Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Aku mundur pelan dari balik pintu pavilion, kaki gemetar tapi berusaha tak bersuara. Jantung berdegup kencang sampai terasa di telinga. Aku bersembunyi di sisi dinding rumah utama, tepat di belakang pohon palm tua yang daunnya lebat—tempat yang gelap dan cukup jauh untuk tak terlihat, tapi masih bisa mengintip pavilion dan pintu belakang rumah.

Tak lama kemudian, pintu pavilion terbuka pelan. Lelaki tua itu keluar pertama. Ia berjalan pelan, langkahnya agak pincang seperti biasa karena lututnya sudah tak kuat, tapi malam ini ia tampak lebih rileks, bahkan bahunya sedikit tegak. Celana panjangnya sudah rapi, jaket tipis ditarik sampai ke leher, dan ia melirik ke kiri-kanan sebelum menutup pintu pavilion rapat.

Ia berjalan menyusuri taman belakang, melewati pagar kayu yang menghubungkan rumah kami dengan rumahnya. Suara pagar berderit pelan saat ia membukanya, lalu masuk ke halamannya sendiri. Lampu teras rumahnya menyala lalu ia masuk ke rumahnya.

Beberapa menit kemudian, pintu paviliun itu kembali terbuka. Istriku melangkah keluar sendirian. Ia telah mengenakan gamis katun putih tipis yang biasa dipakainya di rumah. Kainnya menempel ringan di tubuhnya, seakan masih menyimpan sisa hangat, namun tak ada sesuatu pun yang tampak janggal di permukaan. Jilbab kremnya tetap rapi, terpasang sempurna, tak sehelai rambut pun terlepas dari tempatnya.

Ia menutup pintu paviliun perlahan, nyaris tanpa bunyi, lalu menguncinya dari luar—gerakan yang tenang, terukur, seperti rutinitas kecil yang telah dilakukannya berkali-kali. Setelah itu, ia berjalan menuju rumah utama melalui pintu belakang.

Langkahnya ringan. Terlalu ringan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sholat malam, atau menutup buku sebelum tidur. Sama sekali tak mencerminkan apa yang baru saja terjadi di balik pintu itu.

Aku tetap bersembunyi, menunggu. Beberapa saat kemudian, lampu dapur rumah utama menyala. Aku tahu kebiasaannya. Ia pasti sedang minum air, atau sekadar merapikan sesuatu, memastikan rumah tetap dalam keadaan “normal”. Barulah setelah itu aku bergerak.

Aku berjalan ke depan rumah dengan langkah yang kubuat sengaja biasa saja, seperti seseorang yang baru saja turun dari ojek online setelah perjalanan jauh.

“Assalamualaikum, Ma… Papa pulang…”

Istriku muncul dari koridor kamar. Wajahnya segar, senyumnya hangat seperti yang selalu kusukai. Gamisnya tampak sedikit lembap di bagian dada, entah karena keringat, entah karena air yang baru diminumnya. Tak ada bekas apa pun yang mencurigakan. Lehernya bersih. Rambutnya tertata rapi di balik jilbab. Tak tercium bau aneh selain aroma sabun vanila yang selama ini menjadi ciri khasnya.

“Waalaikumsalam,” jawabnya kaget.

“Pa?” lanjutnya, matanya membesar sedikit, lalu tersenyum. “Kok Papa pulang cepat? Mama kira baru besok.”

Ia mendekat dan memelukku sekilas. Pelukan yang hangat, familiar. Namun tubuhnya masih menyimpan panas yang tak wajar, seperti seseorang yang baru saja melakukan aktivitas fisik ringan. Ada aroma lain yang samar, asing, nyaris tak tertangkap, bercampur dengan vanila yang menenangkan. Jika aku tak tahu apa-apa, mungkin aku akan mengabaikannya begitu saja.

Aku membalas pelukannya, meski tanganku terasa kaku. Kepalaku penuh oleh bayangan yang belum sempat pudar, kenangan yang terlalu nyata, terlalu vulgar untuk diusir.

“Iya,” jawabku singkat. “Meeting selesai cepat.”

“Alhamdulillah,” katanya. “Anak-anak juga tadi WA, mereka lagi di jalan ke rumah nenek. Papa mandi dulu ya, Mama siapin makan malam.”

Ia berbalik ke dapur dengan langkah ringan, seolah dunia berjalan sebagaimana mestinya. Aku berdiri di ruang tamu, menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu dapur. Di kepalaku, gema suara dan adegan dari beberapa menit lalu kembali menyeruak, bercampur antara amarah, muak, dan ketidakpercayaan.

Aku masuk ke kamar mandi, memutar keran air dingin, membiarkannya mengguyur kepala dan wajahku. Namun air tak mampu membersihkan apa pun. Bayangan itu tetap tinggal. Istriku, perempuan yang selama ini kukenal sebagai sosok yang taat, lembut, selalu bangun subuh untuk sholat, sabar mengajar murid-muridnya, dan setia menyiapkan makan malam setiap kali aku pulang dari perjalanan bisnis, ternyata menyimpan sisi lain yang sama sekali tak pernah kubayangkan.

Aku keluar dari kamar mandi, berganti pakaian rumah, lalu duduk di meja makan. Tak lama kemudian, istriku datang membawa hidangan kesukaanku. Senyumnya masih sama. Nada suaranya masih hangat.

“Makan dulu, Pa. Pasti Papa capek dari perjalanan.”

