3.
“Satu bulan." Ujar wanita
itu akhirnya.
Wahyu mengangkat
wajahnya mendengar ucapan
wanita bercadar di hadapannya.
"Aku kasih kamu waktu
maksimal satu bulan. Tapi
sesudah itu, aku harap kamu
segera meninggalkan tempat ini.
Dan kalau sampai ada yang
bertanya kamu siapa? Bilang
saja kamu itu adik sepupuku
dari kampung. Dan kamu disini
sementara, sanmbil menunggu
panggilan kerja. Mengerti?"
Jelas wanita itu dengan tegas
dan lugas.
Mendengar ucapan itu,
seketika saja kedua netra Wahyu
berkaca-kaca.
"Baik bu. Terima kasih
banyak untuk kebaikan ibu.
Semoga Allah membalas
berlipat-lipat kebaikan ibu ke
saya." Ujar Wahyu dengan suara
bergetar, saat dia kembali
bersujud. Sekaligus dia bersujud
penuh syukur, karena
dipertemukan dengan orang
baik.
....
"Siapa nama kamu?" Tanyawanitawanita itu.
"Wahyu, bu." Jawab Wahyu
cepat.
"Sehari-hari, kamu memang
biasa ngomong pakai'saya kamu
Wahyu menggeleng. "Tidak,
bu. Biasanya 'aku kamu'. Tapi
kalau menghormati seseorang,
pakainya'saya kamu'." Jelas
Wahyu.
"Aku Rima. Kamnu panggil
aja Mba Rima. Kalau kamu terus
panggil 'ibu', aku khawatir
orang malah curiga. Bicaranya
juga santai aja. Ga usah kaku
pakai 'saya kamu'. Faham?"
Tanya wanita itu kembali.
"Faham, bu. Eh, Mba Rima.
Saya, anu itu.. aku faham.
Makasih ya mba sekali lagi."
Ucap Wahyu dengan hati penuh
haru. Wajahnya tergurat
senyum lebar penuh kelegaan.
"Ya sudah, aku permisi dulu.
Tidak baik berduaan terlalu
lama di dalam kamar." Ijin Mba
Rima sembari berdiri.
"Iya, mba." Jawab Wahyu
yang menegakkan kembali
tubuhnya, untuk duduk di atas
kakinya yang terlipat.
Saat Mba Rima berbalik,
Wahyu yang mengangkat wajah
untuk melihat padanya, kembali
dibuat takjub dengan bongkah
bulatnya pantat Mba Rima, yang
terlihat begitu menggoda saat
tercetak pada gamisnya. Cepat
Wahyu kembali menunduk.
...
"Oh iya, Wahyu. Khusus
untuk malam ini, nanti aku
antarkan makan ya. Sepertinya
kamu belum makan seharian.
Dan uang itu, kamu simpan saja
baik-baik buat bekal kamu."
Ujar Mba Rima yang berbalik
sejenak, saat mengatakan hal itu
pada Walhyu.
"Mba? Makasih banyak. Aku
ga tahu lagi caranya berterima
kasih sama kebaikan mba. Aku
cuma bisa doain semoga mba itu
banyak rejeki dan bahagia selalu
."Ucap Wahyu dengan netra
kembali berkaca-kaca.
"Amin." Jawab Mba Rima
singkat, dan segera berlalu.
Sepeninggal Mba Rima,
Wahyu yang masih terduduk di
atas kakinya, mulai
mengepalkan kedua tangannya
yang menumpu ke atas kedua
pahanya.
"Ya Allah, terima kasih
karena Engkau sudah
mepertemukanku dengan orang
sebaik Mba Rima. Semoga
Engkau selalu melancarkan
rejekinya, dan memberinya
segala kebaikan." Ucap Wahyu
agak keras, dengan suara
bergetar.
....
Hati Wahyu sampai
merinding, menerima kebaikan
Mba Rima. Orang yang bahkan
tidak ada talian persaudaraan,
dan baru saja dikenal hanya
karena terpaksa menolong
dirinya yang jatuh pingsan.
Tanpa sepengetahuan
Wahyu, Mba Rima yang
ternyata belum beranjak,
terenyuh mendengar doa
Wahyu untuknya. Hingga
dirinya ikut bergidik.
Barulah setelah itu dia
beranjak kembali ke rumah
induk.
**
Sudah berlalu tiga hari sejak
Wahyu tinggal di tempat kos
Mba Rima, dan Mba Rima pun
sudah mnelaporkan keberadaan
Wahyu pada RT dan RW
setempat, demi menghindari
tuduhan yang tidak-tidak.
Mengetahui jika Wahyu
adalah sepupunya Mba Rima,
yang sengaja datang ke kota buat
mencari kerja, maka ketua RT
dan RW pun tidak keberatan
memberikan ijin tinggal untuk
Wahyu.
Yang awalnya hanya berniat
menyediakan makan pada
malam Wahyu pertama kali ikut
tinggal di kamar kos-nya,
ternyata Mba Rima masih terus
menyiapkan makanan untuk
Wahyu.
Katanya dia tidak tega
melihat Wahyu yang masih
terlihat kesulitan berjalan.
Berkat hal itu, Wahyu pun
jadi teratur makannya sebab
Mba Rima yang terlalu
perhatian menyiapkan
makanan untuk dirinya.
..
Setelah mandi, dan
bercukur. Wahyu kini terlihat
lebih rapi, dan tidak lagi terlihat
dekil seperti awal kali dia
didapati Mba Rima saat jatuh
pings##an.
Terkadang Wahyu seperti
merasakan, tatapan Mba Rima
terasa mulai agak berbeda pada
dirinya. Namun Wahyu cepat
menepis pemikiran itu, dan
menganggap itu hanya
perasaannya saja.
Berperawakan sedikit tinggi
dengan t##buh tegap hasil kerja
kasarnya di kampung, membuat
penampilan Wahyu memang
terlihat cukup gagah.
Tidak Wahyu pungkiri, jika
saat di kampung pun banyak
perempuan disana sering
melirik dan curi-curi pandang
padanya. Bahkan ada beberapa
yang terang-terangan mengg##oda
dirinya.
Namun kembali lagi pada
keadaan dirinya, Wahyu tidak
cukup percaya diri untuk
menjalin hubungan dengan
siapapun, menimbang
keadaannya yang teramat
sangat miskin.
Selama tiga hari disana,
Wahyu belum pernah sekalipun
bertemu dengan dua penghuni
lain kos-annya Mba Rima.
Seperti yang Mba Rima
katakan. Dua penghuni lain
kamar kos di tempat itu, selalu
saja pergi pagi untuk bekerja,
dan baru akan pulang sore hari.
Itu juga mereka jarang langsung
pulang.
Kalaupun mereka langsung
kembali ke kos, keduanya lebih
sering menghabiskan waktu di
dalam kamar.
Sampai-sampai keduanya
juga sepertinya belum tersadar,
jika ada penghuni cowok di
tempat itu.
Berhubung kamar mandi
penghuni kos hanya ada satu
untuk bersama, Wahyu
biasanya akan mandi setelah
yakin keduanya telah berangkat
kerja.
Luka di kakinya juga mulai
tidak terasa sakit lagi, meski
masih terasa agak berbeda saat
dia memakainya untuk berjalan.
Selama dia tinggal di tempat
itu, ada satu hal yang menjadi
pertanyaan dalam benaknya.
Apakah mungkin Mba Rima
tidak memiliki pakaian lain?
Karena dia selalu saja memakai
pakaian serba hitam, termasuk
cadar yang menutupi wajahnya.
Dan pakaian itu selalu
terlihat sama saja setiap harinya.
Mengenai wajah Mba Rima,
meski ada rasa penasaran,
namun Wahyu tidak terlalu
memikirkannya. Dia coba
menghargai pilihan wanita itu
untuk menutupinya dengan
cadar.
Hanya saja sempat terlintas
dalam benak Wahyu, jika Mba
Rima sepertinya cukup cantik.
Hal itu terlihat dari sepasang
mata coklat indahnya, yang
berhiaskan bulu mata lentik.
Siang itu, Wahyu sengaja
mencuci pakaiannya, karena
memang dia tidak memiliki
cukup banyak baju untuk
dipakai.
Usai mencuci baju, dia pun
melangkah naik ke lantai paling
atas, yang masih berupa
bangunan dengan cor-coran.
Mungkin Mba Rima berniat
membuat tingkat tambahan,
namun kepentok dengan dana.
Dan selama belum ada
penambahan lantai, maka area
tersebut sementara walktu
dipakai sebagai area menjemur
pakaian.
...
Saat tiba di atas, Wahyu
melihat bentangan beberapa
kain lebar sedang dijemur.
Sepertinya itu sprei. Kain itu
berkibar pelan sesekali saat
tertiup angin.
Wahyu hanya mencuci lima
helai pakaiannya. Celana
panjang, kaos dan juga tiga
celana dalamnya.
Sedang asik menjemur,
Wahyu samar mendengar suara
air mengalir. Seperti jatuhan air
dari kain yang sedang diperas.
Selesai menjemur seluruh
pakaiannya itu, Wahyu pun
coba mencari asal suara.
Membungkuk dengan posisi
menyamping dari sudut
pandang Wahyu, terlihat Mbak
Rima sedang meremas pakaian
yang diambilnya dari dalam
ember.
Posisi gamisnya, yang
sedikit dia tarik, dan dijepitkan
di antara kakinya, membuat
lekuk menggoda dari pantat
Mbak Rima semaki terlihat
mempesona. Terlebih dengan
buah d##danya yang terlihat
menggantung.
Wahyu tak kuasa, untuk
tidak memuji pemandangan itu
dalam hatinya.
Selain itu, akibat bagian
bawah gamisnya dia tarik
sedikit terangkat ke atas dan
dijepit ke kakinya, membuat
betisnya yang begitu putih serta
mulus, dan terlihat masih cukup
kencang itu, berhasil membuat
Wahyu tak mau berkedip, kala
memandang ke arah Mba Rima.
Wahyu pun sampai
menelan lud##hnya.
Tiba-tiba Mba Rima
berbalikuntuk menjemur
pakaian yang baru saja
diperasnya.
Wahyu pun kaget dan cepat
bergeser mundur dan berbalik,
agar dirinya terhalang oleh
bentangan sprei yang dijemur.
"Yu? Itu kamu?" Tanya Mba
Rima menyahuti.
"Waduh, mati. Malah
ketahuan. "Batin Wahyu yang
langsung merasakan jantungnya
berdetak kencang.
"Loh, ada Mba Rima
rupanya." Sahut Wahyu,
membalas tanya Mba Rima.
Berpura-pura tidak tahu,
dengan nadanya yang seolah
terdengar kaget.
"Kamu lagi jemur juga?"
Tanya Mba Rima lagi, dengan
posisi keduanya masih saling
terhalang oleh sprei.
"Iya, mba. Cuma dikit ini.
Eh, mba. Maaf ini aku jemur
daleman. Ga papa kan?" Tanya
Wahyu memastikan.
"Ga apa. Lagian yang lain
juga ga pernah jemur pakaian
kok. Mereka biasanya laundry."
Timpal Mba Rima.
"Oke deh, mba." Sahut
Wahyu.
"Cucian mba masih banyak?
Mau aku bantu jemurin ga?"
Tanya Wahyu sambil menggeser
sprei, agar bisa melihat pada
Mba Rima.
"Eh, ga usah! Udah kamu
diam aja disitu!" Seru Mba Rima
yang mendadak panik, dengan
mata tiba-tiba membola.
Tangannya terjulur ke
depan, dengan telapak tangan
mengarah pada Wahyu.
"Gapapa, mba. Kalau masih
banyak biar aku bantuin."
Wahyu masih bersikeras, tanpa
memikirkan yang aneh-aneh.
"Ga, Wahyu. Stop! Awas,
kalau kamu sampai kemari!
Udah sana kalau udah selesai!
Turun aja ke bawah!" Seru Mba
Rima lagi. Kali ini nada
suaranya sedikit naik akibat
panik.
"Iya mba, iya. Aku duluan
turun kalau gitu." Tukas Wahyu
yang tidak mau membuat Mba
Rima sampai tidak nyaman.
"Mba Rima kenapa ya?
Padahal kan aku cuma mau
bantuin jemur doang. Kok
malah jadi kaya panikgitu ya?",
Tanya Wahyu dalam hati
sembari menggaruk kepalanya,
saat dia menapaki tangga untuk
turun ke bawah dan kembali ke
kamarnya.
"Huft. Gini repotnya kalau
ada cowok. Hampir aja dia
ngelihat aku ngejemur b##h sama
c##d-ku." Ujar Mba Rima
menghela nafas, sembari
menyeka keningnya dengan
punggung tangan, setelah
memastikan Wahyu
benar-benar telah turun.
️️️️
