Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

BAB 2

Affry Rysh? Sejak kapan?

Gaun putih tanpa lengan melekat begitu indah di tubuh Affry, dia yang tadinya terlihat biasa menjadi semakin cantik, dengan polesan sedikit make-up dan pewarna bibir yang di torehkan di bibirnya menambah kesan untuk wajah cantiknya, matanya yang berwarna hitam legam dengan tatapan sendu membuat dirinya seolah-olah adalah gadis yang rapun dan lembut, rambut yang di cepol memperlihatkan leher jenjang putih mulusnya.

"Affry! apa yang kau lakukan?" Devon-ayahnya menatap Affry garang, bagaimana tidak putrinya malah mencabuti bunga pengantinnya, Devon menarik bunga itu secara paksa membuangnya ke tong sampah.

"Jangan buat papah marah, Affry! Sebaiknya kau cepat merias diri."

"Aku sudah selesai ...!"

Affry mengepalkan tangannya, merasa marah pada Devon ayahnya. Kenapa ayahnya setega itu, menjodohkannya dengan orang yang tidak di kenalnya sama sekali, ayahnya seperti orang zaman dulu saja. Pria itu juga sangat aneh, mereka kan baru sekali bertemu kenapa malah menyetujui pernikahan segampang itu, bukankah seharusnya mereka berdua menjalin teman lebih dulu, kalau merasa cocok maka tunangan dulu, ini malah langsung nikah.

"Ayo!" Devon menarik tangan putrinya, tidak lupa dia juga mengganti bunga rusak itu. Affry hanya diam, mengikuti setiap langkah Devon, 'rasanya aku terlihat seperti putri yang di jual' pikirnya.

Pintu bercat putih gading di depan Affry terlihat seperti sedang menantinya untuk di lahap segera, kakinya gemetar sedikit, segala doa dipanjatkan untuk memberinya rasa percaya diri. Dibalik pintu itu ada pria yang akan menjadi suaminya, pendamping seumur hidupnya, pria itu pasti akan mengaturnya sesuka hati dan Affry tak suka pada orang seperti itu.

Pintu itu terbuka, Devon menuntun Affry melangkah, berusaha membuat sang putri terlihat anggun dan berwibawa, "Angkat dagumu sayang." Affry menurut, mengangkat dagunya menunjukkan martabatnya.

Pria yang akan menikah dengan Affry terlihat sedang menunggunya di sana dengan berbalut jas putih senada dengan warna gaun putihnya, penampilan pria itu sangat mengesankan, tapi sampai sekarang Affry tak tau nama pria itu.

"Tuan Rysh, saya serahkan putri kami pada anda, tolong jaga dan bahagiakan dia." Tangan mungil Affry di letakkan di atas tangan pria itu, jemari besarnya menggenggam jemari Affry begitu kuat.

"Namaku Rayner Rysh, mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Ray, Nyonya Affry Rysh." Rayner tersenyum, mencium telapak tangan Affry. Affry hanya diam dia kaget, pria ini baru saja menyebut namanya dengan embel-embel Rysh di belakang nama dan satu lagi, ia baru tau nama calon suaminya ternyata Rayner.

Tapi Affry tak peduli, Rayner atau apalah namanya itu tak akan bisa membuatnya tunduk, dia adalah Affry. Semua keinginannya akan terwujud, 'lihat saja aku akan membuat kau tak tahan dengan semua sikap dan perangaiku, pria tua!' Affry tersenyum sinis.

Pengucapan janji suci di mulai, Rayner mengucapkan janji sucinya begitu tegas, "Saya akan selalu setia dan mendampinginya baik itu susah maupun bahagia, saya pasti akan selalu di sisinya!" Affry menatap jengah Rayner dan ia sedikit ragu mengucapkan semua janji itu, dia tak ingin menikah seharusnya sekarang ia mendaftar di sebuah kampus bukan berakhir menjadi seorang istri, harusnya dia jadi wanita karier dulu baru memikirkan pernikahan, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, tak bisa di cegah lagi. Pupus sudah harapannya untuk pergi ke Jepang, mencari kerja di sana dan menemui perusahaan pembuat anime, siapa yang tidak kenal Jepang? Jepang negara yang memproduksi anime atau manga yang sudah marak ke berbagai negara termasuk Russia, Affry adalah salah satu wibbu akut yang bercita-cita untuk menginjakkan kaki di sana.

Tapi itu hanya mimpi belaka, ia mulai sekarang harus memasak, membersihkan rumah dan melayani suaminya Rayner, itu kegiatan yang sangat membosankan. Tapi Bukan Affry namanya, dia pasti mencari jalan keluar bukankah mereka bisa bercerai? tapi harus Rayner yang menuntut cerai dirinya, agar ayahnya tak marah.

Setelah pengucapan janji suci usai, Affry lebih memilih menjauh dari keramaian, mengambil minuman yang di sajikan di acara nikahnya, minuman itu sangat cantik dengan warna hijau lumut, indah bukan? Tangan lentiknya memegang gelas dengan anggun, matanya menatap sekitar 'Ke mana pria itu' pikirnya.

"Mencariku?" Affry kaget, matanya melotot. Bagaimana pria itu bisa sedekat itu dengannya, bahkan memeluknya dari belakang begitu intim, dan ... di bawah sana Affry merasa ada sesuatu yang mengeras dan sedang digesek-gesek ke arah pantatnya.

"Apa yang kau lakukan, Ray?" Affry meneguk ludahnya kasar, tangannya mencoba melepas pelukan Rayner, tindakan Rayner semakin menjadi saat mendengar suara Affry, dia bahkan mulai mendesah, "Ahh ... aku menginginkanmu malam ini Affry, ngh ...." Rayner benar-benar tak tau malu, ini masih di tempat umum dan dia sudah ereksi, Affry sangat malu, banyak mata yang melihat ke arah mereka.

"Aku tidak akan melayanimu Ray, aku tidak mau, dan lepaskan pelukan menjijikkanmu ini!" Affry meronta, Rayner melepas pelukannya, tersinggung dengan ucapan Affry. Pelukan menjijikkan? Apakah dia orang yang menjijikkan? Dengan kasarnya Rayner menarik pergelangan tangan Affry dan menatapnya tajam.

"Menjijikkan katamu? Huh ... Kau tidak salah? Bersyukurlah aku yang membelimu dari ayahmu yang tamak itu, seharusnya kau sekarang menjadi istri dari pria tua di sana." Rayner menunjuk seorang pria tua yang sedari tadi menatap ke arah mereka. Pria itu selalu menatap Affry seolah menelanjanginya secara tak langsung.

Affry mendengus kesal, memilih meninggalkan Rayner. Rayner tersenyum sinis menatap kepergian Affry, memilih pergi menyambut tamunya yang lain. Rayner melangkah mencari keberadaan ayah dan ibu mertuanya, ingin membahas perjanjian mereka berdua, "Ayah!" Panggilnya. Pria yang dimaksud Rayner menoleh, tersenyum tulus menyambut dirinya.

"Ayah mertua, bukankah sebaiknya anda bergegas pergi dari acara ini, itu adalah perjanjian kita bukan." Rayner menatap rendah Devon ayah mertuanya, rasanya atmosfer di sekeliling mereka sangat mencekam terlebih Rayner mengucapkan kalimat itu di depan beberapa kolega bisnis Devon. Wajah Devon memerah menahan malu sedangkan istrinya hanya menunduk tak berani menatap Rayner sekalipun.

"Ayah mertua?" Rayner menegaskan sekali lagi, ia tak suka mengulang kalimatnya tapi untuk yang satu ini dia harus mengulangnya, Terpaksa memaksa kedua orang tua Affry untuk segera pergi sebelum acara selesai.

"Baiklah nak, kami akan pergi dan ya ... papah titip Affry padamu ya! Dia itu putri kesayangan kami." Devon tersenyum kecut, pergi menarik istrinya meninggalkan tempat itu, ia tak sanggup menahan malu diusir terang-terangan oleh menantunya sendiri.

Rayner tersenyum penuh kemenangan, acara ini sebentar lagi berakhir dan jam sudah menunjukkan pukul 19:45 , sebentar lagi malam mereka berdua akan tiba. Acara pernikahan mereka berakhir dengan lancar, para tamu mulai pergi meninggalkan tempat pernikahannya berlangsung, Rayner menarik Affry menuju mobil kesayangannya dan Affry adalah orang pertama selain dirinya yang menaiki mobil Ferrary-nya.

Sesampainya di kediaman Rayner, "Turun!" Affry menoleh, turun dari mobil meninggalkan Rayner sendiri di sana, "Imut ...!" Rayner mengikuti Affry dari jarak cukup jauh, mereka berdua memasuki mansion Rayner.

"Kamarnya di sana." Rayner mengajak Affry menaiki anak tangga di depan mereka, mengajak Affry memasuki kamar mewahnya. Affry terhenyak menatap kamar Rayner yang akan menjadi kamarnya. Kamar itu terlihat sangat kuno dengan desain yang cukup menyeramkan. Di setiap sudut terdapat ukiran kuno dan lukisan kuno yang dipajang, warna dinding kamar ini juga sangat horor, Biasanya bagi pria seumuran Rayner kamarnya pasti bernuansa putih atau hitam tapi ini berbeda, warna dindingnya berwarna merah darah dan kasurnya juga sama.

"Kau siap?" Affry terkejut, tubuhnya menegang, Rayner sedang memeluknya erat dan mengecup lehernya yang terbuka, "Le-lepas." Affry meronta, mencari celah lepas dari pelukan Rayner.

"Ahh ... Lepas!" Affry mendesah, memohon untuk di lepas, dia belum siap untuk melakukan itu dan dia tidak menyukai Rayner, "AKU BILANG LEPASKAN!" Rayner terkejut, pelukannya meronta dan ...

Plak

Satu tamparan mengenai pipi Rayner, Rayner terdiam menatap Affry heran dan seketika tatapannya menjadi tajam, "Beraninya kau!" Rayner mencengkeram dagu Affry, mencium Affry kasar.

"Aku awalnya ingin bersikap lembut tapi sepertinya kau lebih suka yang kasar?" Rayner marah besar, dia menarik tangan Affry kasar, menjatuhkan tubuh Affry kasar di kursi dekat ranjangnya, melucuti pakaian Affry dan mengoyak pakaian dalamnya. Rayner kalang kabut, lekukan tubuh Affry membuatnya bernafsu. Dengan cepat dia melepas semua pakaiannya juga, mencium Affry kasar dan meremas payudaranya sesekali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel