Kegilaan Di Mobil
BRAK!
Suara meja kaca yang pecah itu menggema keras di seluruh ruangan BK. Pecahan beling berhamburan ke lantai, beberapa bahkan meluncur hingga ke kaki kursi.
Semua orang membeku. Napas Celina memburu. Dadanya naik turun cepat. Matanya bukan lagi sekadar marah. Tapi seperti terbakar.
“Tarik kata-kata lo.” Suaranya rendah. Bergetar. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar jauh lebih berbahaya.
Guru BK itu terpaku beberapa detik. Lalu wajahnya berubah merah padam.
“Apa? Kamu berani….”
“GUE BILANG TARIK KATA-KATA LO!” bentak Celina, kali ini lebih keras. Tangannya masih mengepal, bahkan sedikit gemetar.
Rina, Sinta, dan Bela di sudut ruangan langsung saling pandang. Mereka tidak menyangka sama sekali tidak menyangka kalau situasi akan berubah sejauh ini.
Mereka pikir ini cuma akan jadi drama biasa.
Senior mengintimidasi murid baru. Tapi yang mereka hadapi sekarang? Bukan murid biasa.
Celina jauh lebih liar dari yang mereka kira.
Guru BK itu akhirnya berdiri. Wajahnya penuh amarah dan harga diri yang terluka. “Kamu pikir kamu siapa? Baru masuk sudah berani merusak fasilitas sekolah! Sekolah ini bukan tempat anak-anak tidak berpendidikan seperti kamu!”
Celina tertawa kecil. Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di sana.
“Gue gak masalah lo hina gue,” ucapnya pelan. “Tapi jangan bawa-bawa nyokap gue.”
Sunyi udara di ruangan itu terasa berat. Tegang. Dan di kursi belakang Bara memperhatikan semuanya dengan tenang.
Senyum miring perlahan terukir di wajahnya.
Bukannya terganggu. Bukannya marah. Justru sebaliknya. Matanya menggelap, penuh ketertarikan yang makin dalam.
“Bar-bar banget bikin gue makin penasaran kalau udah di bawah kek apa mukanya.” gumamnya hampir tak terdengar. Dan entah kenapa itu bukan keluhan itu pujian.
Guru BK itu kembali membuka mulut. “Kalau memang ibumu bukan seperti yang saya bilang, buktikan dengan sikap kamu! Bukan dengan jadi anak brutal seperti ini!”
Celina melangkah maju satu langkah. Pelan.
Tapi cukup untuk membuat semua orang refleks mundur sedikit. “Kata terakhir lo?” tanyanya dingin.
Rina langsung mencengkeram lengan Sinta. “Gila dia mau ngapain lagi.”
Bela bahkan sudah hampir menangis. Namun sebelum situasi benar-benar meledak lagi suara kursi bergeser terdengar.
Bara berdiri. Langkahnya santai. Tapi setiap langkahnya seperti membawa tekanan tersendiri. Semua mata langsung tertuju padanya. Aura ruangan berubah.
Guru BK itu langsung terlihat gugup. “Tu… Tuan Bara… ini…”
“Cukup.” Suara Bara datar. Singkat. Tapi mutlak.
Hening tidak ada yang berani membantah.
Bara berhenti di samping Celina. Tidak menyentuh. Tapi berdiri cukup dekat dengan Celina.
Tatapannya beralih ke guru BK itu. “Ucapan anda barusan saya dengar.”
Keringat dingin mulai muncul di pelipis sang guru.
“Saya…saya hanya….”
“Gak penting,” potong Bara.
Lalu, tanpa peringatan. “Don’t touch my girl.”
DEG!
Semua orang langsung membeku. Rina, Sinta, Bela mereka bertiga langsung melongo.
Guru BK itu bahkan sampai kehilangan kata-katanya. Kalimat itu keluar begitu saja tegas dan tanpa ragu.
Seolah itu hal paling normal di dunia. Sementara Celina? Matanya langsung menyempit tajam. “Apaan sih lo jangan gila bisa gak. Lo tuh kakak gue bukan pacar gue.” desisnya pelan, kesal.
Bara hanya meliriknya sekilas. Senyum tipis masih ada di wajahnya. “Fakta,” jawabnya santai.
“Gak ada fakta-faktaan. Jangan ngaco.”
Tapi anehnya untuk pertama kalinya sejak tadi Celina tidak melanjutkan kemarahannya ke guru BK.
Ia justru berbalik dan pergi begitu saja. Langkahnya cepat tegas tanpa permisi.
“Celina! Kembali ke sini!” teriak guru BK itu panik.
Namun Celina bahkan tidak menoleh. Pintu dibanting dengan keras.
BRAK!
Sunyi kembali memenuhi ruangan. Semua orang masih belum sepenuhnya mencerna apa yang baru saja terjadi.
Rina menelan ludah. “Gila dia pergi gitu aja?”
Sinta mengangguk pelan. “Dan Tuan Bara barusan…”
Bela berbisik, “Dia bilang my girl…?”
Sementara itu Bara hanya menatap pintu yang baru saja ditutup keras itu. Matanya sedikit menyipit. Senyumnya semakin dalam.
“Menarik,” gumamnya pelan.
“Celina putri Arnol Garcia dan kalian tau bukan sekolah ini milik siapa? Berpikir dulu sebelum berbicara atau nyawa kalian yang akan hilang setelah ini.”
Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia berbalik dan keluar.
Semua orang di sana termasuk Rina, Sinta, Bela dan guru BK langsung lemas ketakutan.
“Ya Tuhan, kita akan mati kali ini.” ujar mereka dengan kompaknya.
Celina berjalan cepat di koridor. Langkahnya panjang. Emosinya masih belum reda. “Anj*ng emang.” gumamnya kesal.
Tangannya masih mengepal dadanya masih sesak. Kalimat itu. “Ibumu wanita malam…”
Sialan ia berhenti sejenak, menarik napas dalam tapi percuma. Marahnya belum hilang.
“Gue bisa hajar tuh orang tapi kalau mati gimana nanti.” geramnya.
Tanpa pikir panjang, ia berbelok ke arah kantin butuh sesuatu apa aja dsal gak mikir.
Kantin SMA Garcia Internasional luas. Ramai. Dipenuhi murid-murid dari berbagai kalangan.
Namun begitu Celina masuk suasana langsung berubah.
Bisik-bisik mulai terdengar. “Itu dia…”
“Yang berantem tadi…”
“Katanya sampai mecahin meja BK…”
Celina tidak peduli. Ia langsung menuju salah satu kursi kosong, duduk sembarangan, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
Matanya kosong. Masih mencoba menenangkan diri. Namun belum sampai lima menit seorang menarik pergelangan tangannya dengan kuat.
“Ngapain sih. Lepas Bara gue….”
Belum selesai kalimatnya ia sudah ditarik berdiri. Celina menoleh tajam. “Lo lagi?” desisnya.
Tanpa banyak bicara, Bara langsung menyeretnya keluar kantin.
“WOY! LEPASIN!” protes Celina, berusaha melepaskan diri.
Tapi cengkeraman Bara kuat dan entah kenapa Celina tidak benar-benar melawan sekuat tadi.
Mereka keluar dari gedung sekolah menuju parkiran. Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu. Pintu dibuka.
“Masuk.”
“Nggak mau.”
“Gue gak nanya masuk sekarang Celina.”
Celina mendecih kesal. Tapi akhirnya ia masuk juga. Pintu ditutup mobil langsung melaju.
Di dalam mobil hanya ada kesunyian tidak ada suara selain mesin halus yang berjalan.
Celina duduk di samping, menatap keluar jendela.
Tangannya masih sedikit gemetar. Bara meliriknya sekilas. “Kenapa harus kayak gini?”
Akhirnya ia bicara. Celina tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu baru kemudian.
“Ya lo pikir aja sendiri,” jawabnya datar.
Nada suaranya beda kali ini lebih pelan lebih lelah. Bara menghela napas pelan ia tidak marah tidak tersinggung. Justru malah semakin tertarik.
“Lo bisa tahan,” ucapnya.
Celina langsung menoleh. “Hah?”
