Bab 6
Bab 6
Jangan keterusan onaninya
Rayner keluar meninggalkan kamarnya, kakinya melangkah dengan cepat menuju dapur untuk minum air dingin, “Sial! Aku ingin melakukannya lagi tapi Affry sedang lelah dan ... ahh sial! sial!” Rayner menggerutu pelan. Matanya menatap sekitar, “Ternyata mansion Ku sepi juga.” Monolognya.
Rayner kembali melangkah menuju kamar mandi dapur, ia masuk ke sana dengan waswas takut ada yang melihatnya. Dengan langkah perlahan ia memasuki kamar mandi, menatap sekitar toilet dan mulai menanggalkan celananya sebatas lutut. Dengan perlahan tangannya mengambil sabun mandi yang tersedia di kamar mandi, menggosoknya ke jemari kanannya dengan cepat. Buda sabun menutupi sebagian kulit jemari Rayner, jemari Rayner mulai mendekat ke arah penisnya. Menyentuh juniornya perlahan dan semakin lama semakin cepat.
Gerakan tangan yang naik turun di juniornya membuat Rayner menegang, kocokkannya semakin cepat dan cepat, miliknya sudah membengkak dan keras. Jemarinya sesekali meremas kejantanannya yang mengeras, remasan itu memberi sensasi berlebihan bagi Rayner. Alat kelaminnya yang semakin membengkak membuatnya semakin gila terlebih ia sekarang sedang membayangkan Affry mengoral miliknya, mulut basah dan mungil itu pasti sangat panas untuk mengulum miliknya, "Ahh ... Ahh ...." Desahan nikmat terlepas dari mulutnya.
Rayner menatap kejantanannya yang tak kunjung melemas yang ada malah semakin keras dan besar, Kocokkannya bahkan semakin cepat dan untuk yang pertama kalinya Rayner mendapat pelepasannya, "Ahh ... Affry ... Ahh ....!" Pelepasannya sangat nikmat, bayangan Affry membuatnya merasa terbang di awan dan ini benar-benar gila.
"Jangan kebanyakan onani, Brother!" Sebuah suara menyadarkan Rayner dari khayalannya, kepalanya menoleh dan mendapati seorang pria bertubuh kekar menatapnya sinis, "Kau tau? Keseringan onani dapat membuat sperma seseorang tak berkhasiat atau lebih tepatnya tak bermutu!" Rayner masih diam, menatap pria kekar di depannya, pria itu terlihat lebih muda darinya dan hampir menyamai ketampanannya. Dengan setelan tuxedo hitam dipadukan dengan kemeja putih miliknya menambah kesan tampan dan berwibawa baginya.
"Kekentalan spermamu akan berkurang, Brother! dan lepas jemari besarmu itu dari juniormu, berhentilah menggenggamnya." Rayner tersadar, melepas genggamannya dan memakai celananya, "Kapan kau tiba, Rendra?"
Rendra Rawless Rysh tepatnya, adik bungsu dari Rayner Rysh. Rendra sangat berbeda dengan Rayner, Rayner adalah pria kejam, tegas dan otoriter sedangkan Rendra? dia adalah pria yang baik, humoris dan sopan. Kepribadian keduanya sangat bertolak belakang, yang satu baik dan yang satu jahat.
"Baru saja, dan kenapa kau masih melakukan penyakitmu itu?" Rayner mengernyit heran, penyakit?, sejak kapan seorang Rayner punya penyakit, Rayner menatap heran Rendra, "Diamlah bocah, kau datang sendiri?" Rayner mencoba mengalihkan pembicaraan, malunya membahas masalah 'itu' dengan adik kecilnya, "Ya!" Satu kalimat itu membuat Rayner mendengus. Rayner keluar dari kamar mandi, meninggalkan Rendra di depan pintu kamar mandi, berjalan ke ruang tamu di ikuti Rendra di belakang.
"Sudah besar masih saja onani." Rayner menoleh ke belakang menatap adiknya tajam, "Berhenti mengatakan kata onani itu, bocah!" Rendra hanya tersenyum tipis menanggapi Rayner. Kakinya melangkah mengikuti Rayner menuju ruang tamu. Manik mata hitam legamnya menatap sekeliling rumah sang kakak, "Tak berubah? ini masih sama seperti dulu, kak! dan di mana istrimu, Affry?"
Rayner terdiam diposisi, kenapa Rendra menanyakan Affry? Rayner mengatur nafas beratnya, "Dia sedang tidur, Rendra! Kau ingin minum apa?" Rendra mengernyit, mencoba berpikir apakah ia harus minum dulu atau langsung tidur di kamarnya. Rendra tersenyum menampilkan gigi putih bersihnya, "Tidak! aku ingin tidur saja." Rendra meninggalkan Rayner diruang tamu menuju kamarnya yang biasa ia tempati saat datang ke mansion kakaknya.
Rayner mendengus kesal memilih kembali ke kamarnya menemui Affry, Kakinya menaiki gundakan tangga, membuka pintu kamar besarnya. Di ranjangnya Affry tidur dengan begitu lelapnya padahal tadi saat Rayner menyetubuhinya, gadis itu berontak dulu dan bergerak dengan liar tapi semua tergantikan dengan kenikmatan yang tiada tara.
Selama seminggu setelah pernikahan Rayner tak pernah absen untuk mencicipi setiap inci tubuh Affry, terkadang saat di kantor pun dia merindukan gadisnya. Tapi kejadian tadi pagi membuatnya begitu murka, Affry berani-beraninya kabur dari pengawasannya dan bahkan membodohi semua pengawal pribadinya, dia memperlakukan Rayner seperti bocah, bertindak gegabah tidak baik untuk gadis sepertinya.
Dengan langkah tegas dan seulas senyum manis di wajahnya, Rayner mendekat mengambil posisi tidur di samping Affry tepat menghadap ke arah wajah Affry. Rayner mengulurkan jemarinya, mengelus setiap inci wajah Affry, mulai dari rambut, mata, hidung, pipi, dan yang terakhir bibir mungil merah yang sekarang tampak membengkak dan memerah. Rayner tersenyum lagi saat mengingat Affry menjerit kenikmatan di bawahnya dan mereka bahkan melakukannya di kursi kerjanya.
"Maaf sudah memukulmu sayang." Rayner mencium dahi Affry lembut penuh perasaan, luka di punggung Affry sudah diobatinya, "Seandainya kau tidak membuat masalah ini tidak akan terjadi sayang ..." Rayner mengecup bibir Affry, hanya mengecup tak lebih. Rayner menarik selimut yang menutupi tubuh Affry, ikut menyelusupkan tubuhnya ke dalam selimut dan memeluk Affry erat. Menyalurkan seluruh kehangatan dalam tubuhnya. Sesekali dirinya meremas dada Affry dan mengemutnya sebentar lalu tidur.
Rayner begitu mencintai Affry, tak seorang pun dapat mengambil gadisnya. Affry miliknya hanya miliknya, Rayner yang berkepribadian kasar selalu membuat Affry ketakutan dan merasa jengkel sesekali. Ke keras kepalaan Affry selalu berujung pertengkaran tapi akhirnya pasti pergulatan panas di ranjang dan yang kalah selalu Affry. Affry tersenyum dalam tidurnya, dia tak sepenuhnya tidur. Affry mengepalkan tangannya, kali ini dia tak akan mencoba melarikan diri lagi, tapi ia akan menghancurkan Rayner. Dengan rencana yang tiba-tiba saja terpikirkan olehnya pasti berhasil untuk membuat Rayner melepasnya dan rencana itu harus berhasil.
Affry akan berpura-pura mulai menerima Rayner dan menghancurkan pria itu dari dalam. Seminggu pernikahan mereka benar-benar membuat Affry membenci sosok Rayner, kehormatannya yang direbut paksa, kekangan tak boleh keluar rumah, harus selalu menuruti keinginan Rayner dan tak boleh menentang Rayner. Affry yang tipikal pembenci jadi sangat mudah untuk menanamkan kebencian dalam dirinya, mulai dari besok Rayner akan hancur karena cintanya sendiri, seorang Rayner akan terpuruk dalam cinta, seorang Rayner akan menderita dan itu di mulai dari besok.
Rayner akan hancur oleh cintanya sendiri, Affry memilih kembali tidur dan melancarkan rencananya esok hari. Besok akan jadi hari yang bersejarah untuk mereka berdua, Affry bertekat akan menuruti keinginan Rayner dan menjatuhkan pria itu sejatuh-jatuhnya ke jurang maut tanpa ada Satu pun orang akan menolongnya bahkan keluarganya sendiri tak kan mampu, 'Tunggu saja Rayner Rish!' ucapnya dalam hati.
