Pustaka
Bahasa Indonesia

Kecanduan Tubuh Adik Tiriku

10.0K · Ongoing
Pandaimut
8
Bab
4
View
9.0
Rating

Ringkasan

WARNING!!!!! • • NOVEL INI BERGENRE 21++ DENGAN DESKRIPSI SEKSUAL EKSPLISIT DAN KONTEN KEDEWASAAN VULGAR. TIDAK DITUJUKAN UNTUK PEMBACA DI BAWAH UMUR. JIKA ANDA BELUM CUKUP UMUR, SILAKAN MEMBACA NOVEL LAIN. • • Cerita ini mengandung sisi gelap kekuasaan, kekerasan fisik, trauma, obsesi, hubungan seksual yang melanggar batas dan kehidupan moralitas yang abu-abu. • • Bara Lucifer Garcia (23 tahun) adalah definisi bahaya yang sesungguhnya. CEO kejam sekaligus ketua mafia yang memerintah dengan tangan besi. Baginya, dunia hanya hitam dan putih, sampai ayahnya membawa pulang istri baru dan putrinya, Drea Celina Alisya (18 tahun). Bara bersumpah tidak akan peduli pada keluarga barunya. Namun, satu tatapan pada Celina menghancurkan segalanya. Celina adalah magnet yang menarik Bara masuk ke dalam lubang obsesi tanpa dasar. Gadis itu tidak takut padanya. Sifat Celina yang liar, bar-bar dan penuh pembangkangan justru menjadi candu yang paling mematikan bagi Bara. Setiap jengkal tubuh Celina adalah dosa yang ingin ia miliki sepenuhnya. Diam-diam, di balik pintu rumah yang megah, mereka menjalin hubungan gelap yang membakar. Celina adalah adik tiri yang terlarang, tapi bagi Bara, dia adalah satu-satunya kehancuran manis yang ia idamkan. Bara tidak akan melepaskannya, bahkan ia tak peduli jika dunia harus hancur karenanya.

RomansaBillionaireDewasaOne-night StandCinta Pada Pandangan PertamaTuan MudapetarungEmosionalLicikSetia

Ciuman Kepemilikan

Suara pintu mobil yang dibanting keras menggema di halaman mansion megah itu.

“Turun, Celina. Jangan bikin malu Mama kamu tuh jadi anak gak guna banget sih heran Mama sama kamu.”

Nada suara Inara Imelda dingin, tapi matanya penuh tekanan. Celina hanya mendengus, lalu membuka pintu dengan kasar. Sepatu boots hitamnya menghantam lantai marmer halaman depan.

Matanya menyapu bangunan besar di depannya. Mansion ah lebih tepatnya ini seperti istana.

“Gila.” gumamnya pelan, lalu menyeringai sinis. “Kayak sarang iblis.”

“Jaga mulut kamu!” desis Inara langsung, tangannya mencengkeram pergelangan Celina kuat. “Ini rumah suami Mama. Mulai sekarang kamu harus tahu diri.”

Celina menarik tangannya kasar. “Suami Mama, bukan suami gue.”

PLAK!

Tamparan itu mendarat keras di pipinya.

Sunyi hanya suara napas Celina yang sedikit berat. Tapi bukannya menangis, gadis itu justru tersenyum miring, lidahnya menyentuh sudut bibirnya yang sedikit perih.

“Udah?” tanyanya santai.

Inara menatapnya dengan campuran marah dan lelah. “Jangan bikin masalah di sini. Mama gak suka lagak kamu yang sok begini. Awas aja kalau sampai sopan nanti Mama bakal hukum kamu.”

Celina hanya mengedikkan bahu. Masalah? Itu nama tengahnya.

Pintu utama terbuka sebelum mereka sempat melangkah. Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Tegap. Wibawa. Tatapannya tajam seperti pisau.

Arnol Garcia.

Celina langsung berhenti. Ada sesuatu dari pria itu yang membuat perutnya sedikit mual.

Bukan takut sepenuhnya. Tapi ia harus waspada.

“Selamat datang,” ucap Arnol datar.

Inara langsung berubah. Wajahnya melembut, senyum muncul seolah tak pernah menampar siapa pun barusan.

“Mas…” panggilnya lembut.

Celina hampir muntah melihat perubahan itu.

Arnol mengangguk pelan, lalu matanya beralih ke Celina seolah sedang mengamati dan menilai anak tirinya itu.

Celina menahan tatapan itu beberapa detik lalu mengalihkan pandangan lebih dulu. Sial, dia benci mengakuinya, tapi pria ini beda.

“Masuk,” kata Arnol singkat.

Mereka melangkah masuk. Interior mansion itu bahkan lebih gila. Lampu kristal besar, lantai marmer mengkilap, dan suasana dingin. Bukan karena AC tapi karena aura di rumah ini.

Celina belum sempat berkomentar saat suara langkah kaki lain terdengar dari arah tangga.

Pelan, berat penuh dominasi.

Celina menoleh dan di sanalah dia Bara Lucifer Garcia.

Pria itu berdiri di anak tangga terakhir. Tinggi, bahunya lebar bahkan wajahnya sangat tampak bak Dewa Yunani . Kemeja hitamnya terbuka sedikit di bagian atas, memperlihatkan garis lehernya yang tegas.

Wajahnya tampan tapi bukan tipe yang hangat. Dingin, berbahaya. Matanya kini menatap lurus ke arah Celina.

Dan untuk pertama kalinya hari itu Celina merasa seperti sedang ditelanjangi. Bukan secara fisik. Tapi cara dia dilihat. Seolah pria itu sedang membaca seluruh isi kepalanya.

“Ini anak kamu?” tanya Bara santai, suaranya rendah dan berat.

Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi.

Celina langsung mengernyit.

“Cara ngomong lo kayak lagi nanya barang, ya,” balasnya tanpa takut.

Inara langsung menegang. “Celina…!”

“Gue tanya ke dia,” potong Celina santai, matanya tetap menantang Bara.

Arnol memperhatikan tanpa ikut campur dan Bara tidak marah tidak tersinggung kali ini. Justru ia malah tersenyum tipis.

Langkahnya turun satu per satu, mendekat. Sepatu hitamnya berdetak pelan di lantai marmer.

Celina tidak mundur dia tidak akan pernah melakukan hal itu. Bahkan saat Bara berhenti tepat di depannya, lebih tinggi hampir satu kepala.

“Nama lo?” tanya Bara.

“Kenapa? Mau bikin laporan?” balas Celina sinis.

Inara sudah pucat. “Celina, cukup!”

“Gue nanya ke dia,” ulang Bara, kali ini suaranya sedikit lebih dalam.

Aneh ini bukan ancaman tapi tetap menekan Inara untuk diam kali ini. Sungguh Inara malah takut dengan anak tirinya ini.

Celina menatapnya tajam. “Drea Celina Alisya.”

Bara mengangguk pelan. Seolah menghafal. “Berisik,” komentarnya singkat.

Alis Celina langsung naik. “Lebih baik berisik daripada sok dingin tapi nyebelin.”

Hening. Inara hampir pingsan. Arnol masih diam dan Bara tertawa pelan.

“Menarik,” gumamnya.

Tatapannya berubah bukan lagi sekadar menilai. Tapi mengunci seolah ia menemukan sesuatu yang lama dia inginkan.

Celina merasakan itu. Dan entah kenapa, ada sensasi aneh menjalar di tengkuknya. Bukan takut. Tapi tidak nyaman.

“Gue gak suka sama lo ya. Jauh jauh dari hidup gue. Lo cuma abang tiri gue jadi kita hidup sendiri sendiri.” ucap Celina blak-blakan.

Bara sedikit mendekat namun tidak menyentuh. Tapi cukup untuk membuat jarak mereka terasa sempit.

“Bagus,” balasnya lirih. “Gue juga gak butuh lo suka.” Tatapan mereka bertabrakan. Ada sedikit hawa panas di keduanya dan anehnya tidak ada yang mau mengalah.

Di sudut ruangan, Inara menggenggam tangannya sendiri, cemas. Dia tahu Celina keras kepala.

Tapi kali ini dia juga bisa merasakan sesuatu yang salah. Karena Bara bukan orang biasa. Dan Celina terlalu liar untuk tahu batas.

“Mulai hari ini,” suara Arnol akhirnya masuk, memecah ketegangan, “kalian satu keluarga.”

Celina langsung mendengus. “Keluarga apaan…” Belum selesai kalimatnya.

PLAK!

Tamparan kedua hari itu lebih keras. Kali ini dari Inara lagi. Entahlah Mamanya ini seperti Mama tiri saja setiap hari selalu menyiksa dirinya.

“DIAM!” bentaknya.

Pipi Celina memerah. Tapi lagi-lagi, dia tidak menangis dia hanya tersenyum tipis

Lalu menoleh ke arah Bara dan yang dia lihat bukan simpati bukan juga rasa jijik. Tapi sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Ketertarikan. Obsesi. Sejak detik itu, Bara tidak lagi melihat Celina sebagai sekadar adik tiri. Dia melihatnya sebagai sesuatu yang harus dimiliki.

Sesuatu yang menantang. Sesuatu yang membuatnya hidup dan tanpa Celina sadari masuk ke mansion itu bukan awal hidup baru.

Tapi awal dari kehancuran yang perlahan akan membungkusnya. Karena satu hal pasti Bara Lucifer Garcia tidak pernah menginginkan sesuatu setengah-setengah. Dan sekarang dia menginginkan Celina.

“Bawa Celina ke kamarnya dia perlu istirahat jangan kasarin dia Inara.” tegas Papa Arnol.

“Ahh iya mas maafin aku ya.” jawab Mama Inara sambil tersenyum manis. Ia langsung menarik lengan Celina ke kamar atas.

Pintu kamar di lantai dua itu dibuka kasar.

“Masuk!”

Inara Imelda hampir menyeret Celina ke dalam, lalu mendorongnya hingga gadis itu terhuyung ke tengah kamar yang luas.

BRAK!

Pintu ditutup keras. Celina langsung berbalik, matanya menyala. “Apa sih, Ma?!”

Inara menatapnya tajam. Tidak ada lagi kelembutan seperti di depan Arnol tadi.

“Dengar baik-baik,” suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Jangan buat kita hidup miskin lagi.”

Kalimat itu menghantam. Namun Celina hanya tertawa kecil, sinis.

“Kamu harusnya bersyukur bisa hidup enak, mewah di sini,” lanjut Inara, mendekat satu langkah. “Jangan buat Mama nyesel udah besarin kamu.”

Sunyi sesaat. Lalu Celina mendengus. “Terserah,” jawabnya datar.

Inara mengernyit. “Apa?”

Celina menatap lurus tidak takut tidak mundur juga kalau seandainya Mamanya nampar atau bahkan mukul dia lagi.

“Yang Mama pikirin cuma kebahagiaan Mama doang,” ucapnya tajam. “Mana pernah Mama tanya perasaan Celina gimana?”

Hening. Untuk sesaat, wajah Inara berubah. Tapi bukan jadi lembut. Justru semakin keras. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan keluar.

BRAK!

Pintu ditutup sekali lagi. Kamar itu kembali sunyi.

Celina menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur besar itu. Tangannya menutupi wajah.

“Nyebelin banget…” gumamnya pelan.

Ia tidak tahu di luar sana, seseorang berdiri diam. Mendengar semuanya. Bara Lucifer Garcia menyandarkan tubuhnya di dinding koridor, senyum miring terukir di bibirnya.

Menarik. Sangat menarik. Tanpa suara, ia mendorong pintu kamar itu kembali terbuka.

Klik.

Terkunci dari dalam. Celina langsung bangkit. “Lo ngapain masuk sini?!”

Belum sempat ia melangkah mundur Bara sudah lebih dulu mendekat dengan cepat bahkan terlalu cepat hingga Celina gak bisa menghindar.

Tangannya menahan Celina di dinding. Jarak mereka hilang dalam sekejap.

“Lo emhh…..” Kalimat itu terpotong.

Karena Bara menunduk, menangkap bibirnya dalam ciuman singkat namun tegas bukan lembut, lebih seperti klaim.

Celina membeku satu detik.

“LEPAS!” dorongnya kuat.

Bara mundur sedikit, tapi tatapannya justru semakin dalam.

“Manis,” gumamnya rendah. “Gue suka.” Napas Celina memburu. Matanya membesar penuh amarah.

“Pastikan gak ada laki-laki lain yang nyentuh lo,” lanjut Bara dingin. “Itu milik gue.”

“LO GILA BRENGSEK!” teriak Celina keras, mendorongnya lagi.

Namun Bara hanya tersenyum tipis. Seolah teriakan itu justru bahan bakar. Dan untuk pertama kalinya Celina benar-benar merasa ini bukan sekadar rumah baru ini jebakan.

“LO ORANG PERTAMA YANG BUAT GUE MUAK SIALAN!” teriak Celina sambil memukul wajah Bara.

Bukannya mengalah Bara langsung menggendong Celina lalu ia lempar ke atas ranjang. “Aarghhh sakit bodoh!”

CUP!

“Lep…lepashhh Bara lo gila. Gue adik lo sialan lepas!” marah Celina berusaha dorong tubuh kekar Bara.

“Ssttt diam dan nikmati baby girl.” bisik Bara dengan suara seraknya.