Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Cinta Atau Obsesi?!

DEG!

Jantung Celina seperti berhenti berdetak. Langkahnya yang tadi cepat langsung terhenti di ambang pintu mansion.

Sementara di belakangnya, Bara berdiri kaku untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu tidak sepenuhnya tenang.

Arnol Garcia. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan aura dingin yang jauh lebih menekan dari biasanya. Tatapannya bergantian antara Bara dan Celina tajam dan penuh rasa curiga.

“Apa yang kalian lakukan di belakang Papa?” suaranya rendah. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

Celina menelan ludahnya sial ini pertama kalinya dia benar-benar merasa terpojok. Namun sebelum Celina sempat membuka mulu Bara bergerak lebih dulu.

“Masuk,” ucap Arnol lagi, kali ini lebih tegas.

Tangannya langsung menarik lengan Bara. Kuat. Tanpa kompromi.

“Pah….” Bara sempat ingin bicara.

“Sekarang.” Nada itu tidak bisa dibantah.

Untuk beberapa detik, Bara dan Celina saling tatap. Ada sesuatu yang menggantung di sana. Tegang. Tidak terucap.

Lalu Bara ditarik masuk ke ruang kerja. Pintu ditutup dengan kerasnya.

BRAK!

Sunyi Celina masih berdiri di tempatnya. Napasnya belum stabil. Tangannya sedikit gemetar.

“Gila. Yang tadi gak mungkin ketahuan kan.” bisiknya pelan.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah tangga. Naik masuk kamar pintu langsung ia tutup.

Celina langsung menyandarkan tubuhnya ke pintu. Dadanya naik turun cepat. “Kenapa ribet banget sih.” gumamnya frustrasi.

Tangannya naik ke wajah, mengacak rambutnya sendiri. LMati gue kalau sampai dia tau.”

Bayangan Arnol. Bayangan tadi di mobil sama Bara semua bercampur di kepalanya.

Sial.

Sial.

Sial!

Di sisi lain ruang kerja Arnol dipenuhi ketegangan.

Bara berdiri tegak di depan meja besar itu. Wajahnya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi di dalam pikirannya masih berantakan.

“Jawab Papa Bara.” suara Arnol memotong.

Bara menatap lurus. “Apa yang Papa tau?”

Pertanyaan itu justru membuat Arnol menyipitkan mata. “Kamu pikir Papa gak lihat cara kamu memperlakukan dia?”

Hening.

“Bara,” lanjutnya, suaranya sedikit lebih rendah, tapi penuh tekanan, “jangan tekan Celina terus.”

Bara tidak menjawab. Rahangnya sedikit mengeras. “Dia adik kamu.”

Kalimat itu menggantung di udara. Tajam. Menusuk. “Jangan sampai dia gak mau tinggal di mansion ini gara-gara kamu.”

Bara akhirnya mengalihkan pandangannya. Sedikit. Bukan karena takut tapi karena terganggu.

“Dan satu lagi,” Arnol melanjutkan, “jangan posesif sama dia.”

DEG!

Untuk sepersekian detik tatapan Bara berubah. Namun ia dengan cepat langsung menutupinya.

“Kalau dia bermasalah, selesaikan dengan cara lain,” tambah Arnol. “Kasih dia apa yang dia mau. Uang, fasilitas atau apapun biar dia tenang tinggal di sini.”

Sunyi beberapa detik lalu. “Udah selesai?” tanya Bara dingin.

Arnol menatapnya tajam. “Kamu belum jawab.”

“Gak ada apa-apa.” Jawaban singkat dingin namun penuh kontrol. Arnol menghela napas panjang.

“Jangan sampai Papa kecewa sama kamu.”

Tidak ada ancaman di kalimat itu. Tapi justru itu yang membuatnya lebih berat.

Bara hanya mengangguk tipis. “Kalau udah, aku keluar.”

Tanpa menunggu jawaban ia berbalik keluar.

Pintu ditutup pelan dan begitu berada di luar Bara menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak tadi Ia merasa lega. “Gue kira dia tau…” gumamnya sambil tersenyum miring.

Namun rasa lega itu tidak bertahan lama karena yang lebih berbahaya bukan ketahuan tapi perasaan cinta yang tidak bisa dia kontrol lagi.

Di kamar Celina duduk di tepi ranjang matanya kosong pikirannya penuh. “Kenapa sih semuanya harus ribet kayak gini.” bisiknya pelan.

Tiba-tiba

Tok…Tok….Tokkk….

Celina mengernyit. “Siapa?”

Tidak ada jawaban lalu pintu terbuka Inara masuk. Wajahnya tegang. Matanya langsung tertuju ke Celina.

“Apa yang kamu lakuin sama Bara?”

Nada suaranya tajam. Celina langsung berdiri. “Maksud Mama apa?”

“Jangan pura-pura gak ngerti!” bentak Inara. “Papa kamu marah sama dia gara-gara kamu pasti kan. Dasar anak gak tau di untung kamu Celina.”

Celina tertawa kecil. “Aku gak ngapa-ngapain.”

“Jangan bohong!”

Langkah Inara maju. “Dia kakak kamu, Celina!”

DEG!

“Jangan sampai kamu bikin hal yang aneh-aneh!”

Celina menatap lurus. Matanya mulai mengeras. “Terus kalau dia yang mulai?”

PLAK!

Tamparan itu keras. Membuat kepala Celina sedikit terhuyung ke samping.

Sunyi. Beberapa detik. Tidak ada suara. Celina perlahan menoleh kembali. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena lemah.

Tapi karena hatinya terluka. “Mama gila,” ucapnya pelan.

Inara menatapnya dingin. “Jangan buat Mama tambah marah. Kamu ini masih SMA masih kecil jangan jadi jalang Celina.” Suaranya berubah lebih rendah namun lebih menyakitkan baginya.

“Ingat posisi kamu di sini, Celina.” Kalimat itu seperti pisau. “Kalau kamu macam-macam Mama bisa buang kamu kapan aja.”

Sunyi lalu Inara berbalik keluar.

Pintu ditutup dan Celina masih berdiri di tempatnya. Ia diam beberapa detik. Lalu tangannya mengepal kuat.

“Kenapa hidup gue harus begini sih? Apa salah gue? kenapa gue harus lahir ke dunia ini kalau harus nanggung semua rasa sakit ini.” gumamnya pelan.

Air matanya akhirnya jatuh. “Semua orang nyuruh gue ngerti.” Suaranya mulai bergetar. “Tapi gak ada yang ngertiin gue.”

Dengan gerakan cepat Celina membuka tasnya. Mengambil sesuatu pisau lipat kecil.

Tangannya sedikit gemetar namun matanya penuh kekosongan.

“Rasa sakit ini…” bisiknya.

Pisau itu menyentuh kulit lengannya lalu gooresan dalam terlihat jelas dengan cairan kental merah yang keluar dengan perlahan.

“Ssssst” Napasnya tertahan perih langsung menyebar.

Darah mulai keluar perlahan tapi Celina tidak bereaksi apapun.

“Sakit ini…” ucapnya pelan. Matanya menatap luka itu tanpa ekspresi. “gak ada apa-apanya.”

Air matanya jatuh lagi. “dibanding yang di sini.” Tangannya pindah ke dada. Menekan kuat. Seolah ingin meredam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Di luar suara langkah kaki terdengar dan berhenti tepat di depan pintu.

Bara tangannya terangkat ia ingin mengetuk.

Namun ia langsung berhenti.

Tatapannya jatuh ke pintu itu diam untuk beberapa detik. Lalu perlahan tangannya turun.

Namun ekspresinya berubah lebih gelap lebih dingin dari biasanya.

“Lo pikir gue bakal biarin lo hancur sendiri?” gumamnya pelan.

Matanya mengeras. “Gak, Celina. Sekarang lo udah masuk ke dunia gue.”

Dan untuk pertama kalinya bukan hanya obsesi tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya mulai tumbuh dalam diri Bara.

“Dan gue gak akan pernah lepasin lo apapun yang terjadi kedepannya. Salah sendiri buat kakak lo ini terobsesi sama lo.” lanjut sambil tersenyum lebar.

Di dalam kamar Celina masih duduk diam dengan luka kecil di lengannya dan hati yang jauh lebih berdarah.

Sementara di luar seseorang mulai kehilangan batas terakhirnya dan ini baru permulaan dari konflik kehancuran sesungguhnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel