kaya maling di rumah sendiri
ya?"Batinnya, saat dia perlahan
menggeser tirai.
Usai menggeser tirai, maka
terperanjatlah Mba Rima saat
dua netra cantiknya menatap
apa yang ada di dalam kamar.
Wahyu kini tertidur dengan
posisi telentang menghadap
plafon kamar. Satu tangannya
terlipat dan menumpu di
kening, sedang satu tangan lagi
melebar ke samping.
Mba Rima bisa melihat
dengan jelas bentuk t##buh
atletis Wahyu. D##da bidangnya
yang naik turun seiring
nafasnya, serta otot-otot
lengannya yang terlihat kokoh.
Akan tetapi ada satu hal
yang membuat piring di tangan
Mba Rima hampir saja terlepas.
Satu kakinya telah terjulur
lurus, sedang satu kaki lainnya
menekuk. Hal itu membuat
tumpukan sisi handuk yang
semula menumpuk di bagian
depan, kini tersingkap. Mba
Rima pun dibuat sampai
menelan lud##h, dan jantungnya
seketika berdebar sangat
kencang.
Bertahun-tahun dia tidak
melihat kel##min lelaki, kini
benda itu terlihat lumayan jelas.
Dan satu hal yang masih
teringat dalam benak Mba Rima,
jika milik suaminya, seingat
Mba Rima tidak sebesar yang
dilihatnya pada Wahyu.
Jantungnya semnakin tidak
karuan, dan dia merasakan
gejo##lak aneh dalam dirinya. Ada
desir yang lama dia rindukan,
akan hal yang sedang dilihatnya
saat itu. Mba Rima yang masih
terus mematung, perlahan
namun pasti, mulai merasakan
bagian bawah t##buhnya terasa
berdenyut dan terasa sedikit
basah.
...
"Loh, bu. Ga jadi dikasihkan
toh pisang gorengnya?"
Suara Tini yang mendadak
terdengar, membuat Mba Rima
menarik kembali tangannya
dengan cepat. Seketika dia
merasa gugup dan panik.
"Anu, Tin. Itu, apa
namanya. Wahyu-nya itu.. anu,
dianya lagi tidur." Sahut Mba
Rima tergagap sembari menatap
ke arah Tini, yang terlihat
hendak berjalan ke arah kamar
Wahyu.
Beruntungnya Mba Rima
memakai cadar, sehingga Tini
tidak bisa melihat wajahnya
yang jelas-jelas pasti merona
kemerahan.
..
"Ga coba diketuk aja, bu?"
"Udah ga usah, nanti saja.
Mungkin ddia kecapekan abis
nyari kerjaan. Dah ayuk masuk
ke dalam." Sahut Mba Rima
dengan cepat sembari
merangkul Tini, dan
menyeretnya kembali menuju
rumah induk.
"Loh bu? Nantipisangnya
keburu dingin loh. Padahal tadi
ngeburu-buru saya nyuruh
bikin pisang goreng?" Tandas
Tini, yang terlihat bingung
dengan tingkah majikannya
yang seperti salah tingkah.
"Kamu tuh ya! Masih muda
tapi udah cerewet aja?
Lama-lama kaya nenek-nenek
kamu itu." Timpal Mba Rima
yang memastikan Tini tiddak
akan berbalik menuju kamar
Wahyu.
"Duh, wajar lah bu kalau
saya cerewet. Cewek itu kan
mulutnya dua, bu. Kalau mulut
bawah lapar, yang atas ya pasti
cerewet. Memangnya ibu ga
lapar mulut bawahnya?" Goda
Tini, yang memang dengan Mba
Rima sudah lebih mirip seorang
teman, daripada majikan dan
pembantu.
"Ihh, ini anak. Ampun deh
mulutnya! Minta dicubit ya?
Makanya kamu buruan nikah
lagi sana!" Timpal Mba Rima
sembari melepaskan Tini, usai
mereka masuk ke dalam rumah
induk.
"Nah ini saya lagi mau coba
usaha, bu." Timpal Tini dengan
senyum lebar.
"Maksud kamu?" Tanya
Mba Rima kebingungan,
sembari menyodorkan piring
berisi pisang goreng, yang
semula diniatkan untuk Wahyu,
pada Tini.
"Itu calonnya kata ibu lagi
tidur. Kapan lagi bu, bisa
ketemu cowok secakep Mas
Wahyu. Mana gagah lagi." Puji
Tini dengan wajah sumringah.
"Beneran ya kamu itu.
Kegatelan banget deh. Dah sana
ke belakang! Bawa tuh piring."
Titah Mba Rima, yang merasa
sedikit terhentak hatinya, saat
Tini berniat menjadikan Wahyu
calon suaminya.
"Siyaaap, ibuku." Sahut Tini
sembari berbalik dan
melangkah menuju dapur.
"Bu?" Tanya Tini yang
mendadak berhenti dan
berbalik.
"Kenapa?" Tanya Mba Rima
yang baru saja hendak duduk di
sofa.
"Kalau saya sama Mas
Wahyu nikah, kami tinggal di
kamar Mas Wahyu sekarang,
boleh ga?" Tanya Tini dengan
senyum lebar.
"Apaan sih? Udah sana
beresin cucian sama setrikaan!
Dasar genit!" Timpal Mba Rima
yang reflek melempar majalah
yang ada di meja ke arah Tini.
"Yah ibu. Kan katanya
ucapan itu adalah doa. Mana
tahu doa saya dikabulin sama
Allah." Sahut Tini sembari
mengutip majalah di lantai, dan
meletaklkan kembali di meja.
"Tini, kerja! Sekarang!"
Ketus Mba Rima yang
membelalakkan matanya.
Menatap taj##m pada Tini yang
segera saja kabur.
"Siap, bu. Ampuun!"
Serunya sembari lari ke
belakang.
"Ck! Dasar tuh anak.
Bisa-bisanya masih seumuran
Amara, tapi udah menjanda."
Cetus Mba Rima pelan sembari
menggelengkan kepala.
"Tapi kok aku ngerasa kaya
cemburu ya, waktu Tini bilang
mau nikah sama Wahyu?"
Guman Mba Rima dalam hati,
sembari dia menatap lurus ke
arah belakang rumah, tempat
Tini menghilang.
Tanpa dia sadari, perlahan
wajah Mba Rima menoleh ke
arah kamar Wahyu berada.
Dalam benaknya kembali
terbayangkan yang baru saja
dilihatnya disana.
Mba Rima mulai mengg##git
b##birnya sendiri, saat dia terus
membayangkan apa yang ada di
balik handuk Wahyu. D##danya
kembali berdebar, dan bagian
bawah t##buhnya kembali terasa
berdenyut.
...
"Ehmm!" Rintihnya pelan
sekali, saat tangannya tanpa
sengaja, menyusup di sisi dalam
pangkal p##hanya. Menekan
gamisnya hingga ikut tertekuk
bersama telapak tangannya.
Mba Rima bergegas
menggeleng kepalanya dengan
cepat. "Astaghfirullah, Rima!
Apa-apaan kamu ini?!" Geram
Mba Rima dalam hati, pada
dirinya sendiri.
Beranjak bangun dari
duduknya, dia segera berlalu
menuju kamar mandi pribadi
yang ada dalam kamar tidurnya.
Berniat untuk mnandi dan
mendinginkan kepalanya, yang
terasa panas oleh bayangan
kegagahan Wahyu.
***
️️️️
