
Ringkasan
Mengandung adegan dewasa 18++ Dilarang untuk Bocil, dan dapat menyebabkan kalian coli setiap hari. Mohon di mengerti, dosa tanggung masing-masing.
1.
Terik mentari terasa
membakar ku##lit siang itu.
Berada tepat di atas kepala,
Wahyu sampai mengeryitkan
kedua matanya. Menahankan
silau dari sorot terpaan cahaya,
dengan suhu cukup tinggi.
Dia terduduk dengan lemas
di tepian jalan ibukota. Tidak
tahu harus kemana lagi kakinya
melangkah. Dia terlihat seperti
orang linglung. Menatap kosong
dan hampa, pada kendaraan
yang terus lalu lalang.
.....
Bermodalkan nekat, setelah
lelah hidup susah di kampung
halaman, Wahyu pun berangkat
merantau setelah mendengar
ucapan sahabatnya sedari kecil.
Lebaran tahun kemarin,
saat temannya itu pulang dari
ibukota. Penampilannya
benar-benar terlihat seperti
orang yang sangat sukses.
Hampir semua orang di
kampung Wahyu pangling
melihatnya.
Berpenampilan rapi dengan
pakaian yang terlihat mahal.
Begitupula dengan aksesories
yang dipakainya, membuat
Wahyu merasa iri melihatnya.
Terbersit dalam hati kecilnya
untuk bisa seperti itu juga.
Ingin sekali Wahyu
mengikuti sahabatnya itu
kembali ke ibukota usai lebaran.
Namun apalah daya. Ibunya
yang saat itu sakit keras, tidak
mungkin dia tinggalkan begitu
saja.
"Makanya Yu. Ayo ikut aku
ke ibukota. Ngapain juga kamu
itu di kampung terus?
Memangnya ga bosan
bertahun-tahun hidup melarat?
Di ibukota banyak lowongan
kerja dengan gaji besar.
Sebentar aja kamu bakalan jadi
orang kaya." Ujar Hari dengan
penuh keyakinan, yang
membuat Wahyu tergetar
hatinya untuk bisa juga
berangkat ke ibukota.
Setiap hari rasanya seperti
teriris dan hendak menangis,
karena dia belum bisa
membahagiakan ibunya.
Bahkan keinginan ibunya
untuk menimang cucu-pun tak
bisa Wahyu wujudkan.
Jangankan mempunyai anak,
untuk menikah saja Wahyu
ketakutan. Takut tidak mampu
menafkahi istrinya nanti
dengan layak.
Hingga akhirnya usia
Wahyu menginjak tiga puluh
tahun pun, dia tetap belum juga
menikah.
...
Bahkan dia tetap belum
menikah juga sampai akhirnya
sang ibu tercinta
menghembuskan nafas
terakhirnya.
Berlarut-larut dalam
kesedihan dan ratapan selama
berminggu-minggu, Wahyu pun
coba menghubungi Hari.
Gayung bersambut. Hari
memintanya menyusul ke
ibukota.
Dengan iming-iming tidak
usah khawatir dengan biaya
selama di ibukota,
berusaha mengumpulkarn uang
untuk membeli tiket
keberangkatannya saja. Serta
sedikit untuk pegangannya
Wahyu pun
sebelum dia mendapatkan
pekerjaan.
...
Dan tibalah hari
keberangkatannya.
Dengan doa dari kerabat di
kampung, Wahyu pun
berangkat dengan harapan besar
dalam dirinya untuk bisa
menjadi orang kaya raya di
ibukota.
Dia bertekad sepenuh hati
untuk merubah kehidupan
melarat yang selama ini
dijalaninya.
Namun sayangnya
kenyataan yang harus Wahyu
terima sampai di ibukota, tak
seindah ekspektasinya. Hari
bahkan tidak terlihat sama
sekali, saat dia menginjakkan
kaki di pelabuhan.
Sesuai janjinya saat terakhir
kali Wahyu menghubungi lewat
ponsel kerabat di kampung,
Hari akan menunggunya di
pelabuhan. Wahyu hanya perlu
mengabari saat dia akan
berangkat.
Wahyu terus menunggu
Hari, karena dia juga tidak tahu
harus kemana di ibukota.
Bahkan Wahyu sampai
tidur menunggu di pelabuhan.
Namun hingga keesokan
harinya pun, Hari tak jua
kunjung datang.
Bergetar t##buh Wahyu
merasakan hatinya menciut.
Menyadari jika dia kini
benar-benar sendirian di kota
yang asing.
Tanpa kenalan dan kerabat
sama sekali. Bahkan sahabatnya
pun bagai menghilang di telan
bumi. Tersisa hatinya yang
meringis pilu.
Seketika saja, bayangannya
untuk menjadi orang sukses di
ibukota perlahan menguap.
Yang terpenting bagi
Wahyu saat itu, adalah bertahan
hidup dari kerasnya ibukota
yang kelak akan dia ketahui.
Wahyu sendiri tidak tahu
dimana Hari tinggal di ibukota.
Bahkan dia sendiri pun tidak
tahu, sebesar apakah
sebenarnya ibukota itu.
...
"Ya Allabh, kemana lagi
hamba-Mu ini harus pergi?
Tolong beri hamba petunjuk, ya
Allah." Rintih Wahyu memohon
dengan suara berbisik.
B##birnya yang mengering
mulai terasa kaku, dan terlihat
beberapa retakan di b##birnya
yang mnemucat, akibat terik
mentari dan panasnya ibukota,
sedang dirinya sudah kehabisan
bekal makan dan minum.
Sudah hampir tiga jam dia
berjalan tak tentu arah, setelah
petugas pelabuhan memintanya
pergi dan tidak tidur lagi disana.
Dan kini dia hanya bisa
terduduk dengan rasa letih di
fisik dan juga batinnya.
..
"Tega banget kamu, Har.
Bisa-bisanya kamu menghilang
gitu aja. Kalau memang kamu ga
mau aku repotin, bicara sejak
awal, Har. Kalau sudah kaya
gini, aku harus kemana coba?
Jahat bener kamu, Har. Tega
kamu sama aku yang udah
sahabatan sama kamu dari kecil.
Ga percaya aku, kalau ternyata
kamu sampai hati nipu aku, Har
." Keluh Wahyu sembari
menghelakan nafasnya.
Mengeluarkan tangan dari
sakunya, Wahyu menatap pada
selembar uang merah, serta
selembar uang biru, yang
terlihat sangat lecek.
Digenggamnya dua lembar uang
itu dengan perasaan getir.
Mengingat takkan mudah
mencari tempat tinggal, Wahyu
pun kembali menyeret
langkahnya yang terasa berat.
Ransel besar di pundaknya pun
semakin membuat langkahnya
semakin terseret.
Dia tidak berani
muluk-muluk mencari di
tempat yang terlihat bagus dan
nyaman.
Langkahnya justru terseret
ke pemukiman yang berada di
gang-gang sempit. Bahkan harus
beberapa kali melewati tempat
yang terlihat kumuh.
...
"Permisi, bu. Kira-kira ada
tempat buat tinggal gratis untuk
sementara waktu ga ya di sekitar
sini?"
"Permisi, pak. Apa di sekitar
sini ada lowongan kerja yang
menyediakan tempat tinggal?
Kerja apa saja boleh, pak."
Hampir setiap orang yang
dia temui, pasti akan dia
tanyakan tempat untuk tinggal,
atau lowongan kerja yang
menyediakan mess atau tempat
tinggal pegawai.
Bahkan dia juga
mengatakan tidak keberatan
walau harus tidur di gudang
sekalipun.
Namun bukannya
mendapat tempat tinggal atau
pekerjaan. Wahyu justru
mendapat tertawaan, hinaan
bahkan cibiran.
Rasa perih dan terhina yang
diterimanya, Wahyu telan
mentah-mentah. Mau
menyalahkan Hari, sahabatnya,
atas apa yang menimpa dirinya
pun percuma.
Sepanjang hari itu, Wahyu
hanya membeli teh manis
hangat dua kali. Dia bahkan
tidak berani makan untuk hari
itu, sebelum menemukan
tempat yang bisa dia tinggali.
Wahyu bertekad untuk
menghemat sebisa mungkin
uang yang dia punya, karena
memang hanya itu saja harta
yang dimilikinya saat itu.
Sepanjang jalannya, Wahyu
bahkan menandai beberapa titik
yang bisa jadi alternatif akhir
untuk tidurnya.
..
Emperan toko, bangku
taman bahkan kolong jembatan
kecil yang mirip gorong-gorong,
yang dipenuhi tumpukan
sampah.
Dia berniat kembali ke
tempat-tempat itu, jika pada
akhirnya memang tidak ada
yang mau memberikannya
tumpangan.
Mentari memang sudah
mulai condong ke barat. Bahkan
dari masjid mulai terdengar
alunan ayat suci yang
dilantunkan.
"Ya Allah, tuntun hamba
menuju rumah-Mu." Pilu
Wahyu berbisik dengan lidah
terasa kaku.
Dia terus menyeret kakinya
yang mulai terasa perih akibat
lecet di tepian telapaknya.
Sepatu murahan yang dia beli
sebelumn berangkat, membuat
kakinya yang terus melangkah
mulai terluka dan terasa perih.
Berbelok di ujung gang,
Wahyu berjalan sembari
tangannya memegang tembok
tinggi di sisi jalan kecil itu.
Srek srek srek. Seret
langkahnya semakin keras
terdengar. Sementara
pandangannya sendiri mulai
terasa buram. Seolah dunia di
sekitarnya berputar dengan
kencang.
Mengikuti lantunan ayat
suci, Wahyu terus menyeret
langkah untuk mencari dimana
sebenarnya letak masjid yang
mengumandangkannya.
Terlintas dalam benak
Wahyu yang mulai putus asa, air
masjid yang mensucikan bisa
dia gunakan untuk membasahi
tenggorokannya yang terasa
kering.
Hingga dia merasa kaget,
saat dinding yang menjadi
tumpuannya bergeser.
Ternyata dia sedang
menopang pada pintu gerbang
sebuah rumah, yang tiba-tiba
terbuka.
Batas tahan t##buhnya pun
seperti sudah di ujung tanduk.
Wahyu oleng dengan
pandangan semalkin buram.
Jatuh ke arah pintu yang ditarik
ke dalam.
Dia hanya ingat dengan
samar. Hal terakhir yang
dilihatnya adalah seorang
wanita sedang berdiri di
samping pintu, dengan pakaian
serba hitam serta wajahnya
tertutupi dengan cadar, sebelum
terdengar suara gedebum, saat
t##buhnya ambruk menghantam
jalan.
Setelah itu pandangan
Wahyu menjadi gelap, dan dia
tidak ingat apapun lagi. Wahyu
pingsan tak sadarkan diri,
setelah kelelahan, beserta rasa
haus dan lapar yang dideranya.
***
️️️️️️
