Bab 4. Kembali kerumah
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah milik cahaya dan bunga.
Bella dan cahaya turun di sambut oleh mang diman yang biasa tukang markirin mobilnya cahaya.
Bella bergegas masuk menuju kamarnya, bi ijah yang hanya melihat bella yang berjalan seperti berlari ia bengong.
Kenapa ya Non Bella, jalannya kok seperti di kejar maling?
Bi ijah bergumam sendiri, matanya beralih ke pintu depan terlihat cahaya yang juga baru masuk.
"Selamat sore Pak?" Ucap bi ijah sangat sopan kepada tuan rumahnya, cahaya teesenyum ramah seraya berkata.
"Sore Bi! Eh Bi tolong buatin saya kopi ya, antar ke ruang depan."
"Baik Pak," Sahit bi ijah seraya pergi ke daper untuk membuatkan kopi untuk cahaya.
Bella terbaring di tempat tidurnya sejenak hanya menatap langit-langit kamarnya yang bercat ungu, terbayang semua kejadian yang di alaminya.
Wajah tampan yang membuatnya terpana, terpancar sebuah srnyuman manis dari bibir bella saat itu,
Cahaya …
Bisiknya memanggil sebuah nama yang kini semakin ia rindukan, fikiran jahatnya telah merasuki seluruh hati dan jiwanya, bella terbangun kemudian ia membuka pintu kamarnya hendak keluar, bella melihat bi ijah yang membawa secangkir kopi yang asapnya masih mengepul.
"Buat Pak cahaya ya Bi?" Tanya bella dengan tersenyum tipis, bi ijah hanya mengangguk mantap.
"Biar saya yang antar ya Bi? Kebetulan saya ada perlu sama Pak Cahaya!" Alasannya seraya mengambil nampan kecil yang ada di tangan bi ijah.
"Tapi Non?"
"Gak apa-apa Bi, biar saya aja ya."
"Baik Non!" Sahut bi ijah akhirnya memberikan sebuah nampan kecil kepada bella.
"Permisi Pak? Ini kopinya!" Ucap bella dengan menyimpan secangkir kopi di atas meja, cahaya dag dig dug tak menentu, meski pun ia berusaha tenang tapi semuanya percuma saja, cahaya tau kalau dirinya menyukai gadis itu.
"Kenapa jadi kamu yang antar, Bi Ijah kemana?" Tanya cahaya gugup, kali ini ia benar-benar tak berani bertatap mata dengan bella.
"Oh, Bibi lagi sibuk Mas, jadi aku aja yang antar, gak apa-apa kan?" Kata bella suaranya di buat manja bak seorang penggoda, bella benar-benar sudah di butakan oleh perasaannya hingga ia lupa dengan arti sahabat dan balas budi atas kebaikkan seseorang yang telah menolongnya di waktu ia susah.
Cahaya kaget dengan sebutan Mas yang terucap dari bibir bella.
Tanpa sadar cahaya menatap kedua mata bella dan akhirnya mereka saling pandang, getaran aneh yang timbul pada hati dua insan yang sedang di landa cinta terlarang.
Suara ponsel berdering membuat cahaya serentak kaget, kemudian ia mengangkat telponnya tanpa melihat siapa yang telpon.
"Assalamualaikum? Mas," Suara di sebrang sana menyadarkan lamunannya.
"Walaikumsalam! Sayang ada apa?"
"Mas kesini lagi gak malam ini,?"
"Sayang hari ini Mas sibuk banget, kamu sama Ibu aja dulu ya, besok Mas jemput kamu ya? Gak apa-apa kan sayang?"
"Emm. Gitu ya Mas, ya udah deh. Gak apa-apa, tapi besok gak boleh telat ya?"
"Ya sayang aku janji!"
"Ya, udah aku tunggu besok ya Mas, sampai ketemu besok ya Mas. Love you?"
"Love you to!"
Bunga menutup telponnya ada perasaan kangen banget sama suamunya padahal baru aja satu hari ia di tinggalkan cahaya pulang.
"Ma, kenapa ya perasaan aku seperti gak enak banget? Akhir-akhir ini kadang aku gak mau jauh gitu sama Mas Cahaya. Apa karena ada Bella ya di rumah kami?" Ucap bunga mengungkap kata hatinya kepada ibunya.
"Bunga ingin segera pulang Ma!" Lanjut bunga semakin kuat kata hatinya seolah menjelaskan apa yang terjadi di rumahnya.
"Mungkin saja kamu terlalu cinta sama Cahaya Nak, tapi saran Ibu, sebaiknya Bella suruh ngontrak aja ya? Bukannya tidak percaya sama cahaya Nak tapi bagaimana pun juga Bella adalah perempuan muda yang masih single tidak baik tinggal serumah sama kamu. Apa lagi sampai harus pulang pergi sama suamimu." Tutur ibu membuat bunga teringat pada sebuah mimpi buruknya waktu itu.
Bunga memeluk ibunya, matanya menatap lekat wajah polos Nity yang semakin gemes dilihatnya.
Tak terasa waktu malam telah menjemputnya, bunga tak sabar menanti pagi ia ingin segera pulang, kangen dengan rumahnya.
Hampir jam 12 malam bunga belum tidur juga, ia sesekali melihat layar ponselnya tidak ada chat dari suaminya, biasanya cahaya paling tidak bisa jika jauh dari istrinya namun kini chat saja tidak ada.
Bunga mencoba membuang perasaan jelek dari pikirannya, bunga membuang nafasnya dalam, kemudian ia memaksakan matanya untuk terlelap tidur.
****
Pagi menjemput Bella bangun ia sudah berada di dapur menemani bi ijah masak, karena bella pandai sekali memasak.
"Bi aku antar kopi dulu buat Pak Cahaya ya?"
"Ya Non!" Sahut bi ijah dengan ramah, bella pergi ke kamar Cahaya dengan alasan hendak mengantarkan secangkir kopi hangat yan sengaja ia bikin sepecial.
Tok … tok … tok …
Bella mengetuk pintu kamar cahaya beberapa kali namun tidak ada sahutan sama sekali, perlahan bella membuka pintu kamar yang ternhata tidak di kunci.
"Mas, Mas Cahaya?" Panggil bella berulang kali.
"Ya, siapa?" Sahut cahaya dari kamar mandi.
"Saya bawain kopinya Mas," Ucap bella di balik pintu kamar mandi, semakin hari bella semakin berani ia melihat di sekeliling dinding kamar cahaya yang di penuhi dengan poto-poto bersama bunga dari awal pernikahannya hingga sampai bunga sedang hamil pun ada di situ. Bella memutar bola matanya ke atas dengan penuh kebencian, bella kini hatinya sudah di butakan oleh perasaan buruk, hingga tidak ada lagi sedikit pun arti sebuah menghargai kebaikkan orang terhadapnya.
"Taruh aja kopinya di meja,"
"Ya, Mas." Jawab bella, perlahan ia keluar dari kamar cahaya kembali lagi ke dapur menemani bi ijah yang sedang sibuk menyiapkan masakkan untuk menyambut bunga kembali ke rumahnya lagi, bunga yang sangat baik dan rendah hati membuat bi ijah kehilangan banget jika bunga tidak ada di rumah. Usai mandi cahaya bersiap-siap ke luar untuk menjemput istri dan putri pertamanya.
Cahaya berjalan menuju mobilnya di ikuti sama bella.
Gak sabar rasanya cahaya ingin segera sampai ke rumah sakit, terbayang selalu rasanya wajah polos nity, kangen suara tangisnya.
Mobil tiba di rumah sakit, bunga dan ibunya sudah siap untuk pulang, nity begitu anteng di gendongan Neneknya, cahaya langsung mencium kening putrinya.
"Sayang, putri papa yang paling cantik, papa kangen banget loh sama kamu! Gimana ke adaannya Mama sudah sehat?" Tanya cahaya pertama kali ia memanggil istrinya dengan panggilan mama, bunga tersenyum manis dengan mengangguk pelan.
"Yu, kita berangkat sekarang?" Lanjut Cahaya menggandeng istrinya penuh kasih sayang.
"Bella kamu apakabar? Gimana kerjanya betah?" Tanya bunga kepada sahabatnya.
"Alhamdulilh Nga, gue betah banget kerja disitu!"
"Wah. Syukur deh, semoga cepet sukses ya Nak?" Timpal Fira sambil terkehkeh.
Bella tertawa kecil, sesampainya di depan pintu mobil, cahaya membukakan pintu depan untuk istrinya.
"Bu, sini Nity biar sama aku aja?" Kata bunga seraya mengambil putrinya dari gendongan fira, bella berdua sama fira duduk di kursi belakang.
Beberapa jam di lewati cahaya dan bunga tiba di depan rumahnya di sambut sama bi ijah dan mang diman, bunga turun dari mobilnya lebih awal ia sangat kangen dengan suasana rumahnya.
"Nah. Kita sudah sampai sayang, ini rumah kita Nak!" Ucap bunga tersenyum indah pada Nity putri pertamanya. Nity tersenyum ia seperti mengerti apa yang di katakan ibunya, bi ijah dengan hormat menyambut bunga.
"Bi, apakabar, gimana rumah kita apa baik-baik saja?" Tanya bunga pada bi ijah sambil berjalan menuju kamarnya, pintu rumah di buka sama mang diman, bunga begitu haru ketika melihat tulisan penyambutan yang sengaja di siapkan oleh cahaya, suaminya.
"Ya, Allah Mas. Indah banget!" Ujar bunga dengan tak henti mata melihat ruangan yang beda dari sebelumnya.
"Kamu suka?" Tanya cahaya pada istrinya sebari memeluk pundak bunga berjalan pelahan mendekati warna indah yang mengiasi rumahnya.
"Suka! Aku suka banget Mas." Sahut bunga dengan wajah yang begitu terharu, ia menyandarkan kepalanya di dada cahaya.
Fira ikut bahagia melihat kedua anaknya begitu romantis, ia tersenyum bahagia dengan semua yang di lihatnya.
Ya, Allah semoga mereka seperti ini selamanya. Amin!
Gumam fira selalu berdoa untuk bunga, putri tunggalnya.
Berbeda dengan bella yang sangat geram melihat kebahagiaan mereka, bella seperti risih melihat cahaya dekat dengan bunga.
Bunga menyuruh bi ijah untuk menindurkan bayinya di kamar.
"Bi, tolong jaga Nity ya, saya mau makan dulu." Ucap bunga pada bi ijah, Nity di gendong sama bi ijah dan di antar ke kamarnya, nity begitu nyenyak ia tertidur.
"Bella, makan yu?" Ajak bunga kapada bella yang dari tadi cuma mematung seperti ada yang di pikirkan.
"Nggak bunga, gue belum laper. Gue ke kamar dulu ya!" Jawab bella singkat, kemudian ia bergegas pergi ke kamarnya. Bunga sedikit bertanya dalam hatinya, seperti ada yang beda tersirat di wajah bella. Tapi entah apa bunga tidak ingin mengetahuinya, yang paling penting untuknya saat ini hanyalah ingin menikmati ke indahan rumahnya bersama fira dan cahaya.
Beberapa jam mereka bercerita banyak sambil makan, cuma bella yang tidak ikut makan bersama bunga.
