Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7. Bertahan demi malaikat kecil

Air mata yang tidak bisa di bendung lagi seketika itu tumpah membanjiri kedua pipinya.

Bunga merintih lirih hatinya sangat teriris pedih.

Terpahat kembali saat wajah polos nity merengek minta ayahnya untuk menemaninya pergi ke sekolah pertamanya. Teriakan hatinya seakan menghentikan seluruh detak nadinya.

Kenapa Mas kamu setega itu sama anak kita?

Geram bunga, dugaannya selama ini benar bahwa cahaya selingkuh dengan wanita lain.

Bunga bergegas keluar ia kembali ke mobilnya tidak ingin mencari keributan di kantornya, sekuat hati ia menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Semua karyawan kantor meliriknya karena air mata yang terus membasahi seluruh wajahnya saat itu.

Bunga memegang kembali stir mobilnya dengan segudang emosi yang tidak tertahan, ia menjalankan mobilnya sekencang mungkin. Bunga lurus ke arah pulang mengurungkan niatnya untuk pergi ke butik, ia memilih untuk menenangkan dirinya di rumah,

Tiba di rumah, bunga menjatuhkan badannya di atas kasur dan menguci kamarnya seketika itu air matanya mengalir deras bak air hujan yang turun tak terhenti.

"Bibi, Mama sudah pulang ya? Nity melihat mobil Mama ada di depan, tapi Mama kok gak ada di rumah." Tanya Nity kepada bi ijah.

"Bibi juga gak tau Non!" Jawab bi ijang singkat, nity mencari ibunya ia bergegas ke atas membuka kamar bunga namun ternyata tidak berhasil karena pintu kamar bunga sengaja di kunci.

Tok … tok … tok …

"Ma, Mama. Buka pintunya! Mama ada di dalam kan Ma?" Teriak putri kecil menggema membuat bunga tidak kuasa menatap wajahnya, nity tak berhenti terus mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama ibunya. Bunga segera menghapus air matanya perlahan kakinya melangkah untuk membuka pintu kamarnya.

Treeeett

Pintu terbuka, bunga memeluk dan mencium nity.

"Maafin Mama ya Na?"

"Kok Mama minta maaf sama Nity, memangnya Mama salah apa?" Tanya nity sambil mengelus-elus rambut bunga oleh tangan mungilnya.

"Mama nangis ya?" Lanjut Nity mata polosnya menatap lekat wajah ibunya, bunga menggeleng pelan seraya mendekap tangan nity, ia mencoba untuk kuat dan bertahan demi putri kecilnya yang masih rindu dekap kasih sayang kedua orang tuanya.

"Kenapa Mama nangis?" Ujar nity lagi-lagi bertanya seperti merasakan apa yang ada di dalam hati ibunya saat ini.

"Mama tidak apa-apa sayang, Mama cuma lagi kangen aja sama Nenek di kampung." Sahut bunga lagi-lagi terpaksa harus berbohong sama putrinya, bunga membawa nity ke kamarnya untuk berisitirahat, bunga membacakan nity sebuah cerita yang sangat menarik sampai nity terlelap tidur.

Siang telah berlalu usai tidur nity bermain sebentar kemudian ia bergegas memanggil ibunya.

"Mama, papa kok belum pulang ya, ini kan sudah sore Ma?"

"Mungkin papa lembur sayang, mendingan sekarang Nity belajar wudzu yu sayang, sebentar lagi mau magrib, kita shalat sama-sama ya, Nak!" Ajak bunga seraya melangkah menuju kamar mandi, dan mengajarkan nity cara berwudzu.

Terdengar suara adzan begitu merdu, bunga dan nity shalat berdua saja tanpa cahaya, bunga terlihat sangat kuat di depan putrinya bunga tidak ingin melihat nity tertekan akibat perbuatan cahaya.

Bunga berdoa dan memohon hanya kepada Allah ia berharap suaminya segera di sadarkan kembali, berkumpul bersama anak dan istrinya.

Jam 10 malam cahaya baru pulang ke rumah, nity sudah terlelap tidur namun bunga ia mengaji di kamarnya karena matanya susah sekali buat ngantuk jadi bunga mengambil cara yang baik dengan mengaji. Usai mengaji bunga membaringkan badannya dengan di balut selimut biru.

Treeet

Dengan pelan pintu kamar terbuka terdengar suara langkah mulai mendekatinya, bau wangi yang waktu itu kini tercium kembali oleh bunga, sakit serasa sembilu yang menancap hangat di hatinya malam itu.

"Dari mana kamu Mas?" Tanya bunga lirih tidak ada lagi panggilan papa keluar dari bibir seorang istri yang dulu ia selalu manjakan.

"Dari kantor sayang, papa habis meeting Ma!" Jawab cahaya tidak ada sedikit pun merasa bersalah.

