Bab 3
BAB 3
Affry menolak atau menikmati?
"Le-lepaskan ... aku tidak mau, lepas!"
Seorang gadis memberontak dan melempari semua barang yang ada di dekatnya ke arah pria yang ingin memperkosanya. Pria bermata biru penuh dengan sedikit warna kelabu yang di gabungkan menjadi satu itu tersenyum menatap gadisnya yang memberontak padanya. "Berteriaklah Affry! semakin kau bersuara dan membentakku, itu membuatku jadi horny padamu sayang."
Gadis yang bernama Affry itu terdiam dan menatap tajam pria yang membawa paksa dirinya dari rumahnya, Affry menatap sebuah vas bunga di sebelahnya, dengan cekatan dirinya memukul kepala pria itu.
"Fuck ...!"
Rayner menyentuh kepalanya dan melihat ada sedikit darah di tangannya. Emosi Rayner meledak dan mulai lebih bersikap kasar pada Affry. Rayner menarik paksa Affry dan menjambak rambutnya. "Dasar jalang! beraninya kau memukul kepalaku, sialan!" Affry menangis, belum pernah ada yang menghinanya dengan kalimat rendah seperti itu, dirinya bukanlah jalang,
Srek
Sekali tarikan dari Rayner dapat merobek dress hitam yang dikenakan Affry, sekarang yang tersisa hanyalah bra dan celana dalam yang memiliki warna sama dengan pakaiannya.
"Ahh ...."
Rayner meremas payudara mungil Affry dan membuka bra hitam yang menghalangi sentuhannya itu, Affry benar-benar sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Untuk pertama kalinya, dirinya telanjang di depan seorang pria dewasa yang memiliki kemesuman tingkat dewa. Rayner meremas dada Affry yang sudah tidak memakai penutupnya. "Sangat mungil, Affry payudaramu masih mungil sayang, aku akan membantumu mengubahnya! jadi jangan melawan ya sayang!” Affry tersadar dan mulai berontak, segala cara di usahakannya agar terlepas dari sentuhan Rayner.
Rayner menggendong Affry dan membaringkan tubuh mungil Affry di tengah-tengah ranjang, melakukannya di kursi sangat sulit jadi lebih baik di ranjang terlebih dahulu. Rayner mengurung Affry di bawah kungkungannya. "Le-lepaskan aku bajingan!" Affry berteriak tepat di depan wajah Rayner.
Rayner menatap tajam manik mata Affry dan kemudian mencium bibir merah dan selalu menggairahkan itu. Ciuman itu awalnya lembut semakin lama malah berubah menjadi kasar. Rayner berusaha membuat Affry membuka mulutnya. Affry tetap menutup mulutnya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya agar ciuman sialan yang di bencinya itu terlepas, tapi Rayner tetaplah Rayner, dia punya seribu cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Rayner menggigit bibir bawah Affry, "Akh ...!" Rayner tidak melewatkan kesempatan emas itu, dia langsung memasukkan lidahnya dan mencari pasangannya. Rayner memaksa Affry bertukar saliva. Ciuman itu terus berlanjut dan berpindah ke bagian lehernya.
"Ahh ... Hen ... ahhhh tihh... kan ... ahhh ...!" Affry terus meminta agar Rayner berhenti.
Rayner menghentikan cumbuannya di sekujur tubuh Affry, dengan terburu-buru Rayner melepas pakaian dan celananya, Rayner sudah sama seperti Affry , mereka tidak mengenakan sehelai benang pun di badannya.
Rayner kembali memagut bibir Affry, kemudian turun ke arah kedua payudaranya, Rayner menghisap payudara kanan Affry sementara sisi lainnya diremas lembut oleh Rayner dengan tangannya. Rayner sesekali menggigit kecil payudara Affry.
"Payudaramu sangat mungil sayang ... tapi rasanya sangat nikmat. Kau milikku selamanya milikku!" Rayner menghisap kembali mainan barunya. ya! mainan baru, sekarang benda kenyal itu adalah miliknya.
Affry menegang dan merasakan seperti ada yang ingin keluar dari dalam dirinya. "Ray ... akuhhh ... mau pipishhh ...." Affry merapatkan selangkangannya dan mencoba mendorong tubuh kekar Rayner dari atas tubuhnya.
"Keluarkan sayang ... tidak apa-apa!"
"Ahhh ...." Orgasme pertama Affry, Rayner langsung turun dari atas tubuh Affry, tangannya menggenggam paha mulus Affry dan mencoba membuka lebar paha putih dan mulus itu.
"Kau basah sekali sayang!" Rayner mulai menjilati orgasme pertama Affry sampai habis, Affry merasa geli di bagian selangkangannya, bagian intinya terasa berkedut dan Affry kemudian menegang kembali, Affry orgasme lagi dan itu karena perbuatan Rayner yang sedang menjilati inti kewanitaan Affry, sesekali Rayner memasukkan lidahnya ke dalam liang senggama yang hangat itu.
"Aku akan ke intinya sekarang honey!" Rayner beranjak dari posisinya.
Affry yang sudah kehilangan kewarasannya malah semakin membuka lebar kakinya agar Rayner cepat memasuki dan menghunjamnya. "Ternyata kamu menyukai permainanku ya sayang!" Rayner tersenyum dan meremas dada Affry sambil memagut bibir merah yang sudah bengkak akibat ulahnya.
"Rayner ... ce... ahhh ... pathh...!" Rayner tertegun mendengar permintaan gadis yang selalu menolaknya itu. "Kamu suka?" Affry mengangguk dan menarik leher Rayner dan mencium bibir Rayner rakus.
Rayner tak menyia-nyiakan kesempatannya, dia membuka lebar selangkangan Affry dan memaksa juniornya agar masuk ke dalam liang hangat milik Affry. Rayner memasuki Affry secara kasar. Affry hanya bisa mencakar dan menjerit kala ada benda asing yang masuk ke dalam kewanitaannya.
Rayner mengerutkan keningnya saat merasakan sebuah penghalang di dalam sana. "Sayang maaf." Rayner menyentakkan penisnya untuk menerobos milik gadisnya, "Akh ... Sakit! SAKIT." Affry menjerit dan memukul punggung pria yang sedang menghunjamnya.
Rayner menatap manik mata Affry, Ia mengusap air mata Affry dan mencium kedua kelopak matanya. "Sst ... jangan menangis sayang, sakitnya hanya sebentar! Tenanglah ...." Rayner mulai bergerak setelah Affry terbiasa dengan kejantanannya yang cukup besar dan panjang, Affry mulai mendesah kenikmatan saat Rayner menggerakkan tubuhnya.
"Ahhh ... hentikan!" Affry merasakan kenikmatan duniawi yang tak ada duanya, tapi ini salah, semuanya salah dirinya tak seharusnya menikmati perbuatan tercela ini. Keperawanannya direnggut paksa tapi dia malah menikmatinya.
"Milikmu ... sa ... ngathh ... semhh ... pithh ...." Rayner mendesah, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar sambil bergerak maju mundur di atas tubuh Affry.
Tubuh mungil Affry bergerak maju mundur sesuai irama gerakan yang dilakukan Rayner di atas tubuhnya, "Ahh ... ahhh ... Nikmat! kau meremasku sayang!" Affry menatap Rayner dan mencoba mendudukkan tubuhnya, ia ingin melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana. Affry menelan ludahnya kasar saat melihat kejantanan Rayner keluar-masuk dari miliknya.
"Ada apa sayanghh ... ahh ... penisku sangat hebat bukan? aku sudahhh membuatmuhhh Orgasme tiga kali ...." Rayner bergerak semakin cepat saat ia akan mencapai orgasme pertamanya.
"Ahh ...." Rayner mendesah setelah mengeluarkan spermanya, Affry merasakan sesuatu yang hangat memenuhi bagian inti tubuhnya, sesuatu yang hangat itu mengalir keluar karena miliknya tidak sanggup menampung semuanya.
"Ahh ... kau sangat nikmat Fry!" gumam Rayner di ambang kenikmatan yang sedang di alaminya.
hiks
Hanya tangisan yang memenuhi ruangan menjijikkan yang telah merenggut kesucian gadis polos seperti Affry, hatinya hancur, batinnya tersiksa. Bagaimana nanti Affry akan menghadapi orang tuanya? Dia sangat menderita.
"Akh ... aku membencimu!" Affry menatap tajam Rayner yang sedang menikmati orgasmenya, "Terserah sayang! aku tidak peduli." Rayner mencabut kejantanannya dari liang hangat itu dan berbaring di sisi lain ranjang sambil memeluk erat Affry. Affry makin terisak dalam pelukan bajingan yang sudah menodai dirinya, dia menangis dalam diam, dia sangat lelah, "Aku mau pulang ... Ku mohon! pulangkan aku!" Affry memohon dalam pelukan Rayner, Rayner tetap diam dan mempererat pelukannya.