“Lo bisa diem. Tapi lo pilih meledak.”
“Karena dia nyenggol hal yang salah.”
“Semua orang bakal nyenggol itu nanti.”
“Ya gue hajar satu-satu.”
Bara tersenyum kecil. “Gue suka.”
Celina mendengus. “Gue gak butuh lo sukai.”
Mobil berhenti.
Celina mengernyit. “Ngapain berhenti?”
Bara tidak langsung jawab ia turun lalu membuka pintu di sisi Celina. “Turun.”
Celina menatapnya curiga. “Apaan lagi sih?”
“Turun.”
Dengan kesal, Celina akhirnya turun begitu kakinya menyentuh tanah Bara langsung jongkok di depannya.
Celina terkejut. “WOY! Lo ngapain?”
“Diam.” Tangannya meraih pergelangan kaki Celina pelan tapi pasti.
Celina refleks ingin menarik kakinya. Namun ia berhenti Karena rasa perih.
Baru ia sadari ada luka cukup dalam. Mungkin dari pecahan kaca tadi. Darahnya sudah mengering sebagian, tapi masih terlihat jelas.
“Lo gak ngerasa sakit ya?” tanya Bara.
Celina diam. “Biasanya sih enggak,” gumamnya pelan.
Bara menghela napas. Lalu mengambil kotak P3K dari dalam mobil. “Duduk.”
Celina menurut tanpa protes untuk pertama kalinya ia diam. Bara mulai membersihkan lukanya. Gerakannya hati-hati. Berbeda dari sikapnya yang biasanya dingin dan keras.
Celina memperhatikan diam-diam aneh semua ini terasa aneh.
“Kenapa?” tanya Bara tiba-tiba.
Celina mengernyit. “Apaan?”
“Kenapa lo bisa segila itu kalau soal dia?”
Celina terdiam beberapa detik lalu. “Karena cuma dia yang gue punya.”
Suara itu pelan. Hampir seperti bisikan.
Bara berhenti sejenak. Matanya sedikit berubah.
“Dan orang-orang kayak tadi…” lanjut Celina, “gak punya hak buat ngomong soal Mama.”
Sunyi. Bara kembali melanjutkan mengobati lukanya. “Sekarang udah aman,” katanya.
Celina menarik kakinya pelan. “Thanks.”
Hening lagi beberapa detik lalu, “Jangan pernah bilang gue punya lo lagi,” ucap Celina tiba-tiba.
Tatapannya tajam penuh keseriusan. “Gue bukan milik siapa-siapa.”
Bara tersenyum miring. Pelan. Berbahaya. “Lihat nanti.”
Celina mendengus. “Mimpi. Lo kakak gue.”
Namun untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tidak ada bentakan tidak ada dorongan dan tidak ada kekerasan.
Hanya Ketegangan yang berbeda kali ini lebih dalam lebih rumit. Dan jauh lebih berbahaya.
Mobil kembali berjalan dan tanpa mereka sadari permainan ini bukan lagi sekadar konflik.
Tapi sesuatu yang perlahan mengikat mereka berdua ke dalam sesuatu yang tidak akan mudah dilepaskan.
“Kenapa berhenti lagi sih? lo jangan bikin gue kesel deh Bar.” ujar Celina dengan raut wajah kesalnya.
SRET!
Kedua mata Celina langsung melotot tajam saat dirinya kini udah duduk di atas pangkuan Bara.
“LO APAAN SIH GILA!” teriak Celina kaget.
Bara tersenyum miring tangannya mengusap pelan pah* dal*m Celina. “Ssttt diem dulu, rasain ini enak enggak, hmm?” tanya Bara sambil mengusapnya dengan pelan.
“Sial kenapa tubuh gue gini sih. Celina lo jangan gila lo jangan mau di sentuh sama dia. Sadar woy dia kakak lo jangan jadi cewek murahan.” maki Celina di dalam hati pada dirinya sendiri.
“Pinggirin tangan lo Bara gue gak suka lo sentuh seenaknya kayak gini gue bukan cewek murahan lepas bodoh…emhhh…..”
“See…nikmat bukan, hmm?”
