Bab 2
Tangan kiri Pak Tua naik ke dada istriku, meremas lembut payudaranya yang montok, jempolnya menggosok puting yang sudah mengeras. Lalu tangan kanannya turun lebih rendah, menyusup ke antara paha istriku. Jari-jarinya langsung menemukan kelentitnya yang sudah basah, menggosok pelan melingkar, lalu menyusup satu jari ke dalam vagina yang hangat dan licin.
Istriku menggelinjang kecil, mulutnya terlepas dari ciuman sejenak, desahannya keluar lebih jelas sekarang: “Ahh… Pak… jari Bapak… dalam sekali… terus… gosok lagi… memek aku makin gataaal…”
Mereka kembali berciuman, lebih rakus kali ini. Tangan istriku makin cepat mengocok penis Pak Tua, sementara jari Pak Tua bergerak maju-mundur di dalam vagina istriku, keluar-masuk dengan ritme yang sama. Desahan mereka saling bersahutan, makin keras dan jelas di udara pavilion yang panas lembab.
“Oooh Bu… Guru, kontol Bapak bisa-bisa keluar kalau gini terus…” erang Pak Tua serak.
“Iya, Pak… kita lanjut di kasur, keluarin di dalam aku aja…” balas istriku, suaranya bergetar penuh nikmat.
Bulu kudukku makin merinding mendengar kata-kata vulgar mereka, terutama istriku.
Aku masih berdiri di balik pintu yang terbuka sedikit, tubuh membeku. Napas terhenti. Dada sesak. Tapi aku tak bisa bergerak. Tak bisa berteriak. Tak bisa masuk dan menghentikan semuanya. Aku hanya menonton, seperti orang asing yang menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya dilihat.
Istriku tiba-tiba berbalik, berlutut di ujung kasur single itu dengan posisi nungging—pantat terangkat tinggi, punggung melengkung sempurna, jilbab masih rapi tapi tubuh telanjangnya kini terpampang lebar di depan lelaki tua itu. Ia menoleh ke belakang sekilas, mata setengah terpejam, bibir menggigit pelan dengan senyum kecil yang penuh nafsu, seperti mengundang tanpa kata.
Pak tua tak buang waktu. Ia berlutut di belakang istriku, tangan kasar nan keriputnya memegang pinggul istriku lembut tapi tegas, lalu menunduk. Lidahnya langsung menyentuh, pertama di celah pantat, menjilat garis panjang dari vagina ke atas hingga anus. Istriku mengerang pelan, pinggulnya bergoyang kecil menyambut.
“Ya… Pak… jilat sana… lebih lama… lebih dalam… aku suka kalau Bapak riming anusku…” Suara istriku serak, penuh hasrat, sama sekali bukan suara yang biasa kudengar saat ia mengajar siswa-siswi di sekolah atau bicara denganku di meja makan.
Lelaki tua itu menurut, lidahnya menekan lebih kuat, melingkar di sekitar anus istriku, menjilat dengan gerakan lambat tapi pasti, kadang ujung lidahnya menyusup masuk sedikit, membuat istriku menggelinjang hebat.
“Aaaahhh… Pak… enak sekali… terus… jilat anusku… ya… seperti itu…”
Aku masih berdiri di balik pintu, tangan mengepal erat pegangan pintu hingga buku-buku jari memutih. Napasku tercekat. Aku ingin berteriak, ingin masuk dan menarik istriku pergi dari sana, tapi kaki seperti tertancap di lantai. Aku hanya bisa menonton, mata terpaku, dada sesak sampai terasa mau pecah. Penisku sendiri tak terlalu berekasi hanya getaran aneh yang menjalari tubuhku dari perasaan campur aduk yang sulit kudefinikan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, lelaki tua itu bangkit lagi. Penisnya yang besar dan panjang itu masih tegak sempurna, basah oleh air liur istriku. Ia memegang pangkalnya, menggosok-gosokkan ujung kepala penis itu di celah pantat istriku dulu, dari vagina ke anus, bolak-balik, membuat istriku mengerang lebih keras.
“Pak… masukin… aku mau kontol Bapak di boolku malam ini…” Istriku mendesah, suaranya penuh permohonan.
Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu mendorong, perlahan, sangat perlahan, ujung penisnya menekan lubang belakang istriku yang sempit.
Mataku makin nyaris copot dari kelopak. Tak percaya. Penis sebesar itu, tebal, panjang, urat-uratnya menonjol, sedang masuk ke anus istriku. Aku bisa melihat jelas bagaimana lubang kecil itu membuka pelan, meregang, menelan kepala penis itu inci demi inci. Istriku menarik napas dalam, punggung melengkung lebih dalam, tapi… ia tak menjerit kesakitan. Malah desahannya semakin jelas, semakin panjang, semakin penuh kenikmatan.
