
Ringkasan
Cahaya dan bunga adalah pasangan yang romantis. Dari awal pernikahannya pun begitu terlihat saling mencintai. Mereka berdua dikaruniai seorang putri, Nity namanya. Usianya baru menginjak dua tahun. Kesibukan kantor memang membuat Cahaya kesulitan untuk membagi waktu bersama keluarganya. Meskipun begitu, sebisa mungkin dirinya mencoba untuk meluangkan waktu. Hari Minggu ia selalu usahakan menjadi waktu yang paling terbaik untuk keluarga kecilnya itu. Namun, tiba-tiba Bella datang sebagai seseorang yang mengusik kebagaiaan mereka. Wanita pintar dan cerdas itu adalah asisten Cahaya di kantornya. Lalu, bagaimanakah nasib rumah tangga Bunga? Akankah bahagia atau sebaliknya? Cover: by pexel.com
Bab 1. Awal bahagia
Dua tahun lebih cahaya dan bunga menjalani sebuah ikatan suami istri, pernikahan yang begitu saling mencintai.
Awalnya bunga hanyalah bawahan bagi cahaya, bunga bekerja di kantornya cahaya sebagai sekertaris, entah kenapa cahaya begitu menyukai gadis desa yang sederhana itu.
"Aku mau jika anak kita lahir nanti, kamu berheti kerja ya?" Kata Seorang pria pada istirnya memecah keheningan malam.
"Kok berhenti sih Mas! Lalu siapa yang akan menggantikan aku jadi sekertarismu." Sahut bunga pada cahaya suaminya yang melarangnya untuk bekerja dan tidak boleh terlalu cape, karena kandungannya yang semakin besar cahaya tidak mau terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya.
"Nanti aku akan suruh irvan untuk mencari sekertaris baru, kamu jangan khawatir,"
"Tapi cowok ya mas?" Jawab bunga dengan sedikit rasa curiga menyelinap di hatinya. Cahaya mencubit hidung istrinya dengan manja ia sangat tau perasaan istrinya.
"iya sayang. Kamu gitu amat sih sama aku, seperti gak percaya aja sama suaminya." Sahut cahaya dengan membalut istrinya dengan selimut, kemudian ia mencium perut dan kening istrinya bergantian.
"Kamu tidur duluan ya, sudah malam."
"Terus Mas mau kemana?" Tanya Bunga dengan menarik tangan Cahaya, aku ada kerjaan kantor sedikit sayang, kamu tidur aja duluan kasian bayi kita." Ucap cahaya mengelus rambut bunga, kemudian ia keluar kamarnya menuju ruang depan yang biasa ia pake buat menyimpan berkas-berkas penting.
Beberapa jam berlalu tepat jam 12 malam cahaya baru nyamperin bunga, ia menatap wajah istrinya yang sedang tertidur pulas banget, cahaya tersenyum tipis kemudian ia merebahkan badannya di samping bunga yang sudah terlena di buai mimpinya.
Pagi menjemput, cahaya terbangun lebih awal, sejak kehamilan bunga beranjak 8 bulan lebih bunga jadi sering bangun telat, kadang tidak ingat matahari mulai menerangi ruang kamarnya dari balik jendela kaca menyinari wajah cantiknya.
"Selamat pagi sayang?" Sapa cahaya dengan membawa segelas susu hangat di tangannya, bunga yang seperti malas melihat matahari ia menarik kembali selimutnya, namun cahaya membangunkan kembali istrinya.
"Eh kok tidur lagi sih, bangun dong udah siang nih. Aku sudah siapin susu buat kamu dan bayi kita, diminum ya, aku mau berangkat ke kantor dulu." Lanjut cahaya berpamitan untuk pergi ke kantor, bunga mencium tangan suaminya.
"Hati-hati ya mas?"
"Ya, sayang! Aku pergi ya, Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam!" Jawab bunga kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi, usai mandi bunga turun ke bawah untuk mencari sarapan pagi.
"Ada sarapan apa Bi hari ini?" Tanya bunga kepada bi ijah asisten di rumahnya.
"Tadi Bapak minta di buatin sup buat Ibu, sudah Bibi taruh di meja makan." Sahut bi ijah yang lagi nyuci piring, bi ijah pembantu baru di rumah itu, ia begitu menghormati majikannya.
"Oh, Ya udah, makasih ya Bi!" Sahut bunga dengan mengayun langkahnya menuju meja makan, rasanya bosan sekali makan itu mulu, bunga ingin makan di luar tapi suaminya akhir-akhir ini begitu sibuk banget jadi gak ada waktu buat ke luar menemaninya.
Bunga akhirnya makan yang di sediakan oleh bi ijah saja.
Usai makan bunga bersiap diri telihat cantik dan rapi banget.
"Bi, Bibi?"
"Ya Bu!" Sahut bi ijah bergegas mengampiri bunga.
"Aku mau keluar sebentar ya Bi, jaga rumah baik-baik ya."
"Ibu mau pergi kemana Bu? Kata Bapak, Ibu harus banyak istiraha."
