Bab 3. Pertama kali kerja
Bella begitu kaku dengan hari pertamanya sesekali ia menanya irvan yang ruangannya bersebelahan dengan bella. Irvan menuntunnya dulu sampai bella paham, ia sangat senang di temani oleh perempuan cantik dan polos seperti bella.
Sedikit demi sedikit bella mulai paham dan mengerti semua apa yang harus di kerjakan.
Tak terasa sudah satu minggu ia bekerja di situ, satu minggu berlalu cahaya tidak bisa masuk kerja karena bunga istrinya melahirkan ia tidak ingin meninggalkan istrinya selama dua minggu sebelum istrinya pulih kembali cahaya tidak akan meninggalkannya, semua urusan kantor cahaya percayakan kepada orang andalannya yaitu irvan seseorang yang sangat di percaya di kantornya, sementara bella pulang perginya di antar dulu sama mang diman suami bi ijah yang sama bekerja di rumah cahaya dan bunga juga, sebagai tukang kebun dan supir pribadinya bella .
"Kamu mau kasih nama apa Mas buat anak kita?" Ucap bunga dengan menggendong putrinya yang baru lahir, malaikat kecil yang selama ini ia rindukan kini telah lahir ke bumi dengan selamat dan cantik mirip sekali dengan ibunya, sungguh sebuah kebahagiaan bagi cahaya dan bunga dengan kehadiran sang buah hati yang akan menjadi bintang penerang dalam rumah tangganya, penguat ikatan cinta mereka berdua.
"Aku mau kasih nama Nity untuk putri kita, bunga. Nity artinya adalah abadi, anak kita akan menguatkan cinta kita sampai maut memisahkan kita sayang," Sahut cahaya dengan mantap seraya menatap lekat wajah putrinya. Wajahnya benar-benar mirip sekali sama bunga.
"Nama yang bagus!"
"Ya, Nity cantik seperti kamu." Jawab Cahaya mencubit hidung istrinya, bunga tertawa kecil, lengkap sudah kebahagiaannya kali ini sejak hadirnya si buah hati.
Tok … tok … tok …
Terdengar pintu ruangan di ketuk kemudian terbuka tampak seorang wanita parauh baya sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua, senyuman indah tersungging di bibirnya.
"Ibu, kok gak ngasih kabar Cahaya kalau Ibu mau kesini? Cahaya kan bisa jemput Ibu." Ucap cahaya seraya mencium tangan wanita itu yang ternyata adalah Fira ibunya bunga istrinya cahaya.
"Tidak apa-apa Nak, sekali-sekali Ibu bikin kejutan sama kalian boleh dong?" Jawab fira kepada anak dan menantunya, kemudian ia menimang-nimang cucu satu-satunya yang baru lahir itu.
"Ibu bisa aja," Timpal bunga dengan tersenyum penuh rasa kangen sama fira ibunya karena sejak bunga menikah, jarang sekali bertemu sama ibunya karena cahaya sibuk di kantornya hingga tidak ada waktu untuk menemui ibunya di desa, cuma lewat ponsel saja pelepas rasa rindu mereka.
"Oh, ya bunga gimana ke adaan kamu, apa sudah baikkan?"
"Sudah Bu, Allhadulilh besok Bunga sudah di bolehin pulang sama Dokter!"
"Syukurlah Ibu senang mendengarnya." Sahut fira mengelus lembut rambut putrinya.
Bunga adalah putri tunggal dari keluarga sederhana ia hidup sebagai anak yatim karena sejak bunga naik ke klas lima SD ayahnya meninggal dunia, sejak itu juga fira membesarkan dan mendidik putrinya sendirian, fira enggan untuk menikah lagi dengan alasan takut tidak menyayangi bunga, takut bunga di marahin oleh ayah tirinya, fira selalu berpikiran seperti itu dan akhirnya ia lebih memilih menjanda sampai saat ini pun fira bahagia walau pun setatusnya sebagai janda, kebahagiaannya hanyalah melihat anak-anak sukses dan selalu rukun itu yang membuatnya lebih bahagia.
"Sayang karena sekarang sudah ada Ibu disini aku izin pulang sebentar ya, mau memeriksa pekerjaan kita di kantor."
"Ya, Sayang. Kami hati-hati ya?"
"Ya, pasti." Sahut cahaya sebari mengecup kening istrinya, lalu ia menghampiri Nity putri pertamanya.
"Sayang, papa pergi sebentar ya, kamu baik-baik disini sama Mama dan Nenek."
"Ibu Cahaya tinggal dulu ya? Assalamualaikum?" Pamit cahaya kemudian ia melangkah keluar meninggalkan rumah sakit.
"Walaikumsalam!"
***
Mobil berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah sampai di depan kantor.
Cahaya masuk di sambut dengan hormat oleh semua karyawan kantornya, cahaya langsung menemui irvan untuk menanyakan ke adaan kantor selama di tinggalkannya.
Tiba-tiba di jalan.
Braakk ….
Bella dan cahaya bertabrakkan dan bella hampir terjatuh ke lantai namun cahaya dengan kilat menarik bella hingga berada di pangkuannya, empat mata saling berpadu bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Getaran aneh di jantung dua insan itu membuat mereka gugup dan serentak saling melepas pelukannya.
"Maaf Pak, a-aku tidak sengaja," Ucap bella dengan terbata, getaran jantungnya semakin tidak karuan, apa lagi setelah cahaya membantunya mengambilkan berkas-berkas yang berserakkan di atas lantai, terjatuh akibat tabrakkan sama cahaya. Entah kenapa cahaya pun merasakan yang sama kini menatap bola mata bella ada perasaan yang sangat aneh baginya, berkali-kali cahaya menepis perasaan itu, tapi percuma saja karena rasa suka sudah terlanjur hinggap di lubuk hatinya.
"Permisi Pak?" Usai membereskan semua berkas bella pamit dengan wajah tertunduk tak kuasa rasanya untuk menatap kedua bola mata cahaya.
Cahaya hanya mengangguk pelan ia tidak mengeluarkan satu kata pun kepada bella.
Ya Tuhan! Perasaan apa ini, kenapa hatiku berdetak kencang saat aku bertemu dengan wanita itu?
Gumam cahaya, lagi-lagi berusaha untuk menepis perasaan aneh itu.
Bella berlari menuju kamar mandi ia mengusap dadanya berulang-ulang kemudan menatap wajahnya di cermin.
Tidak! Aku tidak boleh suka sama cahaya, Bella kamu harus ingat bahawa cahaya sudah punya istri.
Geram bella di balik kaca memarahi dirinya sendiri, meski ia sangat iri dengan kebahagiaan bunga namun bella harus sadar bahwa ia bisa kerja di kantor itu karena bunga.
Bella menyugar kepalanya kasar hingga ramubtnya yang terurai panjang menjadi berantakkan.
Bulir-bulir bening perlahan mengalir membasahi pipi putihnya.
Tok … tok … tok …
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, serentak ia manata air matanya dan merapikan rambutnya kembali.
"Siapa?" Tanya bella seraya membuka kunci toilet itu, mira sedang berdiri tepat di balik pintu.
"Maaf Bell, Pak irvan memanggilmu."
"Oh ya, gue segera kesana. Makasih ya!" Jawab bella bergegas pergi keluar ia baru sadar kalau berkas-berkasnya belum di kembalikan.
Tiba di ruangannya irvan, bella langsung merehakan semua berkasnya kepada irvan.
Kemudian bella kembali ke ruangannya.
Sedangkan irvan ia pergi keruangan atasannya untuk memberikan berkas itu.
Tok … tok … tok …
"Masuk!" Jawab Cahaya yang sedang sibuk dengan komputernya, irvan masuk dengan penuh hormat kemudia irvan menyerahkan berkas-berkas laporannya yang selama di tinggalkan oleh cahaya.
Irvan pamit kembali untuk keluar.
Tepat pukul tiga sore cahaya beranjak pulang sebagian berkasnya ia bawa kerumah, karena belum selsai semua, ia berniat akan mengerjakannya di rumah saat malam nanti.
Bella berjalan dengan tenang ia menunggu mang diman belum datang juga.
Cahaya sudah berada di mobilnya ia menunggu bella.
"Ayo Bell pulang!" Ajak cahaya pada bella, bella hanya mengangguk sebari melangkah masuk ke dalam mobil cahaya, kali ini bella memilih duduk di belakang sendirian.
Cahaya menatap wajah bella dari kaca spionnya tanpa protes.
"Gimana keadaan Bunga pak? Kapan dia boleh pulang?" Tanya bella memecah keheningan, lagi-lagi cahaya mencuri pandang dari balik spionnya, rona warna merah terlihat jelas di wajah cantiknya gadis itu.
"Pak." Lanjut Bella mengulang pertanyaannya karena melihat cahaya hanya bengong menatapnya. Sepontan cahaya menunduk.
"Oh, ya Bunga baik-baik aja kok dan mulai besok bunga sudah bisa pulang." Jawab cahaya sedikit gugup.
"Boleh gak Pak kalau aku ikut menjemput Bunga?" Pinta bella dengan tak sabar ingin melihat bayi sahabatnya, memang dari dulu bella suka banget kalau melihat bayi.
"Boleh-boleh, besok puku sembilan pagi ya?"
"Ya Pak terimakasih!" Sahut bella sangat senang.
