2.
Membuka kedua matanya
perlahan, Wahyu merasakan
sakit hampir di sekujur
t##buhnya.
"E##ghh!" Erangnya yang coba
menggerakkan t##buh, namun
tetap saja terasa kaku.
Pelan dia menjelaskan
tatapannya, dan melihat ke arah
atas. Menyadari dia tertidur di
bawah plafon atap.
Menoleh dan melihat
sekitar, barulah dia tersadar
sedang tertidur di dalam sebuah
kamar yang ukurannya tidak
terlalu besar.
Menekan tangannya ke
bawah, Wahyu juga merasakan
empuknya kasur yang
beralaskan di bawah t##buhnya.
...
"Aku dimana ini?"
Gumamnya pelan.
Wahyu coba kembali untuk
bangun. Kali ini dia
memaksakan dirinya, meski
terasa nyeri menye##rang
t##buhnya.
"Akhh!" Pekiknya tertahan
saat menginjakkan kaki ke
lantai.
Memiringkan telapak
kakinya, barulah dia tersadar
jika kakinya lecet cukup parah.
Rasanya bahkan mustahil untuk
dipakai jalan jauh sementara
waktu.
Selagi dia termenung
dengan keadaannya sendiri,
pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Wahyu langsung mengadah
dengan sedikit kaget.
"Kamu sudah bangun?"
Tanya wanita yang masuk ke
dalam kamar itu. Namun dia
hanya berdiri di dekat gawang
pintu.
Suaranya terdengar seperti
wanita yang cukup dewasa.
Wahyu hanya bisa menebak,
jika wanita itu jelas lebih tua
dari dirinya.
Menatap Wahyu dengan
sorot mata hati-hati. Seakan
mempelajari, apakah Wahyu
berbahaya ataukah tidak. Di
tangannya terlihat segelas teh,
yang dipegangnya.
"Sudah, bu. Maaf
merepotkan. Kalau boleh tahu,
saya dimana ya?"Tanya Wahyu
sembari menundukkan sedikit
pandangannya.
..
Ada perasaan aneh yang
menyeruak, saat Wahyu
menatap pada wanita itu.
Dengan pakaian serba hitam
yang menutupi t##buhnya,
Wahyu dibuat canggung, sebab
wanita itu selain mengenakan
jilbab, juga wajahnya tertutup
dengan cadar. Hanya
memperlihatkan matanya saja.
Satu hal yang membuat
Wahyu sungkan menatap
langsung, karena pakaian yang
dipakai wanita itu. Bajunya
seperti gagal menutupi lekuk
t##buhnya. Terlebih bagian
d##danya yang cukup besar, serta
pinggulnya yang lebar.
Wahyu khawatir, h##sratnya
sebagai lelaki akan jatuh
penasaran, pada apa yang
tersembunyi di balik pakaian itu,
jika dia terus menatapnya.
..
"Kamu tadi tiba-tiba
pingsan, waktu aku buka
gerbang pas mau ke masjid.
Akhirnya kamu, aku biarkan
istirahat dulu di salah satu
kamar kos-anku. Kebetulan juga
memang ada satu kamar yang
baru saja kosong.
"Terima kasih, bu. Sekali
lagi maaf kalau saya sampai
merepotkan ibu. Kira-kira,
berapa saya harus mengganti
biaya kamarnya, ya bu?" Tanya
Wahyu dengan jantung
berdebar.
Dia ketakutan jika wanita
itu akan menyebutkan biaya,
yang tidak sanggup
dipenuhinya.
"Tidak usah pikirkan itu.
Kamu boleh istirahat dulu
sementara disini. Sepertinya
kamu baru datang dari luar kota
ya?" Ujar wanita itu yang kini
melangkah masuk, dan
meletakkan gelas teh di
tangannya ke lantai. Di hadapan
Wahyu.
"Minum dulu ini teh-nya.
Mumpung masih hangat. Biar
perut kamu enakan." Ujarnya
selagi masih berjongkok di
hadapan Wahyu.
"Terima kasih, bu." Puja
Wahyu yang terpalksa
mengangkat wajah untuk
menghargai.
Kala wajahnya terangkat,
kala itu pula Wahyu terpaksa
menelan lud##hnya. Dia terpana
pada d##da wanita itu yang
terlihat cukup besar, dan
tercetak membulat pada gamis
hitamnya yang berbahan cukup
lemas.
Ditambah dengan balutan
kain berwarna senada yang
membelit pingg##ngnya.
Membuat bajunya semakin
tertarik, dan mempertegas
keindahan bentuk d##da wanita
itu.
Cepat Wahyu mengalihkan
pandangan. Dia merasa tidak
pantas menatap dengan pikiran
kotor pada penolongnya itu.
"Kamu kenapa bisa sampai
pingsan?" Tanya wanita itu,
sambil melipat kedua kaki, dan
duduk di atas betisnya sendiri.
Tentunya setelah dia mundur
agak lumayan dari posisi
Wahyu.
"Seharian ini saya udah
jalan jauh banget, bu. Coba
nyari kerjaan yang nyediain
tempat tinggal. Mungkin saya
udah ga kuat lagi, sampai tadi
akhirnya ga sadarkan diri.
Niatnya tadi mau ke mesjid dan
istirahat disana." Jelas Wahyu,
yang kemudian memberanikan
diri untuk menyeruput teh,
yang sudah disediakan untuk
dirinya.
"Memangnya kamu dari
luar kota?"
Wahyu mengangguk sambil
meletakkan kembali gelasnya.
"Saya dari kampung, bu.
Tadinya kemari di ajak teman
saya. Tapi sampai sini, dia ga
muncul sama sekali. Bahkan
saya sampai tidur di pelabuhan
nungguin dia. Tetap aja ngga
muncul-muncul."
"Kenapa ga coba kamu
telfon aja?" Tanya wanita itu.
Wahyu tertunduk malu
sebelum menjawabnya. "Saya ga
punya hp, bu."
"Ohh. Mau coba telfon pakai
hp aku?" Tawar wanita itu.
Tawaran yang
menghentakkan hati Wahyu.
Dia bahkan tidak teringat untuk
menyimpan nomer Hari.
Karena memang dia tidak
berfikir sama sekali, kalau Hari
akan menghilang begitu saja.
"Saya ga hafal nomernya,
bu." Jawab Wahyu lagi dengan
perasaan tidak enak. Seolah dia
seperti sengaja tidak mau
menghubungi. Wahyu takut
wanita itu akan mengiranya
berbohong.
"Jadi kamu datang dari
kampung, karena di ajak
temennu. Dan sekarang dia ga
tahu ada dimana. Kamu juga ga
bisa hubungin dia karena ga
punya hp, dan ga hafal
nomernya. Jangan-jangan kamu
juga ga tahu dimana dia tinggal?"
Tanya wanita itu yang
terdengar seperti sedang
menginterogasi Wahyu.
..
"Ii..iya, bu." Jawab Wahyu
dengan hati bergetar semakin
ketakutan. Dia akan sangat
wajar jika wanita itu akan
menganggapnya berbohong.
"Gimana aku bisa percaya,
kalau cerita kamu itu jujur?"
Tanya wanita itu dengan nada
dingin.
Wahyu menghela nafasnya
lebih dulu. Menekuk wajahnya
dalam-dalam, dan menimbang
dalam diamnya.
Setelah itu dia merogoh
sakunya, dan mengeluarkan
selembar uang merah, dan
selembar birunya yang telah
terpecah menjadi selembar
hijau, dan dua lembar ungu.
"Ini semua duit saya, bu.
Sumpah saya ga bohong.
Silahkan ibu ambil uang ini, tapi
saya mohon agar dibolehkan
tetap tinggal disini sampai kaki
saya sembuh dan bisa jalan lagi.
Terserah ibu, uang ini cukup
untuk berapa hari." Ujar Wahyu
dengan cepat setelah dia
meletakkan semula uang itu di
lantai dan menyodorkannya ke
arah wanita itu.
...
"Kalau kamu kasih semua
uang kamu, lalu bagaimana
kamu akan makan?" Tanya
wanita itu lagi.
"Saya belum tahu, bu. Yang
jelas, saya ga mungkin bisa
kemana-mana dengan kaki
terluka seperti ini. Jadi saya
mohon, biarkan saya tetap
disini, bu. Setidaknya sampai
luka ini sedikit mengering." Ujar
Wahyu sembari menunduk
dalam. Memohon dengan
sangat.
"Kalau kaki kamu sembuh,
tapi kamu malah mati
kelaparan, ya repot kan malah
saya nanti!" Seru wanita itu
masih dengan nada dingin.
Wahyu terdiam. Dia tidak
bisa membantah perkataan
wanita itu.
"Maaf sebelumnya kalau
saya lancang, bu. Tapi, apa
boleh saya tinggal disini
sementara waktu? Setelah kaki
saya sembuh, saya akan cari
kerjaan untuk bayar uang
sewa-nya. Sambil nanti saya
cari-cari tempat tinggal baru.
Kalau boleh, bu." Pinta Wahyu,
dengan sangat berhati-hati.
"Waduh. Ya tidak bisa. Kos
aku ini khusus untuk putri. Jadi
kamu cuma bisa disini sampai
besok pagi. Setelah itu, kamu
harus segera keluar dari sini.
Aku tidak mungkin
membiarkan ada cowok di
rumah ini." Tegas wanita itu
dengan cukup dingin.
Rasanya bagai disambar
geledek, Wahyu termangu
dengan ucapan tegas wanita di
hadapannya itu.
Mengabaikan rasa sakit di
telapak kakinya, Wahyu
langsung terlonjak dari
duduknya, dan segera saja
bersujud di hadapan wanita itu.
...
"Saya mohon, bu. Tolong
jangan usir saya. Saya
benar-benar tidak tahu harus
kemana. Tolong terima uang ini,
dan ijinkan saya tinggal
sementara disini. Saya mohon,
bu. Tolong saya, bu." Rintih
Wahyu yang hanya bisa
mengiba, sembari mendorong
kembali semua uang yang dia
miliki.
Meskipun t##buhnya terasa
nyeri, dia tidak perduli. Wahyu
terus bersujud memohon.
Sementara wanita itu malah
dibuat kaget dengan perbuatan
Wahyu, yang sampai
memohon-mohon dengan
bersujud di hadapannya.
Benaknya seperti sedang
menimbang, akan apa yang
harus diaputuskan. Bagaimana
dia akan menjelaskan pada
lingkungan sekitar, jika dirinya
mengijinkan Wahyu untuk
tinggal di tempatnya.
️️️️️