"Sudah Bibi gak usah khawatir ya, aku baik-baik aja kok. Lagian stres di rumah terus!" Jawab Bunga dengan terkekeh, kemudian ia keluar pergi berjalan-jalan membawa mobilnya sendiri, bunga menolak untuk di temani sama supir pribadinya, sampai di suatu tempat bunga bertemu dengan temannya waktu di desa, ternyata kini temannya ada di sini juga.
"Hai Bell," Sapa bunga dengan melambaikan tangannya, melihat bella lagi berjalan menyebrang di tengah ke ramaian kendaraan.
"Hai, bunga. Ini bunga kan?" Tanya Bella dengan menatap lekat wajah sahabatnya. Bunga memeluk bella penuh rasa kangen, lama tidak bertemu bunga terlihat beda banget di mata bella, jauh lebih cantik dari sebelumnya.
"Heemh … Bell, aku ini bunga. Sahabat kamu! Aku kangen banget loh sama kamu."
"Bunga, cantik banget kamu ya sekarang, kamu sudah hamil, berapa bulan?" Ucap Bella seraya mengelus perut bunga yang semakin besar.
"Sudah 8 bulan lebih Bell, eh ngomong-ngomong kamu sudah menikah juga kan Bell, mana sumimu?" Jawab bunga melirik ke belakang bella kali aja sahabatnya sudah menikah juga.
"Boro-boro suami dari mana Nga, menikah aja belum." Ucap Bella memutar bola matanya dengan tertawa kecil.
"Jangan bohong kamu! Eh ngapain kamu di sini bell?"
"Aku nyari kerja bunga, aku sangat butuh uang, buat biaya mamah!"
"Tante Ani, memangnya sakit apa Bell?"
"Biasa bunga, nyokap gue punya penyakit jantung. Gue gak tau harus nyari kerjaan dimana lagi, mana gue belum tau lagi hidup di kota besar seperti apa? Bingung gue!" Celetuk bella nanar ia yang baru menginjak kota sebesar jakarta, bella bingung harus nyari kerja kemana dan tinggal dimana bella hanya membawa bekal sedikit saja hanya sekedar buatnya makan sebelum dapat kerjaan.
"Emm … kamu yang sabar ya bell, tapi kamu boleh tinggal di rumah aku aja yu, kita nanya kerjaan sama suami aku, kali aja ada lowongan kerja buat kamu ya." Sahut Bunga memberi keringanan beban fikiran sahabatnya.
"Benar bunga gue boleh tinggal di rumah loe?"
"Ya dong Bell, masa aku bercanda sih. Sewajarnya kalau aku bantu sahabat aku yang lagi kebingungan, kita kan sahabat dari kecil!"
"Alhamdulilah! Makasih banyak ya Bunga. Gue gak tau lagi harus berterimakasih seperti apa sama loe Nga. Beneran gue senang banget, semoga aja gue cepet dapet kerjaan ya bunga!"
"Ya, Amin. Yu ikut sama aku pulang!" Ajak bunga seraya melangkah menuju mobilnya kemudian mempersilahkan Bella untuk duduk di sampingnya.
Bunga dan bella kembali pulang.
Tiba di depan rumah bunga turun mengajak bella untuk masuk ke dalam rumahnya, bela memutar bola matanya ke sekeliling ruangan rumah bunga yang sangat besar dan isinya yang serba mewah.
"Wah! Loe beruntung banget ya bunga, punya suami yang kaya banget, bisa ngasih loe rumah besar dan mobil mewah, hidup loe bahagia ya sekarang." Kata Bella seakan tidak mau duduk di kursi yang di persiapkan oleh bunga, ia masih ingin berkeliling di dalam rumah sahabatnya.
"Alhamdulilah Bell, suami aku sayang banget sama aku, hingga apa pun yang aku mau dia pasti memberinya." Jawab bunga tersenyum manis. Bi ijah membawakan segelas jus dan makanan ringan untuk Bella.
"Bella di minum dulu deh jusnya." Pinta bunga pada bella yang dari tadi terus berputar-putar mengengelilingi rumah bunga. Setelah bosen berkeliling bella duduk di samping bunga sambil menikmati jus alpukat kesukaannya, ternyata bunga masih hapal banget apa kesukaannya bella.
Usai menikmati jus bunga mengantar bella untuk beristirahat di kamar tamu.
Bella merebahkan badannya di atas tempat tidur yang sangat indah. Karena lelah ia tertidur pulas sore itu.
Bunga kembali ke ruang tengah menunggu suaminya pulang dari kantor, beberapa menit kemudian suara mobil terdengar berhenti di depan rumahnya.
"Assalamualaikum?" Suara cahaya sambil membuka pintu.
"Walaikumsalam! Mas sudah pulang?" Sambut bunga seraya mengambil tas yang ada di tangan suaminya. Sejenak cahaya duduk di kursi, sekedar melepas lelah, bunga membawakan secangkir kopi yang biasa kalau cuma membuat kopi untuk suaminya bunga yang membuatnya sendiri.