Aku mengangguk, mengambil sendok.

“Iya… capek banget.”

Aku makan perlahan, tapi setiap suapan terasa hambar. Di kepalaku, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa henti.

Sejak kapan ini semua terjadi?

Sudah berapa lama?

Siapa yang pertama mengajari istriku?

Dan mengapa aku tak pernah benar-benar menyadarinya?

Ada satu kenyataan lain yang tak bisa lagi kuelakkan. Beberapa tahun terakhir, sejak kecelakaan ringan yang kualami, tubuhku tak lagi sepenuhnya sama. Fungsi itu memang tidak mati total, tetapi jelas tak lagi seperti dulu.

Peranku sebagai suami, dalam makna yang paling sunyi dan paling personal, perlahan memudar. Aku tetap berusaha, ia pun tak pernah mengeluh secara terang-terangan. Kami belajar diam, belajar saling memahami tanpa banyak kata. Atau setidaknya, itulah yang kupikir selama ini.

Kini aku mulai bertanya-tanya, apakah keheningan itu sebenarnya telah menciptakan jarak yang tak kusadari. Kekosongan yang tak pernah kami bicarakan, tapi mungkin ia rasakan sendirian.

Di hadapanku, istriku masih duduk dengan senyum yang sama, menyuap makanannya seperti malam-malam lainnya. Di antara kami, meja makan itu tetap utuh, rapi, dan tenang. Namun aku tahu, sejak malam ini, ada sesuatu yang telah retak—bukan hanya kepercayaan, tetapi juga gambaran tentang siapa kami sebenarnya selama ini.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar: pengkhianatan ini mungkin bukan sekadar soal nafsu, melainkan tentang kebutuhan, kesepian, dan kegagalan kami berbicara sebelum semuanya terlambat.

Dan yang paling menghantui, apa yang harus kulakukan sekarang, setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa rahasia yang disimpannya jauh lebih dalam, dan lebih gelap, dari yang pernah kubayangkan?

Sejak malam itu, aku memilih diam. Namun diam-diam mengamati, mencatat nama-nama, dan menyusun potongan demi potongan puzzle tanpa membuatnya curiga. Di balik ketenangan yang kupaksakan, ada pergulatan batin yang tak pernah benar-benar reda: apakah aku masih mampu memaafkan, atau justru inilah akhir dari segalanya yang pernah kami bangun bersama?

Pada akhirnya, aku meminta bantuan seseorang yang benar-benar dekat dengan istriku, sahabat lengketnya, sesama guru di SMK. Aku tahu, istriku tak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari sahabatnya itu.

Kepercayaan itu terlalu kuat. Aku harus membayar mahal, bukan hanya dengan uang, tetapi juga dengan janji. Temannya sempat berusaha menutupi, hingga akhirnya bersedia bercerita dengan satu syarat: namanya tidak akan pernah dilibatkan, apa pun yang kelak terjadi pada rumah tanggaku.

Dari sanalah aku mendapatkan kisah lengkapnya, Petualangan istriku dari A sampai Z—sebagaimana ia ceritakan sendiri kepada sahabatnya itu.

Sebenarnya, cerita tersebut lebih banyak melengkapi dan mengonfirmasi, karena teman dekatnya itu sudah mengetahui semuanya sejak awal, sejak istriku mulai menyimpang dari garis yang selama ini ia jaga.

Aku pun telah memverifikasi kebenarannya melalui jejak-jejak kecil yang kutemukan sendiri: pesan singkat yang disembunyikan, jam pulang yang tak lagi konsisten, dan tanda-tanda lain yang tak pernah bisa benar-benar dihapus.

Semua itu nyata. Tanpa rekayasa, tanpa dilebih-lebihkan. Bahkan terasa sangat masuk akal, jika mengingat kekosongan yang perlahan tumbuh di antara aku dan istriku selama bertahun-tahun.

Demi menjaga harga diri dan nama baik semua pihak, terutama istriku dan anak-anak kami, maka nama, lokasi, dan identitas sengaja kusamarkan.

Aku benar-benar tak pernah menduga, perempuan yang kukenal alim, taat beribadah, dan begitu menjaga aurat serta sikapnya, ternyata mampu melangkah sejauh itu. Entah setan apa yang merasukinya dan siapa sebenarnya yang pertama kali membuat istriku binal dan nakal? Sehebat apa lelaki itu?

Dan sejujurnya aku sendiri sangat malu menyajikannya, karena aku tak pernah menduga, petualangan istriku segila dan sedahsyat itu. Aku bahkan belum pernah membaca kisah nyata yang segila ini dimanapun.

Aku berharap, para pembaca jangan mengutuk dan atau mencaci siapapun, karena kisah ini disajikan bukan untuk mempermalukan siapapun, semta-mata hiburan juga bahan perenungan, jika sesungguhnya di sekitar kita banyak hal-hal dahsyat yang tak pernah terduga, seperti berada di luar logika, namun nyata.

Terima kasih, dan semoga kalian menikmati kisah yang akan sangat panjang ini. selanjutnya akan disajikan dari POV Sang Istri, biar lebih ngena.

Selamat membaca.

Jika menyukai cerita ini, jangan lupa memberikan Like dan Bookmark agar tidak ketinggalan pemberitahuan saat kelanjutannya diunggah. Follow juga akun penulis jika cerita ini ingin dimuat sampai tamat di Hinovel.

Jangan dulu Diplagiat, sebelum Tamat, oke!

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel