Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

BAB 4

Lagi dan lagi

Hiks

Menangis tak ada gunanya, apa yang dijaga selama 20 tahun sudah lenyap. Satu-satunya harta yang dimiliki telah direnggut paksa, kenikmatan yang seharusnya dirasakan suaminya di masa depan sudah hilang, dia kotor, dia hina, dan dia begitu menjijikkan. Sebuah kebencian mulai terpendam dalam hatinya, dia tidak akan lupa terhadap pria itu.

Krek

Suara pintu terbuka membuat tubuh mungilnya menegang seketika. Apakah itu pria bajingan yang sudah menidurinya? Segala macam tanya terpikirkan olehnya hingga suara berat dan serak itu memanggil namanya, "Affry sayang?" Affry memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

"Ka-kau!?" Affry terkejut untuk sesaat dan terdiam kemudian saat dia memandang pria itu. Tubuhnya sangat proporsional dengan memakai celana panjang hitam tanpa baju atau lebih tepatnya bertelanjang dada dan memamerkan otot perut yang sangat menggiurkan 'Apakah tubuh itu yang sudah menunggangiku semalam' batinnya.

"Sudah puas memandang tubuhku sayang?" Pria itu menyadarkan Affry, Affry secepat kilat memalingkan wajahnya dan semburat merah mulai menghiasi pipinya, "Apa kamu mau mandi?" Pria itu bertanya tapi Affry tetap diam, "Atau mau mandi bersama?" Affry melotot dan mulai bangkit dari kasur, sebelum sampai di kamar mandi dirinya berhenti di samping pria itu dan berkata, “Tuan Rayner Rysh, saya tidak butuh bantuan anda! saya bisa mandi sendiri." Lalu meninggalkan Rayner sendirian di sana, Rayner mengepalkan tangannya dia bersumpah akan menaklukkan gadis nakal itu.

***

Affry bosan sudah dua jam di duduk di sofa dalam ruangan Rayner. Ponsel tidak punya, makanan tidak ada, benar-benar membosankan bukan? "Affry kemarilah." Rayner mengulurkan tangannya menanti tangan lain untuk menggenggam jemari besar dan hangat miliknya.

Affry masih terdiam dan tidak beranjak dari tempat semula. Berbagai spekulasi mulai bermunculan di kepala cantiknya 'Apakah pria itu akan memperkosanya lagi atau menyuruhku mengoral miliknya?' Affry berjalan mendekat saat sudah tersadar dari lamunannya

Rayner menarik tangan Affry dan memposisikan gadis itu untuk duduk di pangkuannya, "Cantik ... kau selalu cantik sayang," Rayner menarik tengkuk Affry dan melumat bibir merah itu dengan sangat ganas seolah tidak ada hari esok untuk menikmatinya

"Mmmpth ...." Ciuman tiba-tiba dan dominan membuat Affry muak, Affry menggelengkan kepalanya otomatis membuat ciuman Rayner terlepas, "Kenapa?" Rayner memandang Affry tajam dan kembali memagut bibir itu saat sang wanita tidak membalas ucapannya.

Sekarang entah siapa yang memulai Affry sudah telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya sedangkan Rayner hanya menanggalkan celana bagian bawahnya beserta boxer miliknya.

Affry terbuai dan larut dalam ciuman maut pria itu, dirinya tidak sadar bahwa dia sudah telanjang. Rayner kemudian mulai menjilati payudara Affry, sebelah kanan di hisap dengan pelan sedangkan sebelah kiri di remas pelan oleh Rayner dengan tangan kanannya. Affry benar-benar terbuai dan lupa segalanya, yang diinginkannya hanya satu yaitu menuntaskan gairahnya.

Bless

Sekali sentakan di coba tapi Rayner belum bisa memasuki liang hangat Affry, sentakan ketiga akhirnya berhasil. Penis besar, panjang dan berurat milik Rayner sudah berada dalam tubuh Affry

"Ahh ... enak ...." Affry mencengkeram bahu Rayner yang sudah tak berbentuk.

Rayner mulai menggoyang pinggulnya ke kanan dan kiri, atas dan bawah. Tangan kekarnya mencengkeram pinggul Affry. "Sempithhh ... Milikmu saangath sempppithh sayang ... ahh ... ahhhh ...."

Rayner terus menusuk dan menggoyangkan tubuh Affry. "Ahh ... lebih dalam ... ahhh ...." Affry menjerit, orgasme pertamanya keluar, ini benar-benar gila, bercinta di kantor dan itu di kursi sang CEO, gairah keduanya meledak dalam percintaan kali ini bahkan Affry sekarang secara terang-terangan mulai bernafsu pada sex mereka kali ini. Rayner merasa akan keluar, dia menghentak pinggulnya dengan kasar agar masuk lebih dalam lagi, "Aaaarrrggghhhh ... So sexy ahh ...." Rayner mengeluarkan spermanya di dalam rahim Affry, ini adalah percintaan ternikmat dari yang sebelumnya.

"Aku ingin bercinta di sini selalu bersamamu!" Rayner mencabut kejantanannya dan mendudukkan Affry di meja kerjanya, kemudian mengambil tisu untuk membersihkan spermanya yang keluar karena milik Affry tak muat menampung semua benihnya, "Kamu sangat cantik ...!" Rayner memakaikan pakaian Affry dan menggendong gadisnya ke kamar pribadi miliknya di dalam kantor itu.

Affry memejamkan matanya, dia lelah dan butuh istirahat. Rasa malu menghinggapi dirinya saat ini, bagaimana bisa dia menikmati percintaan gila itu dan itu dalam posisi duduk, dia sungguh malu, Affry memejamkan mata untuk tidur demi menghilangkan rasa lelah dan malunya.

Rayner mendekat dan membisikkan sesuatu, "Setelah bangun nanti aku ingin lagi." Affry meneguk ludahnya kasar dan membuka kelopak matanya menatap tajam Rayner, wajah mereka sangat dekat meninggalkan jarak dua centi saja

Rayner menunjukkan seringai mesumnya dan meremas dada Affry lembut, "Aku ingin melumatnya lagi sayang." Affry menggelinjang, "Ahh ...." Rayner tersenyum senang, tingkah dan ekspresi Affry malah membuat libidonya naik lagi padahal baru tadi dia bercinta dengan gadis ini. Libido yang naik malah membuat Rayner semakin gila, dia melakukannya lagi dan kali ini harus percintaan yang singkat sebab 30 menit lagi dia harus menghadiri sebuah rapat penting dengan klien-Nya.

Rayner tak 'kan lupa akan Affry, Affry adalah gadisnya dan selamanya akan seperti itu. Affry akan menjadi yang terakhir meski dia bukan yang pertama tapi Rayner pastikan dia akan menjadi yang terakhir. Affry adalah sumber bahagia Rayner, Affry adalah kehidupannya, Affry adalah miliknya tanpa ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Sekali menjadi milik seorang Rayner pasti akan tetap menjadi miliknya.

“Affry? Aku ... aku mencintaimu sayang.” Rayner memeluk Affry erat lalu menggendongnya ke kasur untuk beristirahat setelah pergulatan panas keduanya.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel