Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Bertemu sahabat lama

Bunga memberikan secangkir kopi kepada suaminya.

"Makasih ya sayang." Kata cahaya. Bunga hanya menggangguk pelan sebari menyandarkan kepalanya manja di dada suaminya. Cayaha yang begitu menyayangi bunga ia mengelus lembut rambut bunga.

Tiga minggu lagi untuk menanti si buah hati lahir ke bumi ini, rasanya begitu tidak sabar bagi cahaya dan bunga ingin segera melihat dan menimang anak pertamanya.

Bella turun kebawah dengan mata yang masih ngantuk, ia melihat sahabatnya begitu romantis bella terdehem-dehem.

"Ehm …" Bela berdehem seraya tertawa kecil. Bunga tersontak bangun dan melirik ke arah bella.

"Kamu ngagetin aja deh!" Ujar bunga sedikit manyun, sedari kecil bella tau kalau bunga sangat tidak suka di kagetin.

"Sayang, kok ada tamu, siapa?" Tanya cahaya dengan menatap istrinya.

"Oh, ya mas kenalin ini Bella teman aku mas." Sahut bunga memperkenalkan bella kepada cahaya suaminya.

"Bell, ini Mas Cahaya suami aku." Lanjut bunga kepada temannya dengan ramah, cahaya dan bella saling bersalaman saling memperkenalkan diri.

Sejenak bella menatap wajah cahaya yang sangat tampan, kulitnya yang putih, bermata sipit san hidunya yang mancung membuat bella seperti ingin lebih lama menatapnya.

"Oh, ya bell duduk yu bersama kami disini, biar kamu bisa tanya-tanya kepada suami aku, tentang pekerjaan itu!" Ucap bunga membuyarkan lamunan bella.

Bella mengangguk setuju kemudian ia duduk di sebelah bunga.

"Kerjaan maksudnya apa sayang?" Timpal cahaya denga mengerutkan keningnya. Menatap wajah cantik istrinya.

"Jadi gini Mas, tadi pagi aku keluar hanya sekedar berjalan-jalan, lalu ketemu Bella di jalan, katanya. Dia lagi butuh banget keraan Mas, kasian Ibunya lagi sakit! Setelah itu aku ingat sama Mas, Mas nyari sekertaris kan buat di kantor kita?" Tutur bunga menjelaskan. Cahaya terdiam beberapa menit masih terngiang ucapan bunga waktu ia berkata bahwa sekertaris di kantornya tidak boleh perempuan tapi kok kini istrinya sendiri yang membawakannya sekertaris perempuan.

"Mas, Mas kok bengong sih?" Lanjut bunga membuyarkan lamunannya.

"Ya, sayang terserah kamu aja!" Sahut cahaya sambil meneguk secangkir kopi yang sudah hampir dingin.

Bella yang sangat berharap banget ia cepet dapet kerjaan sangatlah bahagia bisa bertemu dengan sahabatnya yang akan membantunya untuk bekerja. Ia berjanji akan bekerja dengan baik disana.

Cahya yang begitu tidak yakin jika bella akan bekerja dengan baik di kantornya, ia pamit untuk pergi ke kamarnya, cahaya meninggalkan bella dan bunga di ruang depan, mereka berdua terlihat asyik bercerita banyak tentang masa lalunya.

Hingga malam menjemput mereka makan malam bareng di ruang tengah, usai makan malam bunga pergi ke kamarnya karena perutnya semakin besar merasa tidak nyaman untuk duduk terlalu lama, bunga merebahkan badannya di atas tempat tidur seraya mengelus-ngelus perutnya.

Sebentar lagi kamu akan segera melihat wajah Papa dan Mama Nak, kamu sehat terus ya sayang sampai nanti kamu keluar dari rahim mama

Gumam bunga dengan tersenyum tipis.

Cahaya duduk di pinggir tempat tidur, menggenggam tangan istrinya seraya berkata.

"Bunga apa kamu benar-benar yakin kalau Bella akan bekerja di kantor kita?"

"Ya, Mas memangnya kenapa? Aku rasa dia gadis yang baik dan jujur kok, aku kenal dia sejak kecil Mas!" Sahut Bunga meyakinkan suaminya. Cahaya membuang nafas dalam.

"Ya, sudah semoga aja dia sama seperti kamu." Pungkas cahaya kemudian membaringan kan badannya di samping istrinya, bunga mengangguk dengan tersenyum.

"Mas?"

"Ya!"

"Rasanya sudah lama deh kita tidak jalan-jalan, makan di luar, aku bosan di rumah terus!" Rengek bunga manja layaknya anak bocah yang minta jajan sama ibunya.

"Memangnya istriku ini mau makan apa? hmm …"

"Aku cuma kangen makan di luar aja Mas! Akhir-akhir ini Mas sibuk terus."

"Ya, maaf, oke nanti aku usahain pulang cepat ya, kita pergi keluar bardua." Ucap cahaya dengan mencubit mesra dagu istrinya, bunga tersenyum manja. Beberapa menit cahaya dan bunga saling bertukar cerita hingga akhirnya mereka berdua terlelap tidur hingga pagi menjemput.

Seperti biasa cahaya bangun duluan, sehabis shalat subuh bunga tidur kembali, sedangkan cahaya ia membereskan berkas-berkas kantor yang perlu di bawa, kemudian ia turun ke bawah untuk membuatkan susu buat istri tersayangnya, bella yang memperhatikan betapa perhatiannya cahaya pada istrinya ia merasa iri melihatnya.

"Mas biar aku yang nganter ke kamar bunga ya, Mas sarapan aja dulu." Kata Bella sedikit mencuri perhatian cahaya.

"Gak usah Bella, sebaiknya kamu bersiap-siap dulu. Karena sebentar lagi kita akan berangkat ke kantor!" Tolak cahaya menampar senyum tipis seraya melanjutkan langkahnya menuju ke kamar istrinya.

Bella mematung sejenak ada getaran di dadanya ia merasa terpana dengan senyuman cahaya.

Ya, Allah tidak, Mas Cahaya itu suaminya sahabat aku sendiri.

Gumam bella seraya bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap berganti pakaian ia harus semangat menyambut hari pertamanya kerja, bella sangat bahagia akhirnya ia menemukan kerjaan yang bagus untuknya.

Cahaya seperti biasa ia membuka jendela kamarnya supaya sinar matahari masuk kedalam. Cahaya duduk di pinggir ranjangnya dengan pakaian yang sudah rapi.

Bunga membuka matanya seraya menggeliat.

"Mas, sudah rapi banget, apa sudah sarapan? Maafin aku ya, yang membiarkanmu ngelakuin semuanya sendirian. Entah kenapa akhir-akhir ini aku malas sekali gerak mas?" Ucap bunga menatap suaminya lembut, cahaya memeluknya erat.

"Sayang, sudah ya, gak usah di pikirin! Aku mengerti kok, yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat dan jaga anak kita. Aku sudah gak sabar banget menunggu kehadirannya di dunia ini." Tutur cahaya dengan penuh kasih sayang, wanita mana yang tidak bangga memiliki suami seperti cahaya yang sangat perhatian dan penyayang.

"Bella, hari ini sudah mulai kerja ya Mas?"

"Ya, sayang!"

"Jadi pulang perginya sama kamu ya, Mas?" Ujar bunga sedikit gak rela suaminya satu mobil sama wanita lain, akhir-akhir ini bunga selalu mimpi buruk tentang suaminya, ia sangat takut mimpi itu akan menjadi kenyataan.

"Mas apa gak sebaiknya Bella di anter sama mang diman aja." Lanjut bunga dengan perasaan yang semakin takut.

"Kenapa, kamu cemburu ya sama Bella?" Goda Cahaya sebari mengelus rambut bunga dengan lembut.

"Bukan masalah cemburu apa gaknya Mas, tapi biar gak jadi fitnah aja, berdua terus sama cewek lain. Kan gak baik Mas!" Jawab bunga memberi alasan, ingin sekali bunga bercerita tentang semua mimpinya namun entah kenapa setiap kali ia mau bicara bibirnya seolah terpaku tidak bisa bicara.

Cahaya tidak menjawab ucapan istrinya ia hanya tersenyum seraya mengecup kening bungan dan berpamitan untuk berangkat kerja.

Hari pertama bella kerja di kantor suami sahabatnya. Bella begitu bahagia karena telah mendapatkan pekerjaan dan ia akan segera membawa ibunya untuk pergi berobat.

Namun apa yang terjadi dengan bunga ia melihat kepergian suaminya bersama bella dari teras rumahnya, kenapa kali ini seolah tidak rela cahaya pergi meninggalkannya, bunga gelisah menatap bella yang duduk di samping cahaya.

Bella melambai tangan barsama berlalunya mobil berjalan lambat di depannya.

Bunga terpaku menatap kosong hatinya terus di hantui mimpi-mimpinya dua hari ke belakang.

"Bu, kok masih disini?" Ujar bi ijah membuyarkan lamunan bunga, bunga hanya tersenyum kemudian berjalan masuk menuju ruang TV, niatnya mau nonton tapi kenapa malah mimpi-mimpinya yang terus terbayang memenuhi ruang pandangannya.

****

Di sepanjang jalan bella sesekali mencuri pandang wajah tampan cahaya, suami dari sahabat terbaiknya itu dan bukan hanya tampan yang ia lihat tapi juga cahaya adalah sosok seorang cowok mapan, kaya dan penyayang pada istrinya.

Bella sangat luluh hatinya, membayangkan jika seandainya dirinya yang menjadi bunga saat itu.

Suara klakson mengagetnya seketika itu juga hayalannya sirna karena suara klakson tadi, bella geram dalam hatinya merasa gagal membayangkan sebuah kebahagiaan yang di harapkannya.

Tiba di kantor cahaya langsung memperkenalkan bella pada semua karyawan kantornya.

"Irvan tolong antarkan Bella ke ruangannya ya dan kasih tau apa saja pekerjaannya! Aku ada perlu sebentar." Kata cahaya pada irvan orang yang di percaya di kantornya, kemudian cahaya beranjak pergi untuk menemui pak herri.

Irvan mengangguk dan mempersilahkan bella untuk masuk ke ruangan yang dulu biasa di tempati oleh bunga istrinya cahaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel