Pustaka
Bahasa Indonesia

Kepuasan Digilir Murid

24.0K · Baru update
Demar
20
Bab
563
View
9.0
Rating

Ringkasan

Delapan belas tahun pernikahan tak runtuh oleh pertengkaran besar, melainkan oleh jarak kecil yang dibiarkan tumbuh diam-diam. Jason selalu mengira rumahnya baik-baik saja. Istrinya setia. Hidupnya mapan. Kebun teh berjalan rapi seperti angka-angka di laporan produksi. Sampai suatu hari ia sadar—gairahnya tak lagi pulang ke rumah. Alda, perempuan yang selama ini menjadi poros segalanya, tidak pergi dengan amarah. Ia tidak berteriak. Tidak menuntut. Ia hanya perlahan menghilang dari pusat perhatian lelaki yang dulu bersumpah menjaganya. Di tengah obsesi, nasihat keliru, dan tubuh yang mulai bicara tanpa izin nurani, Jason terlambat memahami satu hal: istri terbaik tidak pergi karena tak dicintai, melainkan karena terlalu lama dicintai setengah hati. Perginya Istri Terbaik Sedunia adalah kisah tentang kesetiaan yang tak dipertahankan, tentang perempuan yang tetap anggun saat dilupakan, dan tentang lelaki yang baru sadar arti rumah ketika pintunya tak lagi menunggu untuk dibuka.

MetropolitanMenantuKeluargaPetualanganBaik HatiBalas Dendam

Bab 1

Malam itu aku pulang lebih awal dari perjalanan bisnis. Kesepakatan yang semula kupikir akan berlangsung alot ternyata berjalan mulus, tanpa intrik berarti.

Saat membuka pintu samping rumah dengan kunci cadangan yang memang selalu siap kugunakan, suasana langsung menyambut dengan sunyi. Rumah terasa sepi dan masih gelap. Aku menduga istriku tertidur lebih awal, atau mungkin sedang ada kegiatan di luar.

Sebenarnya aku berangkat kemarin pagi dengan mengendarai mobil. Namun ketika hendak pulang, kedua anak kembarku yang kuliah di Bandung meminjam mobil itu untuk keperluan kampus. Akhirnya aku memutuskan pulang naik kereta Whoosh, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek online.

Aku sengaja tidak memberi tahu istriku soal kepulangan ini. Bukan untuk memberi kejutan, ia memang sudah tahu jadwalku pulang besok. Sejak awal aku mengatakan bahwa kegiatan bisnis ini akan berlangsung tiga hari.

Tanpa menimbulkan suara, aku melangkah ke lantai dua, menuju kamar utama kami. Namun yang kutemukan hanyalah ruang yang sunyi. Tempat tidur tertata rapi, tak ada tanda-tanda kehadirannya. Meski begitu, firasatku mengatakan ia ada di rumah, mobilnya terparkir di garasi, tak mungkin salah.

Aku menuruni tangga dan mulai mencarinya ke setiap sudut. Ruang demi ruang kulewati, hingga akhirnya dapur dan paviliun belakang. Paviliun itu adalah kamar bekas kedua anak kembar kami, yang kini lebih sering kosong, menyimpan sunyi yang berbeda.

Ada sesuatu yang janggal. Biasanya paviliun itu gelap, hanya lampu depan yang menyala seadanya. Namun malam ini justru bagian dalamnya yang menyala redup. Bukan lampu utama, melainkan cahaya samar lampu tidur.

Dugaan pun muncul, mungkin istriku tertidur di sana. Aku melangkah mendekat. Namun langkahku mendadak terhenti saat telingaku menangkap suara-suara asing, lirih namun jelas cukup untuk membuat dadaku menegang.

Aku menahan napas, lalu mengintip, mencari celah di antara pintu dan dinding.

Dari dalam terdengar suara samar. Napas yang berat, desahan tertahan, bunyi basah yang begitu akrab di telingaku, namun terasa mustahil untuk ada di rumah ini, di malam ini. Pintu paviliun tidak tertutup rapat, hanya terbuka sedikit, cukup bagi cahaya lampu tidur yang redup merembes keluar, membelah gelap seperti rahasia yang bocor perlahan.

Aku mendekat tanpa suara. Setiap langkah terasa asing, seolah kakiku bukan lagi milikku sendiri. Detak jantungku mulai tak terkendali, menghantam dada lebih keras dari langkah yang kutahan.

Dan tepat sebelum mataku benar-benar menangkap apa yang terjadi di dalam, ada satu detik sunyi, detik ketika naluriku berteriak agar aku berhenti, berpaling, atau sekadar menutup mata.

Namun sudah terlambat.

Apa yang kulihat di balik celah sempit itu membuat darahku seakan berhenti mengalir, dan jantungku nyaris copot dari tempatnya.

Istriku berlutut di atas karpet kecil di tengah pavilion, posisinya menyamping dari celah tempatku mengintip, jadi semuanya terlihat sangat jelas. Tubuhnya telanjang bulat, kulit putihnya berkilau samar di bawah lampu tidur remang-remang.

Hanya jilbab krem yang masih rapi menutupi rambut dan lehernya, satu-satunya kain tersisa. Matanya setengah terpejam, mulutnya terbuka lebar, mengulum penis lelaki tua itu dalam-dalam, mengisapnya dengan gerakan lambat tapi kuat.

Lelaki tua itu berdiri di tepi ranjang single, tubuhnya keriput dan berbulu tipis. Tangannya memegang kepala istriku pelan, hanya membimbing ritme tanpa memaksa. Penisnya besar, panjang, urat-urat tebalnya menonjol jelas, kepalanya merah membengkak dan basah kuyup oleh air liur istriku.

Batang Pak Tua masuk sampai dalam mulutnya, hampir menyentuh tenggorokan, membuat leher istriku menegang sedikit sebelum ia tarik kepala mundur perlahan. Benang air liur bening memanjang dari ujung penis ke bibir bawahnya, lalu putus dan menetes ke dagu yang tertutup jilbab.

Aku tahu siapa lelaki tua itu. Tetangga belakang rumah, pensiunan kantor pos hampir sepuluh tahun. Hidup sendirian sejak istrinya meninggal, anak-anaknya di kota lain. Rumahnya kecil, sederhana. Aku sering kasih sembako atau uang kalau habis. Walau bukan seorang yang terlalu religius, namun ia sangat rajin beribadah berjamaah di mesjid, bahkan sudah seperti pengurus DKM.

Pernah kubilang pada dia, “Pak, kalau butuh apa-apa bilang aja sama saya atau istri saya.” Dia jawab sambil senyum malu, “Makasih, Pak, cukup sudah.”

Sekarang lelaki itu telanjang bulat di pavilion rumahku, penis besarnya yang tak pernah kukira sebesar dan sepanjang itu di tubuh renta sedang diisap lahap oleh istri solehahku, mulutnya naik-turun tanpa henti.

Istriku menarik penis itu keluar sejenak, napasnya tersengal pendek. Tangannya memegang pangkalnya yang tebal dan keras, mengocok pelan sambil lidahnya menjilat dari bawah ke atas, gerakan panjang basah. Ia kelilingi kepala penis itu dengan lidah, mengisap ujungnya yang licin bening, lalu menarik masuk lagi sampai pipinya menggembung.

Suara basah licin terdengar setiap tarikan mundur, desahannya kecil tapi jelas keluar dari hidungnya, “Hmmmh… ahh…” pelan sambil matanya merem melek penuh nikmat.

Lelaki tua itu mengerang serak pelan, suara dalam yang jarang ia keluarkan, “Ahh… bagus… Bu Guru…” Tangan kirinya turun, menyentuh pipi istriku, ibu jarinya menyapu sisa air liur di sudut bibirnya lembut.

Malam terasa semakin pekat. Udara pavilion terasa panas, lengket, penuh aroma keringat, air liur, dan hasrat yang tak terucapkan. Dan aku… masih berdiri di balik celah pintu, napasku tersendat, tubuhku kaku, menyaksikan segalanya dengan mata yang tak bisa berkedip, setiap detik terasa seperti pisau yang menusuk perlahan, sekaligus api yang membakar dari dalam.

“Cantik sekali… mulutmu Bu Guru, hangat… terusin, Bu… Bapak suka kalau kamu telan dalam-dalam…”

Istriku tersenyum kecil, mata setengah terpejam penuh kenikmatan. “Iya, Pak… kontol Bapak besar dan panjang sekali… aku suka… kerasnya. Aku mau bikin Bapak puas malam ini…”

Telingaku terasa terbakar mendengar mulut istriku mengeluarkan kata-kata vulgar itu. Sejak kapan mulut yang biasa dipakai mengajar siswa-siswanya itu bisa berbicara sangat kotor dan tak pantas?

Istriku kembali mengisap, kali ini lebih dalam, kepalanya maju-mundur dengan ritme yang sudah terlatih. Tangan lelaki tua itu makin kuat memegang jilbab istriku, bukan menarik, hanya memegang seperti memastikan jilbab itu tetap di tempatnya, seolah itu bagian dari ritual mereka.

Tak lama ibu dari anak kembarku itu, perlahan menarik kepala mundur, melepaskan penis Pak Tua dari mulutnya dengan suara licin yang pelan. Ujungnya masih berkilat basah, berdenyut pelan di udara. Ia menatap ke atas, mata sayu penuh hasrat, lalu berdiri perlahan dari posisi berlututnya. Karpet kecil itu sedikit bergeser di bawah lututnya yang tadi menekan lama.

Kini mereka berdiri berhadapan, jarak sangat dekat, napas mereka saling bercampur. Tubuh telanjang istriku yang putih kontras dengan kulit Pak Tua yang kecokelatan dan keriput. Jilbab kremnya masih rapi, tapi sekarang sedikit kusut di bagian samping karena pegangan tadi. Istriku mengangkat wajahnya sedikit, bibirnya yang basah dan merah mendekat. Pak Tua menunduk pelan, tangan kanannya naik menyentuh pipi istriku dengan lembut.

Mereka berciuman mesra, lambat pada awalnya. Bibir bertemu bibir, lidah saling menyentuh pelan, mengeksplorasi. Ciuman itu makin dalam, suara kecil ‘smack’ terdengar setiap kali bibir mereka berpisah sejenak, lalu bertemu lagi. Istriku mengerang pelan di dalam mulutnya, “Hmmh…” getarannya terasa sampai ke dadaku.

Tangan kanan istriku turun, meraih penis Pak Tua yang masih keras dan basah. Jari-jarinya melingkari batangnya yang tebal, mengocok pelan dari pangkal ke ujung, ibu jarinya sesekali menyapu kepala penis yang licin. Lelaki bau tanah itu pun mengerang serak di antara ciuman.

“Ahh… Bu… Guru… enak sekali tanganmu…”

^*^