"Mas, tolong jujur sama aku, kamu habis dari mana?"

"Bunga, aku kan sudah bilang. Aku habis meeting, apa kamu gak dengar?" Tegur cahaya kasar, baru kali ini bunga mendengar cahaya menegur dan bicara kasar terhadapnya, bunga bangkit kemudian menatap tajam ke arah cahaya.

"Ini wangi parfum siapa Mas tolong jujur sama aku?" Tanya bunga menekan, cahaya gugup ia tak bisa brkata apa pun lagi, wajahnya berubah pucat, hati yang telah gelap oleh cinta yang salah semakin menutupi jiwa cahaya, tidak ada jawaban dari cahaya untuk istrinya.

"Sudah lah Ma, gak usah aneh deh. Aku cape mau tidur!" Alasannya seraya merebahkan badannya di atas kasur kemudian ia terlelap tidur, bunga duduk terpaku di pinggir tempat tidurnya air matanya yang menjadi jawaban pertanyaannya seolah enggan untuk di hapus.

Ya Tuhan! Kuatkan hamba dalam menjalani cobaan ini, kuatkan aku ya Tuhan.

Gumam bunga di atas tangis pedihnya, sabar meski ia tak mampu tapi demi nity bunga harus bisa melewati semua ujiannya, yakin Allah selalu bersamanya dan semua kebahagiaan yang pernah sirna semoga segera kembali lagi.

Pagi menjemput bunga sudah menyiapkan baju suami dan anaknya, usai menyiapkan baju bunga pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi hangat untuk suaminya ia membawanya ke kamar ternyata cahaya masih tertidur pulas, poselnya bergetar beberapa kali cahaya sama sekali tidak mengetahuinya.

Perlahan bunga mengambil ponsel suaminya.

Tertulis sebuah nama dalam panggilan itu, di beri nama barby. Bunga mencoba mengangkat kemudian mendengarkan suara di ponsel cahaya.

"Hallo sayang, kenapa gak di angkat kamu kemana aja? Biasa gak hari ini datang lebih pagi, aku kangen banget sama Mas. Sarapan di sini sama aku ya?" Suara di sebrang sana membuat bunga seperti di sambar petir di tengah hari, panggilan sayang terdengar jelas dari seorang wanita yang sangat ia kenal bahkan sudah di anggap sebagai saudara sendiri.

"Bella, ini aku bunga. Aku sungguh tidak menyangka kamu setega ini sama aku … " Ucapan bunga terputus sepertinya bella sengaja menutup telponnya setelah ia tau kalau yang angkat telponnya bukan cahaya tapi bunga.

"Mama." Panggil cahaya seraya melihat ponselnya yang ada di tangan bunga.

"Punya hubungan apa kamu sama bella Pak?" Tanya bunga, bulir bening mulai mangalir membasuh pipinya.

"Bella, dia kan sekertaris di kantor papa, Ma!"Jawab cahaya tetap mengela.

"Jawab jujur pak? Tolong jujur sama aku, apa kamu lupa sama Nity, kamu lupa sama anak kita? Kasian Nity Pa, dia selalu merindukan belaian kamu, dia selalu nungguin kamu sampai dia terlelap tidur," ucapnya tegas ia seakan tak mampu lagi untuk menyembunyikan rasa sakit yang ada di hatinya, air mata yang terus mengalir seakan menjadi saksi luruh dan menderitanya batin bunga. Cahaya yang tidak bisa melihat bunga menangis ia memeluk tubuh bunga mencoba untuk membuatnya tenang. Namun semuanya terlambat bunga sudah tidak mau lagi di sentuhnya ia selalu menepis tangan cahaya, luka di hatinya begitu dalam hingga susah untuknya kembali seperti dulu lagi.

Bunga berlalu keluar meninggalkan cahaya, bunga cuma butuh menenangkan diri.

Nity sudah berada di meja makan, bunga duduk di samping putrinya dengan beberapa kali membuang nafas berusaha menahan sakit dan tangis dari nity puti kecilnya. Tak lama cahaya pun ikut duduk di dekat bunga.

"Nity sayang, hari ini papa akan nganterin Nity ke sekolah." Kata cahaya membuyarkan lamunan istrinya yang terus menggema di telinganya suara wanita di ponsel suaminya dengan jelas memanggil sayang kepada cahaya dengan manja.

"Yee! Asyik, tapi beneran ya pa?" Sahut nity dengan wajah riang. Rasa senang tiada terkira nity mendengar ayahnya akan mengantarnya ke sekolahnya. Bunga tersenyum melihat seorang putrinya sangat bahagia.

"Terimakasih ya, Pa sudah membuat Nity bahagia hari ini!" Kata bunga datar, tidak ada wajah ramah dan senyum manja yang selalu ia pancarkan setiap bersama cahaya, kini semuanya terasa hambar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel