Mata Mata
Hujan turun derasnya butiran air menghantam kaca mobil dengan ritme cepat, menciptakan suara berisik yang justru menambah tegang suasana di dalam mobil itu.
Celina membeku. Napasnya tertahan sesaat saat ia menyadari posisinya sekarang terjebak terlalu dekat, terlalu sempit, terlalu berbahaya.
“Turunin gue,” desisnya pelan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya berdebar kacau.
Bara tidak langsung menjawab. Matanya menatap Celina dalam terlalu dalam.
Seolah sedang membaca sesuatu yang bahkan Celina sendiri tidak ingin akui.
“Kenapa, hmm?” tanyanya pelan.
Celina menatap tajam. “Jangan pura-pura bego.”
Hening beberapa detik hanya suara hujan.
Dan napas mereka yang saling bertabrakan dalam ruang sempit itu.
“Lepasin tangan lo Bara, lo gak boleh macem macem gue adek lo sialan.” marah Celina.
“Beneran mau di lepas ini? rasain dulu dikit.” sahut Bara sambil menggerakkan jarinya ke dalam sana.
“Emhh lepas Bara…”
Demi apapun selama 18 tahun ini baru kali ini ia merasakan hal kayak gini dan gilanya orang pertama yang berani menyentuh aset pribadinya ya Bara kakak tirinya ini.
“Sial, gue harus gimana ini.” ucap hati Celina seolah memberontak tak terima.
Bara langsung melahap habis bibir mungil Celina demi apapun hanya Celina yang bisa membuatnya gila kayak gini.
“Teriak gapapa ini bukan di mansion jadi aman gak bakal ada yang denger baby girl.” bisik Bara dengan suara seraknya.
Celina makin kelimpungan ia tak bisa menahan gairahnya lagi. “Shh lepas gue mau pipis Bara lepas emhh shhh…”
“No…no ini yang aku tunggu.”
Bara langsung ngubah posisinya dan melahap habis cairan dari tubuh Celina itu. “Lo ngapain jorok banget.” marah Celina namun tubuhnya udah lemas/
Bara akhirnya tersenyum tipis. Bukan senyum biasa ini senyum yang penuh arti penuh kontrol gairah.
Perlahan ia melepaskan Celina. Celina langsung menjauh cepat, kembali ke kursinya. Wajahnya memerah entah karena marah atau hal lain yang tidak ingin ia akui.
“Sakit?” tanya Bara tiba-tiba.
Celina mengernyit. “Apaan lagi sih lo?”
“Luka kaki lo.”
Celina terdiam sejenak. “Enggak,” jawabnya singkat. Sungguh wajah Celina merah semua.
Padahal perihnya masih terasa. Tapi itu bukan hal yang ingin dia bahas sekarang. Yang lebih mengganggu justru perasaan aneh di dadanya.
“Kenapa lo jadi kayak gitu? mau lagi, hmm?” tanya Bara lagi.
Nada suaranya kali ini lebih serius. Tidak main-main. Celina menatap ke depan. Tangannya mengepal di atas paha. “Kayak gimana?”
“Gampang meledak. Btw manis punya kamu aku suka, wangi lagi.” bisik Bara makin gila dia.
Bahkan adik kecilnya di bawah sana sudah meronta ronta tapi belum ia keluarkan ia takut kalau Celina bakal ketakutan dan pingsan nanti.
Celina tertawa kecil. “Lo perlakuin gue kayak wanita murahan bodoh!”
“Enggak.”
Celina langsung menoleh tajam. “Terserah gue benci sama lo.”
“Lo bukan orang yang gampang kehilangan kontrol,” lanjut Bara santai. “Tapi tadi lo di sekolah tadi hampir kelewatan.”
Sunyi. Celina tidak langsung membalas. Karena untuk sekali ini Bara benar.
Ia menghembuskan napas panjang. “Dia nyenggol hal yang gak boleh disentuh.”
“Nyokap lo?”
Celina mengangguk pelan. Hujan semakin deras. “Semua orang bisa hina gue,” ucap Celina. “Gue gak peduli.”
Tatapannya berubah. Lebih dalam. Lebih jujur. “Tapi bukan nyokap gue.”
Bara memperhatikan tanpa menyela untuk pertama kalinya ia tidak melihat Celina sebagai lawan. Tapi sebagai seseorang yang retak.
“Lo sayang banget sama dia,” ucap Bara pelan.
Celina mendengus. “Ya iyalah. Dia satu-satunya yang gak pernah ninggalin gue.”
Kalimat itu menggantung dan untuk beberapa detik mobil itu benar-benar sunyi. Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya sedikit berubah.
Tidak lagi hanya obsesi. Ada sesuatu yang lain. Lebih kompleks. “Makanya lo jadi liar,” gumamnya.
Celina melirik. “Apa?”
“Karena lo gak punya siapa-siapa selain dia. Jadi lo belajar bertahan sendiri.”
Celina diam tidak menyangkal tidak membenarkan tapi ekspresinya cukup menjawab.
Bara tersenyum tipis. “Menarik.”
“Apanya yang menarik sih?” kesal Celina.
“Lo.”
Celina langsung memalingkan wajah. “Najis.”
Bara tertawa kecil. Untuk pertama kalinya tawa itu terdengar ringan. Mobil kembali berjalan menembus hujan.
Beberapa menit berlalu tanpa suara.
Sampai akhirnya. “Balik ke sekolah?” tanya Bara.
“Ogah.”
“Kenapa?”
Celina mengangkat bahu. “Males liat muka orang-orang sok penting itu.”
“Terus?”
“Ya bebas gue mau kemana.”
Bara mengangguk pelan. “Oke.”
Mobil berbelok bukan ke sekolah.
Celina mengernyit. “Mau kemana?”
“Lo bilang bebas kan?”
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Area rooftop parkir gedung kosong.
Hujan masih turun, tapi tidak sederas tadi.
Bara turun lebih dulu. Celina ikut turun, meski masih bingung. “Ngapain ke sini?” tanyanya.
Bara tidak langsung jawab. Ia berjalan ke tepi, menatap kota yang terlihat samar di balik hujan.
Celina akhirnya mendekat. Berdiri di sampingnya. Beberapa detik mereka hanya diam. Menatap ke depan.
“Aneh ya,” ucap Bara tiba-tiba.
Celina melirik. “Apaan?”
“Biasanya gue bosen sama orang dalam sehari.”
“Terus?”
“Lo beda.”
Celina mendengus. “Gue gak minta.”
“Gue juga gak nawarin.”
Sunyi lagi angin dingin berhembus. Rambut Celina sedikit berantakan tertiup angin.
Bara meliriknya lalu tanpa sadar tangannya bergerak. Merapikan helai rambut yang jatuh ke wajah Celina.
DE!
Celina langsung menegang. “Jangan sembarangan pegang gue.” ucapnya cepat, menepis tangan Bara.
Tapi kali ini nada suaranya tidak sekeras biasanya. Bara memperhatikan itu.
Dan tentu saja dia sadar senyumnya kembali muncul. “Lo berubah,” katanya pelan.
“Enggak.”
“Dikit.”
Celina menatap tajam. “Jangan ngaco.”
“Lo gak langsung mukul gue.”
Celina terdiam sialnya Bara benar lagi.
Ia mendecih kesal. “Gue lagi capek aja.”
“Alasan.”
“Bodo amat.”
Hujan mulai mereda. Langit masih gelap, tapi suasana sedikit lebih tenang. Namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih intim.
Lebih dekat lebih berbahaya.
“Balik yuk,” ucap Celina akhirnya.
“Takut?”
Celina langsung menoleh tajam. “Gue gak pernah takut.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
Bara menatapnya lurus. “Karena lo bakal butuh keberanian itu.”
Celina mengernyit. “Maksud lo?”
Senyum Bara menghilang. Digantikan tatapan dingin penuh keseriusan.
“Permainan ini baru mulai, Celina.”
Angin berhembus lagi. Kali ini terasa lebih dingin. Dan untuk pertama kalinya Celina merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan takut bukan marah tapi perasaan bahwa ia sudah masuk terlalu dalam.
Dan tidak ada jalan keluar yang mudah mobil kembali melaju menuju mansion. Menuju konflik yang lebih besar.
Dan tanpa mereka sadari hubungan mereka bukan lagi sekadar benci. Bukan juga sekadar tantangan.
Tapi sesuatu yang jauh lebih rumit yang perlahan berubah menjadi keterikatan berbahaya. Dan ini baru awalnya dari segalanya.
“Minggir.” tirah Bara dengan nada datarnya.
Sampai mansion mereka berdua langsung di hadang Papa Arnol. “Apa yang kalian berdua lakukan di belakang Papa?!” tanyanya dengan nada dinginnya.
DEG!
