Bab 5. Wangi parfum asing
Sesampainya di kamar bella menjatuhkan badannya di atas tempat tidur.
Ingin sekali ia teriak sekeras mungkin saat itu juga namun bella masih sadar bahawa disini ada bunga.
Kenapa dia harus pulang?
Geram bella sebari munyugar rambutnya kasar, niat buruknya telah memenuhi ruang hatinya.
Dua tahun telah berlalu bella semakin dekat dengan cahaya, semakin tidak betah juga tinggal satu rumah sama bunga karena keterbatasannya bertemu dengan cahaya semakin menyiksa batinnya bella berniat pindah ke kontrakkan saja, biar cahaya yang menemuinya tiap hari katanya dalam hati.
Nity sudah pandai bicara ia mulai aktif dalam segala hal dan juga mulai penasaran dengan semua yang dilihatnya.
"Pa, boleh gak Nity di beliin mainan balu?" Tanya nity pada cahaya dengan suara yang masih belum jelas semuanya.
"Boleh dong sayang, memanganya Nity mau mainan apa dari papa?"
"Nity mau boneka balby papa!" Rengeknya dengan wajah yang begitu lucu.
Hari libur kali ini cahaya cuma ngajak nity main di taman saja, karena bunga lagi sibuk ia mulai bekerja kembali setelah nity terlihat besar dan pintar, bunga membuka usaha butik yang tak jauh dari rumahnya. Nity di rumah lebih banyak main sama bi ijah dan bella di banding sama bunga.
"Hallo Nity?" Sapa bella, setelah tau kalau bunga tidak ada di rumah, bella sangat senang karena bisa menghabiskan waktunya bersama cahaya.
"Hallo Tante Bella, duduk disini yu sama Nity?" Ajak gadis kecil itu polos.
"Ya, sayang Nity hari ini main sama Tante Bella ya," Ajak bella sebari membuka mainan yang ada di depan nity dan cahaya, nity sangat senang sekali di temani sama bella, karena bella menyukai anak kecil apalagi nity anaknya lucu dan pintar membuat bella semakin tak mampu jauh dari malaikat kecil itu. Cahaya sangat serius menatap wajah bella yang semakin terlihat mempesona di mata yang sedang jatuh cinta, sesekali bella melirik kepada cahaya yang sedang memperhatikannya.
"Mas, kok gitu sih melihatnya?" Tanya bella tersenyum manja. Cahaya sepontan ia tertunduk mengalihkan pandangannya.
Dalam hatinya bella sangat senang di perhatikan seperti itu oleh pria yang di cintainya, bella benar-benar tidak peduli apa pun yang akan terjadi.
Ia mendekati cahaya kemudian bersandar di pundaknya.
"Mas, aku bahagia banget kalau kita lagi berdua seperti ini." Bisik bella perlahan karena takut di dengar nity.
"Sama Bell, Mas juga seperti itu. Tapi Mas mohon ya, kamu harus tetap jaga sikap jangan sampai ketahuan sama istri Mas!" Sahut Cahaya, mereka benar-benar sudah gila di mabuk cinta terlarang, cahaya yang begitu mencintai istrinya entah kenapa kini ia berani selingkuh di belakang bunga.
Nity anteng bermain barbynya. Perlahan cahaya menggenggam tangan bella layaknya suami istri.
"Mas, boleh gak aku minta tolong?" Tanya bella.
"Minta tolong! Apa bell?"
"Tolong cariin aku kontrakan dong Mas, aku bosen Mas tinggal disini!"
"Ya, udah nanti Mas cariin ya!"
"Terimakasih ya, Mas!" Jawab bella tersenyum tipis, cahaya hanya mengangguk mantap.
Bi ijah kaget melihat cahaya dan bella begitu mesranya, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ehmm! Non Nity, Non harus makan siang dulu ya?" Suara bi ijah membuat cahaya tersontak kaget dan segera melepas tangan bella dari genggamannya.
Seketika itu wajah bella berubah pucat.
"Maaf Pak, kata Ibu, Non Nity harus makan siang kemudia tidur!" Kata bi ijah dengan terbata ia bergegas mengajak Nity kerumah untuk makan siang, mandi lalu setelah itu nity harus tdur siang, karena ia masih anak kecil harus banyak istirahat.
Bunga menelpon suaminya berulang kali tidak pernah di angkat lalu bunga mengubungi bi ijah saja.
Bi ijah masuk menggendong nity di ikuti oleh cahaya dan bella, bi ijah sangat menyayangi putri kecil ini,
Cahaya melihat layar ponselnya beberapa panggilan tak terjawab dan pesan yang belum di buka dari istrinya. Cahaya begitu seperti tidak peduli ia menyimpan lagi ponselnya kemudian ia berbaring di atas kasur.
Tepat pukul dua bunga pulang.
"Bi, Nity mana?" Tanya bunga.
"Non nity masih tidur Bu!" Jawab bi ijah yang lagi sibuk nyapu.
"Terus papa kemana Bi, dia ada di rumah kan?"
"Ya, Bu, anu tadi Bapak, itu sama nity Bu, sekarang ada di atas." Jawab bi ijah dengan terbata-bata, bunga mengerutkan keningnya tidak biasanya bi ijah di tanya sampai gugup begitu bicaranya pikir bunga mulai curiga.
Bunga dengan mempercepat langkahnya ia naik ke atas lalu membuka pintu kamar putrinya yang lagi tidur dengan nyenyak, perlahan bunga mendekati nity kemudian mengelus dan menciumnya.
Pintar banget anak mama ….
Gumam bunga dengan tersenyum kemudian ia menutup kembali pintu kamarnya, bunga pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan istirahat sejenak, bunga melihat suaminya pun sedang tidur pulas banget, bunga mendekati suaminya ia mengerutkan keningnya, kenapa wangi baju suaminya beda banget dengan parfum yang di pakenya.
Deg
Jantung bunga berdegup, setelah ia mencium bau parfum yang asing yang nempel di baju suaminya, jelas bahwa itu wangi parfum perempuan.
Tapi siapa, rasanya tidak mungkin Papa melakukan itu!
Gumam bunga seraya mencoba mengingat, perasaannya ia kenal dengan wangi parfum itu.
Apa mungkin ini parfumnya Bella?
Bunga menebak bau wangi yang menempel di baju cahaya.
"Mama, sudah pulang?" Tanya cahaya menggeliat dengan mata yang masih enggan terbuka.
Bunga hanya tersenyum hambar ia harus mencari tau parfum siapa yang cahaya pakai.
Malam menjelang mereka berkumpul di ruang makan.
Dan kesempatan buat bella untuk bicara sama bunga tentang ia akan pindah ke rumah kontrakkan.
"Emm. Mungpung semuanya lagi pada kumpul ada disini, saya mau minta izin hari besok saya akan pindah ke kontrakkan. Terimakasih banyak buat semuanya, telah menerimaku dengan baik disini." Tutur bella mencoba memberanikan diri untuk bicara, bahwa dirinya sudah tidak nyaman lagi berada di tempat itu. Bunga mendengar ucapan bella ia terlonjak kaget, bukannya dulu ia berjanji akan menemani nity sampai nity sekolah, tapi kini kenapa ia berubah fikiran.
"Kontrakkan Bell, kamu yakin?" Sahut bunga kepada bella.
"Ya, Bunga gue merasa gak enak ngerepotin loe terus." Alasannya.
"Bella, aku sama sekali tidak merasa di repotin kok sama kamu, malah aku senang ada kamu di sini ada temennya nity main, ya kan sayang?" Bunga melirik putrinya yang duduk bersama cahaya, papanya.
"Ya, Tante! Tante di sini aja sama Nity ya?" Ucap putri kecil seraya melangkah mendekati balla dan memeluknya, betapa luruh hati bella saat itu, dekapan gadis kecil yang sangat polos membuatnya tiba-tiba merasa bersalah ia telah merebut separuh kebahagiaan malaikat kecil yang tak berdosa itu.
"Sayang, meski pun Tante sudah tidak tinggal bersama Nity lagi, tapi Tante janji kok akan sering main ke rumah bersama Nity ya?" Jawab Bella dengan mendekap tubuh nity dan berkali-kali menciuminya, seorang gadis kecil yang cantik dan lucu yang bikin bella selalu ingin bersamanya.
"Bell, sebaiknya kamu tetap disini saja ya bersama kami?" Timpal bunga seperti tidak merelakan sahabatnya untuk pergi meninggalkan rumahnya.
Cahaya yang hanya diam saja sesekali ngasih kode kepada bella agar tetap menolak permintaan bunga istrinya.
"Gak bisa Bunga, gue harus tetap pergi dari rumah kamu. Lagi pula aku akan segera membawa Ibuku untuk berobat, Nga! Gak enak tau kalau belau di bawa kesini." Ujar bella meyakinkan bunga bahwa dirinya sudah tidak bisa di tahan lagi untuk tetap tinggal di rumah itu. Bunga akhirnya cuma bisa mengangguk pelan.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, ya udah gak apa-apa. Cuma pesan dari aku, jaga dirimu baik-baik ya? Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku," Kata bunga penuh perhatian dan rasa kasih sayangnya begitu besar buat bella yang ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Usai makan malam bella langsung ke kamarnya, Semuanya sudah begitu terlena di buai mimpinya, tapi bunga ia masih belum bisa untuk terlelap tidur matanya seolah enggan untuk tertutup padahal jarum jam sudah hampir jam 12 tengah malam.
Bunga menatap wajah cahaya lekat pikirannya di geluti oleh seribu pertanyaan.
Apa iya Mas cahaya selingkuh.
Bisikan hatinya semakin kuat ia selalu di hantui oleh wangi parfum yang menempel di baju suaminya, bunga sangat tau sikap suaminya dari awal ia tidak suka bergaul dengan wanita mana pun selain istrinya sendiri, tapi dari mana wangi yang ada di bajunya cahaya. Bunga mencoba untuk membuang semua perasangka buruk terhadap suaminya, ia memaksa matanya untuk lena hingga terlelap tidur sampai esok pagi.
