Bab 4
POV Sabrina.
Siang menjelang sore. Angin menyusup lembut di sela daun-daun beringin tua di sudut belakang rumah besar peninggalan Belanda itu, rumah warisan dari orang tua Mas Jason, suamiku. Aku duduk sendiri, busana muslimah dan kerudung syar'i besar menutup tubuhku yang tegak namun lelah.
Dari bawah pohon, dunia terbentang luas: sawah menghijau sebagian menguning, ngarai yang sunyi, gunung menjulang jauh, dan sungai berkelok yang seolah membelah hidup menjadi dua sisi, yang terlihat rapi dan yang berantakan kusimpan rapat.
Rumah sedang lengang. Mak Ukah di dapur. Mas Jason, seperti biasa, berbisnis ke luar.
Aku menghela napas panjang, meraih ponsel, menatap satu nama cukup lama sebelum menekan tombol hijau. Evrin, yang biasa kusapa Evi, teman kuliahku dulu.
"Halo, sayaaaang," suara ceria itu langsung menyergap. "Ini pasti Bu Ustadzah Sabrina yang lagi melamun sambil sok kuat, ya?"
Aku terkekeh kecil. "Kamu lagi apa, Nek?" suaraku kuusahakan renyah.
"Lagi nunggu anak-anak pulang sekolah sambil maskeran lumpur Laut Mati. Hidup emak-emak yang pura-pura milenial padahal udah kolonial, bikin stres aja, hahahaha."
"Kayaknya hidup kamu adem terus deh, Vi."
"Plis. Itu kalimat paling bohong sedunia," sahut Evi cepat. "Suami dinas luar kota mulu, anak-anak makin susah diatur, ART kabur minggu lalu karena minta naik gaji tiap bulan. Tapi ya udahlah, hidup harus tetap glowing, Bu Guru."
"Pantes," aku tersenyum. "Glowing kamu kebangetan."
"Lah Bu Sabrina, malah lebih parah. Udah kayak Bu Ustadzah premium," Evi terkekeh. "Gimana SMK Bina Umat? Adem? Damai? Atau cuma kelihatannya aja?"
Aku terdiam sebentar.
"Aku lagi di bawah pohon beringin. Tempat favorit kita dulu," kataku pelan. "Aku mau curhat… boleh ya?"
"Oh. Kalau udah di bawah beringin, berarti curhatnya berat," nada Evi langsung berubah. "Gas. Aku siap jadi tong sampah emosionalmu, Bu Guru."
Aku menarik napas panjang.
"Aku capek, Vi. Capek nahan semuanya sendiri. Mas Jason makin parah. Kayak… makin kosong. Makin sepi, makin… hambar."
"Duuuh," Evi mendesah. "Mas Jason kan emang begitu, Bu, sejak dia kecelakaan itu. Sabar ya, Bu Ustadzah."
"Dan aku…" suaraku melemah, "aku masih ngerasa hidup. Masih pengen dipeluk, dicium, dirayu. Aku masih punya gairah. Masih pengen disentuh. Dipuaskan seperti dulu."
Hening sejenak di seberang.
"Kamu tahu nggak, Bu," kata Evi akhirnya, jujur tanpa basa-basi, "yang nggak normal itu bukan kamu. Yang nggak normal itu kalau kamu pura-pura mati rasa."
Aku memejamkan mata. "Tapi aku malu… Vi…"
"Eh," potong Evi cepat. "Religius itu bukan berarti aseksual. Kamu bukan malaikat. Kamu perempuan. Istri. Ibu. Punya tubuh. Punya kebutuhan. Titik."
"Aku takut lama-lama meledak, Vi," bisikku.
"Makanya kamu cerita ke aku. Aku kan bestie terbaik sedunia," jawab Evi. "Bukan ke orang lain yang bisa bikin kamu salah langkah. Mas Jason kan memang sedang ada masalah, jadi aku harap kamu bisa lebih bijak. Sekarang dia menenggelamkan dirinya dalam bisnis dan bisnis, mungkin pelarian juga, tapi itu malah bagus, Bu."
Langit biru tampak tenang, berbanding terbalik dengan dadaku yang sesak.
"Bu, kalau kamu terus pura-pura kuat," lanjut Evi, "kamu bisa hancur pelan-pelan. Dan aku nggak mau itu terjadi. Imbasnya pasti ke anak-anakmu juga."
Obrolan kemudian mengalir ke mana-mana: skincare, anak-anak, gosip artis, sampai cerita tetangga Evi yang kepergok selingkuh dengan guru les anaknya.
"Serius, emak-emak sekarang serem," kata Evi sambil tertawa. "Udah kayak sinetron stripping."
Aku ikut terkekeh. "Kamu juga doyan drama."
"Bedanya aku nonton. Bukan main peran," Evi terkikik.
Ada jeda.
"Vi…" suaraku menurun. "Akhir-akhir ini… aku kepikiran seseorang."
"HAH?" Evi langsung siaga. "SIAPA?"
"Entahlah. Mungkin karena aku kosong, sering hampa dan… suamiku itu kayak udah nggak bisa diharapkan lagi…."
"Oke, mari kita tebak," Evi langsung bersemangat. "Mantan SMA, Reinhard? Dulu kamu tergila-gila sama dia, kan?"
"Bukan!"
"Mas Arif? Anak himpunan di kampus dulu yang sok alim itu?"
"Bukan juga!"
"Hmmm…" Evi menahan tawa. "Kalau bukan mantan… jangan-jangan… Hendi."
"Hendi siapa?" aku tersentak.
"Itu penjaga sekolahmu lah," Evi cekikikan. "Masih muda, tinggi, badan tegap, kayak Mas Jason waktu muda. Pasti sering curi-curi pandang pas kamu lagi ngajar ya, Bu."
"EVIII!!"
"Eh, jangan defensif gitu dong," Evi makin jail. "Atau… Bah Kardi? Yang kamu bilang ‘jimat kompleks’ itu?"
"EVIII! DASAR TEMAN NGGAK ADA AKHLAK KAMU, YA!" Aku tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. Ya ampun, kamu lucu banget kalau malu geitu, Bu Ustadzah," Evi puas. "Tenang. Aku cuma bercanda. Tapi serius ya, jangan main api, kasihan sama Mas Jason."
Aku menghela napas panjang. "Aku tahu itu, Vi."
"Bagus," suara Evi melembut. "Ingat, kamu itu guru paling alim di sekolah, warga paling religius di kompleks, istri seorang pengusaha ternama kelas kabupaten. Tapi kamu juga perempuan. Dan aku ngerti perasaanmu. Nggak salah kok melirik, asal siap aja dengan konsekuensinya," ia terkekeh kecil, setengah bercanda, setengah ancaman manja.
"Pokoknya gini ya, Bu Ustadzah," lanjutnya ringan. Evi memang selalu memanggilku Bu Guru atau Bu Ustadzah, sebenarnya itu hanya candaan keakraban kami berdua saja, kalau biasanya ya ‘lu-gue,’ serasa masih sama-sama kuliah.
"Kalau kamu lagi naksir bayangan kulkas, pohon nangka, pohon beringin, atau angin sore, aku anggap wajar. Tapi kalau sudah naksir orang hidup yang bisa diajak ngopi atau ngobrol, misalnya Ustadz Hamid, Bah Kardi, atau Hendi, aku pasrah juga sih sebenarnya. Memang mau gimana lagi, Mas Jason sudah tak bisa diharapkan juga sih."
Aku mendengus. "Evi, kamu udah gila apa? Kamu kaya ngedukung aku selingkuh. Aku bilangin sama Mas Jason…lho!"
"Tapi!" Evi cepat menyela.
"Asal satu aja. Jangan sampai aku tahu kamu menduakan suamimu. Ingat itu. Bisa-bisa aku kirim bom ke kamu, Bu!" Tawa renyahnya pecah.
"Soalnya kalau aku tahu… aku bingung mau marahin kamu atau marahin Mas Jason, kalian sudah aku anggap keluarga kandung."
Aku ikut tertawa kecil, antara lega dan getir. "Dasar kamu."
"Seriusan," suara Evi melunak. "Aku sayang kamu. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai salah langkah cuma karena kesepian ya Bu Ustadzah."
"Iya, Vi."
"Udah sana. Nikmatin angin kota kecamatanmu. Berenang sepuasmu di kolam renang belakang rumahmu, peluk pohon beringinnya kalau perlu, atau ajak siswa-siswamu main ke rumah biar gak sepi…" Evi terkikik.
"Dan kalau tiba-tiba kamu mimpi aneh… setelah peluk pohon beringin itu, jangan ceritain ke aku dulu. Aku belum siap dengernya. Hahahaha…"
Tawa Evi masih terdengar saat sambungan terputus.
Aku masuk ke rumah, meninggalkan halaman belakang yang masih dibasahi sisa-sisa air dari selang tadi. Pintu kayu berderit pelan saat kututup, dan hawa sejuk di dalam langsung menyambutku.
Mak Ukah masih sibuk di dapur, aroma masakannya, mungkin sayur asem atau rendang, menyeruak samar, tapi aku tak punya selera untuk bergabung. Aku langsung menuju kamar, melepas kerudungku, dan merebahkan diri di atas kasur yang sudah kusut karena tak sempat kususun pagi tadi.
Pikiranku berputar-putar, memutar ulang ucapan Evi barusan. "Jangan sampai salah langkah cuma karena kesepian." Kata-katanya seperti duri halus yang menusuk, bercampur dengan candaannya yang jail tentang Hendi, Bah Kardi, dan Ustadz Hamid.
Aku tertawa kecil sendirian, tapi di balik itu, ada sesak yang tak kunjung hilang. Evi tahu aku terlalu baik; dia selalu bisa membaca apa yang kusembunyikan, bahkan dari nada suaraku saja.
Aku menatap langit-langit kamar, pola retak-retaknya seperti peta hidupku yang penuh tikungan tak terduga.
Mengapa Hendi? Pikiranku melayang ke penjaga sekolah itu. Lelaki berusia 28 tahun, tinggi tegap, selalu sopan saat menyapa di gerbang sekolah SMK Bina Insan. Matanya yang tenang, senyumnya yang jarang tapi hangat, dan cara dia membantu angkat barang-barangku tanpa diminta.
Apakah dia pernah curi-curi pandang seperti kata Evi? Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Ini gila. Aku guru senior, istri seorang pengusaha, ibu dua anak kembar yang sudah kuliah. Tapi... tapi kesepian ini seperti api kecil yang mulai membara.
Aku bangkit, berjalan ke meja rias, menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku masih cantik, kata orang-orang, meski garis halus mulai muncul di sudut mata. Aku menyentuh pipiku, membayangkan bagaimana rasanya jika ada tangan lain yang melakukannya.
"Astaghfirullah," gumamku pelan, buru-buru istighfar. Tapi hati ini tak bisa bohong. Aku manusia normal yang masih rindu dipeluk, dirayu, dipuaskan seperti dulu, sebelum semuanya berubah.
Telepon berdering lagi, tapi aku abaikan. Mungkin Mas Jason, mungkin Evi yang khawatir. Aku butuh waktu sendirian dulu. Besok, saat ngajar di sekolah, aku harus kembali jadi Bu Sabrina yang tegar. Tapi malam ini, biarkan aku termenung, memeluk bantal, menangis dan berharap mimpi tak membawa godaan lebih jauh.
^*^
Jika ingin baca gratis bisa juga baca di Victie judulnya Istriku Yang Alim, Ternyata atau cara saja Author Fajar Merona
