Bab 5
Bab 5
Hukuman Rayner
Plak ....
Tamparan kuat dilayangkan, Rayner emosi sangat emosi. Gadis tak berdaya, gadis lemah seperti Affry haruskah jadi pelampiasannya? Rayner menampar Affry untuk ketiga kalinya, "Katakan yang sebenarnya honey kamu dari mana saja?" Cengkeraman di dagu Affry sangat menyakitkan, "Le-lepas ... hiks ... sakit." Affry berontak, mencoba melepas cengkeraman kuat itu "Katakan Affry!" Affry hanya menangis ia bergumam tak jelas meminta maaf terus menerus.
Kadang kala ego adalah satu sifat yang tak bisa lepas dari setiap manusia. Ego yang kuat menguasai diri Affry jika ia jujur maka semua pasti hancur, pria itu pasti akan memukulinya lebih parah dari sebelumnya. "A-aku ... aku hanya tersesat, hua ...." Affry menangis sesenggukan.
Rayner diam, melepas cengkeramannya, "Maaf sayang aku takut kamu kabur dan meninggalkanku sendiri, jangan pergi lagi tanpa sepengetahuanku ya!?" Rayner memeluk Affry, membagi kehangatan tubuhnya.
Cup
Satu kecupan diterima Affry, Rayner menciumnya sangat lembut dan ciuman ini berbeda dari ciuman sebelumnya. Rayner begitu hati-hati mengecup bibirnya, "Mmm ... mmpphh ...." Entah sejak kapan sekarang Affry hanya mengenakan bra dan cd. "Ahh ...." Affry mendesah, desahan itu malah membangkitkan gairah Rayner.
Affry terlentang di atas kasur, tubuhnya sudah telanjang tak ada sehelai benang pun menutupi aset berharganya "Tengkurap!" nada perintah dan arogan diucapkan Rayner, Affry hanya menurut saja. Dia tidur telungkup di atas kasur, Rayner menyeringai, dengan telaten melepas pakaian dan celana kerjanya. Mereka berdua sudah sama-sama tak memakai kain pada tubuhnya.
Cetar ...
cetar ....
"Akhhh!" Affry menjerit, tubuhnya dipukuli dengan ikat pinggang, "Katakan yang sebenarnya JALANG!! tersesat? kamu pikir penjelasan itu masuk akal?!" Rayner mencambuk Affry dipunggungnya
"KATAKAN!!" suaranya menggelegar memenuhi ruangan kamar sunyi ini, Rayner mencambuknya tujuh kali. Sakit yang dirasa begitu pedih rasanya seperti mau mati saja.
"Maaf ...." memohon dan memohon badannya tak bisa digerakkan
"Puaskan aku!" Rayner menjilati punggung Affry, bekas cambukan Rayner sangat tercetak jelas bahkan sampai melukai kulit punggungnya, jilatan basah Rayner terasa nikmat sekaligus perih. Rayner menjilati punggung Affry terus menerus.
Rayner mulai bosan dengan kegiatannya, sekali tarikan tubuh Affry sudah tersuguhkah di depan pria mesum seperti Rayner, tangan besar itu merambat dan meremas dada Affry keras, kabut gairah menulikannya dari jeritan kesakitan Affry.
"SAKIT!!" Affry mencekal lengan kokoh itu, berusaha menghentikan pergerakan lengan itu tapi apalah daya seorang gadis berumur 20 tahun, ia sangat lemah. Rayner semakin leluasa menyentuh bagian sensitif Affry, segala sentuhan dan remasan dilakukan
"Buka kakimu honey!" Rayner menarik paksa kaki Affry agar terbuka lebar, Rayner turun ke bawah menjilati Vagina Affry "Kamu basah sayang? cairanmu banyak sekali!" Rayner terus menjilati vagina Affry kadang kala dia mau memasukkan dua jarinya ke dalam liang hangat Affry.
"Ahh ... Rayner ... ahhh ...." desahan kenikmatan disuarakan Affry, dia menggelinjang nikmat merasakan rasa gatal itu lagi, rasa ingin dimasuki lagi, rasa ingin sesak di bawah sana
"Katakan apa yang kamu mau hm ...?" Rayner menyeringai, menjilati vagina Affry, memasukkan dua jari ke liang hangat yang basah setia mengeluarkan cairan cinta tak terhitung banyaknya
"Pliss .." Wajah Affry merona merah, matanya sayu, tangannya mencoba meraih tubuh Rayner, "Katakan, aku akan menurutimu sayang." Rayner menghentikan cumbuannya. Affry hilang akal dia butuh 'itu' sekarang, "Aku ingin milikmu mengisiku Rayner!" Wajahnya merah padam menahan malu.
"Nikmatilah." Rayner mencoba memasukkan miliknya, percobaan pertama gagal, "Cih! susah sekali? padahal aku sudah sering memasukimu."
Bless ....
"Ahh ... Rayner!"
"Desahkan namaku sayang, aku ingin mendengar suaramu." Rayner mulai bergerak, mencari kenikmatan yang dinanti, "Aggghhh ... Sempit sekali!" Rayner semakin lama semakin bergerak di luar kendali, kabut gairah telah mengambil kesadarannya. Affry meringis di antara sakit dan nikmat 'Miss v-nya terasa penuh, sangat sesak di bawah sana.
"Yah ... ahhh ... di sana ...." Affry merasakan kenikmatan di satu titik. Rayner tak menghiraukan Affry. Dia terus bergerak sesuai naluri pria-Nya.
"Jepitkan kakimu di pinggangku Affry!" Affry menurut menjepit kakinya ke pingggang Rayner. Sensasi nikmat di rasakan lagi. Junior Rayner menerobos kemaluannya sangat dalam, di rasa sudah menyentuh dinding rahimnya
"Ahhh ...." Desah kelegaan, Affry orgasme kedua kalinya, tapi Rayner masih bertahan. Selera bercintanya cukup kuat Rayner terus menghunjam Affry, Affry yang lemas tak berdaya mulai nafsu kembali Ia ingin disentuh lagi.
"Ahh ... Ray ...." Rayner menghentikan gerakannya, mencabut junior-nya, “Aku ingin bercinta di kursi kerjaku Fry!" Rayner meninggalkan Affry, memasuki ruang kerjanya. Tanpa malu sedang telanjang, dia terus melangkah.
"Rayner ...." kenapa dia malah menikmati dan menuruti Rayner, tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama dengan akal sehatnya.
"Kamu menginginkannya? kemarilah." Affry bangkit menyusul Rayner ke dalam ruangan itu. Di sana Rayner duduk dengan Agung-Nya, bermain dengan laptop, "Apa yang kamu lihat? kemarilah!" Affry melangkah, duduk di atas pangkuan Rayner.
"Apa yang kamu lihat?"
"Lihat ... aku ingin yang seperti itu." Rayner menunjuk laptopnya yang menampilkan adegan surga dunia, "Aku ingin yang seperti itu." Rayner berbisik di telinga Affry. Affry meneguk lidahnya kasar, tanpa pikir panjang dia mulai menyentuh penis besar, berurat milik Rayner mencoba memasukkannya ke dalam liang hangat miliknya. Posisi ini sangat sulit, biasanya Rayner yang memasukkannya tapi sekarang kenapa harus dirinya.
"Susah sekali!" Affry menggerutu.
"Jangan tegang sayang, urut dulu baru masukkan." Rayner menginterupsi Affry, mengajarkan Affry cara yang perlu dilakukan
jleb
Masuk sudah benda besar itu, Affry mulai bergerak liar mencari kenikmatan tersendiri.
“Bercinta di kursi memang jauh lebih nikmat!" Rayner meracau. Mereka berdua terus bersenggama dalam kabut gairah. Bersatu untuk ke sekian kalinya, "Aggghhh ... aku mencintaimu Affry!!" Genjotan Rayner semakin kasar dan kuat, dua alat kelamin yang berbeda saling bertabrakan memberikan kenikmatan tiada tara untuk keduanya.
Tubuh Affry berguncang seirama dengan genjotan Rayner, tubuh mereka berdua di penuhi dengan keringat yang membasahi tubuh. Rayner yang mencumbu Affry tak peduli pada rasa asin di mulutnya akibat menikmati setiap inci tubuh Affry. Lidahnya bergerak liar di puting Affry, menjilatnya dengan begitu erotis yang memberi sensasi nikmat yang tak terucapkan, alunan desahan yang indah mengalun di telinga Rayner.
“Ahh ... Ahh ....” Affry menjerit nikmat, miliknya berkedut ingin melampiaskan semuanya. Rasanya tak dapat dipungkiri Rayner adalah pria yang sangat tangguh di atas ranjang dan di ... kursi. Mereka berdua saling menggenjot dari atas dan bawah.
Affry yang bergerak liar dari atas dengan sedikit bantuan dari Rayner dari bawah memberi sensasi yang sedikit berbeda. Percintaan ini membuat Rayner lupa akan amarahnya dan rasa kesalnya pada Affry berlangsung hilang diganti dengan desahan erotis mereka berdua. Gerakan tubuh yang seirama benar-benar terlihat begitu erotis.
Affry mengejang, merasakan 'itu' lagi. Affry meremas seprei kasurnya kuat, melampiaskan rasa nikmat yang dia rasa, “Ahhgghh ....” Affry dan Rayner mencapai klimaks, Semburan lahar putih yang hangat dan lengket masuk dalam rahim Affry, vagina Affry yang berkedut tadi memberi sensasi tersendiri bagi alat kelamin Rayner.
“Ini luar biasa sayang ....” Rayner menarik kejantanannya, melepas penyatuan mereka berdua, meninggalkan vagina Affry yang terlihat basah dan memerah. Rayner mencium bibir Affry dengan sedikit melumatnya, memasukkan lidahnya dengan menghisap lawan mainnya di dalam sana. Rayner melepas pagutannya, menatap Affry sayu dan berdiri berjalan mendekati ranjang tidurnya, meletakkan sang putri tidur berbaring di sana dengan segala ketenangan yang ada, menarik selimut tebal putih menutupi tubuh telanjang Affry. Rayner melangkah meninggalkan Affry setelah memberi satu kecupan hangat di bibir merah muda Affry dan memakai pakaiannya kembali.
Rayner tersenyum penuh arti saat berjalan menuju kursi kerjanya, memandang kursi itu dengan senyuman aneh dan binar bahagia yang jarang di tampakkannya. Ia seakan lupa masalah yang diperbuat Affry dari pagi tadi. Affry begitu berbeda dengan mereka, Affry adalah gadis yang berhasil memikat hati dan pikirannya, tubuh molek dan semua yang ada pada Affry seperti menjadi magnet yang tak kasat mata, Rayner duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan mata, mencoba mengingat pergulatan panas mereka, “Ahh ... aku ingin lagi.” Gairahnya seolah tak pernah dapat dipuaskan, mata Rayner menganggap sosok Affry yang tertidur di ranjangnya.
Rayner mendesah pelan saat matanya melihat layar laptopnya, warna yang berubah dan gambar yang selalu berganti membuatnya frustasi, Rayner terkadang memandang Affry dari tempatnya duduk sesaat saat melihat laptopnya
Ahh ...
Ahh ....
