Bab 6 semakin berubah
Pagi menjelang meninggalkan pekat malam, usai shalat subuh, bunga mempersiapkan baju kantor suaminya, lalu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi dan juga susu buat dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, meski pun di rumahnya ada seorang asisten tapi bunga selalu menyiapkan kopi hangat untuk suaminya sendiri.
Tak lama Nity bangun ia teriak nangis.
"Mama …." Teriak nity dari kamarnya. Bunga dan bella serentak memburu ke kamar nity.
"Sayang kamu kenapa Nak?" Tanya bunga langsung mendekap tubuh putrinya kemudian ia membanya keluar.
"Nity kenapa Bunga?" Ujar bella, bunga hanya menggeleng pelan sambil mengayun-ayun nity yang berada di pelukkannya.
"Nity kenapa Ma?"
"Gak apa-apa Pah, Nity cuma mimpi buruk! Oh ya Mas, bajunya sudah aku siapin di atas sofa." Ucap bunga pada suaminya, cahaya mengangguk sebari mengelus rambut istrinya, kemudian ia bergegas kekamarnya untuk bersiap berangkat ke kantor.
Usai berpakaian cahaya turun kebawah untuk sarapan, bella pun sudah rapi dengan sebuah koper yang ia bawa di tangan kirinya.
"Bell, maafin Mas ya, gak bisa nganter kamu, takutnya bunga curiga kalau aku bersama kamu terus." Bisik cahaya dengan melirik kiri kanan, takut bunga melihatnya, bi ijah yang sering memergoki perselingkuhan itu, lagi-lagi ia harus melihat kemesraan bella dengan cahaya untuk yang ke sekian kalinya. Bi ijah menggelengkan kepalanya begitu ingin ia menegurnya, tapi karena bi ijah hanyalah seorang pembantu di rumah itu, jadi tidak berhak untuknya ikut campur urusan mereka.
Bella hanya mengangguk dengan senyuman manja.
"Bella, kamu yakin mau pergi sekarang?" Tanya bunga pada bella yang masih berdiri memegang sebuah kopernya.
"Ya, bunga gue yakin. Yakin banget!" Sahut bella seraya duduk di kursi dan mengambil sepotong roti untuk sarapan, di ikuti oleh bunga dan cahaya, nity masih malas untuk sarapan ia cuma minum susu hangat setelah itu nity bermain sama bi ijah.
"Ya, sudah nanti biar mang diman ya, yang antar kamu?"
"Gak usah Bunga, gue naik taxi aja, gak enak ngerepotin loe terus!" Tolak bella.
Cahaya pamit sengaja pergi lebih awal untuk berangkat kerja. Tingkah cahaya mulai aneh di mata bunga kali ini, sejak bunga menemukan wangi parfum yang berbeda, bunga curiga bahwa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya.
Kini tinggal bella yang masih nunggu taxi online di depan rumah bunga tak lama taxi datang, bella pamit kepada sahabatnya, bunga menatap kepergian bella sepintas ia mencium bau wangi sama persis dengan yang ia temukan di baju suaminya waktu itu.
Apa ia ini wanginya bella?
Gumam bunga lirih, segera menepis kecurigaan itu. Bella sahabatnya dari kecil tidak mungkin ia berbuat setega itu terhadapnya.
***
Cahaya sengaja nunggu bella di tengah perjalanan ke kantornya, beberapa menit kemudian taxi yang di tumpangi bella berhenti tepat di depan mobil cahaya, bella turun dari taxi di sambut oleh cahaya, bella masuk ke mobilnya cahaya kali ini mungkin kisah perselingkuhannya kali ini masih belum ada yang mengetahui, tapi bisa kah mereka untuk bersembunyi sampai nanti. Entahlah!
Mobil berhenti di depan rumah kontrakkan yang sangat mewah dan besar, kontrakkan yang paling elit dan hanya orang-orang kalangan atas saja yang mampu menempati kontrakkan seperti itu, cahaya benar-benar sudah di tutup mata hatinya oleh cinta bella hingga ia tak peduli semahal apa pun kontrakkan itu asalkan bella bahagia. Cahaya mulai lupa dengan seorang putri pertamanya yang sangat ia sayangi, ia mulai lupa hari-hari libur bersama anak dan istrinya. Sejak bella keluar dari rumah bungga cahaya lebih banyak menghabisakan waktunya bersama selingkuhannya di banding sama keluarga kecilnya.
***
6 tahun telah berlalu, kini nity semakin besar ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan mandiri, hari pertama nity sekolah TK ia merengek minta di anterin sama papa dan mamanya, namun entah kenapa cahaya selalu tidak ada waktu untuk nity atau pun bunga bahkan sebuah ponselnya pun kini tidak pernah lepas dari tangannya.
"Pa, hari ini Nity pertama masuk sekolah, boleh gak Ninty di antarnya sama papa dan mama?" Tanya Nity dengan pandangan sangat berharap kedua orang tuanya bisa menemaninya untuk hari ini saja.
"Nity, hari ini papa banyak urusan di kantor sayang, Nity sekolahnya di antar sama mama aja ya? Papa janji nanti kalau papa sudah tidak sibuk lagi, papa anterin Nity ke sekolah!"
"Papa janji mulu," Sahut nity manyun ia merasa kenapa cahaya begitu jauh dengan anaknya.
"Sayang, kamu gak boleh gitu sama papa. Nity harus ngertiin papa ya, Nak! Nity kan anak pintar." Timpal Bunga seraya mengelus lembut pundak putrinya, bunga berusaha menghibur nity supaya tidak berfikir yang macam-macam tentang cahaya meski sedikit sakit di dalam batinnya namun bunga tetap berusaha kuat demi sang buah hati.
Cahaya pergi tanpa perasaan, sedikit pun ia tidak mempedulikan permintaan putri pertamanya.
Bunga menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar, entah kenapa akhir-akhir ini suaminya suka berangkat terlalu pagi, bahkan kadang ia suka bilang kalau ia akan sarapan di kantor saja.
Nity berangkat ke sekolah ia hanya di antar sama bunga, nity sangat kesal sama cahaya papanya.
"Ma, kenapa ya belakangan ini kok papa beda banget sama Nity, papa gak sayang ya sama Nity?" Ucap putri kecil, sepertinya kangen dengan bercanda bersama cahaya.
"Nity sayang, anak mama yang paling pintar! Papa kan tadi sudah bilang sama nity, kalau sekarang papa sibuk banget di kantornya sayang. Nity kan masih punya mama yang antar ke sekolah." Jawab bunga menghibur anaknya, bunga tidak ingin anaknya berpikiran yang tidak-tidak, kasian nity di usianya yang masih dini ia harus belajar mandiri.
Apa yang terjadi dengan kamu Pak?
Bisik hati bunga merintih, kenapa cahaya begitu berubah terhadapnya, cahaya yang di kenal dingin dan acuh sama perempuan lain sungguh tidak menyangka jika kini cahaya benar-benar selingkuh.
Sesampainya di depan sekolan bunga mengantar nity sampai ke pintu sekolah.
"Sayang, Mama ngantar kamu sampai disini ya, Nity belajar yang rajin ya, nanti yang jemput Nity bi ijah sama mang diman ya sayang, Mama ada kerjaan di butik, kamu gak apa-apa kan Nak, di jemput sama Bibi?" Tanya bunga lembut meraup dan mencium wajah cantik putrinya.
"Ya, Ma! Mama hati-hati ya? Daah Mama …" Sahut Nity sebari melambai tangannya, bak sebilu menusuk relung hati bunga ketika melihat malaikat kecil yang begitu mandiri, kenapa cahaya sampai hati segitu tega sama anaknya.
Usai mengantar putrinya bunga mengikuti kata hatinya untuk menemui cahaya di kantornya, bunga sengaja hari ini ia telat membuka butiknya, karena rasa ingin tau sesibuk apakah suaminya hingga sama sekali tidak ada waktu sedikit pun untuk anaknya.
Bunga melaju mobilnya secepat mungkin, bulir-bulir bening mulai membasahi kedua pipinya.
Tak lama ia sampai di depan kantor, bunga masuk ke ruangan suaminya namun cahaya tidak ada disitu, bunga menghampiri irvan yang lagi sibuk ngotak-ngatik komputernya.
"Van, maaf Mas cahaya kemana ya? Kok ruangannya kosong."
"Pak cahaya belum datang Bu."Sahut irvan serius.
"Terus apa Bella gak masuk ya hari ini?"
"Bella juga belum datang Bu, dia suka bareng bersama pak cahaya Bu!"
Deg ….
Detakkan jatung bunga seolah terhenti seketika, setelah ia mendengar penjelasan irvan.
Bunga terdiam kemudian melangkah perlahan kembali ke ruangan suaminya.