“Aaaahhh… ya Pak… masuk… lebih dalam… kontol Bapak besar sekali… isi boolku penuh… enak… bangeeet aaaah…”
Aku merinding. Aku yang melihat saja bisa merasakan sakitnya, bayangan benda sebesar itu memaksa masuk ke lubang sempit yang tak pernah disentuh seperti itu. Tapi istriku malah menggoyang pinggul pelan, menyambut dorongan lelaki tua itu, seperti tubuhnya sudah terbiasa, sudah terlatih.
Pak Tua mendorong lagi, pelan tapi pasti, sampai pangkalnya menempel rapat di pantat istriku. Ia berhenti sejenak, membiarkan istriku menyesuaikan, tangannya mengusap punggung istriku lembut.
“Enak, Bu Guru, kontol Bapak di dalem bool ibu… ketat banget… mencengkeram erat…”
Istriku mengangguk cepat, napas tersengal. “Enak sekali, Pak… dorong lagi… pelan… tapi dalam… aku mau rasain kontol Bapak nyodok sampe dalam…”
Pak Tua bergerak, mundur sedikit, lalu maju lagi, ritme lambat tapi dalam. Setiap dorongan membuat istriku mengerang lebih keras, pinggulnya bergoyang balik menyambut, tangannya mencengkeram seprai kasur. Desahannya tak lagi tertahan, suara basah dari penis yang keluar-masuk anus, suara kulit bertabrakan pelan, campur erangan istriku yang semakin liar.
“Aaaahhh… Pak… lebih cepat sedikit… ya… sodok aku… isi penuh… perutku aku suka sekali kontol Bapaaaak… aaaahhh!”
Aku tak bisa bernapas. Dada terasa seperti ditusuk. Istriku yang selama ini kukenal sebagai wanita alim, rapi, solehah, yang selalu pakai jilbab panjang dan bicara lembut—sedang nungging di pavilion rumah sendiri, telanjang bulat kecuali jilbab, anusnya ditusuk penis besar lelaki tua tetangga yang sering kubantu, dan ia mendesah seperti tak pernah puas.
Lelaki tua itu mempercepat sedikit, tapi tetap terkendali. Tangan kanannya meraih ke depan, menggosok klitorisku istriku dengan jari kasar tapi terampil, membuat istriku menggelinjang lebih hebat.
“Ya Pak… gosok situ… aku mau keluar… entot boolku lebih dalam… aaaahhh!”
Tak lama, tubuh istriku menegang keras. Punggung melengkung tinggi, kaki gemetar, dan ia orgasme, cairan hangat menyembur dari vaginanya, membasahi kasur, sementara anusnya berkontraksi kuat memijat penis lelaki tua itu. Lelaki itu pun menggeram, dorongannya menjadi lebih kuat beberapa kali, lalu ia menekan dalam sekali, menyembur di dalam anus istriku, cairan panasnya pasti memenuhi lubang belakang yang sudah meregang, hingga meluber pelan ke celah pantat istriku.
Istriku ambruk ke kasur, napas tersengal, tapi senyum kecil masih tersisa di bibirnya. Lelaki tua itu menarik penisnya pelan, cairan putih menetes dari anus istriku yang sekarang terbuka sedikit, merah dan basah. Lalu bangkit dari kasur setelah beberapa menit diam.
Napas Pak tua masih tersengal pelan. Penisnya yang tadi besar dan tegang kini sudah melemas, basah dan mengkilap oleh campuran air liur, cairan istriku, dan sisa-sisa miliknya sendiri. Ia mengambil kain sarung yang tergeletak sembarangan di kursi kecil. Ia juga memakai kemeja kokonya dengan gerakan lambat khas orang tua, tanpa tergesa, tapi juga tanpa banyak bicara.
Istriku masih terbaring telentang di kasur, kaki terbuka sedikit, anusnya yang baru saja diregangkan lebar kini perlahan menutup kembali, tapi masih merah dan basah, cairan putih menetes pelan ke seprai. Jilbabnya kembali rapi, hingga tak ada satu helai rambut pun yang keluar. Ia tersenyum kecil ke arah lelaki tua itu, suara lembut tapi serak.
“Makasih ya, Pak… malam ini aku makin puas, lebih puas dari malam sebelumnya….”
Lelaki tua itu mengangguk pelan, senyum malu-malu seperti biasa saat bertemu denganku di pagar rumah.
“Makasih juga, Bu guru… Bapak pulang dulu ya. Jangan lupa nanti tutup pintu rapat.”
Istriku mengangguk dan tersenyum manja.
^*^
