Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1.

Terik mentari terasa

membakar ku##lit siang itu.

Berada tepat di atas kepala,

Wahyu sampai mengeryitkan

kedua matanya. Menahankan

silau dari sorot terpaan cahaya,

dengan suhu cukup tinggi.

Dia terduduk dengan lemas

di tepian jalan ibukota. Tidak

tahu harus kemana lagi kakinya

melangkah. Dia terlihat seperti

orang linglung. Menatap kosong

dan hampa, pada kendaraan

yang terus lalu lalang.

.....

Bermodalkan nekat, setelah

lelah hidup susah di kampung

halaman, Wahyu pun berangkat

merantau setelah mendengar

ucapan sahabatnya sedari kecil.

Lebaran tahun kemarin,

saat temannya itu pulang dari

ibukota. Penampilannya

benar-benar terlihat seperti

orang yang sangat sukses.

Hampir semua orang di

kampung Wahyu pangling

melihatnya.

Berpenampilan rapi dengan

pakaian yang terlihat mahal.

Begitupula dengan aksesories

yang dipakainya, membuat

Wahyu merasa iri melihatnya.

Terbersit dalam hati kecilnya

untuk bisa seperti itu juga.

Ingin sekali Wahyu

mengikuti sahabatnya itu

kembali ke ibukota usai lebaran.

Namun apalah daya. Ibunya

yang saat itu sakit keras, tidak

mungkin dia tinggalkan begitu

saja.

"Makanya Yu. Ayo ikut aku

ke ibukota. Ngapain juga kamu

itu di kampung terus?

Memangnya ga bosan

bertahun-tahun hidup melarat?

Di ibukota banyak lowongan

kerja dengan gaji besar.

Sebentar aja kamu bakalan jadi

orang kaya." Ujar Hari dengan

penuh keyakinan, yang

membuat Wahyu tergetar

hatinya untuk bisa juga

berangkat ke ibukota.

Setiap hari rasanya seperti

teriris dan hendak menangis,

karena dia belum bisa

membahagiakan ibunya.

Bahkan keinginan ibunya

untuk menimang cucu-pun tak

bisa Wahyu wujudkan.

Jangankan mempunyai anak,

untuk menikah saja Wahyu

ketakutan. Takut tidak mampu

menafkahi istrinya nanti

dengan layak.

Hingga akhirnya usia

Wahyu menginjak tiga puluh

tahun pun, dia tetap belum juga

menikah.

...

Bahkan dia tetap belum

menikah juga sampai akhirnya

sang ibu tercinta

menghembuskan nafas

terakhirnya.

Berlarut-larut dalam

kesedihan dan ratapan selama

berminggu-minggu, Wahyu pun

coba menghubungi Hari.

Gayung bersambut. Hari

memintanya menyusul ke

ibukota.

Dengan iming-iming tidak

usah khawatir dengan biaya

selama di ibukota,

berusaha mengumpulkarn uang

untuk membeli tiket

keberangkatannya saja. Serta

sedikit untuk pegangannya

Wahyu pun

sebelum dia mendapatkan

pekerjaan.

...

Dan tibalah hari

keberangkatannya.

Dengan doa dari kerabat di

kampung, Wahyu pun

berangkat dengan harapan besar

dalam dirinya untuk bisa

menjadi orang kaya raya di

ibukota.

Dia bertekad sepenuh hati

untuk merubah kehidupan

melarat yang selama ini

dijalaninya.

Namun sayangnya

kenyataan yang harus Wahyu

terima sampai di ibukota, tak

seindah ekspektasinya. Hari

bahkan tidak terlihat sama

sekali, saat dia menginjakkan

kaki di pelabuhan.

Sesuai janjinya saat terakhir

kali Wahyu menghubungi lewat

ponsel kerabat di kampung,

Hari akan menunggunya di

pelabuhan. Wahyu hanya perlu

mengabari saat dia akan

berangkat.

Wahyu terus menunggu

Hari, karena dia juga tidak tahu

harus kemana di ibukota.

Bahkan Wahyu sampai

tidur menunggu di pelabuhan.

Namun hingga keesokan

harinya pun, Hari tak jua

kunjung datang.

Bergetar t##buh Wahyu

merasakan hatinya menciut.

Menyadari jika dia kini

benar-benar sendirian di kota

yang asing.

Tanpa kenalan dan kerabat

sama sekali. Bahkan sahabatnya

pun bagai menghilang di telan

bumi. Tersisa hatinya yang

meringis pilu.

Seketika saja, bayangannya

untuk menjadi orang sukses di

ibukota perlahan menguap.

Yang terpenting bagi

Wahyu saat itu, adalah bertahan

hidup dari kerasnya ibukota

yang kelak akan dia ketahui.

Wahyu sendiri tidak tahu

dimana Hari tinggal di ibukota.

Bahkan dia sendiri pun tidak

tahu, sebesar apakah

sebenarnya ibukota itu.

...

"Ya Allabh, kemana lagi

hamba-Mu ini harus pergi?

Tolong beri hamba petunjuk, ya

Allah." Rintih Wahyu memohon

dengan suara berbisik.

B##birnya yang mengering

mulai terasa kaku, dan terlihat

beberapa retakan di b##birnya

yang mnemucat, akibat terik

mentari dan panasnya ibukota,

sedang dirinya sudah kehabisan

bekal makan dan minum.

Sudah hampir tiga jam dia

berjalan tak tentu arah, setelah

petugas pelabuhan memintanya

pergi dan tidak tidur lagi disana.

Dan kini dia hanya bisa

terduduk dengan rasa letih di

fisik dan juga batinnya.

..

"Tega banget kamu, Har.

Bisa-bisanya kamu menghilang

gitu aja. Kalau memang kamu ga

mau aku repotin, bicara sejak

awal, Har. Kalau sudah kaya

gini, aku harus kemana coba?

Jahat bener kamu, Har. Tega

kamu sama aku yang udah

sahabatan sama kamu dari kecil.

Ga percaya aku, kalau ternyata

kamu sampai hati nipu aku, Har

." Keluh Wahyu sembari

menghelakan nafasnya.

Mengeluarkan tangan dari

sakunya, Wahyu menatap pada

selembar uang merah, serta

selembar uang biru, yang

terlihat sangat lecek.

Digenggamnya dua lembar uang

itu dengan perasaan getir.

Mengingat takkan mudah

mencari tempat tinggal, Wahyu

pun kembali menyeret

langkahnya yang terasa berat.

Ransel besar di pundaknya pun

semakin membuat langkahnya

semakin terseret.

Dia tidak berani

muluk-muluk mencari di

tempat yang terlihat bagus dan

nyaman.

Langkahnya justru terseret

ke pemukiman yang berada di

gang-gang sempit. Bahkan harus

beberapa kali melewati tempat

yang terlihat kumuh.

...

"Permisi, bu. Kira-kira ada

tempat buat tinggal gratis untuk

sementara waktu ga ya di sekitar

sini?"

"Permisi, pak. Apa di sekitar

sini ada lowongan kerja yang

menyediakan tempat tinggal?

Kerja apa saja boleh, pak."

Hampir setiap orang yang

dia temui, pasti akan dia

tanyakan tempat untuk tinggal,

atau lowongan kerja yang

menyediakan mess atau tempat

tinggal pegawai.

Bahkan dia juga

mengatakan tidak keberatan

walau harus tidur di gudang

sekalipun.

Namun bukannya

mendapat tempat tinggal atau

pekerjaan. Wahyu justru

mendapat tertawaan, hinaan

bahkan cibiran.

Rasa perih dan terhina yang

diterimanya, Wahyu telan

mentah-mentah. Mau

menyalahkan Hari, sahabatnya,

atas apa yang menimpa dirinya

pun percuma.

Sepanjang hari itu, Wahyu

hanya membeli teh manis

hangat dua kali. Dia bahkan

tidak berani makan untuk hari

itu, sebelum menemukan

tempat yang bisa dia tinggali.

Wahyu bertekad untuk

menghemat sebisa mungkin

uang yang dia punya, karena

memang hanya itu saja harta

yang dimilikinya saat itu.

Sepanjang jalannya, Wahyu

bahkan menandai beberapa titik

yang bisa jadi alternatif akhir

untuk tidurnya.

..

Emperan toko, bangku

taman bahkan kolong jembatan

kecil yang mirip gorong-gorong,

yang dipenuhi tumpukan

sampah.

Dia berniat kembali ke

tempat-tempat itu, jika pada

akhirnya memang tidak ada

yang mau memberikannya

tumpangan.

Mentari memang sudah

mulai condong ke barat. Bahkan

dari masjid mulai terdengar

alunan ayat suci yang

dilantunkan.

"Ya Allah, tuntun hamba

menuju rumah-Mu." Pilu

Wahyu berbisik dengan lidah

terasa kaku.

Dia terus menyeret kakinya

yang mulai terasa perih akibat

lecet di tepian telapaknya.

Sepatu murahan yang dia beli

sebelumn berangkat, membuat

kakinya yang terus melangkah

mulai terluka dan terasa perih.

Berbelok di ujung gang,

Wahyu berjalan sembari

tangannya memegang tembok

tinggi di sisi jalan kecil itu.

Srek srek srek. Seret

langkahnya semakin keras

terdengar. Sementara

pandangannya sendiri mulai

terasa buram. Seolah dunia di

sekitarnya berputar dengan

kencang.

Mengikuti lantunan ayat

suci, Wahyu terus menyeret

langkah untuk mencari dimana

sebenarnya letak masjid yang

mengumandangkannya.

Terlintas dalam benak

Wahyu yang mulai putus asa, air

masjid yang mensucikan bisa

dia gunakan untuk membasahi

tenggorokannya yang terasa

kering.

Hingga dia merasa kaget,

saat dinding yang menjadi

tumpuannya bergeser.

Ternyata dia sedang

menopang pada pintu gerbang

sebuah rumah, yang tiba-tiba

terbuka.

Batas tahan t##buhnya pun

seperti sudah di ujung tanduk.

Wahyu oleng dengan

pandangan semalkin buram.

Jatuh ke arah pintu yang ditarik

ke dalam.

Dia hanya ingat dengan

samar. Hal terakhir yang

dilihatnya adalah seorang

wanita sedang berdiri di

samping pintu, dengan pakaian

serba hitam serta wajahnya

tertutupi dengan cadar, sebelum

terdengar suara gedebum, saat

t##buhnya ambruk menghantam

jalan.

Setelah itu pandangan

Wahyu menjadi gelap, dan dia

tidak ingat apapun lagi. Wahyu

pingsan tak sadarkan diri,

setelah kelelahan, beserta rasa

haus dan lapar yang dideranya.

***

️️️️️️

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel